Pengaruh Kebudayaan Champa Terhadap Islam di Nusantara (Bagian 2/Habis)

Kebudayaan champa

Pecihitam.org – Dalam artikel sebelumnya dijelaskan tentang tradisi upacara peringatan hari kematian yang merupakan salah satu bentuk dari pengaruh kebudayaan Islam Champa yang dilestarikan oleh kaum muslim di Nusantara.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kemudian, dalam artikel ini akan mengulas salah satu bentuk pengaruh lain dari tradisi keislaman Champa yakni tentang penamaan nama-nama makhluk halus dan nama-nama panggilan untuk keluarga dalam tradisi muslim Nusantara, khususnya Jawa.

Nama-nama Makhluk Halus

Menurut buadayawan Nahdlatul Ulama’ (NU), Agus Sunyoto dalam bukunya Atlas Walisongo (2017) menjelaskan bahwa masuknya kepercayaan muslim Champa dalam tradisi keagamaan muslim di Nusantara, khususnya di Jawa, ternyata diikuti pula oleh masuknya kepercayaan terhadap makhluk-makhluk gaib dan takhayul Champa yang berkaitan dengan keberadaan makhluk-makhluk halus yang diyakini hidup di sekitar dunia manusia.

Kepercayaan kaum muslim di Nusantara yang dipengaruhi oleh tradisi keislaman Champa tampak dari penyebutan nama-nama makhluk halus yang berkaitan dengan Islam. Misalnya; pocong, jin muslim, jim,setan, genderuwo, wewe gombel, kuntilanak, kemamang, tuyul, kalap, siluman, hantu penunggu dan arwah penasaran.

Baca Juga:  Pengaruh Yunan-Champa dalam Sejarah Masuknya Islam di Nusantara

Penamaan terhadap tersebut berbeda dengan kebiasaan penamaan makhluk halus dalam lingkungan Kerajaan Majapahit. Menurut Sedyawati (1994) menjelaskan bahwa makhluk halus dalam orang-orang majapahit disebut sebagai makhluk setengah dewa.

Adapun penamaannya meliputi; yaksha, raksasa, pisaca, pretasura, gandharwa, bhuta, khinnara, widhyadara, mahakala, nandiswara, caturasra, rahyangta rumuhun, sirangbasaring wanua, sang mangdyan kahyangan dan sang magawai kedhaton (Sunyoto, 2017).

Penamaan nama makhluk halus dalam tradisi Majapahit tersebut sangat berbeda dengan bagaimana kaum muslim di Nusantra memberikan penamaan terhadap makhluk halus. Penamaan tersebut ternyata lebih dekat dengan tradisi keislaman dari Champa, Vietnam.

Menurut Agus Sunyoto (2017) bahwa di dalam proses penyebaran kepercayaan terhadap makhluk halus itu, orang-orang di Nusantara terpengaruh juga oleh kepercayaan tahayul-tahayul khas Chmpa seperti percaya terhadap hitungan suara tokek, kesurupan, ilmu sihir, ilmu hitam, tabu mengambil padi di lumbung pada malam hari, menyebut harimau dengan sebutan “eyang”, dan lain sebagaiannya.

Baca Juga:  Berdebat Dalam Islam, Harusnya Dilakukan atau Ditinggalkan?

Menurutnya bahwa proses asimiliasi dan adopsi bahasa ini dilakukan di pesantren-pesantren dan komunitas-komunitas masyarakat muslim di pesisir. Namun dalam prosesnya menyebar hingga ke wilayah pedalaman Jawa yang kemudian itu dikaitkan dengan institusi keraton sebagai titik sentralnya. Hingga akhirnya justru asimilasi dan adopsi bahasa tersebut menjadi sangat berkembang dalam masyarakat wilayah pedalaman Jawa.

Nama Panggilan untuk Keluarga

Selain penamaan terhadap nama-nama mahluk halus, tradisi keislaman Champa juga memengaruhi penamaan terhadap nama panggilan. Sebelumnya, dalam tradisi Majapahit bahwa panggilan untuk ibu adalah “ina”, “ra-ina”, dan “ibu”. Nah kemudian, orang-orang Champa memanggil ibunya dengan sebutan “mak”.

Diperkirakan bahwa cara panggilan model Champa ini mula-mula menyebar melalui wilayah pesisir. Yakni melalui tokoh-tokoh penyebar Islam yang memiliki asal-usul Champa yakni Sunan Ampel dan Ali Murtadho. Kemudian, panggilan “mak” ini kemudian diteruskan oleh para tokoh penyebar Islam lain di wilayah pesisir Jawa, yakni Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Kudus dan Raden Patah.

Baca Juga:  Inilah 6 Tanda Orang yang Beriman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Bahkan perubahan nama panggilan kepada keluarga itu juga terjadi untuk memanggil kakak. Dalam tradisi Majapahit, seorang kakak dipanggil dengan nama “raka”. Kemudian berubah dengan sebutan “kak” atau “kang” sebagaimana tradisi panggilan untuk kakak dalam tradisi Champa, Vietnam.

Demikianlah berbagai warisan kebudayaan dari tradisi keislaman Champa yang kemudian dilestarikan dalam masyarakat Islam di Nusantara. Barangkali, berbagai pengaruh kebudayaan tersebut jika tidak diungkap dalam penelusuran kesejarahan akan banyak di antara kita yang tidak tahu tentang asal-usulnya. Wallahua’lam.