Kisah Nabi Musa Telanjang Berlarian Mengejar Batu

kisah nabi musa telanjang mengejar batu

Pecihitam.org – Allah SWT terkadang punya hal-hal unik untuk membuktikan suatu hal. Seperti halnya kisah-kisah Nabi dan mukzizatnya. Namun ada hal yang cukup menarik tentang kisah nabi musa yang telanjang karena mengejar bajunya. Telanjangnya nabi musa bukan karena tidak ada sebab. Tapi itu malah merupakan cara Allah untuk membebaskan Nabi Musa dari fitnah kaum-kaumnya.

Nabi Musa ‘As adalah orang yang sangat pemalu. Oleh karena sifat malu tersebut, beliau menutup seluruh bagian tubuhnya dan tidak menampakkannya sejengkal kulitpun kepada orang lain.

Di kalangan Bani Israil terdapat orang-orang yang menyakitinya menyebar fitnah bahwa Nabi Musa ‘As menutup auratnya sedemikian rapat semata-mata untuk menutupi aib atau penyakit kulit yang ada di tubuh beliau. Mereka berkata, ‘Musa tidak tertutup seperti itu kecuali karena punya cacat di kulitnya, bisa penyakit sopak, atau bisa karena kedua buah pelirnya besar atau penyakit lainnya.” Fitnah itu pun menyebar begitu cepatnya hingga sampai ke telinga Nabi Musa, dan menyakiti hati beliau.

Dan sesungguhnya Allah berkehendak untuk membebaskan nabi Musa dari segala tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Suatu hari Nabi Musa As menyendiri. Beliau mandi di sebuah sungai, melepas pakaiannya dan meletakkannya di atas sebuah batu.

Baca Juga:  Kamu Harus Tahu! Ini Rahasia di Balik Anjuran Membaca Al-Kahfi Pada Hari Jumat (Bagian I)

Selesai mandi Nabi Musa menghampiri bajunya yang ada di atas batu untuk mengambil dan memakainya, tetapi batu itu malah kabur membawa lari baju beliau. Nabi Musa pun segera mengambil tongkat beliau dan mengejar batu tersebut dalam keadaan telanjang bulat.

Batu itu terus berlari menjauhi Nabi Musa As hingga sampai pada suatu tempat berkumpulnya para bani Israil. Merekapun melihat beliau Nabi Musa As dalam keadaan telanjang bulat sedang berlari membawa tongkat. Sehingga dilihatlah oleh mereka tubuh Nabi Musa As yang begitu sempurna, tanpa aib tanpa cacat. Batu itu berhenti dan Nabi Musa pun memakai pakaian beliau, lalu beliau pukul batu itu dengan tongkatnya. Pukulan itu pun berbekas pada batu tersebut tiga, empat atau lima pukulan padahal tongkat nabi Musa adalah kayu.

Kisah ini Allah SWT abadikan dalam al Quran. Allah berfirman :

يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًا

“Wahai orang-orang beriman janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang mengolok-olok (menyakiti) Musa lalu Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan.”(QS. Al-Ahzab ayat 69)

Hikmah Kisah Nabi Musa
  • Sifat malu merupakan sifat yang mulia, bahkan termasuk salah satu cabang keimanan.
Baca Juga:  Mengenang Sejarah Islam di Spanyol, 7 Abad Berkuasa dan Akhirnya Terusir

Hal ini sebagaimana disebutkan Rasulullah dalam hadits-hadits beliau, diantaranya :
“Dari Imran bin Hushain radliyallahu’anhuma, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Malu tidak akan datang kecuali dengan (membawa) kebaikan.” (muttafaq ‘alaih), dan di riwayat Muslim : “Malu itu seluruhnya baik.”

وعن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : الحياء شعبة من الإيمان

Dan dari Abu Hurairah radliyallaahu’anhu bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Malu itu salah satu cabang dari keimanan.” (Muttafaq ‘alaih)

  • Fitnah dan Gosip merupakan cobaan yang bisa menimpa setiap orang, tak terkecuali para Nabi dan Rasul.
Kunci sukses menghadapi cobaan tersebut adalah :
  • Pertama : sabar, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu hadits beliau :

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membagi pembagian (ghanimah) lalu ada seseorang berkata: “Sungguh pembagian ini tidak dimaksudkan untuk mengharap wajah Allah (keridlaan-Nya)”. Lantas, aku pun (‘Abdullah) mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan memberitahukan apa yang dikatakan laki-laki itu, maka Beliau marah hingga aku lihat tampak kemarahan pada wajah Beliau. Beliau lalu bersabda: “Semoga Allah merahmati Musa, karena dia pernah disakiti lebih banyak dari ini dan dia tetap shabar.” (H.R. Bukhori)

  • Kedua : yakin bahwa Allah akan senantiasa membela orang-orang yang beriman. Allah berfirman :
Baca Juga:  Debat Nabi Musa dengan Imam Al-Ghazali, Luar Biasa Akhlak dan Ilmu Sang Hujjatul Islam

إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.” (Q.S. Al-Hajj : 38)
Wallahu’alam Bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *