Sekilas Mengenali Pokok Ajaran Mu’tazilah dalam al-Ushul al-Khamsah

Pokok Ajaran Mu’tazilah dalam al-Ushul al-Khamsah

Pecihitam.org – Mu’tazilah yang lahir pada abad dua Hijriyah membawa perspektif baru dalam pemikiran teologi Islam. Pemikiran teologi yang dibawa Mu’tazilah bersifat lebih dalam dan mengedepankan rasionalitas otak dibandingkan pemikiran teologi kelompok lain. Hal ini pula yang menjadikan kelompok Mu’tazilah mendapat julukan “Kaum rasionalis Islam.” Tulisan ini akan sedikit menyinggung mengenai pokok ajaran kelompok mu’tazilah ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Setiap aliran mempunyai ciri khusus yang menjadi pembeda dari aliran lainnya. Berbeda dengan Mu’tazilah, Khawarij misalnya mudah mengkafirkan seseorang berlandaskan adanya dosa besar. Sedangkan kelompok Qadariyah menempatkan manusia sebagai pemegang kekuasaan penuh atas dirinya sendiri. Lain halnya dengan Murji’ah, kelompok ini mempunyai ajaran bahwa orang yang berbuat dosa besar tidaklah disebut kafir, namun ia tetap menjadi mukmin.

Mu’tazilah sendiri mempunyai ciri khusus yang menjadi identitas kelompoknya. Ciri itu terdapat dalam lima pokok ajaran mu’tazilah yang disebut dengan al-Ushul al-Khamsah. Lima pokok inilah yang mendeskripsikan paham Mu’tazilah sendiri sehingga dapat dikenali keberadaannya oleh kelompok lainnya.

Adapun pokok Ajaran Mu’tazilah yang disebut al-Ushul al-Khamsah itu antara lain adalah:

1. At Tauhid

At-Tauhid merupakan pokok intisari ajaran dari kelompok Mu’tazilah. Kelompok ini benar-benar menyucikan Tuhan dari segala sesuatu yang menyekutukannya. Ia menempatkan Tuhan sebagai dzat penguasa tunggal, dimana Tuhan tidak mempunyai saudara, anak, ataupun orang tua yang dapat mencampuri kekuasaannya.

Baca Juga:  Senada dengan Ahlussunnah Wal Jamaah, Begini Penafsiran Zamakhsyari tentang Siksa Kubur

Kelompok Mu’tazilah menolak bahwa Tuhan menyerupai makhluknya, Tuhan dapat dilihat oleh makhluknya, Tuhan mempunyai jumlah lebih dari satu, serta penolakan sifat-sifat Allah. Penolakan sifat-sifat Allah dimaksudkan jika sifat-sifat tersebut terpisah, maksudnya antara dzat dan sifat tidak bisa bersama.

Mu’tazilah menganggap sifat Tuhan tidak bisa berdiri di luar dzat, namun sifat itu adalah esensi Tuhan itu sendiri. Oleh karena itu jika Tuhan mempunyai suatu sifat, maka ia akan melaksanakan sifat tersebut kemudian sifat untuk melaksanakan itu adalah dzatnya.

Kaum Mu’tazilah membagi sifat Tuhan menjadi dua, yaitu sifat dzatiah dan sifat fi’liah. Sifat dzatiah menjelaskan sifat-sifat yang berhubungan dengan dzat Tuhan, seperti Allah itu bersifat wujud, qadim, baqa, qiyamuhu bi nafsihi, dan lain sebagainya. Sedangkan sifat fi’liah berhubungan dengan perbuatan yang dilakukan Tuhan. Misalnya, sifat iradah, ilmu, kalam, dan lain sebagainya.

2. Al-‘Adl

Baca Juga:  Kisah Lelaki Penganut Paham Mu'tazilah Tobat di Malam Pertama

Ajaran pokok Mu’tazilah yang kedua adalah Al-‘Adl yang berarti keadilan. Al Adl memberi pengertian bahwa Tuhan selalu berbuat baik dan tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk. Tuhan tidak pernah berbuat aniaya terhadap makhluknya. Walaupun kita sering menemui hal yang kurang baik pada kehidupan kita, yakinlah pada akhir kisah selalu ada kebaikan yang Tuhan titipkan untuk kita.

3. Al Wa’d al-Wa’id

Sifat Tuhan yang ketiga adalah Al Wa’d al-Wa’id, yang berarti Allah tidak pernah mengingkari janjinya. Tuhan tidak akan mengingkari janjinya, misalnya berkaitan dengan surga dan neraka yang dijanjikannya. Demikianlah menurut pandangan Mu’tazilah, bahwa Tuhan adalah penguasa yang tidak pernah mengingkari janji-janjinya.

Dari konsep ini, kelompok Mu’tazilah mendeskripsikan dua hal, pertama, Tuhan mutlak berbuat sesuatu namun dibatasi oleh janji-janji yang dibuatNya. Kedua, kelompok ini bermaksud untuk membawa manusia agar lebih bersifat lebih baik lagi, karena janji Tuhan mengenai ancaman dan kenikmatan pasti akan ditepati.

4. Al Manzilah bain al-Manzilatain

Al Manzilah bain al-Manzilatain adalah pokok ajaran yang memandang bahwa posisi diantara dua posisi. Misalnya antara mukmin dan kafir, antara suci dan najis, dan seterusnya.

Baca Juga:  Teori Kumun: Penjelasan Penciptaan Alam Semesta Ala Teolog Mu’tazilah

Pokok ajaran ini pertama kali diungkapkan oleh Washil bin Atha ketika menjawab pertanyaan orang lain mengenai posisi mu’min ketika berbuat dosa besar. Ia menggambarkan posisinya tidak kafir dan juga tidak mukmin. Ia berada di tengah-tengah diantara dua posisi itu.

5. Al-‘Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahy’al al-Munkar

Pokok ajaran ini sebenarnya dilakukan oleh setiap kelompok Islam. Namun yang membedakannya adalah mereka menggunakan kekerasan atau tidak ketika melaksanakannya. Pada dasarnya, kelompok Mu’tazilah berpendapat bahwa hal ini tidak harus dilakukan dengan kekerasan melainkan hanya seruan. Namun bila benar diperlukan dapat menggunakan kekerasan.

Muhammad Nur Faizi