Sholawat Munjiyat: Lafal dan Sejarahnya

Sholawat Munjiyat: Lafal dan Sejarahnya

PeciHitam.org – Sebelum membahas perihal Sholawat Munjiyat. Salah satu Dzikir yang sangat dianjurkan dibaca secara istiqamah yaitu membaca Shalawat. Dengan memperbanyak membaca shalawat diyakini dapat mempermudah terkabulnya hajat yang diinginkan oleh seseorang. Perintah untuk membaca shalawat ini, hal ini dijelaskan dalam Al Qur-an:

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا 

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab 33:56)

Bershalawat kepada Rasulullah bisa dilakukan hanya dengan melafalkan kalimat “shallallahu ala Muhammad”. Namun tenyata terdapat banyak sekali bacaan-bacaan shalawat dalam berbagai macam pelafalan dengan penamaan yang berbeda. Sholawat Munjiyat merupakan salah satu bacaan shalawat yang sering diamalkan dan dibaca.

Adapun lafal Sholawat Munjiyat secara lengkap adalah sebagaimana berikut:

اَللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْآفَاتِ، وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ، وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِيْ الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ

“Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan shalawat itu, Engkau akan menyelamatkan kami dari semua keadaan yang menakutkan dan dari semua cobaan, dengan shalawat itu, Engkau akan mengabulkan hajat kami, dengan shalawat itu, Engkau akan menyucikan kami dari segala keburukan, dengan shalawat itu, Engkau akan mengangkat kami ke derajat paling tinggi, dengan shalawat itu pula, Engkau akan menyampaikan kami kepada tujuan yang paling sempurna dalam semua kebaikan, ketika hidup dan setelah mati.”

Baca Juga:  Sholawat Munjiyat, Sejarah dan Khasiatnya yang Dapat Menghilangkan Kesusahan

Sholawat Munjiyat itu sendiri memiliki arti “Shalawat Penyelamat”. Penamaan bacaan shalawat di atas tidak terlepas dari kronologi “terciptanya” bacaan shalawat tersebut yang berasal dari sebuah peristiwa yang dialami oleh salah satu orang ‘arif.

Abdurrahman bin Abdissalam Ash-Shafuri dalam kitabnya menceritakan kronologi “terciptanya” Sholawat Munjiyat sebagai berikut yang artinya:

“Sebagian orang arif berkata: ‘aku berada di kapal, kemudian badai berembus kencang, hampir saja menyebabkan kami tenggelam. Lalu aku (tertidur dan) melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi, beliau bersabda: Katakan pada mereka ‘Bacalah doa Allahumma shalli ‘ala Muhammadin shalatan tunjina biha min jami’il ahwali wal afat wa taqdhi lana biha jami’al hajat wa tuthahhiruna biha min jami’is sayyiat wa tarfa’una biha ‘indaka a’lad darajat wa tuballighuna biha aqshal ghayat min jami’il khairati fil hayati wa ba’dal mamat, lalu aku terbangun dan kami ucapkan bacaan sholawat tersebut, lalu angin pun terdiam atas seizin Allah ta’ala,” (Lihat: Abdurrahman bin Abdissalam Ash-Shafuri, Nudhah al-Majalis wa Muntakhab an-Nafais).

Baca Juga:  Bukan Cuma Ayah yang Membaca Doa Anak Baru Lahir, yang Menjenguk Juga! Begini Tatacaranya

Dalam penjelasan kitab lain, yakni kitab al-Fajr al-Munir fi as-Shalat ala al-Basyir wa an-Nadzir, disebutkan secara jelas bahwa orang arif yang dimaksud dalam karya Abdurrahman bin Abdissalam di atas adalah salah satu pemuka tarekat Syadziliyah, yakni Syekh As-Shalih Musa ad-Dlarir.

Sebagaimana disampaikan dalam kitab karya Syekh Umar bin ‘Ali bin Salim al-Fakihani yang artinya sebagai berikut:

“Syekh Shalih Musa ad-Dharir rahimahullah mengabarkan kepadaku bahwa beliau mengendarai perahu, lalu berkata: ‘Badai yang dikenal dengan sebutan Aqlabiyah menyerang kami, sangat sedikit orang yang selamat dari tenggelam sebab badai tersebut. Manusia berteriak karena khawatir akan tenggelam. Lalu aku diserang rasa kantuk, hingga akhirnya aku tertidur. Dalam mimpi Aku melihat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: ‘Katakan pada penumpang perahu, agar mereka membaca shalawat berikut: ‘Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali Sayyidina Muhammadin shalatan tunjina biha min jami’il ahwali wal afat wa taqdhi lana biha jami’al hajat wa tuthahhiruna biha min jami’is sayyiat wa tarfa’una biha ‘indaka a’lad darajat wa tuballighuna biha aqshal ghayat min jami’il khairati fil hayati wa ba’dal mamat.’ Lalu Aku terbangun dan aku beritakan pada penumpang perahu tentang mimpi yang aku alami, kami pun membaca shalawat tersebut, dan ketika mencapai sekitar bilangan 300, badai pun reda.” (Lihat: Syekh Umar bin ‘Ali bin Salim al-Fakihani, al-Fajr al-Munir fi as-Shalat ala ala al-Basyir wa an-Nadzir)

Baca Juga:  Sejarah dan Keutamaan Dzikir Ratib al Attas

Sudah termasyhur bahwa doa-doa yang diawali dengan membaca Sholawat Munjiyat ini akan terkabulkan, tentu saja itu semua atas seizin Allah subhanahu wa ta’ala. Selain itu, Sholawat Munjiyat dianjurkan dibaca ketika selesai melaksanakan shalat hajat.

Di banyak podok pesantren, Sholawat Munjiyat juga menjadi suatu hal yang sering diamalkan, ini terlihat dari wirid-wirid dibaca oleh para santri yang di dalamnya tercantum Sholawat Munjiyat. Hal ini menunjukkan betapa luar biasanya keutamaan dari membaca Sholawat Munjiyat.

Akan tetapi dalam pengamalannya Sholawat Munjiyat lebih afdhal jika mendapatkan petunjuk dan ijazah dari seorang guru (Mujiz) yang membimbing dan mengarahkan kita dalam mengamalkan Sholawat Munjiyat, agar amalan shalawat yang kita baca dapat memiliki nasab keguruan dan lebih efektif.

Mochamad Ari Irawan

Leave a Reply

Your email address will not be published.