Mengapa Al-Qur’an Turun secara Berangsur-angsur? Inilah Hikmahnya

Mengapa Al-Qur’an Turun secara Berangsur-angsur? Inilah Hikmahnya

Pecihitam,org.- Ketika membahas perihal turunnya Al-Qur’an, tentu pikiran kita langsung mengingat kembali pengetahuan yang sudah kita pelajari sejak sekolah dasar, yakni bahwa Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur, atau dalam artian Al-Qur’an tidak turun sekaligus seperti yang kita lihat sekarang ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sehingga dari prosesnya yang memakan waktu kurang lebih dari 22/23 tahun inilah, sempat diperdebatkan oleh orang orang yang enggan untuk percaya dengan agama Islam dengan berkata “Bagaimana mungkin Al-Qur’an dianggap sebagai mukjizat, jikalau proses penurunannya saja memerlukan waktu yang cukup lama? Bukankah Tuhan bisa menurunkannya secara sekaligus kepada Nabi Muhammad?”

Dan ini diutarakan mereka mengingat kitab kitab sebelumnya seperti Taurat, Injil dan Zabur turun secara keseluruhan. Dan hal ini pun dilukiskan dalam QS. Al Furqan [25]: 32 

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? …”

Memandang hal ini, tentu Allah Saw., tidak sekedar menurunkan wahyu Al-Qur’an secara berangsur-angsur tanpa adanya hikmah dibalik semua yang telah menjadi ketentuannya. Untuk itu, mari kita simak terkait hikmah hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur.

1). Untuk Meneguhkan Hati Rasulullah

Telah abadi dalam sejarah bahwasanya Rasulullah ketika menyampaikan risalah agama kepada ummat terdahulu, tentulah Rasulullah Saw., sangat sering mendapat penolakan yang buruk. Bahkan dengan senjaga mereka melakukan tindakan kasar demi menyulitkan Rasulullah Saw., untuk menyebarkan agama Islam.

Sehingga Allah Swt., menurunkan wahyu itu dari waktu ke waktu atau Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur, tidak lain adalah untuk meneguhkan hati beliau untuk terus menyampaikan risalah agama sekalipun orang orang disekelilingnya tak pernah berhenti untuk mencemooh beliau.

Salah satu contohnya ialah, ketika Rasulullah tiada henti dicela, dimaki dan diperlakukan buruk. Maka Allah Swt., menghiburnya dengan menurunkan wahyu tentang nabi dan rasul terdahulu yang memiliki perlakuan dari ummatnya dengan keras dan penolakan yang sama dengannya, maka AlQur’an pun memerintahkan beliau untuk bersabar seperti kesabaran orang orang sebelumnya. Sebagaimana dalam QS. Al Ahqaf [46]: 35

Maka Bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul Telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka …

Sama halnya ketika Rasulullah Saw., sedang merasa sedih karena bentuk pendustaan kaumnya, tentulah Al-Qur’an segera turun demi menguatkan jiwanya, persis yang dikatakan oleh Allah Swt., dalam QS. Yasin [36]: 76

Baca Juga:  Surah Asy Syu'ara Ayat 116-122; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Maka janganlah Ucapan mereka menyedihkan kamu. Sesungguhnya kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.

2). Sebagai Jawaban atas Pandangan Buruk Orang Kafir

Ini lagi lagi ketika orang musyrik masih berkecimpung dalam dunia kesesatan dengan senantiasa melemparkan pertanyaan-pertanyaan aneh kepada Rasulullah seperti menguji Rasulullah Saw., dengan meminta beliau untuk menjelaskan tentang hari kiamat, maka Allah Swt., menurunkan firman-Nya dalam QS. Al A’raf [7]: 187

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui”.

Berangkat dari sinilah, Allah Swt., tidak segan-segan menurunkan wahyu untuk menjelaskan kebenaran kepada mereka dan paling tidak untuk menjawab secara detail terkait pertanyaan pertannyaan aneh yang sengaja mereka tanyakan kepada Rasulullah Saw.

