Perbedaan Nabi dan Rasul Menurut Syekh Thahir al-Jazairi Serta Imam Al-Baidhawi

Perbedaan Nabi dan Rasul Menurut Syekh Thahir al-Jazairi Serta Imam Al-Baidhawi

PeciHitam.org – Bagi umat Islam, istilah Nabi dan Rasul mungkin sudah tidak asing lagi. Kedua istilah tersebut masing-masing sering kita dengarkan pada ceramah-ceramah agama. Namun tahukah Anda mengenai arti kedua kata tersebut?

Hal yang perlu diketahui pertama ialah setiap rasul sudah pasti nabi, sedangkan seorang Nabi belum tentu seorang rasul. Itulah mengapa di dalam rukun iman yang enam disebutkan dengan redaksi iman kepada rasul-rasul Allah.

Mengenai pengertian antara istilah nabi dan rasul ini dijelaskan oleh Syekh Thahir Al-Jazairi di dalam kitabnya yang berjudul Al-Jawahirul Kalamiyah Fi Idhahil ‘Aqidah Al-Islamiyyah dengan redaksi sebagai berikut:

النبي انسان أوحي اليه بشرع وان لم يؤمر بتبليغه فان أمر بتبليغه سمي رسولا أيضا فكل رسول نبي وليس كل نبي رسولا

Nabi adalah manusia (laki-laki dan merdeka) yang diberikan wahyu untuknya dengan sebuah syariat, namun ia tidak diperintahkan untuk menyampaikannya. Jika ia diperintahkan untuk menyampaikannya, maka ia juga disebut rasul. Maka, setiap rasul itu adalah nabi, dan tidak setiap nabi itu rasul.

Dari pengertian yang disampaikan oleh Syekh Thahir al-Jazairi di atas, yang perlu digarisbawahi ialah adanya perintah untuk menyampaikan. Perbedaan antara keduanya, menurut Syekh Thahir terletak pada adanya tugas untuk baligh (menyampaikan) atau tidaknya.

Baca Juga:  Perbedaan Nabi Dan Rasul Menurut Mayoritas Ulama

Kemudian, orang yang diutus, baik nabi maupun rasul pasti laki-laki. Hal ini berdasarkan firman Allah berikut:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ إِلَّا رِجَالٗا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِمۡۖ فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Kami tiada mengutus Rasul-Rasul sebelummu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (Q.S Al-Anbiya’:7)

Di samping itu, ada juga pendapat yang mengkritik pandangan tersebut, bahwa pendapat Syekh Thahir ini dianggap agak rancu. Bagaimana mungkin seorang nabi diberi wahyu, namun tidak ditugaskan untuk menyampaikan kepada umatnya. Bagaimana mungkin seorang nabi egois, wahyu hanya untuk dirinya sendiri.

Kemudian, selanjutnya ada pendapat Imam Al-Baidhawi yang menjelaskan di dalam kitab Tafsirnya tentang kedua istilah tersebut, redaksinya sebagai berikut:

Baca Juga:  Wajib Tahu! Inilah Hukum Menuntut Ilmu Bagi Seorang Muslim

الرسول من بعثه الله بشريعة مجددة يدعو الناس اليها. والنبي من بعثه لتقرير شرع سابق كأنبياء بني اسرائيل بين موسى وعيسى عليهما السلام.

Rasul adalah orang yang diutus oleh Allah dengan syariat yang baru untuk mengajak manusia melaksanakan syariat itu, sedangkan Nabi adalah orang yang diutus oleh Allah untuk menetapkan/meneruskan syariat yang dulu, seperti para nabi Bani Israil antara Nabi Musa dan Isa a.s. (mereka meneruskan syariat rasul sebelumnya).

Pendapat Imam al-Baidhawi di atas, agak sedikit berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Syekh Thahir. Imam al-Baidhawi lebih menitikberatkan kepada syariatnya.

Perbedaan antara nabi dan rasul ini terdapat pada sisi syariatnya, apakah syariat yang dibawa merupakan syariat yang baru atau hanya meneruskan syariat terdahulu yang sudah ada.

Dengan demikian, perbedaan antara rasul dan nabi adalah jika rasul diberi syariat yang baru oleh Allah swt., sedangkan nabi meneruskan syariat yang lama. Adapun persamaannya adalah sama-sama diutus oleh Allah swt. untuk berdakwah dan mengajak manusia untuk menjalankan syariatNya.

Baca Juga:  Bukan Cuma Hari Ini, Bung Karno Pun Sudah Menolak Khilafah Sejak Dulu

Dari kedua pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara nabi dan rasul, yaitu nabi memang menerima wahyu, namun tidak ada perintah untuk menyampaikannya. Sedangkan rasul memiliki tugas untuk menyampaikan wahyu dan syariat tersebut kepada umatnya.

Kemudian jika nabi hanya meneruskan atau menetapkan syariat yang terdahulu, sedangkan rasul diutus untuk mengajak (dakwah) umatnya untuk melaksanakan syariat baru yang dibawa olehnya. Wallahu A’lam.

Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG