Mengenal Cabang Aliran Muktazilah dan Pandangan Teologisnya

aliran muktazilah

Pecihitam.orgAs-Syahrastani menyebutkan dalam kitab al-Milal wa al-Nihal bahwa setiap kelompok mempunyai ide teologis yang berbeda satu sama lain. Ada yang memiliki karya dan ada juga yang tidak.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tidak jarang, antara satu ulama dan lain berbeda pandangan teologis. Pandangan teologis hanya salah satu cara penggambaran tentang konsep ‘Ketuhanan’.

Barangkali kita menganggap bahwa firqah Muktazilah itu hanya satu saja. Namun ternyata Muktazilah sendiri memiliki beberapa cabang aliran di dalamnya dan juga terjadi perbedaan sudut pandang teologis diantara mereka.

Bagi al-Juba’I konsep ke-Tuhan-an Mutazilah pada dasarnya merupakan usaha untuk menolak gagasan dualisme ketuhanan bagi kaum aliran agnostik Persia awal sebelum kedatangan Islam yang ada di Irak saat itu.

Mereka mengatakan bahwa Tuhan memiliki dua sifat dan dua dzat. Tuhan itu baik dan sekaligus jahat, Tuhan itu pengasih sekaligus penyiksa. Karena memiliki dua sifat, maka Tuhan dianggap memiliki dua dzat, sebab satu sifat tidak bisa dilekatkan pada satu dzat ibarat hitamnya sebuah tembok. Efek dari pemahaman ini adalah adanya “Dua Tuhan”. Pada konteks inilah pandangan teologis Mu’tazilah menyasar.

Di sisi lain, kaum Khawarij menilai bahwa pelaku dosa besar merupakan kafir dan fasik. Mereka telah keluar dari Islam. Pandangan ini sangat hitam-putih.

Karena hal tersebut, aliran Muktazilah akhirnya mengambil posisi melawan dua pandangan ekstrimisme teologis dari kalangan minisme dan agnostisme. Di satu sisi menolak dualisme esensi-prima ‘Tuhan’, dan menolak penghakiman ‘surga-neraka’ bagi pelaku dosa besar di sisi lain.

Berikut beberapa kelompok dalam aliran Mu’tazilah:

Daftar Pembahasan:

1. Al-Washiliyah

Pandangan ini digagas oleh Washil bin ‘Atha’. Washil bin ‘Atha’ awalnya adalah murid Hasan al-Bashri yang keduanya hidup pada masa Abbasiyah periode khalifah Abdul Malik bin Marwan dan Hisyam bin Abdul Malik.

Baca Juga:  Kisah Lelaki Penganut Paham Mu'tazilah Tobat di Malam Pertama

Pandangan al-Washiliyah diawali dengan penolakan sifat Tuhan (nafyu al-Shifat). Seperti sifat Ilmu, Qodrat, Irodah, Hayyun. As-Syahrastani menyebutkan bahwa gagasan penolakan sifat Tuhan oleh aliran ini belum matang hingga akhirnya di gagas ulang ulang oleh al-Hudzail.

Pandangan berikutnya Manzilah baina Manzilatain. Pandangan ini di gagas untuk melampaui dua pandangan teologis dalam menghukumi kekafiran pelaku dosa besar oleh Khawarij dan Murjiah.

Khawarij menilai pelaku dosa besar dihukumi kafir, sedangkan Murji’ah kafir atau mukmin diserahkan pada otoritas Tuhan di akhirat kelak. Kemudian Washil bin ‘Atha’ berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidak kafir mutlak dan tidak juga mukmin mutlak.

2. Al-Hudzailiyah

Aliran ini dipunggawai oleh Abu al-Hudzail bin al-Hudzail al-‘Allaf, ia mempelajari Muktazilah dari Utsman bin Khalid al-Thawil dan berlanjut ke al-Washil bin ‘Atha’.

Al-Hudzail berpandangan bahwa Allah Maha Mengetahui karena sifat Ilmu-Nya dan Ilmu Allah itu adalah Dzat-Nya. Allah Maha Kuasa karena sifat Kuasa-Nya, dan Kuasa Allah itu juga sebagai Dzat-Nya, seperti itu seterusnya. Dari sinilah al-Hudzailah mengatakan bahwa sifat dan dzat Tuhan adalah dzat itu sendiri.

