Keutamaan Basmallah, Mulai dari Fleksibilitas Penggunaannya Hingga Penaklukkan Ratu Bilqis

Keutamaan Basmallah, Mulai dari Fleksibilitas Penggunaannya Hingga Penaklukkan Ratu Bilqis

PeciHitam.org – Basmallah, kalimat Maha agung dan sangat familiar bagi Muslim. Memang Bismillahi ar-Rahman ar-Rahim atau terkenal pula dengan kata Tasmiyah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kalimat keramat ini mengawali setiap surat dalam Al-Quran, kecuali dalam surah at-Taubah. Larangan pembacaan Basmallah dalam surah at-Taubah menjadi kesepakatan pada Ulama.

Bahkan dalam surat al-Fatihah, pendapat mayoritas atau jumhur Ulama, Basmallah menjadi bagian surat yang berjumlah 7 ayat tersebut.

Kekeramatan/ kekhususan bagaimana yang terkandung dalam Basmallah sehingga menjadi pembuka hampir keseluruhan surat yang ada dalam Al-Quran?

Beberapa keistimewaan Basmallah bisa dianalisis melalui aspek tata bahasa atau qawaid maupun secara balaghiah/ kesastraan. Dari segi tata bahasa atau qawaid, keistimewaan Basmallah terletak pada penyebutan tidak eksplisit pada Subyek dan Predikat sehingga menyebabkan fleksibilitas pada lafadz Basmallah.

Bahasa Arab membahas, sebuah kata sempurna dan berfaidah secara bahasa serta diakui sebagai sebuah kalimat jika minimal tersusun oleh fiil (Kata Kerja/ predikat) dan fail (Subyek).

Keduanya tidak dapat  dipisahkan satu sama lain. Kaitannya dalam lafadz Basmallah, penyebutan yang tidak langsung  fiil dan fail menimbulkan kebebasan pembaca dalam menambahkan kalimat yang beraneka ragam di depannya. Oleh karena itu, keseluruhan kata yang baik bisa menjadi fiil dan fail mengawali lafadz Basmallah.

Baca Juga:  Inilah Tujuh Kisah Ajaib dalam Al Quran di Luar Nalar Manusia

Kitab karangan Syaikh Durmudji Ibrahim yang berjudul Muradan al-Ajurumiyah serta dalam Irabnya Basmallah dijelaskan pada garis besarnya bahwa;

بسم الله (الباء) حرف جر (اسم) مجرور بالباء-مضاف (الله) مضاف اليه مجرور بالمضاف، بسم الله الرحمن الرحيم متمم من الجملة المحدوفة تقديره أألف، أألف فعل وفاعله.

Bismillah, Huruf  (الباء)adalah bagian dari Huruf Jar. Kata (اسم) diJerkan oleh Huruf (الباء) dan letaknya menjadi Mudlaf. Kata (الله) berposisi sebagai Mudlaf  Ilaih dan di-jer-kan oleh Mudlaf. Bismillahi- ar-Rahmani ar-Rahimi hanya sebagai pelengkap dari sebuah Kalimat sempurna yang dibuang. Kalimat yang dihilangkan tersebut bisa dibuat analogi, yaitu saya Menyusun/ mengarang sebuah Kitab (أُأَلِّفُ). Saya menulis/ mengarang sebuah Kitab berposisi sebagai Subyek dan Predikat.

Keterangan kata saya menulis/ mengarang sebuah Kitab (أُأَلِّفُ) adalah sebuah bukti fleksibilitas Basmallah atau kelenturan dalam menggunakan kata Basmallah.

Apakah boleh kita meletakan sebuah kalimat “Saya Memulai Bercocok Tanam”, “Saya Minum”, “Saya Mengajar Siswa”, “Saya Belajar Bahasa” di depan Basmallah?

Hal tersebut tidak perlu dijawab, karena secara tata bahasa diperbolehkan dan sangat cocok jika dilanjutkan dengan kata Basmallah. Sehingga artinya secara lengkap menjadi;

Baca Juga:  Makna Islam Kaffah dalam Pandangan Nadirsyah Hosen dan Ibnu Asyur

“Saya Memulai Bercocok Tanam dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”,

“Saya Minum dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”,

“Saya Mengajar Siswa dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”,

“Saya Belajar Matematika dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Kecocokan semua kegiatan masuk di depan lafadz Basmallah menandakan, kalimat ini sangat luas pemaknaanya dan sangat bersifat rahman-rahim bagi seluruh Muslim.

Dan implikasi setiap kegiatan yang dilakukan oleh seorang muslim akan selalu mendapat naungan dari Tuhan yang Maha Menjaga.

Muslim disini bukan hanya umat Nabi Muhammad saja yang menggunakan tasmiyah ini. Sampai-sampai Nabi Sulaiman AS, pernah menggunakan kata ini untuk bersurat kepada Ratu Bilqis. Sebagaimana diterangkan dalam surah an-Naml ayat 30;

Baca Juga:  Misteri Wali Jadzab: Wali Allah dengan Perilaku Nyeleneh

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (٣٠)

“Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan Sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (Qs. An-Naml: 30)”

Surat tulisan Nabi Sulaiman AS kepada Bilqis adalah bertujuan Dakwah. Bahwa dalam segala sesuatu hendaknya mengkaitkan diri dengan Dzat yang Maha pengasih dan penyayang yaitu Allah.

Dasar ini yang harus diabadikan sebagai pengingat setiap kegiatan harus menyebut kepada Allah yang Maha Berkuasa. Ash-Shawabu Lillah

Mohammad Mufid Muwaffaq