Makna Kata Masya Allah dan Cara Menjawabnya Sesuai Tuntunan Ulama

Makna Kata Masya Allah dan Cara Menjawabnya Sesuai Tuntunan Ulama

PeciHitam.orgTertukarnya pengucapan Masya Allah dan Subhanallah pada Umat Islam kerap kali terjadi. Kedua ucapan tersebut pada satu sisi memiliki kekhususan dalam kondisi untuk diucapkan. Akan tetapi juga memiliki kesamaan, yaitu mengagungkan Dzat Allah SWT.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Baiknya seorang muslim harus mengetahui dan memahami penggunaan frasa Masya Allah dan Subhanallah pada kondisi yang sesuai. Agar tidak terjadi kesalahan dengan apa yang allah turunkan melalui Al-Quran dan tuntunan Nabi Muhammad SAW

Daftar Pembahasan:

Tulisan Masya Allah dalam Bahasa Arab dan Maknanya

Masya Allah (ما شاء الله) merupakan frasa yang diungkapkan Umat Islam guna menunjukkan sikap kekaguman terhadap seseorang, sesuatu atau kejadian yang ditemui.

Frasa Masya Allah dapat pahami sebagai ekspresi penghargaan, sementara dalam waktu yang sama juga sebagai pengingat bahwa semua pencapaian bisa terjadi karena kehendak Allah SWT. Tulisan Masya Allah (ما شاء الله) terdiri dari 3 kata.

Bahasa Arab membahasa Masya Allah memiliki setidaknya 3 kemungkinan dalam tata bahasa dan pemaknaan yaitu sebagai berikut;

Penjabaran Pertama secara Lughawi (Bahasa)

(ما) merupakan Jenis Isim Maushul (kata sambung) yang berkedudukan sebagai Khabar (predikat) dari Mubtada yang disembunyikan yaitu (هذا)

(شاء) merupakan Shilah dari Isim Maushul yang bermaksud mempunyai keterhubungan dengan kata hubung didepannya. (الله) lafadz Jallallah merujuk kepada Allah SWT sebagai nisbat dan sandaran segala sesuatu yang berjalan di dunia. Hanya Allah tempat bersandar dan tempat penyandaran segala hal.

Penjabaran Kedua dalam Bahasa Arab

Kalimah maa (ما) pada Masya Allah merupakan kata benda yang mengindikasikan sebab. Dan frasa syaa Allah (شاء الله) berstatus sebagai fiil syarath (kata kerja sebab). Dalam bahasa Arab, setiap ada fiil Syarath wajib mempunyai fiil jawab. Dan kata fiil jawab dalam konteks Masya Allah adalah fiil Mahduf (kata kerja tersembunyi) yaitu (كان).

Merujuk keterangan di atas maka tulisan lengkap dari Masya Allah adalah (ما شاء الله كان). Dengan susunan kalimat seperti ini akan menjadikan bermakna bahasa Indonesia adalah: Apa yang dikehendaki oleh Allah, maka itulah yang akan terjadi.

Penjabaran kedua ringkasnya, bisa diterjemahkan dengan dua terjemahan, Inilah yang diinginkan oleh Allah atau apa yang dikehendaki oleh Allah, maka itulah yang akan terjadi. Maka ketika melihat hal yang menakjubkan, lalu kita ucapkan (ما شاء الله), artinya kita menyadari dan menetapkan bahwa hal yang menakjubkan tersebut semata-mata terjadi karena kuasa Allah.

Baca Juga:  Ijtihad, Alat Pemecah Dinamika Masalah Hukum Islam

Penjabaran Ketiga dalam Versi Pesantren

Jika diterjemahkan dengan bahasa Pesantren akan berbunyi : adalah (ما)- Segala Sesuatu, (شاء) yang dikehendaki, yaitu Karena (الله) Allah SWT. Segala sesuatu berada dalam kehendak Allah SWT.

Atau dalam terjemahan Indonesia kurang lebih menjadi “Allah telah berkehendak akan hal tersebut” atau Apa Yang dikehendaki Allah. Frasa Masya Allah digunakan untuk menunjukan sikap Takjub atas keindahan, kekaguman, keagungan dan diluar akal manusia segala kejadian yang terjadi.

Masya Allah dan Kaitannya dengan Aqidah Islam

Masya Allah (ما شاء الله) merujukan kepada Umat Islam untuk menekankan diri kepada ajaran Islam bahwa Hanya Allah SWT sebagai pengendali pencipta Takdir bagi segala sesuatu. Ungkapan ini juga menjadi ungkapan kegembiraan disertai doa.

Masya Allah menunjukan kepada kita agar manusia selalu bersandar atas segala hal yang indah, menakjubkan dan diluar akal Manusia. Kekaguman atas segala yang terjadi di dunia dalam Islam harus tidak melepaskan diri dari sang Penciptanya yaitu Allah SWT.

Bukti bahwa Allah mencipta segala sesuatu, keindahan, hal menakjubkan, mengagumkan adalah sebuah fakta Wujudnya Dia. Nisbat hanya kepada Allah pencipta segala sesuatu yang mengagumkan merupakan ciri akidah Islam. Seseorang yang tidak meyakini bahwa Allah tempat bersandar segala sesuatu, bisa jadi tidak berakidah Islam dengan benar.

Allah SWT menyebutkan untuk mengucapkan Masya Allah dengan benar sebagaimana dalam Surat Al-Kahfi ayat 39;

وَلَوْلا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالا وَوَلَدًا

Artinya; Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan (Qs. Al-Kahfi: 39)

Ayat ke-39 surat al-Kahfi di atas menunjukan untuk mengucapkan Masya Allah terhadap penglihatan yang mengagumkan. Penggunaan kata tersebut untuk menunjukan sikap beriman kepada Allah dengan menyandarkan kepada Allah SWT. Ayat ini juga menunjukan sikap khas seorang Muslim untuk selalu merujukan segalanya kepada Allah semata.

Baca Juga:  Bagaimana Budaya Pesta dan Selametan dalam Pandangan Islam?

Dalil tentang Ungkapan Masya Allah

Perlu diingat, Masya Allah adalah ungkapan atas kekaguman dan ketakjuban yang bersifat positif, bukan kejadian luar biasa berupa musibah besar atau hal-hal negatif.

Beberapa Ulama memberi komentar dengan mendasarkan pendapat sebagaimana dalam ayat 39 Surat Al-Kahfi. Dalam ayat tersebut digambarkan jika melihat kebun dengan keadaan kebun hijau dan dipenuhi oleh buah-buahan beraneka ragam maka ucapkanlah Masya Allah Laa Quwwata Illa Billah.

Ungkapan bahwa Allah yang menciptakan Hal Menakjubkan berupa buah-buahan bermacam-macam dari tanah yang mati. Sebagaimana terdapat dalam ayat;

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا

Artinya; Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, Maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu (Qs. Al-Kahfi: 45)

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya; Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila Dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan (Qs. Al-Anam: 141)

Tidak kurang Allah membuat sebuah keajaiban dan hal menakjubkan dengan KuasaNya. Kiranya sangat pantas kita mengucapkan Masya Allah sebagai bukti bahwa kita meyakini Allah dengan segala penciptaanNya.

Baca Juga:  Celana Memanjang Sampai Ke Tanah dan Kotor, Bolehkah Dipakai Sholat?

Cara Menjawab Ungkapan MasyaAllah

Kemudian bagaimana kita menjawab ucapan Masya Allah dari orang yang mengucapkannya kepada kita atau disekitar kita?

Beberapa Ulama membuat Ijtihad guna menjawab Masya Allah yaitu dengan menjawab dengan kata Tabarakllah (تبارك الله). Kata ini untuk menghindari timbulnya penyakit AIN.

Penyakit Ain ini berasal dari kata Ainaya-Ainu dengan makna terkena sesuatu hal yang disebabkan oleh mata. Penyakit Ain akan menghinggapi manusia dan menjadikan manusia merasa takjub disertai sikap iri dengki. Penyakit ini dapat merasuk kepada setiap manusia dengan rasa takjub berlebihan kepada makhluk tidak dibarengi dengan keimanan kepada Allah SWT.

Oleh karenanya jika ada ucapan masya Allah hendaknya tabarakallah, untuk selalu mengingat bahwa yang manusia lakukan atau lihat itu hakikatnya atas kehendak Allah SWT. Rasulullah SAW;

Jika seseorang dari kalian melihat dari saudaranya, melihat dari saudaranya atau melihat harta yang dimilikinya yang menakjubkan, maka hendaklah mendoakan keberkahan kepada saudaranya tersebut, karena penyakit Ain itu benar-benar ada.” (HR. Ahmad). Ash-shawabu Minallah

Mohammad Mufid Muwaffaq