Santri, Generasi Nasionalis-Religius Indonesia

Santri, Generasi Nasionalis-Religius Indonesia

Pecihitam.org – Harapan masa depan Islam di Indonesia terutama dialamatkan pada generasi bangsa yang sedang mengaji di pesantren-pesantren. Mengapa demikian? Sebab otoritas keilmuan pesantren tidak diragukan lagi bisa dipertanggungjawabkan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Santri merupakan pelajar paling tangguh di seantero negeri. Betapa tidak, mereka sedari bangun tidur hingga beranjak ke alam mimpi selalu lekat dengan kitab kuning.

Sebelum azan subuh berkumandang, santri wajib bangun. Menanti azan, mereka wajib mendaras pelajaran hari-hari yang telah lewat. Ada yang mematangkan hafalannya, ada yang sekadar membaca al-quran. Usai salat subuh, mereka wajib masuk ruang pengajian.

Pagi hari setelah sarapan, jika ada yang sekolah formal mereka mempelajari subjek pelajaran kurikulum formal. Bagi golongan santri takhashshus, khusus mesantren, mereka masuk kembali ke madrasah; mengaji kitab kuning dengan jadwal berbeda dari waktu bakda subuh. Walhasil, pada umumnya pesantren memiliki jadwal yang ketat. Nyaris dari lima waktu subuh hingga isya tidak ada waktu yang terlewat untuk mengaji. Pengajian dilakukan bakda salat berjama’ah.

Sebab pemahaman holistik ulama pesantren atau kiai atas manusia, bahwa manusia itu disusun terutama oleh badan, otak-akal, dan jiwa atau ruhani, maka pendidikan pesantren tidak hanya memfokuskan pada kepintaran akal semata.

Baca Juga:  Problem Terminologis Gerakan Fundamentalisme dalam Islam

Untuk mematangkan kedewasaan jiwa, santri diwajibkan melakukan tahap-tahap tirakat atau puasa berikut dzikiran khusus warisan ulama-ulama klasik. Selain itu, ada jadwal khusus malam hari untuk bermujahadah (upaya menundukkan hawa nafsu) dengan melafalkan dzikir hingga ratusan bahkan ribuan kali.

Pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi pada upaya pelestarian tradisi keilmuan Islam semata. Sejak dulu santri memiliki jiwa kebangsaan yang tinggi. Fakta sejarah yang masyhur bagaimana kaum santri memiliki jiwa kebangsaan kuat adalah gerakan Resolusi Jihad pra meletusnya Perang Surabaya 1945 pasca kemerdekaan.

Resolusi Jihad itu melecut jiwa mempertahankan kedaulatan bangsa yang baru seumur jagung. Orang-orang pesantren, para kiai dan santri, urun turun gelanggang menghalau tentara sekutu. Mereka menyumbang pikiran dan darah demi keutuhan bangsa dan negara.

Berpuluh-puluh tahun fakta sejarah perjuangan kaum santri itu kurang memperoleh tempat di mata masyarakat Indonesia modern. Selain karena minimnya tradisi membaca sejarah generasi kiwari, juga sebab tidak ada upaya birokratif untuk mengangkat fakta perjuangan santri ke muka publik.

Baca Juga:  Mencontoh Para Perawi Hadis dalam Menyerap dan Menyebarkan Berita

Pungkasnya, melalui Nahdlatul Ulama fragmen sejarah berdarah perjuangan kaum santri itu tembus ke meja Istana Negara hingga resmi dengan nama Hari Santri Nasional, 22 Oktober.

Alih-alih Hari Santri Nasional (HSN) 22 Oktober membuat santri era kiwari membusungkan dada sebab term santri menjadi hari besar nasional, HSN memiliki dampak luar biasa bagi para santri zaman now. Dengan diresmikannya HSN, para santri zaman kiwari menjadi santri tercerahkan. Bahwa santri tidak hanya memikul tanggungjawab kelestarian Islam di Indonesia, ia juga punya tanggungjawab kebangsaan.

Dengan adanya HSN, merah putih, lagu kebangsaan, dan lagu hubbul wathan ramai kembali menghiasi pesantren-pesantren. Perbincangan kesejarahan perjuangan kaum santri kembali masuk bilik-bilik pesantren.

HSN punya dampak signifikan bagi tumbuh dan kembangnya jiwa nasionalis dalam diri para santri kiwari. HSN menggaungkan kembali ruh religius-nasionalis Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dalam bilik-bilik pesantren.

Baca Juga:  Cegah Covid-19, Santri yang Balik ke Kudus Wajib Bawa Surat Bebas Corona

Dengan demikian, sesungguhnya pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang mencetak generasi muda berjiwa religius-nasionalis. Dalam dada para santri ditanamkan di dalamnya nilai moral-etik keislaman dan kebangsaan.

Darah yang disumbangkan oleh para santri klasik guna mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negara menjadi pompa tersendiri yang menggenjot jiwa patriotisme santri modern. Dan itu tak lain dan tak bukan atas perjuangan NU yang dinahkodai KH. Said Aqil Siradj. Kagem beliau Yai Said, alfaatihah.

Wallahul muwaffiq.

Mutho AW

Leave a Reply

Your email address will not be published.