Awalnya pandangan Al-Hudzail tentang penciptaan tindakan manusia selaras dengan Qadariyah. Manusia kuasa atas dirinya dan menciptakan perbuatannya sendiri. Akan tetapi menurut al-Syahrastani akhirnya al-Hudzailiyah adalah Jabariyah untuk urusan akhirat.

3. Al-Nizhamiyah

Al-Nizhamiyah disandarkan kepada pendirinya Ibrahim bin Siyar al-Nizham. Ia banyak berbeda pendapat dengan penganut Mu’tazilah lain. Al-Nizhamiyah berpandangan bahwa kata al-Qadar (kuasa) tidak ditujukan kepada keburukan dan maksiat, dan tidak pula ditentukan oleh Allah.

Baca Juga:  Tragedi Mihnah, Catatan Kelam Kekejaman Mu'tazilah dalam Sejarah Islam

Pandangan ini berbeda dengan pandangan Mu’tazilah secara umum, bahwa Allah itu Kuasa atas keburukan dan maksiat, namun Allah tidak melakukannya sebab hal itu merupakan keburukan. Oleh sebab itu Allah hanya melakukan kebaikan kepada umat manusia.

Al-Nizhamiyah juga berpendapat bahwa manusia secara hakikat adalah jiwa dan ruh, organ luar dan dalam. Ruh itu merupakan fisik lembut yang menempel pada tubuh, melekat di hati dengan seluruh bagian cairannya.

Al-Nizham juga menerangkan bahwa ruh itu memiliki kekuatan, kemampuan, kehendak dan hidup, ia hidup dengan sendirinya. Sedangkan kemampuan (al-Istitho’ah) itu merupakan potensi sebelum perbuatan.

Adapun al-Nizhamiyah dalam aliran filsafat universalitas ‘Ada’, sepakat dengan aliran platonic bahwa universal itu tak terpisah. ‘Ada’ selalu bersifat universal (kulliy).

Pandangan universalitas ‘Ada’ di Mu’tazilah ini kemudian diperdebatkan oleh Imam Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Filsafat) dalam relevansinya dengan ‘pengetahuan Tuhan’. Pandangan ini kemudian berimplikasi bahwa Tuhan mengetahui yang universal, bukan partikular.

4. Al-Khabitiyah dan al-Hadtsiyah

Pelopornya ialah Ahmad bin Khatib yaitu salah satu sahabat al-Nizham. Ia termasuk penulis yang senang mempelajari buku-buku filsafat Yunani klasik. Menurut as-Syahrastani, aliran ini punya tiga pandangan yang berbeda:

Pertama, menurutnya yang ikut serta memutuskan perkara akhirat kelak diantaranya adalah Isa al-Masih. Pandangan ini menyatakan bahwa Isa al-Masih yang akan menghisab semua perbuatan makhluk di akhirat kelak.

Baca Juga:  Firqoh Mu'tazilah dan Doktrin-doktrin Rasionalitas Mereka

Kedua, setiap ciptaan akan terlahir kembali di dunia ini dengan bentuk yang berbeda. Pandangan ini berangkat dari kesatuan ruh dan jiwa, jika jiwa hancur, sedangkan ruh bersifat universal, tidak terbatas, maka ruh memerlukan tubuh lain untuk ditempati. Pandangan ini dikenal dengan al-Tanasukhiyah (reinkarnasi).

Ketiga, aliran ini berpendapat bahwa maksud hadis nabi:

“Sesungguhnya kamu akana melihat tuhanmu di hari kiamat kelak, seperti kamu melihat bulan ini, kamu tidak akan kesulitan melihat-Nya ” (HR. al-Bukhari, al-Thabrani)

Dari pandangan ini ia mengatakan bahwa akan tersingkap semua hijab yang membatasi antara Tuhan dan Citra dari semua makhluk yang ditampilkan. Sebagaimana melihat rembulan terang di malam hari, tanpa adanya awan yang menutupi.

Perkembangan pemahaman Mu’tazilah ini belakangan banyak diperdebatkan oleh para ahli ilmu kalam. Tidak banyak yang tersisa kecuali, sedikit dari karya-karya mereka yang masih diteliti oleh para pengkaji teologi Islam.

Dari berbagai cabang aliran dalam Muktazilah terlihat sangat beragam pendapat dan pandangannya. Mulai dari ide ketuhanan, pahala, azab di hari kiamat dan seterusnya.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik