Kisah Khalid bin Walid, Sahabat Rasulullah yang Memimpin Perang Yarmuk

Kisah Khalid bin Walid, Sahabat Rasulullah yang Memimpin Perang Yarmuk

PeciHitam.org  – Perang Yarmuk adalah perang yang melibatkan antara pasukan Muslimin Arab yang merupakan sahabat Rasulullah melawan tentara kerajaan Romawi Timur pada abad 13 H / 634 M yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Asakir di dalam bukunya Ibnu Hisyam bahwa peristiwa tersebut terjadi sebelum penaklukan Damaskus pada tahun 13 H.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Perang ini termasuk peristiwa penting dalam sejarah dunia, karena perang ini menyebabkan kembalinya wilayah Damaskus dan takluknya wilayah Palestina, Suriah dan Mesopotamia ke tangan Islam, serta berkembangnnya Islam keluar Jazirah Arab. Perang ini disebut perang Yarmuk karena terjadi di dekat sungai Yarmuk.

Kaum muslimin di bawah komandan perang dan juga Sahabat Rasulullah Khalid bin Walid tiba di Yarmuk, mereka membentuk markas pasukan di sana sampai bertemu dengan prajurit Romawi. Kali ini Khalid bin Walid menerapkan strategi perang baru yang belum pernah digunakan oleh orang-orang Arab sebelumnya. Strategi itu adalah membentuk kurdus dan pasukannya dibuat menjadi 30 sampai 40 kurdus. Khalid mengurutkan pasukannya berdasarkan urutan sebagai berikut:

  • Beberapa kelompok yang terdiri dari 10 sampai 20 kurdus, setiap kelompok di bawah satu komandan pasukan dan 1 pemimpin umum.
  • Satu kurdus terdiri dari 1000 prajurit di bawah 1 komandan perang dan 1 pemimpin umum.
Baca Juga:  Ketika Salman Al Farisi ingin Melihat Punggung Rasulullah SAW

Khalid bin Walid membagi pasukannya menjadi 40 kurdus sebagai berikut:

  1. Bagian inti terdiri dari 18 kurdus dibawah pimpinan komandan Abu Ubaidah bin al-Jarrah dengan didampingi Ikrimah bin Abu Jahal dan al-Qa’qa’ bin Amru.
  2. Sayap kanan terdiri dari 10 kurdus dibawah komandan ‘Amr bin al-‘Ash dengan pendamping Syurahbil bin Hasanah.
  3. Sayap kiri terdiri dari 10 kurdus dibawah komandan Yazid bin Abu Sufyan.
  4. Kelompok pengintai terdiri dari sekelompok pasukan berkuda dan pasukan di depan, karena tugasnya melakukan pengawasan dan pengintaian serta berkoordinasi mengenai perkembangan pergerakan musuh, maka jumlah pasukan ini jumlahnya kecil dan sedikit.
  5. Bagian belakang terdiri dari 5.000 prajurit (lima kurdus) di bawah komandan said bin Zaid.

Adapun tugas pasukan belakang ini antara lain :

  1. Mengelola urusan administrasi dibawah tanggung jawab al-Qadhi Abu ad-Darda’.
  2. Sebagai distributor dibawah tanggung jawab Abdullah bin Mas’ud dengan tugas sebagai bendahara administrasi, mendistribusikan kebutuhan logistik pasukan dan mengumpulkan ghanimah.
  3. Membacakan ayat-ayat Al-Quran dibawah tanggung jawab al-Miqdad bin al-Aswad. Dia berkeliling kepada manusia untuk membacakan surat al-Anfal dan ayat-ayat tentang jihad untuk membangkitkan semangat berjihad dan membakar mental pasukan.
  4. Bimbingan mental dibawah tanggung jawab Muawiyah bin Abu Sufyan. Dia berkeliling di barisan-barisan pasukan memotivasi mereka untuk bertempur.
  5. Bagian perlengkapan pasukan Islam dibawah komandan Khalid bin Walid yang juga bertindak sebagai pemimpin umum semua pasukan Islam.
Baca Juga:  Khalid bin Walid, Panglima dan Ahli Strategi Perang yang Bergelar Saifullah Al-Maslul

Setiap komandan pasukan berjalan mengelilingi pasukannya masing-masing untuk membangkitkan semangat mereka berjihad, bersabar dan bertahan dengan sabar menghadapi serangan musuh. Para komandan perang pasukan Islam ini melihat bahwa pertempuran kali ini merupakan perang yang menentukan poin-poin besar yang sangat telak pada misi berikutnya.

Pada perang ini, jumlah pasukan Islam yang mati syahid ada 3000 orang, termasuk beberapa sahabat Rasulullah saw, beberapa sesepuh dan tokoh kaum muslimin. Sedang mereka yang mati syahid karena mempertahankan zonanya antara lain: Ikrimah bin Abu Jahal dan saudaranya ‘Amr bin Abu Jahal, ‘Amr bin Said dan Abban bin Said.

Sedangkan prajurit Romawi yang terbunuh berjumlah 120.000 orang, termasuk diantaranya 6.000 prajurit yang kakinya terikat oleh rantai dan 40.000 prajurit yang terjebak terperosok di dalam jurang.

Kemenangan gemilang ini disambut kaum muslimin dengan suka cita. Namun kebahagiaan ini terkeruhkan dengan datangnya berita kematian Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq, sehingga mereka semua dirundung duka yang sangat dalam.

Baca Juga:  Kisah Zahid ra. Rela Gagal Nikah dan Mati Syahid Demi Allah dan Rasul-Nya

Setelah peperangan Yarmuk selesai, maka tentara Islam dibagi dua. Sebagian menuju ke utara dibawah pimpinan Abu ‘Ubaidah, dan Khalid bin Walid, dan sebagian menuju ke selatan dibawah pimpinan‘Amr bin ‘Ash dan Syurahbil. Adapun Yazid bin Abu Sufyan tetap di daerah Damaskus. Ke daerah ini dia mula-mula diutus untuk melindungi dan menjaga negeri-negeri yang telah jatuh ke dalam kekuasaan kaum Muslimin.

Mohammad Mufid Muwaffaq