Kisah Hafshah Binti Umar Hingga Akhirnya Menjadi Istri Nabi

Kisah Hafshah Binti Umar Hingga Ahirnya Menjadi Istri Nabi

Pecihitam.org – Hafshah Binti Umar adalah seorang putri dari sahabat Rasul yaitu Umar bin Khattab, ia adalah seorang janda setelah ditinggal wafat suaminya Khunais bin Khudzafah as-Sahami yang gugur dalam perang badar.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Nama lengkapnya yaitu Hafshah binti umar bin Khattab bin Naf’al bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Rajah bin Adi bin luay dari suku Arab Adawiyah. Ibunya bernama Zainab binti Mad’un bin Hubaib bin Wahab bin Hudzafah.

Hafsah dilahirkan bertepatan dengan pemindahan hajar aswad oleh Rasulullah ketempat semula, karena ka’bah kala itu dibangun kembali akibat roboh terkena banjir. Ditahun itu juga lahirnya Fathimah putri Rasulullah.

Kala kaum muslimin telah disatukan di Madinah sehingga menjadi sebuah pasukan yang kuat, tiba waktunya bagi mereka untuk memerangi orang-orang musyrik yang telah memusuhi dan mengambil hak-hak mereka dengan adanya perintah dari Allah.

Perang pertamanya adalah perang Badar, yang dimenangkan oleh kaum muslimin meskipun jumlahnya lebih sedikit dari orang-orang kafir, salah satu diantara mujahidin adalah Khunais yang mengalami luka yang amat parah dan ahirnya ia wafat.

Umar sangat sedih karena sekarang ia dapati putrinya telah menjadi janda, waktu itu Hafshah berusia delapan belas tahun. lantas ia mengadu kepada Rasulullah, Rasulullahpun bersabda: “Hafshah akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Abu Bakar dan Utsman. Utsmanpun akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Hafshah”.

Baca Juga:  Hatim Al-Asham, Seorang Wali yang Pura-pura Tuli demi Seorang Wanita

Umarpun mengerti dari sabda Rasulullah, bahwa beliau akan menyunting Hafshah Binti Umar sebagai istrinya. Ahirnya pernikahanpun berlangsung antara Rasulullah dengan Hafshah radliyallhu ‘anhu.

Sama seperti istri Rasulullah lainnya, Hafshah pun mendapatkan kamar husus dirumah Rasulullah. Kala itu ada kecemburuan dari Aisyah karena mereka berdua tidak berselisih jauh usianya. Berbeda dengan Saudah yang menerimanya dengan baik.

Kala itu ada seorang tamu yang menemui Rasulullah yaitu Mariyah al-Qibtiyah di  masukannya Mariyah kedalam rumah Hafshah, Hafshah kala itu sedang keluar rumah, setibanya ia kembali ia dapati kamar tabir yang tertutup sementara Rasulullah dan Mariyah berada di dalamnya.

Hafshahpun sontak menangis penuh amarah, Rasulullahpun membujuknya dan berusaha meredakan amarah Hafshah, bahkan Nabi bersumpah mengharamkan Mariyah jika Mariyah tidak meminta maaf kepada Hafshah, Nabipun meminta agar Hafshah tidak menceritakan kepada siapapun.

Namun berita dengan mudahnya tersebar, Nabipun marah kepada Hafsah bahkan ada sebagian riwayat yang mengatakan bahwa Nabi menceraikan Hafshah namun merujuk kembali.

Baca Juga:  Kisah Ummu Salamah Hingga Akhirnya Menjadi Istri Rasulullah Saw

Ada juga riwayat yan mengatakan bahwa Nabi bermaksud menceraikan namun Jibril datang dengan maksud agar Rasulullah mempertahankan Hafshah.Hafshahpun menyesali akan kejadian tersebut. Agar tidak terjadi isu-isu dan fitnah maka Allah menurunkan wahyunya surat At-Tahrim ayat 1-5.

Dalam suatu kisah istri-istri Rasul meminta untuk diberikan tambahan nafkah yang membuat Rasul marah kepada mereka, Rasulpun tidak mengumpuli istri-istrinya selama satu bulan, selama itu Rasulullah berada dalam kamar yang disebut khazanah dan seorang budak yang duduk didepan pintu yang bernama Rabah.

Dari kejadian itu turunlah ayat “wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, jika kalian menghendaki kehidupan dunia dan segala perhiasannya, maka kemarilah aku akan memenuhi keinginanmu itu dan aku akan menceraikanmu dengan baik-baik. Dan jika kalian menginginkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya serta kesenangan dikampung akhirat, sesungguhnya Allah akan menyediakan bagi hamba-hamba yang baik di anatara kalian pahala yang besar. (QS. Al-Ahzab).

Umarpun menemui Rasulullah untuk meminta kejelasan, karena telah tersebar isu bahwa Rasul telah menceraikan istri-istrinya, walaupun Umar yakin bahwa Rasul tidak akan menceraikan istri-istrinya, dan memang benar Rasul tidak menceraikan istri-istrinya.

Umarpun meminta izin untuk mengumumkan hal itu di masjid. Setelah genap satu bulan Rasulullah menjauhi istri-istrinya beliau kembali kepada mereka, tampak penuh penyesalan dari istri-istri beliau. Hafshahpun memperbanyak ibadah seperti shalat malam dan puasa sebagai bentuk penyesalannya hingga menjadi kebiasaan.

Baca Juga:  Kisah Nabi Musa Berguru pada Nabi Khidir

Hingga ahirnya Rasulullah wafat kebiasaan itu masih terus ia laksanakan bahkan pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar ia mengikuti perkembangan penaklukan-penaklukan di timur dan barat.

Hafshah Binti Umar berperan banyak dalam agama islam salah satunya ialah yang mengumpulkan mushaf Al-Qur’an menjadi satu atas perintah Abu Bakar yang disedak Umar. Karena pada saat itu banyak para Hafidz yang gugur dalam perang Riddah (perang melawan kaum murtad).

Walaupun Abu Bakar awalnya khawatir bahwa mengumpulkan Al-Quran dalam satu kitab adalah sesuatu yang mengada-ada sebab hal itu tidak dilakukan semasa Rasulullah. Hafsahpun mengumpulkan, menyimpan dan merawat Al-Qur’an.

Dalam suatu riwayat mengatakan bahwa Sayyidah Hafshah wafat pada tahun ke empatpuluh tujuh pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sofyan, ia dimakamkan di Baqi’, bersebelahan dengan makan-makan istri Nabi yang lain.

Lukman Hakim Hidayat