Silang Pendapat Arti Golongan Salaf dalam Hadis Nabi

Silang Pendapat Arti Golongan Salaf dalam Hadis Nabi

PeciHitam.org – Nama adalah identifikasi utama untuk menunjukan eksistensi sebuah golongan kepada khalayak. Pun dalam Islam, semua bisa terwakili dalam nama sebagaimana Allah SWT mengajari Adam untuk mengenal Nama-nama (pengetahuan) segala hal.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Akan tetapi nama juga bisa menjadi selimut perlindungan diri dari berbagai kritikan atau sekedar untuk memperhalus gerakan tertentu. Maka dibutuhkan pengetahuan berlebih untuk mengidentifikasi kesesuaian nama dengan substansinya.

Hal ini menjadi penting dilakukan sebagai cara untuk mengetahui pembajakan makna Salaf oleh golongan yang ‘mengaku’ paling nyunnah.

Siapa Golongan Salaf?

Golongan Salaf diidentikan dengan paham yang dianut oleh para Ulama-ulama terdahulu pada masa-masa awal Islam muncul. Setidaknya Rasulullah SAW memberikan rambu-rambu kepada umat Islam diakhir zaman untuk mengikuti tokoh yang tepat. Rasulullah SAW bersabda;

قَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Artinya; “Rasulullah SAW bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk (selalu) bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun terhadap seorang budak habasyi, sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang hidup akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang dibuat-buat, karena sesungguhnya hal itu merupakan kesesatan. Barangsiapa diantara kalian yang menjumpai hal itu hendaknya dia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham” (HR. At-Tirmidzi)

Rasulullah SAW sudah menubuwatkan kepada Umat Islam bahwa dimasa-masa sepeninggal beliau akan muncul masa-masa tidak sama dengan masa Nabi SAW.

Baca Juga:  Jilbab yang Sesuai Syariat Islam, Seperti Apa Sih Maksudnya?

Wasiat Rasulullah SAW sangat jelas untuk memegang jalan Nabi dan Sahabat yang terpilih. Golongan ini kemudian disebut sebagai Salafus Shaleh, atau orang terdahulu yang Shaleh.

Kita mengenal bahwa orang-orang Salafush Shaleh selalu menjadi rujukan Ulama-ulama yang memiliki sanad keilmuan yang tepat.

Karena keberlangsungan sanad Ilmu tidak bisa dipahami secara tekstual tanpa bantuan guru spiritual dan berjumpa langsung.

Maka kembali kepada golongan Salaf adalah belajar agama dengan Guru yang tepat, yakni yang memiliki transmisi Ilmu Jelas.

Silang Pendapat tentang Salaf

Kepentingan menjaga trasmisi Ilmu melalui jalur sanad menjadi penting karena tidak bisa belajar agama tanpa dibimbing oleh seorang guru.

Merujuk kepada pemahaman Salaf tentunya harus belajar dengan baik dan tepat, jangan mengikuti orang-orang ‘promosinya Manhaj Salaf’ namun belajarnya tanpa didampingi guru.

Baca Juga:  Siapakah Golongan Salaf yang sebenarnya ? Ini kata al Quran

Bahkan lebih parahnya lagi mengklaim diri sebagai murid langsung Rasulullah SAW dan Sahabat sekelas Ustadz Evie Effendi. Maka perlu memahami Maqalah Arab yang sangat Masyhur;

 مَن لا شيخَ له فشيخُه الشيطان

Artinya; ”Barangsiapa yang tidak punya guru, maka gurunya adalah setan”

Maka memahami kaidah Salaf tanpa memiliki otentisitas trasmisi Ilmu yang Valid (Sanad Shahih) bisa dimaknai cacat secara akademis. Karena mengklaim diri sebagai pengamal Sunnah namun tidak memiliki keabsahan dari jalur sanad ilmu.

Keabsahan jalur sanad Ilmu sangat penting untuk menunjukan orisinalitas pemahaman kepada Gurunya bersambung kepada Rasulullah SAW.

Maka manhaj Salaf seharusnya adalah ciri identifikasi perbuatan dan pengamalan Muslim masa ini diselaraskan dengan pengamalan para Ulama masa Lampau.

Bahwa golongan Salaf yang tepat dinisbatkan kepada Golongan Mayoritas atau As-Sawad al-A’dzam. Golongan ini berpegang teguh kepada jalur tradisi akademik para Ulama yang mu’tabar.

Dalam Madzhab mengikuti jejak Ijtihad Imam Madzhab 4, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii dan Imam Hanbali. Karena jalur trasmisi ilmu Imam Madzhab 4 ini yang masih terjaga dan tidak terputus sanad Ilmunya.

Sedangkan paham Aqidah mengikuti jejak langkah Imam Asy’ari dan Maturidi yang mana melakukan usaha memurnikan Islam dari Tasybih wa Tajsim ila Dzatillah.

As-Sawad al-A’dzam serta Jumhur Ulama mengatakan bahwa paham Aqidah tersebut yang benar serta bersih dari kesesatan.

Baca Juga:  SERU!! Dialog Santri Sunni vs Wahabi Tentang Dalil Qiyas Dalam Ibadah

Maka diluar pemahaman ini, keabsahan trasmisi keilmuannya diragukan menurut Jumhur Ulama. Meskipun menggunakan merk Salaf atau Ahlussunnah wal Jamaah tidak bisa menjadi pembenaran.

Bahkan seharusnya, nama adalah representasi substansi bukan menjadi alat untuk legitimasi kebenaran. Ketika masa sekarang ada anjuran untuk berislam tidak perlu bermadzhab, dan menuduh Asy’ari-Maturidi sesat, maka mereka sendiri yang tidak paham makna Salaf. Ash-Shawabu Minallah

Mohammad Mufid Muwaffaq