Maladewa, Negeri 90 Persen Air dengan Penduduk 100 Persen Muslim

maladewa

Pecihitam.org – Maladewa, sebuah negara kepulauan di Samudra Hindia dengan Ibu Kota Male yang terdiri dari kumpulan atol (suatu pulau koral yang mengelilingi sebuah laguna). Secara geografis Maladewa terletak di barat daya Negara India atau sekitar 699 km sebelah barat daya Sri Lanka.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Republik Maladewa ini adalah negara dengan populasi dan luas wilayah terkecil di kawasan Asia, memiliki 26 atol yang terbagi menjadi 20 atol administratif dan 1 kota.

Tinggi rata-rata permukaan tanah di Maladewa adalah 1.5 meter di atas permukaan laut dan puncak tertinggi Maladewa hanya 2.3 meter di atas permukaan laut, hal ini menjadikannya negara dengan permukaan terendah di seluruh dunia.

Perekonomian Maladewa bergantung pada dua sektor utama, yaitu perikanan dan pariwisata. Negara ini sangat dikenal memiliki banyak pantai yang indah dan pemandangan bawah laut yang menarik.

Terdapat sekitar 700.000 turis mengunjungi negara ini setiap tahunnya. Penangkapan dan pengolahan ikan menjadikan Maladewa salah satu ekportir ikan ke beberapa negara Asia dan Eropa.

Luas keseluruhan Negara ini, yaitu 90.000 km2 dan luas daratan negara ini hanya 0,5 persennya saja. Tidak ada pulau yang besar, tidak ada bukit atau gunung. Rata-rata ketinggian dari permukaan laut hanya 1,5 m.

Republik Maladewa punya populasi sekitar 400.000 orang. Ibu kota negaranya, Male, hanya memiliki luas kurang dari 2 km persegi dan populasi penduduknya sekitar 70.000 orang.

Male merupakan kota terpadat di dunia dengan 35.000 orang per km2. Hanya empat pulau yang tercatat memiliki populasi di atas 5.000 orang, sedangkan pulau-pulau berpenghuni lainnya rata-rata dihuni 800 orang saja.

Penduduk Maladewa disebut orang Divehi. Mereka menamakan negara mereka Divehi rajje yang berarti Kerajaan Kepulauan. Secara etnografi, orang Divehi dibagi menjadi tiga kelompok.

Kelompok utama penduduk Maldives yang menempati IhavandippuỊu (Haa Alif) hingga Haddummati (Laamu), kelompok selatan Maladewa yang mendiami tiga atol paling selatan di ekuator, dan penduduk Minicoy yang menempati pulau sepanjang 10 km di bawah administrasi India. Terdapat 4 etnis di Maladewa yaitu Sinhalese, Dravida Arab, dan Afrika berkulit hitam dan satu etnis minoritas yaitu Suku Indian.

Baca Juga:  Macam-Macam Istilah Anak dalam Islam, Mulai dari Penyebutan Hingga Fasenya

Selain sektor pariwisata yang menjadi komoditi nomer wahid di Maladewa, ekspor ikan tuna juga menyumbangkan banyak pemasukan bagi negara kepulauan tersebut. Sebanyak 90 persen ikan tuna yang diekspor adalah tuna segar, tuna kering, tuna beku, tuna diasinkan, dan tuna kaleng.

Akan tetapi, kondisi tanah yang kurang subur membuat Maladewa harus impor bahan makanan pokok dari negara lain, semisal India dan Sri Langka.

Beberapa Industri di negara ini adalah pembuatan kapal, pengalengan tuna, kerajinan tangan, produksi pipa PVC, sabun, mebel, dan produk makanan lainnya. Maladewa mempunyai hubungan baik dari sisi perekonomian dengan Negara lain seperti Jepang, Sri Lanka, Thailand, dan Amerika Serikat.

Islam Hadir Berabad-abad lalu

Agama ini dibawa oleh pedagang asal Timur Tengah dan Gujarat untuk kemudian diterima luas oleh masyarakat pribumi dengan cukup mudah. Maka tidak heran apabila Islam telah menjadi agama resmi semenjak 800 tahun lalu.

Ibnu Battutah, sejarawan Muslim terkemuka asal Maroko, bahkan mengungkapkan, sebelumnya raja-raja di Maladewa memeluk agama Buddha dan pada tahun 1153 Muhammad el Adil adalah sultan pertama di Maladewa yang memeluk Islam. Bahkan menurut sumber lain, pada tahun 1344, Ibnu Batutah langsung diangkat sebagai hakim.

Beberapa nama sultan setelahnya, seperti Sultan Hatidje, Sultan Maryam, dan Sultan Fatma Dayin pun dikenal sebagai bagian dari Kesultanan Maladewa. Dari kesultanan Maladewa inilah wilayah gugusan atol ini kemudian menjadi negara berpenduduk Muslim mayoritas hingga kini.

Syaikh Abul Barakhat al Barbari disebut-sebut sebagai penyebar agama Islam yang termasyhur di Maladewa. Pada tahun 1153 M kesultanan pertama Maladewa dibentuk dan sejak saat itulah Islam menjadi agama resmi Nasional. Dan pada tahun 1344 M Ibnu Batutah pernah bekerja sebagai hakim di negara yang dulunya disebut Dibajat ini.