3). Agar Mudah Dihafal dan Dipahami

Telah diketahui sebelumnya ialah bahwa AlQur’an yang diturunkan Allah ialah kepada umat yang hampir seluruhnya berstatus ummi (buta huruf) sehingga hanya mengandalkan memori atau daya ingat. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam QS. Al A’raf [7]: 157

(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka …”

Begitupun dengan apa yang dikatakan Allah dalam Firman-Nya pada QS. Al Jumu’ah: 2

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

Tentu tidak bisa dibayangkan bila saja AlQur’an itu diturunkan secara keseluruhan dalam satu waktu, pastilah ini akan mempersulit orang orang terdahulu dalam menghafalkan dan memahaminya. Sehingga, Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur ini sangat membantu masyarakat yang ummi pada waktu itu untuk menghafal dan memahaminya.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Nadhrah, ia berkata “Abu Sa’id al Khudri mengajarkan lima ayat AlQur’an kepada kami di pagi hari, dan lima ayat pada sore hari. Ia mengabarkan bahwa jibril menurunkan AlQur’an sebanyak lima ayat demi lima ayat”

Sedangkan dalam riwayat lainnya dari Khalid bin Dinar, ia berkata “Abu Aliyah berkata kepada kami, ‘pelajarilah AlQur’an lima ayat demi lima ayat, karena Nabi Saw., menerimanya dari jibril lima ayat demi lima ayat” (HR. Al Baihaqi)

Baca Juga:  Basrah, Dari Perang Jamal Hingga Jadi Negeri Kaya Minyak

4). Sejalan dengan Peristiwa yang terjadi, dan Secara perlahan Memberlakukan Syariat

Mungkin salah satu jawaban dari pertanyaan yang kadang diajukan oleh mereka yang mempertanyakan eksistensi Al Qur’an ialah dengan menyatakan “Mengapa Al Qur’an tidak diturunkan secara keseluruhan dalam satu waktu? Dan mengapa AlQur’an turun secara berangsur angsur”. Ialah tidak lain karena Allah Swt., menurunkan AlQur’an sejalan dengan peristiwa yang ada dan sedang terjadi di sekeliling Rasulullah Saw., pada waktu itu. Sekaligus dengan turunnya wahyu itu secara perlahan akan memberlakukan Syariat.

Salah satu peristiwa hingga pemberlakuan Syariatnya ialah pada QS. An Nahl [16]: 67

Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.

Pada ayat diatas, Allah menyebutkan Buah Kurma dan Anggur sebagai Nikmat ataupun rezki yang baik. Dan disini Allah belum menyinggung tentang haramnya dari minuman yang memabukkan. Kemudian turunlah QS. Al Baqarah/2:  219

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,

Pada ayat ini, Allah Swt., mulai menyebutkan tentang dosa besar dan manfaat dari Khamar. Kemudian tak lama kemudian, Allah Swt., kembali menurunkan ayat yang lagi lagi tentang Khamar akan tetapi konteksnya telah berubah. Sebagaimana dalam QS. An Nisa [4]: 43

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan ….

Tentu ayat ini, Allah Swt., telah memberikan peringatan kepada ummat untuk tidak mengkomsumsi Khamar pada waktu waktu tertentu, utamanya ialah ketika sedang Sholat.

Hingga pada akhinrnya Khamar benar benar diharamkan secara total sebagaimana turunnya firman Allah Swt., pada QS. Al Maidah [5]: 90-91

Baca Juga:  Kemuliaan Bulan Dzulhijjah menurut Syaikh Daud bin Abdullah Al-Fathani

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan pana, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Dari penerapan Syariat inilah yang dilakukan Allah Swt., secara perlahan dapat kita simpulkan bahwa Islam datang dengan penuh lemah lembut, karena faktanya Allah Swt., tidak langsung melarang khamar dengan ancaman besarnya. Melainkan dengan proses yang secara perlahan dapat diterima oleh masyarakat.

5). Sebagai Bukti bahwa Al Qur’an Memang Berasal dari Allah SWT

Ketika para pendusta mulai dengan anggapan anggapannya yang buruk tentang AlQur’an, yang salah satunya ialah beranggapan bahwa Al Qur’an itu hanyalah perkataan Muhammad saja,

tentulah sebagai seorang pengkaji dari AlQur’an itu akan melihat keajaiban dengan memperhatikan ayat ayatnya yang saling berkaitan, gaya bahasa yang kuat, ayat-ayat dan surah surahnya  selaras. Dan hal ini pun telah dikatakan Allah dalam QS. Hud [11]: 1

Alif laam raa, (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu,

Andai saja, AlQur’an berasal dari perkataan manusia tentulah didalamnya akan ada banyak kekeliruan, ketidakselarasan, dan maknanya pun jauh tak bisa menandingi Al Qur’an itu. sebagaimana yang tergambar dalam QS. An Nisa [4]: 82

Maka apakah mereka tidak memperhatikan AlQuran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.

Itulah sekilas hikmah sekaligus alasan mengapa Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur. Semoga menjadi pengetahuan baru bagi kita semua dan semoga bermanfaat!

Rosmawati