Kisah Cinta Sayyidina Ali Dan Fatimah Az Zahra (Cinta Dalam Diam)

kisah cinta sayyidina Ali

Pecihitam.org – Berbicara mengenai kisah cinta paling romantis dalam sejarah Islam, selain kisah cinta Rasulullah SAW, sebagian besar orang tentunya juga setuju bahwa kisah cinta paling romantis lainnya adalah kisah cinta Sayyidina Ali Bin Abi Thalib dengan Fatimah Az Zahra, wanita yang cantik, sangat cerdas, lagi berhati mulia dan tak lain adalah putri kesayangan Rasulullah SAW.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Bagaimana tidak romantis, kisah cinta dua anak manusia yang sama-sama mulia dan memiliki kedudukan tinggi di mata Allah ini sungguh sangat mengesankan, menyentuh hati dan mampu menjadi pelajaran berharga bagi setiap orang. Dalam beberapa riwayat bahkan dikatakan kisah cinta keduanya bukan sekedar kisah cinta paling romantis saja namun juga sangat mulia dan terpuji.

Kisah cinta sayyidina Ali dan Fatimah Az Zahra berlandaskan pada iman dan keyakinan hanya pada Allah semata. Meski keduanya saling mencintai satu sama lain dari jauh hari sebelum keduanya menikah. Keduanya mampu menyimpan cinta di hati masing-masing hingga akhirnya mereka bisa saling mencurahkan cinta keduanya dalam ikatan halal pernikahan.

Sebelum dipersatukan dalam ikatan, perjuangan dan pengorbanan keduanya untuk sampai ke pernikahan tidaklah mudah. Berkali-kali sayyidina Ali harus merasa kecewa dan berusaha ikhlas menerima kenyataan bahwa Fatimah telah dilamar pria lain yang jauh lebih sukses, jauh lebih berpengaruh dan jauh lebih dekat dengan Rasulullah, ayah dari wanita mulia bernama Fatimah.

Hancurnya Hati Ali Mengetahui Fatimah Dilamar Pria Lain

Hati Ali Bin Abi Thalib sekita hancur setelah mengetahui gadis pujaannya dilamar oleh seorang pria. Terlebih lagi, pria itu memiliki kedudukan tinggi di mata Allah dan juga di mata Rasulullah. Pria tersebut tidak lain adalah Abu Bakar As Shidiq. Ya, Abu Bakar telah memberanikan diri menghadap Rasulullah dan mengutarakan niatnya untuk mempersunting putri kesayangan Rasulullah, Fatimah Az Zahra.

Tapi ternyata, Fatimah menolak lamaran Abu Bakar. Mendengar penolakan ini, hati Ali kembali sedikit tenang. Wanita yang begitu ia cintai dan setiap hari ia sebut namanya dalam doa untuk diberikan keridhoan Allah atas dirinya, tidak jadi menjadi milik orang lain.

Baca Juga:  Sejarah Munculnya Ahli Hadis Pada Abad Keempat dan Kelima Hijriyah

Sayang, ketenangan dan keceriaan di hati Ali kembali sirna. Hatinya kembali hancur ketika mendengar kabar bahwa sahabatnya, seorang yang juga memiliki kedudukan tinggi di mata Allah dan Rasulullah serta sangat gagah perkasa dan memiliki segalanya yakni Umar Bin Khatab menghadap Rasulullah dan mengatakan bahwa ia ingin meminang Fatimah.

Beruntung, sekali lagi takdir berpihak kepada Ali. Lamaran Umar juga ditolak oleh Fatimah dan Rasulullah. Hati Ali pun kembali menjadi lebih tenang. Namun, di sisi lain hatinya juga sangat gundah, sedih. Ali merenung, jika kedua pria yang memiliki kedudukan tinggi di mata Allah dan Rasulullah saja ditolak lamarannya, bagaimana dengan dirinya yang hanya seorang pemuda miskin dan tak punya apa-apa.

Kondisi inilah yang membuat Ali menjadi pasrah. Ia hanya meminta kepada Allah agar diberikan yang terbaik padanya. Kalau pun memang Fatimah akan menjadi istrinya, di dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikan jalan terbaik baginya.

Dalam sebuah riwayat di kisahkan, suatu hari Ali berbincang dengan Abu Bakar dan ia mengatakan selayaknya bait puisi.,

“Wahai Abu Bakar, engkau telah membuat hatiku yang sebelumnya tenang menjadi goncang. Engkau telah mengingatkanku akan sesuatu yang sudah aku lupakan. Demi Allah, aku menghendaki Fatimah. Tapi, yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah karena aku tidak mempunyai apa-apa untuk memberanikan diri datang padanya.” Mendengar pernyataan Ali, Abu Bakar pun tersentuh lantas mengatakan, “Wahai Ali, janganlah engkau berkata demikian. Bagi Allah dan Rasul-Nya, dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu-debu bertaburan belaka.”

Mendengar nasehat Abu Bakar dan atas dukungan beberapa sahabat yang lain, Ali pun lantas memberanikan diri menghadap Rasulullah dan mengutarakan isi hatinya. Apa yang disampaikan Rasulullah pun begitu mengharukan dan menyentuh hati.

Baca Juga:  Kelahiran Nabi Isa dalam Perspektif Al-Quran

Sayyidina Ali Mengungkapkan Isi Hati

Dengan perasaan ragu-ragu namun penuh harap, Ali pun menghadap Rasulullah. Ia mengutarakan niatnya untuk meminang Fatimah Az Zahra.

Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa wajah Rasulullah berseri-seri atas kedatangan Ali. Beliau lantas mengatakan, “Apakah engkau memiliki suatu bekal mas kawin?.” Dengan penuh ketulusan Ali pun menjawab, “Demi Allah, engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku ya Rasulullah. Tak ada sesuatu tentang diriku yang tak engkau ketahui. Aku tidak memiliki apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta.”

Mendengar jawaban Ali, Rasulullah pun tersenyum lantas mengatakan, “Tentang pedangmu, engkau tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu, engkau tetap memerlukannya untuk mengambil air bagi keluargamu juga bagi dirimu sendiri. Engkau tentunya memerlukannya untuk melakukan perjalanan jauh. Oleh karena itu, aku hendak menikahkanmu dengan mas kawin baju besi milikmu. Aku bahagia menerima barang itu darimu Ali. Engkau wajib bergembira sebab Allah lah sebenarnya yang maha tahu lebih dulu. Allah lah yang telah menikahkanmu di langit lebih dulu sebelum aku menikahkanmu di bumi.” (HR. Ummu Salamah r.a)

Rasa syukur tak henti-hentinya diucapkan oleh Ali. Ia akhirnya menikah dengan seorang gadis yang telah lama dicintainya dengan sangat tulus. Pernikahan antara Ali dan Fatimah pun dilangsungkan. Setelah menikah dengan Fatimah, sesaat hati Ali kembali dibuat sedih setelah Fatimah mengatakan bahwa ia pernah mencintai seorang pemuda sebelum menikah. Tapi, selama ini ia menyimpan rapat cinta tersebut dan hanya ia juga Allah yang tahu. Bahkan, di dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa cinta Fatimah untuk seorang pemuda ini tidak diketahui oleh jin ataupun setan sekalipun.

Baca Juga:  Kisah Ibrahim bin Adham Mencari Kehalalan Sebutir Kurma

Namun, kesedihan tersebut tak berlangsung lama dan Ali pun kembali merasa sangat bahagia luar biasa ketika Fatimah menjelaskan lebih dalam bahwa seorang pemuda yang ia cintai sebelum ia menikah sekarang ada dihadapannya. Ia adalah seorang pemuda yang mampu membuat detak jantung Fatimah berdetak semakin cepat setiap kali ia berada di dekatnya. Ia adalah pemuda sederhana namun sangat mulia dan istimewa di hadapan Allah, Rasulullah juga semua umat muslim. Ia adalah seorang pemuda yang kini telah menjadi suaminya. Ia adalah Ali Bin Abi Thalib.

Sayyidna Ali dan Sayyidatina Fatimah adalah pasangan suami istri yang begitu mencintai dengan tulus serta mengesankan satu sama lain. Meski kehidupan rumah tangga mereka tidak berjalan mulus seperti apa yang ada di bayangan mereka, mereka tetap saling mendukung satu sama lain.

Itulah kisah cinta Sayyidina Ali dan Fatimah Az Zahra. Semoga, kisah cinta romantis keduanya bisa menjadi inspirasi bagi kita semua dan kita pun bisa mengambil setiap pelajaran berharga darinya. Jodoh sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagi yang sudah dipertemukan jodohnya, pastikan untuk selalu mencurahkan kasih sayang tulus satu sama lain. Sementara untuk yang belum dipertemukan dengan jodohnya, bersabarlah! Entah kapan dan dimana, Allah pasti akan segera mempertemukan jodohmu. Tugasmu sekarang adalah memantaskan diri karena sebenarnya jodoh adalah cerminan dari dirimu sendiri.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.