Riya’, Suka Pamer yang Membuat Amal Menjadi Sia-sia di Hadapan Allah

Pecihitam.org– Riya’, pamer atau cari perhatian merupakan salah satu penyakit hati yang membuat amal seseorang tak bernilai dan membawa penyesalan mendalam kelak di akhirat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Bagaimana seseorang bisa terjangkit penyakit riya’, seperti apa ciri-cirinya serta bagaimana pula mengobati penyakit ini? Simak dalam tulisan ini.

Pengertian Riya’

Secara harfiah, dalam bahasa Arab, arriya’ (الرياء) berasal dari kata kerja raâ (راءى) yang bermakna memperlihatkan. 

Menurut istilah, Riya’ adalah memperlihatkan sekaligus memperbagus suatu amal ibadah dengan tujuan agar diperhatikan dan mendapat pujian dari orang lain. Riya’ sering disebut sebagai as-syirkul ashghar (syirik kecil), karena meniatkan ibadah selain kepada Allah SWT.

Hukum Riya’

Sebagai salah satu sifat madzmumah (tercela), riya’, sebagaimana disinggung di awal termasuk ke dalam syirik kecil, sehingga dilarang oleh agama Islam dan hukumnya adalah haram

Disebutkan dalam riwayat yang bersumber dari Mahmud bin Labid, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ

Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari apa yang aku takutkan menimpa kalian adalah syirkul ashghar (syirik kecil).Maka para shahabat bertanya, ”Apa yang dimaksud dengan syirkul ashghar?” Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab,“riya’.” (HR. Ahmad)

Macam-maca Riya’

Riya’, sebagaimana sifat buruk lainnya, terdapat jenis-jenis atau macam-macamnya. Berikut penjelasan dua macam riya’:

1. Riya’ dalam Niat

Berkaitan dengan niat di dalam hati seseorang yang merupakan awal daripada setiap perbuatan yang menyebabkan tidak adanya rasa ikhlas.

Baca Juga:  Apakah Ayat Al Quran yang Ditulis Latin Masih Berstatus Sebagai Mushaf?

Dalam sebuah hadist yang artinya:

“Aku mendengar Umar bin Khattab berkata di atas mimbar; ‘Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda; ‘Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang memperoleh sesuai apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari Muslim)

2. Riya’ dalam Amal

Jenis riya’ yang kedua adalah dalam amal, yakni menunjukkan segala tindak perbuatan atau ibadah di hadapan orang lain dengan tujuan untuk diperhatikan dan mendapat pujian.

Kemudian riya’ jenis ini pun terbagi lagi sebagai berikut:

  • Riya’ badan. Misalnya; memamerkan tubuh yang kurus tanda rajin berpuasa.
  • Riya’ dalam pakaian. Misalnya; menganakan pakaian yang sesuai dengan syar’i agar dianggap sebagai orang yang alim.
  • Riya’ dalam ucapan. Misalnya; membaca Al-Qur’an dengan suara yang, merdu dan fasih dihadapan orang agar dipuji.

Ciri-ciri Riya’

Untuk mengetahui apakah di dalam hati dan diri kita sudah mulai tumbuh penyakit dia, berikut adalah 3 cirinya:

  1. Rajin melipatgandakan amal shaleh bila mendapat pujian, sebaliknya malas atau enggan beramal sholeh jika tidak mendapat pujian.
  2. Rajin melipatgandakan amal shaleh jika berada di antara orang banyak, tetapi malas beramal sholeh bila sedang sendiri atau lu jauh dari orang banyak.
  3. Tidak mau melanggar larangan Allah suatu berada di antara orang banyak, tetapi berani melanggar larangan Allah ketika sendirian atau jauh dari orang banyak.

Bahaya Sifat Riya’

Riya’ merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Bahkan orang yang punya penyakit ini terancam masuk golongan orang munafik.

Riya’ juga merupakan dosa besar karena tergolong dalam perbuatan syirik yang mendatangkan murka Allah SWT. Balasannya tidak lain adalah siksa api neraka.

Baca Juga:  Para Ulama Ini Mengamalkan Bid'ah Hasanah, Sesatkah Mereka?

Riya’ dapat menimpa siapa saja bahkan termasuk orang mukmin yang shaleh dan shalehah sekalipun.

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah RA, dan diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW mengabarkan bahwa golongan yang pertama kali dihisab adalah yang mati syahid, mempelajari dan mengajarkan ilmu, dan bersedekah.

Namun, disayangkan, Allah SWT justru melempar ketiganya ke dalam api neraka karena amal ibadah yang mereka lakukan tidak dengan niat kepada Allah SWT. 

Mengenai hal ini, Allah berfirman dalam An-Nisa’

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ

Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. (QS. An-Nisa’ ayat 142).

Selain itu, masih banyak lagi bahaya perbuatan riya’ yang tentu saja sangat merugikan, diantaranya sebagai berikut:

  1. Menghapus amalan yang dikerjakan
  2. Pada hari kiamat akan dipermalukan dihadapan seluruh makhluk
  3. Menjadikan amal ibadah yang baik menjadi batal, berubah buruk, dan berbuah dosa
  4. Lebih berbahaya daripada fitnah
  5. Terhalang daripada taufik dan hidayah Allah SWT
  6. Menimbulkan kesempitan dalam hidup
  7. Menjadi penyebab jiwa yang tidak tenang dan gelisah
  8. Khilangnya wibawa dan kharisma diri di hadapan orang lain, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Hajj ayat 18, yang artinya; “Barangsiapa yang dihinakan Allah, niscaya tiada seorangpun yang akan memuliakannya.”
  9. Profesionalisme kerja tidak ada lagi
  10. Terjebak dalam sikap sombong yang hanya akan menyulitkan diri sendiri
  11. Menghilangkan keimanan
  12. Menimbulkan kesengsaraan
  13. Akan mendapat siksa di akhirat
Baca Juga:  Menolak Ijma' Karena Hendak "Kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah"??

Obat Penyakit Riya’

Riya’ merupakan urusan hati. Sedangkan sifat hati adalah bolak-balik atau berubah-ubah. Karenanya, inilah beberapa cara sebagai penawar hati dari racun riya’ yang merongrong hati.

  1. Senjata paling ampuh adalah dengan berdoa kepada Allah SWT agar dihindarkan daripada sifat riya’.
  2. Sebisa mungkin menyembunyikan segala macam bentuk ibadah dan amalan.
  3. Menumbuhkan semangat beribadah dengan cara memandang kecil kepada amalan-amalan yang sering kita lakukan.
  4. Tumbuhkan rasa takut bahwasanya ibadah akan ditolak jika tidak dikerjakan dengan ikhlas hanya kepada Allah SWT.
  5. Jangan terpengaruh orang lain.
  6. Sadar bahwa sebaik-baiknya pujian adalah kebaikan di hadapan Allah SWT.
  7. Sadar bahwa yang menentukan baik atau buruk, surga atau neraka, hanyalah Allah SWT.
  8. Ingatkan diri bahwa saat meninggal pun, kita akan sendirian di dalam kubur dan yang bisa menemani kita hanya amal ibadah yang kita lakukan secara ikhlas semasa hidup.

Demikianlah penjelasan tentang penyakit hati berupa Riya’. Semoga melalui tulisan ini, kita dapat mendeteksi secara dini potensi-potensi yang akan membawa hati kita pada sifat riya’ yang dengannya kita bisa mengobati bahkan mencegahnya.

Faisol Abdurrahman