Samakah Shalat Nabi Sebelum dan Sesudah Peristiwa Isra Miraj?

shalat sebelum isra miraj

Pecihitam.org – Kita telah tahu, berdasarkan riwayat-riwayat yang ada, bahwa Rasulullah Saw. telah menjalankan shalat sebelum peristiwa Isra Miraj. Namun, hal ini tentunya memunculkan pertanyaan baru, seperti:

  • Kalau Rasulullah telah menjalankan shalat sebelum peristiwa Isra Miraj, maka bagaimana mungkin dikatakan bahwa beliau baru menerima perintah shalat ketika beliau ber-mi’raj ke Sidratul Muntaha?
  • Samakah shalat yang dikerjakan oleh Rasulullah sebelum dan sesudah peristiwa Isra Miraj?
  • Kalau Rasul telah shalat sebelum Isra Miraj, lalu dari mana perintah menialankan shalat sebelum Isra Miraj ini datang?
  • Dan, kalau Rasulullah telah menjalankan shalat sebelum Mi’raj, maka apa makna shalat yang dikerjakan ini dibandingkan dengan shalat yang beliau kerjakan setelah peristiwa Mi’raj?

Sesungguhnya saya tidak memungkiri pendapat yang berusaha menyanggah pendapat yang menyatakan bahwa Rasul menerima perintah shalat ketika beliau bertemu Allah dalam Mi’raj beliau.

Namun, mereka yang menyanggah pendapat demikian ini mengajukan, setidak-tidaknya, dua bukti. Pertama, Rasul sudah shalat sebelum di-mi’raj-kan Allah Swt. Kedua, berdasarkan riwayat pula, shalat Rasul sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj ini bahkan merupakan shalat berjamaah.

Muhammad Husain Haykal, misalnya, penulis Hayat Muhammad, mengatakan bahwa Rasulullah pemah menjadi imam bagi Sayyidah Khadijah dalam shalat mereka. Peristiwa ini terjadi sebelum peristiwa Isra’ dan Mi’raj sang Nabi.

Logikanya, perintah shalat telah diterima oleh Nabi Muhammad bukan saat beliau Isra’ dan Mi’raj, namun jauh sebelum itu, apalagi secara objektif ayat al-Qur’an yang menceritakan mengenai peristiwa Mi’raj sama sekali tidak menyinggung tentang adanya pemberian perintah shalat kepada Nabi.

Selain itu, di luar hadits Isra’ dan Mi’raj yang menggambarkan Nabi Saw. memperoleh perintah shalat pada peristiwa tersebut, Imam Muslim, dalam musnad-nya, meriwayatkan sebuah hadits lain, yang sama sekali tidak berhubungan dengan cerita Mi’raj, namun di sana menjelaskan bagaimana Nabi Saw. mempelajari shalat dari Malaikat Jibril.

Dari Abu Mas’ud Ra. Ia berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, ‘Jibril turun, lalu dia menjadi imam bagiku. Dan, aku shalat bersamanya, kemudian aku shalat bersamanya, lalu aku shalat bersamanya, dan aku shalat bersamanya.’ Dan, aku shalat bersamanya. Nabi manghitung dengan lima anak jarinya.” (HR. Muslim).

Jika demikian adanya, bagaimana dengan kebenaran hadits yang dipercaya oleh banyak orang bahwa perintah shalat baru diperoleh Nabi sewaktu Isra’ dan Mi’raj?

Intinya, bagi yang berpendapat demikian, mereka menolak hadits-hadits yang menyebutkan perintah shalat yang didapat Rasulullah ketika Isra’ Mi’raj.

Namun dalam Keyakinan saya: Rasul memang telah mengerjakan shalat sebelum peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Bukan persoalan yang penting untuk mencari kebenarannya, apakah Rasul-sebelum peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu-telah melakukan shalat berjamaah atau belum. Hal ini tidak penting karena inti masalah tidak di sini.

Artinya, entah mau shalat berjamaah atau tidak, saya percaya jika Rasulullah telah melaksanakan shalat sebelum beliau diperjalankan oleh Allah di malam yang penuh berkah tersebut.

Dengan demikian, apakah sia-sia perintah shalat yang diterima Rasul ketika Mi’raj? Atau, bagaimana cara memahami perintah shalat ketika Mi’raj ini?

Jawaban-jawaban berikut ini sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas:

Pertama, shalat merupakan suatu ibadah yang telah dilakukan oleh nabi dan rasul sebelum Muhammad Saw. Anda bisa menyimak kisah-kisah itu di berbagai buku atau kitab.

Shalat adalah syariat dari masa ke masa, namun antara nabi yang satu dengan yang lain ada perbedaan bentuk dan cara. Nabi Ibrahim As. dan Ismail As. telah diperintahkan untuk melakukan shalat, sebagaimana difirmankan:

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud” (QS. Al Baqarah: 125)

Nabi Ibrahim As. berdoa supaya Allah Swt. menjadikan anak-anak keturunannya sebagai orang yang selalu melakukan shalat:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku” (QS. Ibrahim; 40)

Pada kisah lain, tentang Nabi Musa As., disebutkan:

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ وَأَخِيهِ أَنْ تَبَوَّآ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yang beriman” (QS. Yunus; 87)

Pada zaman Bani Israel pun, Allah Swt. telah memerintahkan Bani Israel untuk melakukan shalat. Lihat, misalnya, surat al-Baqarah ayat 83:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.”

Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah” (Perjanjian Lama-Kitab Keluaran 34: 8).

Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan kita” (Perjanjian Lama-Kitab Mazmur 95: 6).

Lalu, sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah” (Perjanjian Lama-Kitab Yosua S: 14).

Tetapi, Elia naik ke puncak Gunung Karmel, lalu ia membungkuk ke Tanah, dengan mukanya di antara kedua lututnya.” (Perjanjian Lama-Kitab I Raja-raja 18: 42).

Maka pergilah Musa dan Harun dari Umat itu ke pintu kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan Tuhan kepada mereka” (Perjanjian Lama-Kitab Bilangan 20: 6).

Kemudian ia menjauhkan diri dari mereka, kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu ia berlutut dan berdoa” (Perjanjian Baru-Injil Lukas 22: 41).

Dari kenyataan ini, maka jelas bagi umat Islam bahwa shalat sudah menjadi suatu tradisi dan ajaran bagi nabi dan rasul Allah sebelum Nabi Muhammad saw.

Sungguh pun demikian, al-Qur’an juga di satu sisi tidak menjelaskan secara detail sejak kapan dan bagaimana teknis pelaksanaan shalat: yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad Saw. sebelum peristiwa Isra Miraj ini.

Jika demikian, menjadi mudahlah untuk dimengerti bahwa Muhammad pun telah mengerjakan shalat sebelum peristiwa Isra Miraj.

Beliau menjalankan shalat sebagaimana nabi dan rasul sebelumnya menjalankan shalat. Bisa jadi, cara beliau menjalankan shalat seperti cara nabi dan rasul sebelumnya; bisa jadi tidak demikian.

Kedua, perintah shalat yang diterima Nabi Saw. ketika Mi’raj adalah perintah tentang kewajiban shalat. Di samping itu, perintah tentang kewajiban shalat ini diikuti pula oleh perintah tata cara shalat yang “khusus” diperuntukkan bagi umat Islam.

Dengan demikian, shalat Nabi Saw. sebelum peristiwa Isra Miraj bukan shalat wajib, tetapi shalat sunnah.

Ketiga, Jibrillah yang mengajari Nabi Saw. menjalankan shalat sebelum peristiwa Isra Miraj, Jibril pulalah yang memberi tahu bahwa sebelum Nabi Saw, shalat telah dilakukan oleh para nabi dan rasul-Nya

Keempat, ada perbedaan yang amat penting (di mana perbedaan ini tampak luput dari perhatian banyak orang) antara shalat Nabi Saw. sebelum dan sesudah Isra Miraj. Perbedaan ini menyangkut makna dari shalat yang dikerjakannya.

Perbedaan yang saya maksud adalah shalat yang dikerjakan nabi sebelum Isra Miraj “hanyalah” shalat yang beliau kerjakan menurut dengan logika nabi dan rasul sebelumnya dalam mengerjakan shalat.

Shalat ini saya sebut sebagai “shalat zhahir”. Yakni, shalat yang dikerjakan Nabi Saw. sebagai salah satu bukti bahwa beliau adalah seorang nabi dan rasul, sebagaimana nabi dan rasul sebelumnya.

Shalat Dzahir Nab Muhammad Saw. adalah shalat kenabian dan kerasulan, di mana beliau mengerjakan shalat ini karena nabi dan rasul sebelumnya juga mengerjakan.

Rasul dan nabi sebelumnya mengerjakan shalat karena ketundukan dan kepatuhan kepada Allah Swt. Kesimpulannya, shalat Nabi Saw. sebelum Isra Miraj bukan “shalat ruhani”.

Maka, hanya ketika Rasulullah Saw. telah menjalankan Isra’ Mi’raj itulah shalat Rasul Saw. “berubah” menjadi shalat ruhani.

Hanya saja, shalat zhahirnya tetap saja menyertai. Dan, shalat yang harus kita dapatkan adalah shalat ruhani Rasul, bukan hanya shalat zhahir-nya.

Tentu saja, yang dimaksud dengan “shalat zhahir” Nabi Saw. bukan menunjukkan shalat yang hanya mencerminkan gerak atau tata caranya saja.

Wallahu a’lam

M Resky Syafri
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *