Bagaimana Cara Menanamkan Pendidikan Islam Moderat? Berikut Kiat-Kiatnya

Bagaimana Cara Menanamkan Pendidikan Islam Moderat? Berikut Kiat-Kiatnya

Pecihitam.org- Menanamkan pendidikan islam moderat tidaklah mudah, dalam hal ini terdapat beberapa kiat, di antaranya adalah meyakini bahwa setiap manusia dari sudut pandang penciptaannya (ontologis) memiliki kemuliaan (karomah), apapun ras, warna kulit, suku, bangsa termasuk agamanya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Maka hak kemuliaan sebagai manusia ciptaan Allah wajib untuk dilindungi dan dipelihara, kecuali dengan pelanggaran yang telah ditentukan dalam syariat Islam.

Bersikap apresiatif terhadap fakta keragaman dan berlapang dada, karena perbedaan keyakinan dan agama merupakan sesuatu yang qodrati dari Allah SWT. Karenanya, tidaklah mungkin bagi seorang muslim melakukan intimidasi, pemaksaan, apalagi teror terhadap orang lain untuk masuk ke dalam Islam.

Memahami bahwa perintah dakwah dalam Islam bertujuan terwujudnya transformasi dan perubahan kepada kebaikan dan kebenaran, baik pada level pribadi dan masyarakat, dilakuan dengan cara persuasif dan komunikasi yang elegan, bukan indoktrinasi.

Disertai sebuah pemahaman bahwa, Allah tidak membebani kita untuk bertanggungjawab atas kekufuran orang-orang kafir atau kesesatan orang-orang yang sesat. Masalah terpenting ialah, dakwah telah kita sampaikan.

Baca Juga:  Empat Tingkatan Akal Menurut al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin

Berpegang pada sikap amanah serta jujur dalam beragama, tidak saja pada ritual-ritual murni, tapi juga dalam hal-hal yang potensial mencampuradukkan ajaran agama-agama seperti natalan dan do’a bersama atas nama kebersamaan, kebangsaan atau kearifan lokal dan seterusnya.

Toleransi tidak bermakna kesediaan mengikuti ritual dan peribadatan di luar keyakinan masing-masing umat beragama. Dus dengan demikian, masing-masing pemeluk agama merasa legowo dan tidak ada yang merasa tidak dihormati, apalagi dilecehkan, hanya karena sesama anak bangsa berpegang teguh dengan keyakinan dan keimanannya masing-masing (Basyir, 1981).

Perkembangan global, terutama di kawasan Timur Tengah yang mayoritas berpenduduk muslim menunjukkan fenomena negatif terhadap ajaran Islam yang cinta damai dan toleran.

Konflik bersenjata antar umat Islam yang berbeda paham atau aliran, dan kekerasan antara pemerintah negeri-negeri Islam dengan sebagian warganya telah menimbulkan banyak kerusakan dan kehancuran, baik jiwa dan harta benda.

Konflik tersebut juga menghancurkan sendi-sendi kehidupan bangsa-bangsa di Timur Tengah dan menyebabkan ketidakhadiran negara secara efektif di berbagai kawasan tersebut.

Baca Juga:  Mencukur Rambut Selama 40 Rabu Akan Menjadikan Seseorang Alim Fiqh?

Jika kita kaji lebih dalam ungkapan di atas sangat memprihatinkan sekali, semua permasalahan yang terjadi di atas tidak bisa lepas dari yang namanya pendidikan.

Pada hakikatnya pendidikan Islam adalah pendidikan yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan As-sunah, jika dikaitkan dengan pernyataan di atas sungguh tidak pantas peristiwa semacam itu terjadi.

Peristiwa-peristiwa tersebut adalah akibat dari misunderstanding atau kesalahan dalam memahami teks ajaran Islam itu sendiri. Bahkan, secara salah kaprah, Islam moderat digunakan untuk mengkategorikan orang-orang yang bertindak dan berpikir secara liberal dalam beragama. Sementara kelompok yang secara konsisten menjalankan ajaran Islam dianggap sebagai tidak moderat.

Hal ini karena permasalahan-permasalahan yang muncul saat ini tidak bisa serta merta dikembalikan pada teks, dalam hal ini Al-Qur’an dan as-sunah, tetapi tidak serta merta kita mengkaji suatu permasalahan tanpa berlandaskan keduanya.

Pendidikan Islam Moderat ini muncul diharapkan dapat mengembalikan citra Islam di mata dunia. Perlu kita sadari bahwa Islam itu bersifat rahmatan lil ’alamin, yang berarti membawa rahmat bagi seluruh alam.

Baca Juga:  Mengenal Jasser Auda, Intelektual Muslim di Era Kontemporer

Pendidikan Islam perlu adanya penyesuaian dengan lajunya zaman yang semakin modern, begitu juga dengan permasalahan yang ada, semakin berkembang.

Islam sebagai agama berperan sebagai pandangan hidup. Ia mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap dan perilaku seseorang. Baik dalam kapasitasnya sebagai peribadi (privat) maupun pemegang kebijakan pada lembaga tertentu (publik).

Tetapi pada prakteknya, pemikiran yang benar tentang Islam itu melalui kajian yang mendalam, yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki kapasitas, keseriusan dan konsentrasi. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh banyak orang.

Mochamad Ari Irawan