Mengenal Mbah Manshur Popongan dan Tarekat Naqsabandiyah

Mengenal Mbah Manshur Popongan dan Tarekat Naqsabandiyah

PeciHitam.org – K.H. Muhammad Manshur adalah pendiri Pondok Pesantren Popongan. Terletak Dusun Popongan, Desa Tegalgondo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kiai Manshur adalah putera Syaikh Muhammad Abdul Hadi Giri Kusumo, seorang mursyid Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah di Giri Kusumo Mranggen Demak. Sumber-sumber Belanda menyebut Syaikh Muhamamd Abdul Hadi sebagai sosok pemimpin keagamaan yang sangat berpengaruh di Semarang.

Syaikh Muhammad Abdul Hadi adalah putera Thohir bin Shodiq Jago bin Ghozali (Klaten) bin Abu Wasijan (Medono Pekalongan) bin Abdul Karim (Paesan Batang) bin Abdurrasyid Batang bin Saifudin Tsani (Ki Ageng Pandanaran II Semarang) bin Saifudin Awwal (Ki Ageng Pandanaran I, Sunan Tembayat Klaten).

Ayahanda Mbah Manshur Popongan, yaitu Syaikh Muhammad Abdul Hadi, dikenal dengan panggilan Mbah Hadi Girikusumo, memiliki peran besar dalam dakwah Islam, khususnya dalam mengembangkan Tarekat Naqsyabandiyah.

Jaringan Tarekat Naqsyabandiyah yang dipelopori Mbah Hadi Girikusumo mengembang ke seantero Jawa Tengah melalui para murid spiritualnya, yang jumlahnya lebih dari seratus ribu orang.

Mbah Hadi mendirikan pondok pesantren Girikusumo pada 16 Rabiul Awwal 1288 H atau 1866 M. Sebelumnya, Mbah Hadi belajar agama dan Tarekat Naqsyabandiyah kepada Syeikh Sulaiman Zuhdi di Makkah Mukarramah. Di Girikusumo, Mbah Hadi sering juga dipanggail Mbah Giri, Mbah Hasan Muhibat, dan Kiai Giri.

Baca Juga:  Subhanallah, Dalam Tubuh Ust Abdul Shomad Mengalir Darah Ulama Besar

Mbah Manshur belajar agama kepada orang tuanya sendiri, yaitu Syaikh Muhammad Hadi Girikusumo. Ketika remaja, ia belajar Islam dan nyantri di Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta yang diasuh oleh Kiai Idris, sebuah pesantren tua yang pendiriannya dipelopori oleh Kraton Kasunanan Surakarta. Manshur muda kemudian mendirikan pesantren di Dusun Popongan Klaten, berjarak 20 kilometer dari Jamsaren Surakarta.

Kedatangan Mbah Manshur di Popongan bukan sebuah kebetulan. Sebelum ke Popongan Klaten, Mbah Manshur sengaja dikirim oleh Mbah Hadi untuk belajar di Jamsaren, dan dalam perkembangannya menemukan Popongan sebagai tempat dakwah, pendidikan, dan pengembangan Islam, khususnya Tarekat Naqsyabandiyah.

Para santri dan sesepuh Dusun Popongan menceritakan bahwa kedatangan Mbah Manshur di Popongan bermula ketika Manshur muda diambil menantu oleh seorang petani kaya di Popongan yang bernama Haji Fadlil. Manshur muda kemudian dinikahkan dengan Nyai Maryam (Nyai Kamilah) bintu Fadlil pada tahun 1918.

Karena Manshur muda merupakan alumni pondok pesantren, maka Haji Fadhil memintanya mengajarkan agama di Popongan. Dari pernikahan itu melahirkan Masjfufah, Imro’ah, Muyassaroh, Muhibbin, dan Muqarrabin, dan Irfan.

Baca Juga:  Biografi KH Maimoen Zubair, Sang Ulama Kharismatik Indonesia

Dari puterinya Nyai Masjfufah binti Manshur yang dinikah oleh Haji Muqri, lahirlah Salman Dahlawi, yang kelak meneruskan estafet kepemimpinan pesantren dan Tarekat Naqsyabandiyah.

Pondok Pesantren Popongan resmi didirikan oleh Mbah Manshur pada tahun 1926. Pada tahun yang sama, Mbah Manshur membangun Masjid Popongan.

Pondok Pesantren Popongan, pada masa kepemimpinan cucunya, Kiai Salman Dahlawi, tanggal 21 Juni 1980, namanya diubah menjadi Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan. Dusun Popongan kemudian menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam, di samping menjadi pusat suluk Tarekat Naqsyabandiyah.

Mbah Manshur menyebarkan tarekat melalui para badal, di antaranya ada yang sudah menjadi mursyid, yaitu Kiai Arwani (Kudus), Kiai Salman Popongan (Klaten) yang dilanjutkan oleh Gus Multazam, dan Kiai Abdul Mi’raj (Candisari Demak) yang dilanjutkan oleh Kiai Khalil.

Keberadaan Mbah Kiai Manshur telah menciptakan magnet kuat bagi Popongan, kampung kecil yang kemudian menjadi pusat Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Jawa Tengah. Dari Popongan inilah beberapa kiai besar belajar Tarekat dari Mbah Manshur.

Baca Juga:  Profil Lengkap KH. Said Aqil Siradj, Nasab, Keilmuan, Karir dan Teladannya

Di antaranya adalah Kiai Arwani Kudus, yang memperoleh ijazah untuk mengajar tarekat tradisi Naqsyabandiyah di Kudus. Putra Kiai Nahrowi, murid Kiai Muhammad Hadi Girikusumo, juga mendapat ba’iat dari Mbah Manshur.

Dalam menjalankan upaya bimbingan spiritual, Mbah Manshur dibantu para badal (pengganti, wakil). Selain Kiai Arwani dan putra Kiai Nahrowi, dalam menyebarkan tarekat dan dakwah, Mbah Manshur juga dibantu oleh Kiai Abdullah Hafidz Rembang dan Kiai Hamam Nashir Grabag Magelang.

Mohammad Mufid Muwaffaq