Peci Hitam; Potret Kesalehan dan Kebudayaan Muslim Indonesia

Peci Hitam; Potret Kesalehan dan Kebudayaan Muslim Indonesia

Pecihitam.org – Banyak istilah produk kebudayaan manusia yang memiliki nama unsur sebuah keyakinan atau simbol agama, atau identik dengan suatu pemeluk agama. Pohon natal, busana muslimah, dan peci hitam adalah beberapa diantaranya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Walaupun sebetulnya pohon dan busana tidak memeluk keyakinan agama tertentu, tetapi penggunaan yang tidak pada fungsional sosialnya bakal memicu polemik.

Misalnya, seorang muslim yang pergi ke Mall saat perayaan natal berfoto di sisi pohon natal. Fotonya ia unggah ke sosial media. Tak jarang menuai komentar negatif, bahwa apa yang dilakukannya menciderai keimanan.

Tentu, sebab stigma publik bahwa pohon natal adalah milik umat Kristiani. Atau, seorang perempuan Hindu mengenakan busana muslimah. Coba bayangkan, apa komentar orang-orang?

Demikianlah, walau produk budaya secara murni tidak dibatasi suatu keyakinan agama tertentu, tapi jika terlahir dari pergumulan suatu komunitas penganut agama dan telah dijadikan bagian dari ritus ibadah, maka produk budaya itu “seolah” telah memiliki agama.

Penggunaannya yang tidak lazim bakal dianggap menyinggung “keyakinan”. Padahal, keyakinan letaknya di hati. Siapa orang tahu isi hati orang lain?

Baca Juga:  Menghidupkan Lagi Rasa Ke-beragama-an dengan Berfikir

Tampaknya, yang agak longgar dan inklusif adalah penggunaan peci hitam. Walau ia benar-benar sangat identik dengan komunitas muslim pesantren, penggunaannya lebih meluas.

Peci hitam bukan hanya boleh dikenakan golongan santri, ia telah jadi penutup kepala para pejabat pemerintah khususnya dalam agenda sakral seperti pelantikan jabatan. Pejabat non muslim pun kerap mengenakannya.

Sebagai simbol Islam, khususnya di kalangan muslim Jawa, peci hitam memiliki filosofi nilai yang tidak remeh. Sebagai contoh, banyak kiai pesantren yang tetap mengenakan peci hitam walau telah berhaji. Dimana lazimnya di kalangan muslim Jawa peci berwarna putih adalah simbol bahwa seseorang telah menunaikan rukun Islam kelima itu.

Berbagai alasan muncul. Satu diantaranya sebab “konon” peci putih menyimbolkan kemurnian jiwa dan kebeningan hati. Para kiai yang telah berhaji tetap mengenakan peci hitam sebab merasa dirinya masihlah kotor penuh dosa.

Bisa dipahami bahwa perilaku itu menunjukkan perangai kerendahan hati atau tawaduk. Tawaduk merupakan sikap kerendahan hati untuk tidak merasa sombong.

Baca Juga:  Wabah Corona dan Alur Berpikir Takdir Yang Salah

Tak ayal peci hitam telah menjadi identitas bangsa Indonesia itu sendiri, selain batik, di kancah Internasional. Semua Presiden pria Indonesia dari Pak Soekarno hingga Pak Jokowi nyaris selalu mengenakan penutup kepala ini jika dalam forum Internasional. Tidak berlebihan kalau peci hitam merupakan produk budaya khas bangsa Indonesia.

Oleh sebab itu, para kiai, santri, dan ustadz alumni pesantren yang masih setia dengan peci hitamnya adalah orang-orang yang bukan hanya mencerminkan identitas keislamannya belaka, tetapi juga identitas keindonesiaannya.

Ini bukan berarti muslim lain yang mengenakan jubah, surban, dan peci putih tak kurang saleh atau kurang keindonesiaannya. Tidak sama sekali.

Namun, di masa sekarang dimana perang “dingin” melalui kuasa global dan diperantarai diantaranya oleh koneksi internet – dimana setiap bangsa dan negara berupaya tampil dominan baik secara ekonomi-politik maupun budaya – kecintaan atas produk budaya bangsa sendiri amatlah penting. Jangan sampai kita kesurupan produk budaya asing dan melupakan bahkan meninggalkan kebudayaan bangsa sendiri.

Sekali lagi, memang apapun selain manusia tidak memiliki agama, tetapi dalam konteks berkebudayaan alangkah baiknya kita tetap menggunakan produk kebudayaan bangsa sendiri.

Baca Juga:  Fatwa Khalid Basalamah: Mengucapkan Kata Sayyidina Itu Menurunkan Derajat Nabi

Terlebih semisal peci hitam telah jadi identitas bangsa di level global. Jangan sampai warisan nenek moyang ini tenggelam di pusaran perang budaya global.

Walhasil, setiap kita bebas memilih untuk mengenakan busana dan penutup kepala dengan bentuk dan model apapun. Saya pribadi, sebagai muslim-santri, memilih peci hitam sebagai salah satu identitas keislaman saya. Peci hitam, bagi saya, adalah simbol betapa kotor dan keruh hati saya. Saya terus harus “ngaji” kepada beliau-beliau para kiai. Hingga mati.

Wallahul muwaffiq.

Mutho AW