Surah Al-Jatsiyah Ayat 24-26; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Jatsiyah Ayat 24-26

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Jatsiyah Ayat 24-26 ini, Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menjelaskan kepada orang-orang musyrik Mekah, bahwa Allah-lah yang berkuasa menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya. keingkaran orang-orang musyrik terhadap hari kebangkitan. Menurut anggapan mereka kehidupan itu hanya di dunia saja.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Di dunia mereka dilahirkan dan di dunia pula mereka dimatikan dan di situlah akhir dari segala sesuatu, dan demikian pula terjadi pada nenek moyang mereka. Menurut mereka, yang menyebabkan kematian dan kebinasaan segala sesuatu ialah pertukaran masa.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Jatsiyah Ayat 24-26

Surah Al-Jatsiyah Ayat 24
وَقَالُواْ مَا هِىَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُ وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ

Terjemahan: “Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.

Tafsir Jalalain: وَقَالُواْ (Dan mereka berkata) yaitu orang-orang yang ingkar akan adanya hari berbangkit, مَا هِىَ (“Kehidupan ini) kehidupan yang sebenarnya إِلَّا حَيَاتُنَا (tiada lain hanyalah kehidupan kita) yang kita alami ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا (di dunia saja, kita mati dan kita hidup) sebagian dari kita mati kemudian sebagian yang lain hidup karena mereka dilahirkan وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُ (dan tiada yang membinasakan kita selain masa”) atau berlalunya masa.

Lalu Allah berfirman menyangkal perkataan mereka melalui firman-Nya: وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ (dan mereka tidak mempunyai mengenai hal itu) mengenai perkataan mereka yang demikian tadi مِنۡ عِلۡمٍ إِنۡ هُمۡ إِلَّا (pengetahuan sedikit pun, tiada lain) tidak lain يَظُنُّونَ (mereka hanyalah menduga-duga saja.).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah memberitahukan tentang ucapan golongan ad-Dahriyyah dari orang-orang kafir dan orang-orang musyrik Arab dalam mengingkari kebangkitan. وَقَالُواْ مَا هِىَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا (“Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup.”) maksudnya, tidak ada kehidupan lain selain kehidupan di dunia ini saja, sebagian orang mati dan sebagian lainnya lahir, juga tidak ada hari kebangkitan dan hari kiamat.

Demikianlah yang dikatakan oleh kaum musyrik Arab yang mengingkari kebangkitan dan para filosof teolog, yang mengingkari permulaan dan pengembalian. Hal itu pula yang dikemukakan oleh para filosof yang mengakui kekuatan masa dan perputaran waktu serta mengingkari Rabb Pencipta.

Mereka ini berkeyakinan bahwa setiap 36.000 tahun, segala sesuatu akan kembali seperti semula, itulah anggapan mereka dan ini telah berlangsung berkali-kali yang tidak berkesudahan. Oleh sebab itu, mereka mengatakan: وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُ (“Tidak ada yang membinasakan kita selain masa.”)

Firman Allah: وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ (“Dan mereka sekali-sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”) maksudnya, mereka hanya mengira-ngira dan berkhayal semata.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim serta Abu Dawud dan an-Nasa-i, dari Abu Hurairah ia bercerita: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Anak Adam telah menyakiti-Ku karena ia memaki massa, dan Aku adalah ad-DaHru [Pencipta/Pengatur masa], di tangan-Ku semua urusan, aku membalikkan malam dan siangnya.’”

Baca Juga:  Surah Al-A'raf Ayat 86-87; Seri Tadabbur Al-Qur'an

Dalam riwayat lain: “Janganlah kalian mencaci masa, karena Allah Ta’ala itu adalah ad-DaHr.” Di dalam menafsirkan hadits ini, Imam Syafi’i, Abu ‘Ubaidah, dan imam lainnya berkata: “Pada masa jahiliyah, masyarakat Arab mempunyai kebiasaan, jika mereka ditimpa musibah, penyakit, atau bencana, maka mereka akan mengatakan:

‘Wahai masa yang sial.’ Dengan demikian mereka menyandarkan semua perbuatan itu pada masa dan bahkan mereka mencelanya. Padahal pelaku sebenarnya adalah Allah Ta’ala. Dengan demikian, mereka seolah-olah mencela Allah karena sebenarnya Dia-lah yang melakukan semua itu.

Oleh karen itu, Rasulullah saw. melarang mencaci masa dengan cara seperti itu, karena Allah Ta’ala sendiri adalah masa yang mereka maksudkan tersebut dan yang mereka jadikan sebagai sandaran perbuatan mereka.” Demikianlah penafsiran yang baik dan demikian pula yang dimaksud. wallaaHu a’lam.

Sedangkan Ibnu Hazm dan orang-orang yang sependapat dengannya dari kalangan penganut madzab Dhahiriyyah (tekstual) telah melakukan kesalahan, dimana mereka telah memasukkan ad-DaHr sebagai salah satu asma’ul husna dengan bersandarkan pada hadits tersebut di atas.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menjelaskan keingkaran orang-orang musyrik terhadap hari kebangkitan. Menurut anggapan mereka kehidupan itu hanya di dunia saja. Di dunia mereka dilahirkan dan di dunia pula mereka dimatikan dan di situlah akhir dari segala sesuatu, dan demikian pula terjadi pada nenek moyang mereka.

Menurut mereka, yang menyebabkan kematian dan kebinasaan segala sesuatu ialah pertukaran masa. Dari pendapat mereka, dapat diambil kesimpulan bahwa mereka mengingkari terjadinya hari kebangkitan. Keterangan itu diperkuat oleh adat kebiasaan orang Arab Jahiliah yaitu apabila mereka ditimpa bencana atau musibah, terlontarlah kata-kata dari mulut mereka, “Aduhai celakalah masa.” Mereka mengumpat-umpat masa karena menurut mereka masa itulah sumber dari segala musibah.

Dalam hadis Qudsi dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: Allah berfirman, “Manusia telah menyakitiku dengan mengatakan wahai masa yang sial. Maka janganlah salah seorang kalian mengatakan ‘masa yang sial karena Akulah (Pencipta dan Pengatur)masa. Aku menanti malam menjadi siang, dan jika Aku menghendakinya niscaya Aku genggam keduanya.” (Riwayat Muslim) Kemudian Allah menyayangkan sikap kaum musyrikin Mekah yang tidak didasarkan pada pengetahuan yang benar.

Allah menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang hal yang menyangkut masa itu. Pendapat mereka itu hanyalah didasarkan pada sangkaan dan dugaan saja.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita hidup dan mati. Tidak ada kehidupan lain setelah kematian dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Perkataan mereka itu tidak berdasar pada ilmu dan keyakinan, tetapi hanya berdasarkan dugaan dan sangkaan belaka.

Surah Al-Jatsiyah Ayat 25
وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٍ مَّا كَانَ حُجَّتَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتُواْ بِـَٔابَآئِنَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ

Baca Juga:  Tafsir Surah Al Baqarah Ayat 21-30 dan Artinya

Terjemahan: “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain dari mengatakan: “Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar”.

Tafsir Jalalain: وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا (Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami) dari Alquran yang menunjukkan akan kekuasaan Kami yang mampu membangkitkan makhluk menjadi hidup kembali بَيِّنَٰتٍ (yang jelas) yang keadaannya jelas sekali مَّا كَانَ حُجَّتَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتُواْ بِـَٔابَآئِنَآ (tidak ada bantahan mereka selain dari mengatakan, “Datangkanlah nenek moyang kami) dalam keadaan hidup إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ (jika kalian adalah orang-orang yang benar”) bahwasanya kami benar-benar akan dibangkitkan menjadi hidup kembali sesudah kami mati.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٍ (“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas.”) maksudnya jika dikemukakan dalil kepada mereka dan dijelaskan kepada mereka kebenaran bahwa Allah Ta’ala mampu mengembalikan jasad setelah kehancuran dan keterserakannya.

مَّا كَانَ حُجَّتَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتُواْ بِـَٔابَآئِنَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ (“Tidak ada bantahan mereka selain mengatakan: ‘Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar.”) maksudnya, hidupkanlah mereka jika yang kalian katakan itu memang benar.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah menerangkan dan menegaskan bahwa pendapat mereka itu benar-benar berdasarkan dugaan dan sangkaan belaka, yang menjurus kepada pengingkaran terjadinya hari kebangkitan.

Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah yang mengandung keterangan tentang bukti-bukti terjadinya hari kebangkitan, mereka tidak mau memahami keterangan yang dikemukakan itu, dan juga mereka menantang Rasulullah saw agar beliau menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati. Jika hal itu dapat dilakukan oleh Rasulullah, barulah mereka mau beriman.

Dari sikap mereka yang demikian itu, dapat diambil kesimpulan bahwa mereka benar-benar telah dikendalikan oleh hawa nafsu mereka, tidak lagi mempergunakan pikiran mereka dengan baik sehingga mereka tidak mau menerima segala kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah saw, bahwa hari kebangkitan itu akan datang pada saat yang telah ditentukan yaitu setelah semua manusia yang hidup dimatikan dan jagat raya serta segala isinya hancur-lebur. Namun hal ini tidak membuat mereka mengerti dan mengakui.

Tafsir Quraish Shihab: Dan jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah sebagai bukti nyata akan kekuasaan-Nya terhadap hari kebangkitan, maka–untuk lari dari kebenaran–mereka hanya bisa mengatakan, “Hidupkanlah kembali nenek moyang kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar dalam mendakwakan terjadinya hari kebangkitan!”

Surah Al-Jatsiyah Ayat 26
قُلِ ٱللَّهُ يُحۡيِيكُمۡ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يَجۡمَعُكُمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ

Terjemahan: “Katakanlah: “Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Tafsir Jalalain: قُلِ ٱللَّهُ يُحۡيِيكُمۡ (Katakanlah, “Allahlah yang menghidupkan kalian) sewaktu kalian masih dalam bentuk air mani ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يَجۡمَعُكُمۡ (kemudian mematikan kalian, setelah itu mengumpulkan kalian) dalam keadaan hidup إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيهِ (pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya) tidak diragukan lagi kedatangannya وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ (akan tetapi kebanyakan manusia) yang dimaksud adalah mereka yang telah mengatakan apa yang telah disebutkan tadi لَا يَعۡلَمُونَ (tidak mengetahui.”).

Baca Juga:  Tafsir Surah Al Baqarah Ayat 226-232 dan Terjemahannya

Tafsir Ibnu Katsir: قُلِ ٱللَّهُ يُحۡيِيكُمۡ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يَجۡمَعُكُمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ (“Katakanlah: “Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.)

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menjelaskan kepada orang-orang musyrik Mekah, bahwa Allah-lah yang berkuasa menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya. Dahulu mereka belum ada dan merupakan benda mati, sesudah itu atas kuasa Allah mereka dijadikan makhluk hidup di dunia untuk jangka waktu yang ditentukan.

Apabila telah sampai waktu yang ditentukan itu, mereka pun dimatikan. Kemudian mereka dibangkitkan kembali pada hari Kiamat untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia.

Allah menegaskan bahwa terjadinya hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang pasti, tidak ada keraguan sedikit pun. Jika Allah kuasa menghidupkan dan mematikan, tentu Dia kuasa pula menghidupkan dan menghimpun kembali bagian-bagian tubuh mereka yang telah hancur berserakan menjadi tanah. Mengulang kembali suatu perbuatan adalah lebih mudah daripada menciptakannya untuk pertama kali. Dan bagi Allah, tidak ada suatu perbuatan pun yang sukar.

Pada akhir ayat ini, Allah menyayangkan mengapa kebanyakan orang-orang musyrik tidak meyakini kebenaran adanya hari kebangkitan dan tetap mengingkarinya dengan alasan bahwa orang yang telah mati, yang tubuhnya telah hancur lebur bersama tanah, tulang-tulangnya telah berserakan tidak mungkin hidup kembali.

Allah berfirman: Dan sungguh, (hari) Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur. (al-hajj/22: 7).

Tafsir Quraish Shihab: Katakanlah kepada mereka, wahai Muhammad, “Allah telah menghidupkan kalian di dunia dari ketiadaan, kemudian mematikan kalian ketika ajal menjemput, setelah itu akan mengumpulkan kalian pada hari kiamat nanti.

Pengumpulan itu tidak diragukan lagi. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui kekuasaan Allah terhadap hari kebangkitan, karena mereka telah berpaling dan tidak mau memikirkan bukti- bukti akan terjadinya hari itu. Dan Tuhan yang mampu melakukan hal itu, tentu juga mampu menghadirkan nenek moyang kalian.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Jatsiyah Ayat 24-26 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S