Surah Al-Jatsiyah Ayat 6-11; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Jatsiyah Ayat 6-11

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Jatsiyah Ayat 6-11 ini, menjelaskan Allah menyatakan kepada Rasulullah saw, bahwa ayat Al-Qur’an yang dibacakan kepadanya itu adalah ayat-ayat yang mengandung bukti, dan dalil-dalil yang kuat baik dari segi asal Al-Qur’an itu (dari Allah) maupun dari segi isi dan gaya bahasanya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kemudian Allah mengancam kaum musyrikin yang selalu mengingkari kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an dengan ancaman yang sangat mengerikan. Mereka tetap mendustakan kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an, padahal di dalamnya terdapat keterangan tentang dalil-dalil dan bukti-bukti keesaan dan kekuasaan-Nya yang cukup jelas.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Jatsiyah Ayat 6-11

Surah Al-Jatsiyah Ayat 6
تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ نَتۡلُوهَا عَلَيۡكَ بِٱلۡحَقِّ فَبِأَىِّ حَدِيثٍۭ بَعۡدَ ٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ يُؤۡمِنُونَ

Terjemahan: Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya.

Tafsir Jalalain: تِلۡكَ (Itulah) yakni tanda-tanda yang telah disebutkan itu ءَايَٰتُ ٱللَّهِ (ayat-ayat Allah) maksudnya, hujah-hujah-Nya yang menunjukkan kepada keesaan-Nya نَتۡلُوهَا (yang Kami membacakannya) yang Kami ceritakan عَلَيۡكَ بِٱلۡحَقِّ (kepadamu dengan sebenarnya) lafal Bil haqqi ber-ta’aluq kepada lafal Natluuhaa,

فَبِأَىِّ حَدِيثٍۭ بَعۡدَ ٱللَّهِ (maka dengan perkataan mana lagi sesudah Allah) sesudah firman-Nya, yang dimaksud adalah Alquran وَءَايَٰتِهِۦ (dan keterangan-keterangan-Nya) atau hujah-hujah-Nya يُؤۡمِنُونَ (mereka beriman) orang-orang kafir Mekah itu mereka tidak beriman. Menurut suatu qiraat lafal Yu’minuuna dibaca Tu’minuuna.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ (“Itulah ayat-ayat Allah.”) yaitu Al-Qur’an, di dalamnya terdapat hujjah-hujjah dan bebagai macam penjelasan, نَتۡلُوهَا عَلَيۡكَ بِٱلۡحَقِّ (“Yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya.”) yakni yang mengandung kebenaran dari yang benar. Jika mereka tidak beriman kepadanya, lalu dengan ucapan siapa setelah Allah dan ayat-ayat-Nya mereka itu beriman?

Tafsir Kemenag: Allah menyatakan kepada Rasulullah saw, bahwa ayat Al-Qur’an yang dibacakan kepadanya itu adalah ayat-ayat yang mengandung bukti, dan dalil-dalil yang kuat baik dari segi asal Al-Qur’an itu (dari Allah) maupun dari segi isi dan gaya bahasanya.

Pernyataan Allah itu telah disampaikan oleh Nabi Muhammad saw kepada kaum musyrik Mekah, tetapi semuanya itu tidak dapat mereka terima, bahkan mereka bertambah ingkar kepada Rasulullah saw.

Pada waktu Al-Qur’an dibacakan kepada orang kafir Mekah, hati mereka mengakui ketinggian isi dan gaya bahasanya. Pengakuan ini langsung diucapkan ‘Utbah bin Rabi’ah dan Abu al-Walid, sastrawan kenamaan orang Arab waktu itu. Kepada mereka diperintahkan agar memperhatikan kejadian alam semesta ini, kejadian diri mereka sendiri, air hujan yang turun dari langit yang menyirami bumi sehingga bumi yang tandus menjadi subur, angin yang bertiup, dan sebagainya, semuanya itu dapat dijadikan bukti bahwa Allah adalah Maha Esa, Mahakuasa lagi Mahaperkasa.

Kepada mereka pun telah diutus seorang rasul yang akan menyampaikan agama Allah kepada seluruh manusia. Rasul itu adalah orang yang paling mereka percayai di antara mereka, orang yang mereka segani dan orang yang selalu mereka mintai nasihat dalam menyelesaikan perselisihan-perselisihan yang terjadi di antara mereka.

Rasul yang diutus itu dapat pula membuktikan bahwa ia benar-benar Rasul yang diutus Allah kepada manusia, misalnya dengan mengemukakan beberapa mukjizat yang diberikan Allah kepadanya. Sudah banyak bukti yang dikemukakan kepada mereka, tetapi mereka tidak juga beriman. Sebenarnya, bagi orang yang mau menggunakan pikirannya, cukup banyak bukti untuk menjadikan dia seorang yang beriman.

Itulah sebabnya maka Rasulullah saw diperintahkan oleh Allah menanyakan kepada kaum musyrik Mekah tentang keterangan apalagi yang mereka minta yang dapat mengubah hati mereka sehingga menjadi beriman.

Telah lengkap keterangan yang diberikan kepada mereka. Tidak ada lagi dalil-dalil dan bukti-bukti yang lebih kuat daripada yang telah dikemukakan itu. Jika mereka tidak mau juga memahaminya dan tidak mau menerima bukti dan dalil-dalil itu, terserah kepada mereka sendiri. Mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal akibat sikap kepala batu mereka itu.

Tafsir Quraish Shihab: Itulah ayat-ayat kawniyyah (kosmis) Allah yang mengandung kebenaran untuk manusia, yang Kami bacakan kepadamu, Muhammad, melalui al-Qur’ân dengan perantaraan malaikat Jibril. Apabila mereka tidak mempercayai ayat-ayat itu, maka perkataan apa lagi setelah firman Allah, yaitu al-Qur’ân, yang akan mereka percaya.

Surah Al-Jatsiyah Ayat 7
وَيۡلٌ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ

Terjemahan: Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa,

Tafsir Jalalain: وَيۡلٌ (Kecelakaan yang besarlah) lafal Al-Wail menunjukkan kalimat azab لِّكُلِّ أَفَّاكٍ (bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta) atau pendusta أَثِيمٍ (lagi banyak berdosa) banyak dosanya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَيۡلٌ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ (“Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa.”) yaitu yang berbohong dalam ucapannya, pendusta, suka bersumpah, hina dan suka berbuat dosa dalam perbuatan dan hatinya lagi kafir terhadap ayat-ayat Allah.

Baca Juga:  Surah Saba Ayat 18-19; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah mengancam kaum musyrikin yang selalu mengingkari kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an dengan ancaman yang sangat mengerikan. Mereka tetap mendustakan kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an, padahal di dalamnya terdapat keterangan tentang dalil-dalil dan bukti-bukti keesaan dan kekuasaan-Nya yang cukup jelas. Bukti dan keterangan itu telah mereka dengar sendiri.

Menurut ukuran yang wajar, tentu mereka telah memahaminya. Akan tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya. Itulah sebabnya mereka disebut dalam ayat ini orang-orang yang banyak berdusta dan banyak melakukan perbuatan dosa.

Selanjutnya diterangkan bahwa keadaan orang-orang musyrik sebelum dan sesudah mendengar ayat-ayat Al-Qur’an tetap sama, tidak ada perubahan dalam sikap dan perilaku mereka, bahkan mereka bertambah ingkar dan menyombongkan diri. Itulah sebabnya dalam ayat ini mereka dikatakan seolah-olah tidak pernah mendengar ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan kepada mereka.

Dalam ayat yang lain, diterangkan bahwa mereka sendiri mengakui tidak pernah merasa mendengar Al-Qur’an yang disampaikan kepada mereka. Allah berfirman:

Dan mereka berkata, “Hati kami sudah tertutup dari apa yang engkau seru kami kepadanya dan telinga kami sudah tersumbat, dan di antara kami dan engkau ada dinding, karena itu lakukanlah (sesuai kehendakmu), sesungguhnya kami akan melakukan (sesuai kehendak kami).” (Fussilat/41: 5)

Dalam ayat lain: Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, dan (Al-Qur’an) itu merupakan kegelapan bagi mereka. (Fussilat/41: 44)

Pada akhir ayat ini, Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya menyampaikan kabar gembira kepada mereka bahwa mereka akan memperoleh azab yang pedih di neraka nanti. Dalam ayat ini disebutkan bahwa memberitakan adanya azab yang pedih merupakan suatu berita gembira, bukan suatu berita duka.

Ungkapan ini sengaja dibuat demikian untuk membalas sikap mereka yang memperolok-olokkan ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan kepadanya dan untuk menunjukkan bahwa sikap mereka itu merupakan sikap yang sudah melampaui batas. Karena itu, yang dimaksud dengan kabar gembira di sini ialah lawan daripada kabar gembira itu, yaitu kabar sedih sebagai penghinaan kepada mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Kehancuran yang dahsyatlah bagi siapa saja yang mengada-ada dengan kebohongan-kebohongan paling buruk terhadap Allah dan bagi orang yang banyak berbuat dosa dengan melakukan perbuatan itu.

Surah Al-Jatsiyah Ayat 8
يَسۡمَعُ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسۡتَكۡبِرًا كَأَن لَّمۡ يَسۡمَعۡهَا فَبَشِّرۡهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Terjemahan: dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri khabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.

Tafsir Jalalain: يَسۡمَعُ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ (Dia mendengar ayat-ayat Allah) yakni Alquran تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ثُمَّ يُصِرُّ (dibacakan kepadanya kemudian dia tetap) atas kekafirannya مُسۡتَكۡبِرًا (menyombongkan diri) takabur tidak mau beriman كَأَن لَّمۡ يَسۡمَعۡهَا فَبَشِّرۡهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih) azab yang menyakitkan.

Tafsir Ibnu Katsir: Oleh karena itu, Dia berfirman: يَسۡمَعُ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ (“Dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya.”) ثُمَّ يُصِرُّ (“Kemudian dia tetap menyombongkan diri.”) yakni pada kekafiran dan keingkaran dalam keadaan sombong lagi membangkang, كَأَن لَّمۡ يَسۡمَعۡهَا (“Seakan-akan dia tidak mendengarnya.”)

فَبَشِّرۡهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (“Maka beri kabar gembiralah dia dengan adzab yang pedih.”) maksudnya, beritahukan kepadanya bahwa baginya siksa yang pedih lagi menyakitkan di sisi Allah pada hari kiamat kelak.

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah mengancam kaum musyrikin yang selalu mengingkari kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an dengan ancaman yang sangat mengerikan. Mereka tetap mendustakan kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an, padahal di dalamnya terdapat keterangan tentang dalil-dalil dan bukti-bukti keesaan dan kekuasaan-Nya yang cukup jelas. Bukti dan keterangan itu telah mereka dengar sendiri.

Menurut ukuran yang wajar, tentu mereka telah memahaminya. Akan tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya. Itulah sebabnya mereka disebut dalam ayat ini orang-orang yang banyak berdusta dan banyak melakukan perbuatan dosa.

Selanjutnya diterangkan bahwa keadaan orang-orang musyrik sebelum dan sesudah mendengar ayat-ayat Al-Qur’an tetap sama, tidak ada perubahan dalam sikap dan perilaku mereka, bahkan mereka bertambah ingkar dan menyombongkan diri. Itulah sebabnya dalam ayat ini mereka dikatakan seolah-olah tidak pernah mendengar ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan kepada mereka.

Dalam ayat yang lain, diterangkan bahwa mereka sendiri mengakui tidak pernah merasa mendengar Al-Qur’an yang disampaikan kepada mereka. Allah berfirman:

Dan mereka berkata, “Hati kami sudah tertutup dari apa yang engkau seru kami kepadanya dan telinga kami sudah tersumbat, dan di antara kami dan engkau ada dinding, karena itu lakukanlah (sesuai kehendakmu), sesungguhnya kami akan melakukan (sesuai kehendak kami).” (Fussilat/41: 5)

Baca Juga:  Surah Yunus Ayat 90-92; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Dalam ayat lain: Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, dan (Al-Qur’an) itu merupakan kegelapan bagi mereka. (Fussilat/41: 44)

Pada akhir ayat ini, Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya menyampaikan kabar gembira kepada mereka bahwa mereka akan memperoleh azab yang pedih di neraka nanti. Dalam ayat ini disebutkan bahwa memberitakan adanya azab yang pedih merupakan suatu berita gembira, bukan suatu berita duka.

Ungkapan ini sengaja dibuat demikian untuk membalas sikap mereka yang memperolok-olokkan ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan kepadanya dan untuk menunjukkan bahwa sikap mereka itu merupakan sikap yang sudah melampaui batas. Karena itu, yang dimaksud dengan kabar gembira di sini ialah lawan daripada kabar gembira itu, yaitu kabar sedih sebagai penghinaan kepada mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Orang yang mengada-ada itu sebenarnya mendengar ayat-ayat Allah yang berbicara tentang kebenaran ketika dibacakan kepadanya. Tetapi kemudian ia tetap bersikap ingkar, menyombongkan diri dan tidak beriman. Ia seolah-olah seperti orang yang tidak pernah mendengar ayat-ayat itu.

Oleh karena itu, wahai Muhammad, sampaikanlah “berita gembira”–sebagai penghinaan–bahwa orang itu akan memperoleh azab yang pedih akibat perbuatannya yang memang mengantarkannya kepada siksa itu.

Surah Al-Jatsiyah Ayat 9
وَإِذَا عَلِمَ مِنۡ ءَايَٰتِنَا شَيۡـًٔا ٱتَّخَذَهَا هُزُوًا أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٌ مُّهِينٌ

Terjemahan: Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan.

Tafsir Jalalain: وَإِذَا عَلِمَ مِنۡ ءَايَٰتِنَا (Dan apabila dia mengetahui tentang ayat-ayat Kami) yakni Alquran شَيۡـًٔا ٱتَّخَذَهَا هُزُوًا (barang sedikit, maka ayat-ayat itu dijadikannya olok-olok) yakni menjadi bahan ejekan mereka. أُوْلَٰٓئِكَ (Merekalah) orang-orang yang banyak mendustakan ayat-ayat Kami itu لَهُمۡ عَذَابٌ مُّهِينٌ (yang memperoleh azab yang menghinakan) artinya, siksaan yang mengandung kehinaan.

Tafsir Ibnu Katsir: وَإِذَا عَلِمَ مِنۡ ءَايَٰتِنَا شَيۡـًٔا ٱتَّخَذَهَا هُزُوًا (“Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok.”) maksudnya, jika ia menghafal sesuatu dari al-Qur’an, maka ia kufur kepadanya dan menjadikannya sebagai permainan dan bahan olokan.

أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٌ مُّهِينٌ (“Merekalah yang memperoleh adzab yang menghinakan.”) yakni yang demikian itu sebagai balasan dan penghinaan dan olok-olokan mereka terhadap al-Qur’an. Berkenaan dengan hal itu, Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, dari Ibnu ‘Umar, ia bercerita bahwa Rasulullah saw. melarang seseorang bepergian dengan membawa al-Qur’an ke negeri musuh, karena ditakutkan Kitab itu akan dirampas oleh musuh.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini diterangkan sikap yang lain dari orang musyrik Mekah sewaktu mendengar ayat-ayat Al-Qur’an disampaikan kepada mereka. Apabila ada di antara kawan-kawan mereka yang menyampaikan berita tentang ayat-ayat Al-Qur’an, mereka pun memperolok-olok ayat-ayat itu.

Diriwayatkan bahwa ketika Abu Jahal mendengar firman Allah: Sungguh pohon zaqqum itu, makanan bagi orang yang banyak dosa. (ad-Dukhan/44: 43-44)

ia meminta korma dan keju, seraya berkata kepada kawan-kawannya, “Makanlah buah zaqqum ini, yang diancamkan Muhammad saw kepadamu itu tidak lain adalah makanan yang manisnya seperti madu.” Dan ketika ia mendengar firman Allah: Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). (al-Muddatstsir/74: 30)

Abu Jahal berkata, “Kalau penjaganya hanya sembilan belas, maka saya sendiri akan melemparkan mereka itu.” Banyak lagi cara-cara dan sikap lain yang bernada menghina dari orang-orang kafir Mekah pada waktu mereka mendengar bacaan Al-Qur’an. Bahkan Abu Jahal menantang sebagaimana yang diterangkan Al-Qur’an:

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, “Ya Allah, jika (Al-Qur’an) ini benar (wahyu) dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” (al-Anfal/8: 32)

Karena mereka selalu mendustakan ayat-ayat Allah dan memperolok-olokkannya, maka dalam ayat ini Allah menegaskan balasan yang akan mereka terima nanti di akhirat. Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka yang menghinakan dan menyiksa mereka sebagai balasan dari sikap dan perbuatan mereka itu.

Tafsir Quraish Shihab: Jika orang yang menyombongkan diri itu mengetahui sedikit tentang ayat Allah, seluruh ayat-ayat Allah dijadikannya sebagai bahan olokan dan hinaan. Orang-orang pendusta yang penuh dengan dosa seperti itu akan memperoleh azab yang menghinakan.

Surah Al-Jatsiyah Ayat 10
مِّن وَرَآئِهِمۡ جَهَنَّمُ وَلَا يُغۡنِى عَنۡهُم مَّا كَسَبُواْ شَيۡـًٔا وَلَا مَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Terjemahan: Di hadapan mereka neraka Jahannam dan tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerjakan, dan tidak pula berguna apa yang mereka jadikan sebagai sembahan-sembahan (mereka) dari selain Allah. Dan bagi mereka azab yang besar.

Baca Juga:  Surah Al-Ankabut Ayat 10-11; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Jalalain: مِّن وَرَآئِهِمۡ (Di hadapan mereka) di sini diartikan di hadapan mereka sekalipun lafalnya mengatakan Min Waraa-ihim yakni di belakang mereka, hal ini mengingat mereka masih hidup di dunia وَلَا يُغۡنِى عَنۡهُم مَّا كَسَبُواْ (neraka Jahanam dan tidak akan berguna bagi mereka apa yang telah mereka upayakan) berupa harta benda dan hasil-hasil kerja mereka شَيۡـًٔا وَلَا مَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ (barang sedikit pun, dan tidak pula berguna apa yang mereka jadikan selain dari Allah) yang dimaksud adalah berhala-berhala أَوۡلِيَآءَ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٌ (sebagai sesembahan-sesembahan. Dan bagi mereka azab yang besar.).

Tafsir Ibnu Katsir: Lalu Allah manafsirkan adzab yang menimpanya pada hari ia dibangkitkan, dimana Dia berfirman: مِّن وَرَآئِهِمۡ جَهَنَّمُ (“Di hadapan mereka neraka jahannam”) maksudnya setiap orang yang memiliki sifat seperti itu maka mereka akan dimasukkan ke dalam jahannam pada hari kiamat.

وَلَا يُغۡنِى عَنۡهُم مَّا كَسَبُواْ شَيۡـًٔا (“Dan tidak akan berguna lagi bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerjakan.”) maksudnya, harta kekayaan dan juga anak-anak mereka tidak lagi bermanfaat bagi mereka.

وَلَا مَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَ (“Dan tidak pula berguna apa yang mereka jadikan sembahan-sembahan mereka dari selain Allah.”) artinya tuhan-tuhan yang mereka jadikan sembahan selain Allah itu sama sekali tidak berguna bagi mereka. وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٌ (“Dan bagi mereka adzab yang pedih.”)

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa kaum musyrikin di akhirat kelak akan berhadapan dengan neraka Jahanam yang telah disediakan untuk mereka, sebab mereka selalu bersikap sombong untuk menerima petunjuk yang disampaikan oleh Nabi Muhammad.

Segala sesuatu yang mereka usahakan di dunia sedikit pun tidak dapat menyelamatkan mereka dari Jahanam, demikian pula apa yang mereka sembah selain Allah, tidak dapat memberikan perlindungan sedikit pun dan mereka akan memperoleh azab yang sangat besar.

Tafsir Quraish Shihab: Di belakang mereka, neraka jahanam menunggu. Segala apa yang mereka perbuat di dunia tidak dapat melindungi mereka dari siksaannya. Tuhan-tuhan palsu yang mereka jadikan penolong selain Allah juga tidak mampu melindungi mereka sedikit pun dari siksaannya. Mereka memperoleh siksa yang amat kejam dan menakutkan.

Surah Al-Jatsiyah Ayat 11
هَٰذَا هُدًى وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ لَهُمۡ عَذَابٌ مِّن رِّجۡزٍ أَلِيمٌ

Terjemahan: Ini (Al Quran) adalah petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Tuhannya bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih.

Tafsir Jalalain: هَٰذَا (Ini) Alquran ini هُدًى (adalah petunjuk) dari kesesatan. وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ لَهُمۡ عَذَابٌ (Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya bagi mereka azab) yakni bagian مِّن رِّجۡزٍ (yaitu siksa) atau azab أَلِيمٌ (yang sangat pedih) sangat menyakitkan.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: هَٰذَا هُدًى (“Ini adalah petunjuk”) yakni al-Qur’an. وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ لَهُمۡ عَذَابٌ مِّن رِّجۡزٍ أَلِيمٌ (“dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya, bagi mereka adzab, yaitu siksaan yang sangat pedih.”) yaitu, yang menyakitkan lagi menyengsarakan. wallaaHu a’lam.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk yang berasal dari Allah, yang disampaikan-Nya kepada Muhammad saw, agar disampaikan kepada seluruh umat manusia. Petunjuk itu yang menuntun manusia ke jalan yang benar menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Diterangkan orang yang mengingkari petunjuk Al-Qur’an itu akan menempuh jalan yang sesat, jalan yang menuju kepada penderitaan hidup dunia dan akhirat.

Al-Qur’an sebagai petunjuk dapat mengeluarkan manusia dari kesesatan menuju kebenaran, dari kekafiran menuju keimanan. Oleh karena itu, orang yang tidak beriman akan mendapat siksa yang sangat pedih.

Tafsir Quraish Shihab: Al-Qur’ân ini merupakan bukti yang sempurna tentang kebenaran yang datang dari sisi Allah. orang-orang yang mengingkari kandungan al-Qur’ân berupa bukti kebenaran Sang Pencipta dan Pembimbing mereka, akan memperoleh siksaan yang paling pedih dari sekian macam siksaan yang ada.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Jatsiyah Ayat 6-11 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S