Negara dengan 100 Persen Penduduk Muslim

Republik Maladewa merdeka dari Inggris pada 26 Juli 1965. Republik Maladewa adalah salah satu atau bahkan satu-satunya negara di dunia yang mendeklarasikan diri sebagai negara dengan penduduk 100 persen muslim.

Baca Juga:  Kemuliaan Bulan Dzulhijjah menurut Syaikh Daud bin Abdullah Al-Fathani

Islam juga sangat berdampak pada hukum di Maladewa. Hukum syariat islam yang dikenal di Dhivehi membentuk aturan dasar yang disesuaikan dengan kondisi lokal penduduk. Salah satu contohnya adalah toko-toko dan pusat bisnis akan ditutup 15 menit sebelum masuknya waktu shalat dan dibuka kembali paling cepat 15 menit setelah shalat.

Di hari Jumat yang merupakan hari penting bagi umat Islam, toko-toko dan perkantoran di kota dan desa tutup sekitar pukul 11.00 siang. Khotbah Jumat biasanya dimulai pukul 12.30 waktu setempat. Tak hanya itu, selama bulan Ramadhan, kafe dan restoran ditutup pada siang hari. Jam kerja juga dibatasi.

Sebagian pulau yang berpenghuni mempunyai sejumlah masjid. Di pulau ini miski atau masjid menjadi pusat kegiatan Islam. Ibu Kota Male misalnya, memiliki lebih dari 30 masjid. Sebagian besar masjid bercat putih dengan bangunan yang dibangun dari batu karang dengan atap seng atau jerami.

Di Ibukota Male terdapat Male Islamic Center dan Masjid Grand Friday yang dibangun pada tahun 1984 dengan dana dari negara-negara Teluk Persia, Pakistan, Brunei, dan Malaysia. Masjid Grand Friday mempunyai struktur yang elegan.

Kubahnya yang berwarna emas menjadikan masjid ini bangunan yang pertama kali terlihat saat mendekati Male. Sekitar tahun 1991 Maladewa memiliki total 725 masjid dan 266 diantaranya adalah masjid bagi perempuan.

Antara Toleransi Agama dan Tumbuhnya Radikalisme

Selama ratusan tahun, Awalnya di Maladewa adalah Muslim Sunni. Akan tetapi , setelah kekuasaan Maumoon Abdul Gayoom yang otokratik selama tiga dekade dari tahun 1978-2008, ia kemudian memasukkan elemen Islam garis keras di negaranya. Pada 1994, Undang-Undang (UU) Perlindungan Agama diberlakukan. UU ini membatasi kebebasan beribadah selain agama Islam.

Seiring berakhirnya kekuasaan Gayoom pada 2008, pakaian bagi perempuan menjadi lebih konservatif. Sebelumnya, perempuan banyak yang berbusana dengan warna-warna terang, namun kini mereka cenderung mengenakan jubah hitam dan penutup kepala. Bahkan di pulau yang lebih konservatif lagi, seperti pulau Himandhoo, perempuan mengenakan abaya hitam dan cadar.

Baca Juga:  Pancasila Sudah Final Bagi Bangsa Indonesia! Tidak Bisa Ditawar-Tawar Lagi

Presiden Mamoon juga menerapkan satu agama yaitu Islam, bagi seluruh penduduknya. Dan yang tidak mau mentaatinya, ada dua pilihan, dipenjara atau pindah wajib kewarganegaraan.

Namun, informasi ini masih terjadi kontroversi, sebab jika melihat penduduk Maladewa yang masih cukup ramah dengan pendatang yang non-muslim. Sehingga ada yang beranggapan bahwa Maladewa menghargai perbedaan, tetapi mencintai Islam dengan sepenuh hati.

Setelah bergantinya jabatan presiden, pada 2013 Muhammad Nashid mendukung upaya demokrasi di Maladewa. Namun, setelah turun jabatan, ia malah divonis penjara 13 tahun oleh Yameen karena dituduh melakukan tindakan terorisme.

Politik semacam ini mendukung tumbuhnya radikalisme di negeri yang di masa lalu disebut Dabijat itu. Karena pemerintah disibukkan dengan penumpasan pemberontakan dan opisisi, menjadi kurang perhatian dengan adanya ancaman di bilik-bilik wilayahnya, yaitu radikalisme.

Kondisi itu, diperparah dengan kelakuan elit politiknya yang gemar memelihara preman-preman sebagai alat kontrol pengaruh kepada lawan-lawan politik mereka.

Sejak beberapa tahun terakhir ideologi radikal Islam tumbuh subur dan dimanfaatkan oleh kelompok teror Islamic State, Al-Qaida dan Front al Nusra untuk merekrut pejuang-pejuang baru. Tentu geliat ini tidak diperhatikan dengan saksama oleh pemerintah Maladewa yang sibuk dengan otokrasinya.

Islam memang sangat kuat di negeri Maladewa ini, tetapi kondisi politik yang otokratif dan elit politik yang sewenang-wenang membuat negara ini di masa depan bisa saja mendapatkan ancaraman dari dalam, baik pemberontakan, maupun radikalisme yang dipupuk bersandingan dengan terciptanya iklim konservatif yang diciptakan Mamoon Gayoom dan saudaranya Yameen Gayoom.

*Disarikan dari berbagai sumber

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.