Nabi Ibrahim Pernah Berbohong Tiga Kali, Benarkah? Ini Penjelasannya

Nabi Ibrahim Peenah Berbohong Tiga Kali, Benarkah? Ini Penjelasannya

PECIHITAM.ORG – Dalam salah satu hadis disebutkan, Nabi Ibrahim pernah berbohong selama tiga kali. Bohong seperti apakah yang dimaksud dalam hadis tersebut? Benarkah Nabi Ibrahim telah melakukan kebohongan, padahal dia seorang nabi yang harusnya mempunyai sifat Shidq (jujur) atau mustahil berbohong?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sekilas ketika melihat dzahirnya hadis, Nabi Ibrahim memang pernah berbohong selama tiga kali. Kebohongan pertama ketika ia mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang sakit” padahal waktu itu Nabi Ibrahim sedang tidak sakit. Kebohongan kedua ketika Nabi Ibrahim mengatakan, “Bahkan patung besar itu yang melakukan perusakan ini”.

Kemudian kebohongan Nabi Ibrahim yang ketiga adalah ketika ia mengatakan bahwa Sarah adalah saudara perempuannya, padahal sebagaimana kita tahu Sarah adalah istri dari Nabi Ibrahim.

Berikut redaksi hadisnya, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim

ﻟَﻢْ ﻳَﻜْﺬِﺏْ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻡ  ﻗَﻂُّ ﺇِﻟَّﺎ ﺛَﻠَﺎﺙَ ﻛَﺬَﺑَﺎﺕٍ ﺛِﻨْﺘَﻴْﻦِ ﻓِﻲ ﺫَﺍﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﺇِﻧِّﻲ ﺳَﻘِﻴﻢٌ ﻭَﻗَﻮْﻟُﻪُ ﺑَﻞْ  ﻓَﻌَﻠَﻪُ ﻛَﺒِﻴﺮُﻫُﻢْ ﻫَﺬَﺍ ﻭَﻭَﺍﺣِﺪَﺓٌ ﻓِﻲ ﺷَﺄْﻥِ ﺳَﺎﺭَﺓَ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ  ﻗَﺪِﻡَ ﺃَﺭْﺽَ ﺟَﺒَّﺎﺭٍ ﻭَﻣَﻌَﻪُ ﺳَﺎﺭَﺓُ ﻭَﻛَﺎﻧَﺖْ ﺃَﺣْﺴَﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ  ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻬَﺎ ﺇِﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﺠَﺒَّﺎﺭَ ﺇِﻥْ ﻳَﻌْﻠَﻢْ ﺃَﻧَّﻚِ ﺍﻣْﺮَﺃَﺗِﻲ  ﻳَﻐْﻠِﺒْﻨِﻲ ﻋَﻠَﻴْﻚِ ﻓَﺈِﻥْ ﺳَﺄَﻟَﻚِ ﻓَﺄَﺧْﺒِﺮِﻳﻪِ ﺃَﻧَّﻚِ ﺃُﺧْﺘِﻲ  ﻓَﺈِﻧَّﻚِ ﺃُﺧْﺘِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﻟَﺎ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ  ﻣُﺴْﻠِﻤًﺎ ﻏَﻴْﺮِﻱ ﻭَﻏَﻴْﺮَﻙِ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺩَﺧَﻞَ ﺃَﺭْﺿَﻪُ ﺭَﺁﻫَﺎ ﺑَﻌْﺾُ  ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﺠَﺒَّﺎﺭِ ﺃَﺗَﺎﻩُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﻟَﻘَﺪْ ﻗَﺪِﻡَ ﺃَﺭْﺿَﻚَ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٌ  ﻟَﺎ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﻟَﻬَﺎ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮﻥَ ﺇِﻟَّﺎ ﻟَﻚَ ﻓَﺄَﺭْﺳَﻞَ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ  ﻓَﺄُﺗِﻲَ ﺑِﻬَﺎ ﻓَﻘَﺎﻡَ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻡ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ  ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺩَﺧَﻠَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻟَﻢْ ﻳَﺘَﻤَﺎﻟَﻚْ ﺃَﻥْ ﺑَﺴَﻂَ ﻳَﺪَﻩُ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ  ﻓَﻘُﺒِﻀَﺖْ ﻳَﺪُﻩُ ﻗَﺒْﻀَﺔً ﺷَﺪِﻳﺪَﺓً ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻬَﺎ ﺍﺩْﻋِﻲ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺃَﻥْ  ﻳُﻄْﻠِﻖَ ﻳَﺪِﻱ ﻭَﻟَﺎ ﺃَﺿُﺮُّﻙِ ﻓَﻔَﻌَﻠَﺖْ ﻓَﻌَﺎﺩَ ﻓَﻘُﺒِﻀَﺖْ ﺃَﺷَﺪَّ  ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻘَﺒْﻀَﺔِ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻬَﺎ ﻣِﺜْﻞَ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻔَﻌَﻠَﺖْ  ﻓَﻌَﺎﺩَ ﻓَﻘُﺒِﻀَﺖْ ﺃَﺷَﺪَّ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻘَﺒْﻀَﺘَﻴْﻦِ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻴَﻴْﻦِ ﻓَﻘَﺎﻝَ  ﺍﺩْﻋِﻲ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺃَﻥْ ﻳُﻄْﻠِﻖَ ﻳَﺪِﻱ ﻓَﻠَﻚِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺃَﺿُﺮَّﻙِ  ﻓَﻔَﻌَﻠَﺖْ ﻭَﺃُﻃْﻠِﻘَﺖْ ﻳَﺪُﻩُ ﻭَﺩَﻋَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺟَﺎﺀَ ﺑِﻬَﺎ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ  ﺇِﻧَّﻚَ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﺗَﻴْﺘَﻨِﻲ ﺑِﺸَﻴْﻄَﺎﻥٍ ﻭَﻟَﻢْ ﺗَﺄْﺗِﻨِﻲ ﺑِﺈِﻧْﺴَﺎﻥٍ  ﻓَﺄَﺧْﺮِﺟْﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺭْﺿِﻲ ﻭَﺃَﻋْﻄِﻬَﺎ ﻫَﺎﺟَﺮَ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﺄَﻗْﺒَﻠَﺖْ  ﺗَﻤْﺸِﻲ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺭَﺁﻫَﺎ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻡ ﺍﻧْﺼَﺮَﻑَ  ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻬَﺎ ﻣَﻬْﻴَﻢْ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻛَﻒَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳَﺪَ ﺍﻟْﻔَﺎﺟِﺮِ  ﻭَﺃَﺧْﺪَﻡَ ﺧَﺎﺩِﻣًﺎ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻓَﺘِﻠْﻚَ ﺃُﻣُّﻜُﻢْ ﻳَﺎ ﺑَﻨِﻲ  ﻣَﺎﺀِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀ
 

Baca Juga:  Kisah Ummu Salamah Hingga Akhirnya Menjadi Istri Rasulullah Saw

Nabi Ibrahim as. tidak pernah berdusta kecuali sebanyak  tiga kali. Dua di antaranya menyangkut Dzat Allah, yaitu ucapannya:  Sesungguhnya aku sakit. (Qs. Ash-Shaffaat ayat 89) dan ucapannya:  Sebenarnya patung yang besar itulah yang memukulnya. (Qs. Al-Anbiya’  ayat 63).

Yang satu lagi adalah menyangkut diri Sarah. Karena beliau  datang ke sebuah negeri yang dikuasai seorang raja diktator bersama Sarah yang ketika itu sebagai seorang wanita yang paling cantik. Berkatalah ia kepada Sarah: Sesungguhnya raja diktator ini, jika ia mengetahui bahwa kamu adalah istriku maka dia akan mengalahkanku untuk merebutmu. Maka jika dia bertanya kepadamu katakanlah kepadanya bahwa  kamu adalah saudara perempuanku.

Sesungguhnya kamu memang saudara perempuanku dalam Islam. Dan sesungguhnya aku tidak mengetahui di negeri ini seorang muslim pun selain aku dan kamu. Ketika (Ibrahim) memasuki negeri raja yang diktator itu, terlihatlah Sarah oleh salah seorang keluarga raja lalu ia segera menghadap dan melaporkan: Telah datang ke negeri paduka raja seorang wanita yang hanya patut menjadi milik paduka.

Sang raja lalu mengirim utusan kepada Sarah dan dibawanya. Lalu Nabi Ibrahim as. segera melaksanakan shalat. Ketika Sarah datang ke hadapan raja, dia tidak mampu menguasai diri untuk langsung merangkul Sarah sehingga tangannya tergenggam erat sekali. Dia berkata kepada Sarah: Berdoalah kepada Allah agar Dia melepaskan tanganku dan aku tidak akan  mengganggumu.

Sarah lalu berdoa. Lalu sang raja mengulanginya dan kembali tangannya tergenggam dengan lebih kuat lagi dari yang pertama. Lalu sang raja mengulangi ucapannya meminta kepada Sarah agar Tuhan melepaskan tangannya. Sarah berdoa lagi.

Sang raja mengulangi lagi dan  kembali tangannya terggenggam dengan lebih kuat lagi daripada yang pertama dan kedua. Sang raja berkata: Berdoalah kepada Allah agar Dia melepaskan tanganku. Demi Allah aku tidak akan menganggumu. Dan Sarah  berdoa lagi sehingga terbukalah tangannya. Sang raja lalu memanggil  orang yang membawa Sarah: Sesungguhnya kamu membawakan kepadaku seorang wanita setan bukan manusia. Usirlah ia dari negeriku dan berikanlah kepadanya Hajar.

Lebih lanjut Nabi saw. mengatakan: Kemudian Sarah  kembali dengan berjalan kaki. Ketika Ibrahim as. melihat, disambutnya seraya bertanya: Bagaimana kabarmu? Sarah menjawab: Baik-baik saja, Allah telah berkenan melindungiku dari gangguan tangan raja durhaka itu dan ia telah memberikan seorang pelayan. Abu Hurairah ra, berkata, Maka  itu adalah ibu kamu hai Bani Mais Sama

Mengomentari hadis panjang di atas, Imam Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan maksud Nabi Ibrahim telah berbohong selama tiga kali tersebut.

Baca Juga:  Kisah Dibalik Kemunculan Mata Air Zam-Zam

Berikut penjelasannya:
Sebenarnya hadits yang menyatakan Nabi Ibrahim berbohong, itu karena melihat orang yang diajak bicara, sementara pada dasarnya beliau tidak berbohong, melainkan hanya melakukan tauriyah (maksud perkataan tidak sesuai pemahaman dzahirnya):

1). Ketika Nabi Ibrahim meminta Siti Sarah mengatakan pada raja bahwa dirinya saudara perempuan Nabi Ibrahim, bukan istrinya, maksudnya saudara seagama dalam Islam, sebagaimana sudah dijelaskan oleh Nabi Ibrahim sendiri dalam hadis tersebut.

2). Ketika Nabi Ibrahim mengatakan sedang sakit, maksudnya beliau bisa memang bisa saja sakit, karena manusia memang layak sakit. (Ini beliau lakukan dalam rangka menghindari ajakan kaumnya untuk menyembah berhala). Namun, ada juga yang menyatakan bahwa pada saat itu beliau memang sedang sakit.

Baca Juga:  Meski Dosa Sebesar Gunung, Janganlah Putus Asa dari Rahmat Allah yang Melangit Luas

3). Ketika Nabi Ibrahim mengatakan “bahkan patung yang paling besar yang melakukan” (perusakan terhadap patung-patung kecil), itu merupakan kalimat bersyarat. Artinya hal itu akan terjadi jka memang patung tersebut dapat berbicara.

Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa maksud Nabi Ibrahim memang beliau yang melakukan, sedang patung terbesar itu yang berkalung kapak (sambil menunjuk patung tersebut).

Demikian maksud dari kandungan hadis di atas. Jadi bukan Nabi Ibrahim telah benar-benar berbohong, karena dalam haknya sebagai seorang Rasul Allah, mustahil baginya mempunyai sifat kadzib (bohong).

Faisol Abdurrahman