Kisah Inspiratif: Shalawat Dibalik Daun-daun yang Berserakan

daun yang bershalawat

Pecihitam.org – Sebuah kisah inspiratif yang semoga dapat menjadikan kita sebagai seorang yang lebih baik lagi. Yang harus kita lakukan adalah semakin memperbaiki diri dan percaya bahwa Alalh pasti akan membagikan rizki-Nya sesuai takaran yang sudah Allah tentukan. Seperti sebuah kisah yang sangat menyentuh hati kita tentang seorang nenek dari tanah Jawa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dahulu, di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar dan jarak antara rumah dengan pasar tersebut cukup jauh dan beliau lalui dengan berjalan kaki. Setelah berjalan kaki cukup jauh. Siang hari usai berjualan, Ia pergi ke Masjid Agung di kota itu. Ia berwudu, masuk masjid, dan melangsungkan shalat Dhuhur.

Setelah membaca wirid dan doa sekadarnya, nenek tersebut keluar masjid, kemudian si nenek membungkuk-bungkuk di halaman. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceraan. Selembar demi selembar dikaisnya, tidak satu lembar pun ia lewatkan.

Tentu saja perlu waktu lama untuk membersihkan halaman masjid dari dedaunan yang jatuh dari pohon dengan cara seperti itu. Padahal, jika tengah hari, sengatan matahari di kota Madura sungguh menyengat. Keringat pun mengucur dari tubuh yang kurus dan mulai rapuh itu.

Baca Juga:  Sikap Toleransi Khalifah Umar Bin Khatab Kepada Agama Lain

Banyak pengunjung masjid yang merasa iba kepada nenek tersebut. Hingga suatu hari, takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum si nenek datang, dengan maksud agar si nenek tidak membungkuk-bungkuk membersihkan halaman masjid.

Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai menunaikan shalat, ketika hendak melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan lalu menangis. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya.

Orang-orang pun menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya, karena orang-orang tersebut tidak mengetahui tujuan nenek sebenarnya. Kemudian si nenek mengemukakan tujuannya tersebut beliau berkata “Jika kalian kasihan kepadaku, berikan aku kesempatan untuk membersihkannya.”

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan daun-daun yang berserakan seperti biasa. Seorang kiai yang terhormat diminta untuk menanyakan kepada nenek tua itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan daun-daun di halaman masjid. Padahal matahari sedang terik.

Baca Juga:  Kisah Nabi Musa Telanjang Berlarian Mengejar Batu

Kemudian Kyai yang diminta tolong untuk menanyakan kepada si nenek itu, dan nenek pun mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat; Pertama, hanya Pak Kiai yang mendengarkan rahasianya; Kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang, ia sudah meninggal, dan kita bisa mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, Pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari kiamat tanpa syafaat Kanjeng Rasulullah.

Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya telah membacakan shalawat kepadanya.”

Begitulah, ketika seseorang mencintai Nabinya, ia akan mencari seribu satu cara agar bisa menyalurkan rasa cinta itu. Nenek renta ini bukanlah seorang ulama terkenal, ia hanyalah seorang penjual bunga cempaka.

Baca Juga:  Tipudaya dan Usaha-Usaha Yahudi Membunuh Nabi Isa AS

Tidak banyak kata dalam kamus kehidupannya untuk mengungkapkan kerinduannya kepada Rasulullah. Namun, dengan kesederhanaan yang begitu jernih dan berbalut keikhlasan, ia telah mampu menginspirasi banyak orang untuk mempertanyakan sejauh mana kecintaannya kepada Al Musthafa, Rasulullah saw.

Cinta yang hakiki dari seorang nenek, bentuk nyata dari ungkapan rasa cintanya kepada kekasih Allah, kepada junjungannya Rasulullah. Bukan hanya membual omong kosong belaka, namun wujud nyata.

Allahumma shalli’ala sayyidina Muhammad.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik