Penolakan Ibnu Taimiyah Terhadap Ijma Ulama

Penolakan Ibnu Taimiyah Terhadap Ijma Ulama

PeciHitam.orgNabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa Umat Islam tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Oleh karenanya, Umat Islam seyogyanya mengikuti manhaj yang anut oleh Mayoritas Ulama Dunia Islam.

Jangan membuat gerakan tersendiri yang sangat berpotensi menjadi golongan yang keluar dari kebenaran sebagaimana Dzi Khuwaisirah (Cikal Bakal Khawarij).

Pandangan Mayoritas Ulama terhadap sebuah permasalahan agama pastinya merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Serta Ilmu yang  mendukung keduanya yang berasal dari ‘Aqlun Salim (Akal yang Selamat) yakni Ijma’ Ulama.

Namun Tokoh Panutan Salafi Wahabi seperti Ibnu Taimiyah sejak masa hidup beliau banyak menolak Ijma’ Ulama.

Parahnya penyelisihan Ibnu Taimiyah  terhadap Ijma’ Ulama tidak menjadikan orang salafi wahabi Insyaf dan mengikuti golongan Ahlussunnah wal Jamaah pada hari ini.

Berikut beberapa penyelisihan Ibnu Taimiyah terhadap Ijma’ Ulama.

Penyelisihan Terhadap Ijma’ Ulama

Ibnu Taimiyah bernama asli Abul Abbas Taqiyuddin Ahmad bin Abdussalam bin Abdullah bin Taimiyyah al-Harrani. Masa hidup beliau yakni pada masa pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyyah sekitar abad ke-7 Masehi. Semasa kecil, ia dibawa oleh orang tuanya meninggalkan Harran Turki menuju Syam untuk menghindari serangan Tentara Mongol.

Baca Juga:  Pantaskah Wahabi Disebut Sebagai Ahlussunnah wal Jamaah?

Beliau dikenal sebagai orang ‘Alim yang banyak mengarang kitab dan memiliki banyak pengikut.

Namun bukan hal demikian yang menjadi acuan kebenaran. Bahwa Syaikh Faqih Waliyuddin al-Iraqi dalam kitab al-Ajwibah al-Mardliyyah ‘ala al-As’ilah al-Makkiyah yang hidup satu masa setelah Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa beliau (Ibnu Taimiyyah) banyak menyelisihi Ijma’ Ulama.

Sebagaimana diketahui bahwa Ijma’ Ulama adalah landasan sah yang digunakan oleh Umat Islam seluruh Dunia dalam menentukan sebuah Hukum. Dalil Ijma’ Ulama jelas tercantum dalam ayat Al-Qur’an;

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Artinya; “Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (Qs. An-Nisaa’: 115)

Oleh Imam Syafii ayat di atas menjadi sumber dalil Normatif diperbolehkannya Ijma’ Ulama sebagai sumber dalil kebenaran. Redaksi ayat ‘وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى’-dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, maka Kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan. Bahwa Jalan orang Mukmin bisa menjadi argumentasi kebenaran dan tidak menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah.

Baca Juga:  Fatwa Khalid Basalamah: Mengucapkan Kata Sayyidina Itu Menurunkan Derajat Nabi

Dan Syaikh Ibnu Taimiyyah tercatat banyak menyelisihi Ijma’ Ulama dalam bidang Aqidah, Fiqih, Syariah terlebih masalah Furu’iyyah. Beliau juga banyak dikritik pemikirannya oleh para Ulama dari lintas Madzhab karena banyaknya penyelewengan.

Penyelisihan terhadap Ijma’ dan Bantahannya

Ibnu Taimiyyah yang oleh golongan salafi wahabi menjadi rujukan pokok dalam masail diniyyah ternyata memiliki catatan kurang baik dengan Ijma’ Ulama.

Bahwa konsensus Ulama adalah produk akal Ulama yang sah dijadikan rujukan sumber hukum Islam. Menyelisihi Ijma’ Ulama sama halnya dengan berselisih kepada kebenaran, dan Ibnu Taimiyyah melakukan hal demikian.

Guna melihat alur pemikiran Ibnu Taimiyyah yang banyak dikutip nalar dan pendapatnya oleh golongan salafi wahabi dapat merujuk kepada kitab karangan beliau.

Salah satu kitab karangan beliau yang menyelisihi Ijma’ Ulama adalah al-Muwafaqah al-Minhaj. Diterangkan bahwa ‘Allah SWT sama Azalinya dengan Alam Ciptaanya’.

Tentunya pendapat ini sangat bertentangan dengan pendapat Mayoritas Ulama terutama Aqidah Asy’ariyah – Maturidiyah yang menyatakan bahwa Makhluk adalah hadits (baru), dan Allah SWT adalah Qadim. Keyakinan Ijma’ Ulama terhadap Alam merupakan hal baru, tidak Azali berasal dari ayat;

Baca Juga:  Ini Riwayat Singkat Ibnu Taimiyah, Ulama Rujukan Salafi Wahabi

هُوَ الأوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya; ”Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu” (Qs. Al-Hadid: 3)

Penyelisihan Ibnu Taimiyyah terhadap Ijma’ Ulama yang sudah diinisiasi sejak era Sahabat dan diformalisasikan ketika Imam Abul Hasan Ali Al-Asy’ari. Ash-Shawabu Minallah

Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG