Kitab al Adzkar Karya Imam Abu Zakariya Muhyidin an Nawawi

kitab al adzkar

Pecihitam.org – Banyak sekali kitab-kitab karangan para ulama yang membicarakan pasal-pasal dzikir, doa, wirid, dan sebagainya. Biasanya kita tersebut berupa ringkasan, kutipan, maupun pensarian dari kitab-kitab klasik sebelumnya. Ada yang berbahasa bahasa Arab, bahasa Indonesia dan juga terjemahan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Namun di antara berbagai kitab tersebut, kemungkinan besar banyak yang merujuk kepada kitab yang di kalangan pesantren lebih dikenal dengan nama kitab al-Adzkar. Nama lengkap kitab ini adalah al-Adzkar al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi al-Abraar karangan Imam an Nawawi.

Kitab al-Adzkar ini banyak membicarakan tentang pasal-pasal dzikir, doa, wirid, dan sebagainya. Kitab ini juga berisikan hadits dan petuah para ulama tentang dzikir, etika, dan ibadah yang menuntun para pembaca dan pengkajinya untuk lebih dekat dengan Allah SWT.

Ada dzikir yang dibaca pada pagi dan malam hari. Ada pula dzikir dan doa yang dikhususkan pada waktu tertentu, seperti doa ketika memasuki rumah, doa ketika berada di Tanah Suci, doa memakai pakaian, doa masuk WC, dan masih banyak lagi doa-doa lainnya. Doa-doa tersebut kebanyakan di dasarkan pada hadits dan juga pendapat para ulama terdahulu.

Baca Juga:  Kitab Fathul Mu'in, Syarat Untuk Menjadi Kyai di Bidang Fiqih

Pada bab awal kita ini membahas tentang Ikhlas dalam beramal. Imam an Nawawi mengutip ayat Alquran surat al-Bayyinah ayat 5 yang artinya,

“Tidaklah manusia diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas untuk agamanya”.

Seorang alim Fudhail bin Iyadh mengatakan, meninggalkan amal perbuatan hanya untuk dilihat manusia adalah kesombongan. Sedangkan amal perbuatan yang dilakukan untuk dilihat manusia merupakan syirik. Yang paling utama adalah Ikhlas dalam beramal, sebab dengan ikhlas, Allah akan menjauhkan hati seseorang dari sifat syirik dan riya.

Imam al-Qusyairi menjelaskan, ikhlas berarti memfokuskan diri untuk taat kepada Allah. Yang diinginkan hanyalah kedekatan (taqarrub) bersama Allah, bukan yang lain. Pendapat lain yang dikutip Imam Nawawi berasal dari Sahl Tustari. Sufi tersebut mengatakan, ikhlas adalah menjadikan semua gerakan dan juga diam dalam rahasia Allah, sehingga tak diganggu nafsu dan dunia.

Dalam pembahasan mengenai ikhlas ini bertujuan agar para pembaca memahami bahwa segala amal kebaikan yang dikerjakan hendaknya hanya diniatkan untuk Allah Swt semata, bukan untuk dunia yang hanya sementara.

Sifat Ikhlas kepada Allah akan menjadikan amal kebaikan bukan hanya bermanfaat untuk kehidupan dhohir saja, namun juga batin. Amal tersebut bermanfaat untuk orang lain dan alam sekitar serta berpahala, sehingga lebih menenangkan jiwa.

Baca Juga:  Kitab Bidayatul Hidayah (Cara Meraih Hidayah) Karya Imam Al Ghazali

Kitab ini sangat kaya dengan pendapat para ulama. Mereka berbicara tetang etika yang menjadi jalan menuju kedekatan kepada Tuhan. Petuah dan nasehat mereka merupakan asupan bermanfaat untuk hati yang selama ini dipenuhi dengan kesibukan duniawi. Berbagai pembahasan dalam Kitab al-Adzkar akan membuat siapa pun menyadari, bahwa selama ini kesibukan dan keduniaan telah merenggut kemesraan dan kehangatan bersama Sang Pencipta.

Imam an Nawawi dilahirkan di sebuah desa bernama Nawa, di sebuah dusun bernama Hauran, Suriah, dua perjalanan dari Kota Damaskus pada 631 H pada bulan Muharram dengan nama lengkap al-Imam al-‘Allamah Abu Zakaria Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi. Nama beliau dinisbatkan pada nama an-Nawawi dan ad-Dimasyqi karena kota kelahiran beliau tersebut.

Karena keluasan ilmunya beliau mendapat gelar Muhyiddin yang berarti yang menghidupkan agama. Padahal beliau tidak menyukai pemberian gelar ini karena sifat tawadhu’nya. Beliau pernah berkata, “Aku tidak memperbolehkan orang memberikan gelar “Muhyiddin” kepadaku.” Walaupun begitu beliau tetap pantas mendapatkan gelar tersebut karena perannya dalam menghidupkan sunnah, mematikan bid’ah, dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Baca Juga:  Futuh al-Arifin; Terjemah dan Syarah Kitab al-Hikam dari Tanah Banjar

Silahkan download terjemah kitab tersebut pada link dibawah ini:

Terjemah Kitab al Adzkar Jilid 1
Tertemah Kitab al Adzkar Jilid 2
Tertemah Kitab al Adzkar Jilid 3
Tertemah Kitab al Adzkar Jilid 4

Penting: Kitab ini berbentuk digital, jika anda menemukan link download yang error atau isi kitab yang tidak sesuai dengan teks aslinya silahkan komentar dibawah atau kirimkan email ke redaksi. Dan disarankan lebih baik membeli kitab yang berbentuk cetakan asli dari penerbit terpercaya sebagai bentuk kehati-hatian. Terima kasih

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik