Sejarah Diperintahkannya Tayamum, Berkat Hilangnya Kalung Aisyah Ra.

sejarah tayamum

Pecihitam,org – Tayamum, satu kata inilah yang cukup familiar dikalangan kita selaku umat muslim, terlebih jikalau kita ingin bersuci atau berwudhu kemudian sama sekali tidak mendapatkan air atau karena ada alasan lain, seperti ada luka yang tak membolehkan menyentuh air. Namun tahukah kamu, bagaimana sebenarnya sejarah diperintahkannya Tayamum? Berikut kisahnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Yang menjadi point penting ialah, Allah Swt selalu menurunkan wahyu kepada Baginda Rasulullah saw., guna merespon masalah yang sedang terjadi, maka begitu pun dengan perintah Tayamum.

Dalam hal ini, perintah wudhu tentu lebih dulu diperintahkan dan tayamum baru dianjurkan ketika masalah nampak pada masa Rasulullah yaitu tidak didapatkannya air untuk berwudhu, dan Sejarah diperintahkannya Tayamum sangat berkaitan erat dengan hilangnya Kalung Aisyah ra.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, bahwa suatu malam dalam perjalanan perang, Aisyah ra., kehilangan kalungnya dan melaporkan perihal tersebut kepada baginda Rasulullah saw. Mendengar hal itu, Rasulullah saw., menghentikan rombongan demi mencari kalung Aisyah.

Karena telah kelelahan dalam proses pencarian, Rasulullah saw., mendatangi Aisyah ra., dan tidur dipangkuannya. Sedangkan sebagian rombongan yang menyadari ketiadaan air dalam perhentian mereka akhirnya mengadu kepada Abu Bakar dengan berkata

Baca Juga:  Ngaji Gus Baha; Ibadah yang Paling Dibenci Setan

“Wahai Abu bakar, cobalah tengok apa yang telah diperbuat oleh Aisyah? Karenanya Rasulullah dan kita para rombongannya berhenti padahal sekarang ini kita tidak memiliki air”

Mendengar keluhan tersebut, Abu Bakar pun mendapatangi Rasulullah yang sedang tertidur. akhirnya beliaupun berkata kepada Aisyah putrinya “Cobalah lihat apa yang telah engkau perbuat? Engkau telah menghalangi perjalanan Rasulullah padahal sekarang kita tidak memiliki air”

Karena kegelisahan Abu Bakar, beliau sempat memukul putrinya itu, namun Aisyah tidak bergerak sama sekali dikarena Rasulullah saw., tertidur dipangkuannya. Dan ketika Rasulullah saw., terbangun dan menyadari bahwa rombongan tidak memiliki persediaan air, padahal mereka harus melaksanakan Shalat, maka turunlah wahyu perintah Tayamum yang termaktub dalam QS. An Nisa [4]: 43

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu Telah menyentuh perempuan, Kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.”

Menyaksikan turunnya wahyu tentang perintah Allah yang sangat meringankan dan mempermudah perjalanan kaum muslimim dalam melaksanakan sholat, terutama ketika tidak memiliki persediaan air, rupanya membuat Abu Bakar yang semulanya sangat kesal terhadap Aisyah ra., seketika berkata,

Baca Juga:  Apa Perbedaan Salaf, Salafi dan Salafiyah? Ini Penjelasannya

“Demi Allah, Putriku. Aku tidak tahu engkau sangat diberkahi Allah. Lihatlah berkah dan kemudahan yang telah dilimpahkan Allah kepada kaum muslimin karena engkau menghambat perjalanan mereka.” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Sedangkan dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa tayamum adalah Nikmat bagi Umat Islam agar bersyukur. Syariat tayamum adalah kekhususan dan keistimewaan yang diberikan Allah swt., kepada Umat Islam, yang tidak diberikan oleh uma umat lainnnya. Sucinya debu juga merupakan salah satu keistimewaan bagi umat Islam, sehingga debu bisa digunakan untuk bersuci.

Setelah turunnya wahyu, para rombongan pun melaksanakan Shalat dan usai itu Rasulullah saw., memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Dan tatkalah unta Aisyah berdiri dan berjalan, rupanya kalung yang dicari cari oleh para rombongan tertindih di bawah kaki unta tersebut.

Baca Juga:  Surat al Ikhlas; Tulisan Arab, Manfaat dan Hadis Tentang Keutamaannya

Dari kisah inilah nampak Allah menjadikan kalung Aisyah sebagai awal Rukhshah (kelonggaran atau keringan) mengenai wudhu sebelum melaksanakan Shalat, terutama ketika tidak mendapatkan air atau berada dalam kondisi dan situasi yang darurat.

Dalam hal ini pula Rasulullah Saw bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

“Kita dilebihkan dari umat umat lain pada tiga hal: Shaf Shaf kita jadikan sebagai shaf shaf para malaikat, seluruh tanah permukaan bumi dijadikan untuk kita sebagai masjid, serta debunya dijadikan suci untuk kita apabila kita tidak menemukan air”

Itulah sekilas sejarah diperintahkannya tayamum, semoga bermanfaat!

Rosmawati