Sunnah-sunnah Shalat, Dikerjakan Sebelum dan Sesudahnya

sunnah sunnah shalat

Pecihitam.org – Sunnah-sunnah shalat yang saya maksudkan pada tema ini adalah adalah perkerjaan-pekerjaan di luar shalat dan dalam shalat yang sunnah hukumnya dikerjakan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sunnah adalah suatu pekerjaan yang mendapat pahala apabila dikerjakan dan tidak berdosa apabila ditinggalkan. Pekerjaan-pekerjaan sunnah dalam shalat ini apabila ditinggalkan maka tidak menyebabkan shalat batal. Berbeda dengan syarat dan rukun shalat, apabila ditinggalkan maka menyebabkan shalat batal atau tidak sah.

Karena itu, sunnah-sunnah shalat yang dibahas dalam atikel kecil ini ada dua macam: perkara sunnah yang dikerjakan sebelum masuk dalam shalat dan perkara sunnah yang dikerjakan setelah masuk dalam shalat.

Adapun maksud perkara sunnah yang dikerjakan dalam shalat itu adalah sunat ab’adh, bukan sunnah-sunnah hai’at. Sedangkan sunnah-sunnah hai’at akan saya uraikan secara khusus pada artikel tersendiri setelah ini.

 Adapun perkara sunnah yang dikerjakan sebelum masuk dalam shalat ada dua perkara:

1. Azan.

Azan dari bahasa Arab yang mempunyai arti memberitahu. Adapun makna azan pada istilah adalah zikir tertentu untuk memberitahu kepada manusia sudah masuk waktu shalat wajib.

Lafaznya dua-dua kali kecuali lafaz takbir maka empat kali dan lafaz tauhid hanya satu kali saja. Azan dan iqamah ini hanya disunnahkan untuk shalat-shalat fardhu atau wajib saja. Adapun lafaz azan adalah sebagai berikut:

  • اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
  • اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
  • أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ الاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ الاَّ اللهُ
  • أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ
  • حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
  • حَيَّ عَلَى الفَلاَحِ ، حَيَّ عَلَى الفَلاَحِ
  • اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
  • لاَ اِلَهَ الاَّ اللهُ
Baca Juga:  Ibu Menyusui Bolehkah Puasa? Ini Penjelasannya untuk Kamu

Ketika azan shalat Subuh maka ditambahkan lafaz berikut setelah mengucapkan حَيَّ عَلَى الفَلاَحِ yang kedua:

الصَّلاَةُ خَيْرُ مِنَ النَوْمِ ، الصَّلاَةُ خَيْرُ مِنَ النَوْمِ

2. Iqamah

Iqamah adalah zikir tertentu untuk meberitahu kepada jamaah bahwa sudah waktunya berdiri mengerjakan shalat. Adapun lafaz iqamah adalah sebagai berikut:

  • اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
  • أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ الاَّ اللهُ
  • أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ
  • حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
  • حَيَّ عَلَى الفَلاَحِ
  • قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ
  • اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
  • لاَ اِلَهَ الاَّ اللهُ

Orang yang mendengar azan disunnahkan mengucapkan juga kalimat yang diucapkan oleh muazzin, kecuali pada lafaz حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ dan حَيَّ عَلَى الفَلاَحِ maka sunnat mengucapkan لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ الاَّ بِاللهِ dan lafaz الصَّلاَةُ خَيْرُ مِنَ النَوْمِ maka orang yang mendengar sunnah mengucapkan صَدَقْتَ وَبَرَرْتَ.

Seperti itu juga ketika mendengar iqamah maka mengucapkan kalimat yang diucapkan oleh muazzin, kecuali pada kalimat قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ maka orang yang mendengar sunnah mengucapkan أَقَامَها اللهُ وَأَدَامَهاَ. Ketentuan ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari pada nomor 588 dan Muslim pada nomor 385.

Baca Juga:  Hukum Menjual Mahar Pernikahan, Pasutri Wajib Tahu!

Selain itu, disunnahkan juga setelah selesai azan membaca shalawat dan doa kepada Nabi saw. Maka tradisi yang dibentuk oleh leluhur di sebagian daerah di Indonesia, setelah selesai azan maka muazzin bershalawat serta doa dalamnya secara jahar dengan menggunakan microphone adalah tidak bertentangan dengan syariat. Karena ada hadis yang menganjurkan itu yang diriwayatkan oleh Muslim pada nomor 384.

Sedangkan perkara sunnah yang dikerjakan setelah masuk dalam shalat ada dua perkara juga:

1. Membaca tasyahhud awal

Bacaan tasyahhud awal yang disunnahkan baca adalah bacaan tasyahhud akhir yang diwajibkan baca pada duduk tasyahhud akhir. Adapun bacaan-bacaan setelah itu maka pada tasyahhud awal tidak disunatkan, tetapi makruh hukumnya. Berikut lafaz tasyahhud awal:

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

Adapun dalil yang menunjukkan atas kesunnahan tasyahhud awal adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari pada nomor 1167 dan Abu Dawod pada nomor 860.

2. Membaca qunut

Dalam Mazhab Syafii, sunnah membaca qunut pada i’tidal rakaat kedua dalam shalat Subuh. Qunut sunat juga dibaca pada i’tidal rakaat terakhir dalam shalat Witir setelah shalat Tarawih malam Ramadhan dari malam ke 16 sampai dengan malam ke 30. Qunut dari bahasa Arab yang artinya adalah doa. Sedangkan makna qunut pada istilah adalah zikir tertentu dalam syariat, yaitu:

Baca Juga:  Perbedaan Shalat Sunnah Muakkad dan Ghairu Muakkad

اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ. وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ. وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ. وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ. وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ. فَاِنَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ. وَاِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ. وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ. تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ. فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ. وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Dalil yang menunjukkan atas kesunahan membaca qunut tersebut adalah hadis yang diriwayatkan oleh Hakim dari Abu Hurairah dinaqalkan dalam kitab Mughni al-Muhtaj: 1/166, dan yang diriwayatkan oleh Abu Dawod pada nomor 1425. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.