Surah Adz-Dzariyat Ayat 1-14; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Adz-Dzariyat Ayat 1-14

Pecihitam.org – Kandungan Surah Adz-Dzariyat Ayat 1-14 ini, sebelum membahas kandungan ayat terlebih dahulu kita mengetahui isi surah tersebut. Surah ini diawali dengan sumpah atas kebenaran peristiwa kebangkitan dan terjadinya pembalasan. Kemudian disusul dengan sumpah lain atas kerancuan apa yang dikatakan orang-orang kafir tentang Rasululah saw. dan al-Qur’ân.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Setelah itu pembicaraan beralih kepada peringatan terhadap orang-orang kafir akan akibat buruk yang akan mereka terima di akhirat, gambaran atas apa yang akan diterima orang-orang bertakwa di sana sebagai balasan atas amal saleh yang mereka lakukan di dunia.

Surah ini juga menceritakan kisah Nabi Ibrâhîm bersama beberapa malaikat yang datang bertamu kepadanya memaparkan ihwal beberapa kaum dan kehancuran yang mereka derita akibat mendustakan rasul-rasul mereka.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Adz-Dzariyat Ayat 1-14

Surah Adz-Dzariyat Ayat 1
وَٱلذَّٰرِيَٰتِ ذَرۡوًا

Terjemahan: “Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan kuat.

Tafsir Jalalain: Adz-Dzaariyaat وَٱلذَّٰرِيَٰتِ (Angin yang Menerbangkan) (Demi yang menerbangkan debu) yakni angin dan lain-lainnya ذَرۡوًا (dengan sekuat-kuatnya) adalah Mashdar, yang diambil dari kata: Tudzriihi Dzaryan, artinya angin itu menerbangkannya.

Tafsir Ibnu Katsir: Telah ditetapkan lebih dari satu jalan [riwayat] dari Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib, bahwasannya ia pernah naik mimbar di Kufah, lalu berkata:

“Tidaklah kalian menanyakan kepadaku tentang ayat dalam kitab Allah Ta’ala dan tidak pula tentang sunnah Rasulullah saw. melainkan aku pasti akan memberitahukan kepada kalian tentang hal yang kalian tanyakan tersebut.” Kemudian Ibnul Kuwa’ berdiri seraya berkata:

“Wahai Amirul Mukminin, apa makna firman Allah Ta’ala: وَٱلذَّٰرِيَٰتِ ذَرۡوًا (“Demi yang menerbangkan debu dengan sekuat-kuatnya.”)?

Tafsir Kemenag: Surah adh-dzariyat ini dimulai dengan sumpah dari Allah swt bahwa semua yang diancamkan itu pasti akan berlaku dan bahwa balasan terhadap segala amal pasti akan terbukti. Dalam surah yang sebelumnya, dikisahkan kebinasaan beberapa umat yang terdahulu secara umum dan dalam Surah adh-dzariyat ini diberikan perinciannya.

Surah-surah yang pada permulaannya ada sumpah dengan hurufhuruf hijaiah (fawatihus-suwar) biasanya dimaksudkan untuk memperkuat salah satu dari tiga unsur yaitu ketauhidan, kerasulan dan kebangkitan.

Dalam surah-surah yang dimaksudkan untuk memperkuat ketauhidan, biasanya digunakan sumpah dengan benda-benda yang tidak bergerak, dan untuk memperkuat keimanan tentang hari kebangkitan digunakan sumpah dengan benda-benda yang bergerak karena kebangkitan itu mengandung pengumpulan dan pemisahan yang lebih pantas dikaitkan dengan benda-benda yang bergerak.

Orang Arab sangat takut akan sumpah palsu karena akibat yang sangat buruk dan terkutuk. Oleh karena itu, setiap sumpah yang serius oleh mereka sangat diperhatikan, terlebih jika yang bersumpah itu adalah Allah swt. Dalam ayat-ayat ini Allah bersumpah,

“Demi angin kencang yang menerbangkan debu dengan tiupannya yang sangat kuat dan dahsyat. Dan dengan awan yang gumpalannya mengandung banyak air hujan. Dan kapal-kapal yang berlayar hilir-mudik di lautan dengan mudah.

Dan dengan para malaikat yang membagi-bagi segala urusan yang dipikulkan kepada mereka seperti mengatur perjalanan planet dan bintang-bintang, soal menurunkan air hujan, membagi rezeki, dan sebagainya.”

Ayat di atas mengajak kita untuk berpikir tentang angin. Angin adalah massa udara yang bergerak dari tempat yang bertekanan tinggi ke arah yang bertekanan lebih rendah. Penyebab adanya perbedaan tekanan ini adalah perbedaan suhu.

Pada keadaan volume yang tetap, kenaikan suhu udara akan menaikkan tekanannya. Tetapi pada kenyataannya di alam kenaikan suhu udara pada suatu tempat akan menyebabkan pemuaian volume udara dan pengaliran udara ke atas, sehingga kerapatan udara di tempat itu akan berkurang dan akan diisi oleh massa udara dari tempat lain yang lebih dingin. Jadi pada dasarnya pergerakan udara ini dikendalikan oleh energi yang ditimbulkan oleh perbedaan suhu di tempat-tempat berlainan di permukaan bumi.

Dengan pergerakannya, angin juga berperan sebagai radiator penyeimbang suhu udara. Tanpa adanya angin suhu di daerah gurun akan jauh lebih panas daripada yang didapati sekarang, demikian pula di daerah dingin akan sangat membekukan.

Energi pergerakan angin yang memadai dapat memberikan banyak manfaat kepada manusia, seperti untuk pelayaran, memutar kincir untuk pembangkit energi. Di luar kendali manusia angin berperan penting dalam penyerbukan bunga-bunga menjadi buah dan menerbangkan biji-bijian serta spora untuk penyebaran tumbuhan.

Fenomena lain yang terjadi adalah terciptanya gelombang di lautan. Pergerakan udara dapat pula terjadi dengan energi yang demikian besar sehingga menimbulkan bencana dan kerugian misalnya dalam bentuk badai dan topan.

Dengan angin Allah bersumpah pada ayat berikutnya (adh-dzariyat/51 ayat 4): Dan yang membagi-bagi urusan. Dengan adanya angin, demikian banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi yang diakibatkan hembusannya.

Tafsir Quraish Shihab: Surah ini diawali dengan sumpah atas kebenaran peristiwa kebangkitan dan terjadinya pembalasan. Kemudian disusul dengan sumpah lain atas kerancuan apa yang dikatakan orang-orang kafir tentang Rasululah saw. dan al-Qur’ân.

Setelah itu pembicaraan beralih kepada peringatan terhadap orang-orang kafir akan akibat buruk yang akan mereka terima di akhirat, gambaran atas apa yang akan diterima orang-orang bertakwa di sana sebagai balasan atas amal saleh yang mereka lakukan di dunia.

Ayat-ayat Allah yang terdapat di alam raya dan diri manusia serta keunikan dan ketelitian yang terdapat pada keduanya juga disebutkan dalam Surah ini untuk dijadikan bahan renungan. Surah ini juga menceritakan kisah Nabi Ibrâhîm bersama beberapa malaikat yang datang bertamu kepadanya memaparkan ihwal beberapa kaum dan kehancuran yang mereka derita akibat mendustakan rasul-rasul mereka.

Di samping itu, disinggung secara singkat beberapa âyât kawniyyah (tanda kekuasaan Allah yang terdapat alam semesta), anjuran untuk bertobat kepada Allah dan peribadatan yang harus ditujukan kepada-Nya, sebab tujuan diciptakannya manusia dan jin adalah untuk berbadah.

Sebagai khatimah, Surah ini ditutup dengan peringatan terhadap orang-orang yang mendustakan Rasulullah saw. berupa azab seperti yang ditimpakan kepada orang-orang sebelum mereka.]] Aku bersumpah demi angin yang mendorong awan dengan sekuat-kuatnya, yang membawa gumpalan air yang berat, yang membawa air dengan mudah karena sudah ditundukkan oleh Allah dan dengan angin yang kemudian membagikan rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki oleh Allah.

Surah Adz-Dzariyat Ayat 2
فَٱلۡحَٰمِلَٰتِ وِقۡرًا

Terjemahan: “dan awan yang mengandung hujan,

Tafsir Jalalain: فَٱلۡحَٰمِلَٰتِ (Dan demi awan yang mengandung) awan yang membawa air وِقۡرًا (hujan) yakni beban berupa air hujan, berkedudukan menjadi Maf’ul dari lafal Al Haamiaat.

Tafsir Ibnu Katsir: Ali menjawab: “Yaitu angin.” “Lalu apa makna: فَٱلۡحَٰمِلَٰتِ وِقۡرًا (“Dan yang mengandung hujan”)?” tanyanya lebih lanjut. ‘Ali menjawab: “Yakni awan.”

Tafsir Kemenag: Surah adh-dzariyat ini dimulai dengan sumpah dari Allah swt bahwa semua yang diancamkan itu pasti akan berlaku dan bahwa balasan terhadap segala amal pasti akan terbukti. Dalam surah yang sebelumnya, dikisahkan kebinasaan beberapa umat yang terdahulu secara umum dan dalam Surah adh-dzariyat ini diberikan perinciannya.

Surah-surah yang pada permulaannya ada sumpah dengan hurufhuruf hijaiah (fawatihus-suwar) biasanya dimaksudkan untuk memperkuat salah satu dari tiga unsur yaitu ketauhidan, kerasulan dan kebangkitan.

Dalam surah-surah yang dimaksudkan untuk memperkuat ketauhidan, biasanya digunakan sumpah dengan benda-benda yang tidak bergerak, dan untuk memperkuat keimanan tentang hari kebangkitan digunakan sumpah dengan benda-benda yang bergerak karena kebangkitan itu mengandung pengumpulan dan pemisahan yang lebih pantas dikaitkan dengan benda-benda yang bergerak.

Orang Arab sangat takut akan sumpah palsu karena akibat yang sangat buruk dan terkutuk. Oleh karena itu, setiap sumpah yang serius oleh mereka sangat diperhatikan, terlebih jika yang bersumpah itu adalah Allah swt. Dalam ayat-ayat ini Allah bersumpah,

“Demi angin kencang yang menerbangkan debu dengan tiupannya yang sangat kuat dan dahsyat. Dan dengan awan yang gumpalannya mengandung banyak air hujan. Dan kapal-kapal yang berlayar hilir-mudik di lautan dengan mudah.

Dan dengan para malaikat yang membagi-bagi segala urusan yang dipikulkan kepada mereka seperti mengatur perjalanan planet dan bintang-bintang, soal menurunkan air hujan, membagi rezeki, dan sebagainya.”

Ayat di atas mengajak kita untuk berpikir tentang angin. Angin adalah massa udara yang bergerak dari tempat yang bertekanan tinggi ke arah yang bertekanan lebih rendah. Penyebab adanya perbedaan tekanan ini adalah perbedaan suhu.

Pada keadaan volume yang tetap, kenaikan suhu udara akan menaikkan tekanannya. Tetapi pada kenyataannya di alam kenaikan suhu udara pada suatu tempat akan menyebabkan pemuaian volume udara dan pengaliran udara ke atas, sehingga kerapatan udara di tempat itu akan berkurang dan akan diisi oleh massa udara dari tempat lain yang lebih dingin. Jadi pada dasarnya pergerakan udara ini dikendalikan oleh energi yang ditimbulkan oleh perbedaan suhu di tempat-tempat berlainan di permukaan bumi.

Dengan pergerakannya, angin juga berperan sebagai radiator penyeimbang suhu udara. Tanpa adanya angin suhu di daerah gurun akan jauh lebih panas daripada yang didapati sekarang, demikian pula di daerah dingin akan sangat membekukan.

Baca Juga:  Surah Hud Ayat 29-30; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Energi pergerakan angin yang memadai dapat memberikan banyak manfaat kepada manusia, seperti untuk pelayaran, memutar kincir untuk pembangkit energi. Di luar kendali manusia angin berperan penting dalam penyerbukan bunga-bunga menjadi buah dan menerbangkan biji-bijian serta spora untuk penyebaran tumbuhan.

Fenomena lain yang terjadi adalah terciptanya gelombang di lautan. Pergerakan udara dapat pula terjadi dengan energi yang demikian besar sehingga menimbulkan bencana dan kerugian misalnya dalam bentuk badai dan topan.

Dengan angin Allah bersumpah pada ayat berikutnya (adh-dzariyat/51 ayat 4): Dan yang membagi-bagi urusan. Dengan adanya angin, demikian banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi yang diakibatkan hembusannya.

Tafsir Quraish Shihab: Surah ini diawali dengan sumpah atas kebenaran peristiwa kebangkitan dan terjadinya pembalasan. Kemudian disusul dengan sumpah lain atas kerancuan apa yang dikatakan orang-orang kafir tentang Rasululah saw. dan al-Qur’ân.

Setelah itu pembicaraan beralih kepada peringatan terhadap orang-orang kafir akan akibat buruk yang akan mereka terima di akhirat, gambaran atas apa yang akan diterima orang-orang bertakwa di sana sebagai balasan atas amal saleh yang mereka lakukan di dunia.

Ayat-ayat Allah yang terdapat di alam raya dan diri manusia serta keunikan dan ketelitian yang terdapat pada keduanya juga disebutkan dalam Surah ini untuk dijadikan bahan renungan. Surah ini juga menceritakan kisah Nabi Ibrâhîm bersama beberapa malaikat yang datang bertamu kepadanya memaparkan ihwal beberapa kaum dan kehancuran yang mereka derita akibat mendustakan rasul-rasul mereka.

Di samping itu, disinggung secara singkat beberapa âyât kawniyyah (tanda kekuasaan Allah yang terdapat alam semesta), anjuran untuk bertobat kepada Allah dan peribadatan yang harus ditujukan kepada-Nya, sebab tujuan diciptakannya manusia dan jin adalah untuk berbadah.

Sebagai khatimah, Surah ini ditutup dengan peringatan terhadap orang-orang yang mendustakan Rasulullah saw. berupa azab seperti yang ditimpakan kepada orang-orang sebelum mereka.]] Aku bersumpah demi angin yang mendorong awan dengan sekuat-kuatnya, yang membawa gumpalan air yang berat, yang membawa air dengan mudah karena sudah ditundukkan oleh Allah dan dengan angin yang kemudian membagikan rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki oleh Allah.

Surah Adz-Dzariyat Ayat 3
فَٱلۡجَٰرِيَٰتِ يُسۡرًا

Terjemahan: “dan kapal-kapal yang berlayar dengan mudah.

Tafsir Jalalain: فَٱلۡجَٰرِيَٰتِ (Dan demi yang berlayar) yakni kapal-kapal yang berlayar di atas permukaan air يُسۡرًا (dengan mudah) dengan sangat mudahnya. Kalimat ini adalah Mashdar yang berkedudukan menjadi Hal, yakni Muyassaratan.

Tafsir Ibnu Katsir: Lalu ia bertanya lagi: “Kemudian apa makna ayat: فَٱلۡجَٰرِيَٰتِ يُسۡرًا (“dan kapal-kapal yang berlayar dengan mudah”)?” maka ‘Ali menjawab: “Yakni kapal-kapal.”

Tafsir Kemenag: Surah adh-dzariyat ini dimulai dengan sumpah dari Allah swt bahwa semua yang diancamkan itu pasti akan berlaku dan bahwa balasan terhadap segala amal pasti akan terbukti. Dalam surah yang sebelumnya, dikisahkan kebinasaan beberapa umat yang terdahulu secara umum dan dalam Surah adh-dzariyat ini diberikan perinciannya.

Surah-surah yang pada permulaannya ada sumpah dengan hurufhuruf hijaiah (fawatihus-suwar) biasanya dimaksudkan untuk memperkuat salah satu dari tiga unsur yaitu ketauhidan, kerasulan dan kebangkitan.

Dalam surah-surah yang dimaksudkan untuk memperkuat ketauhidan, biasanya digunakan sumpah dengan benda-benda yang tidak bergerak, dan untuk memperkuat keimanan tentang hari kebangkitan digunakan sumpah dengan benda-benda yang bergerak karena kebangkitan itu mengandung pengumpulan dan pemisahan yang lebih pantas dikaitkan dengan benda-benda yang bergerak.

Orang Arab sangat takut akan sumpah palsu karena akibat yang sangat buruk dan terkutuk. Oleh karena itu, setiap sumpah yang serius oleh mereka sangat diperhatikan, terlebih jika yang bersumpah itu adalah Allah swt. Dalam ayat-ayat ini Allah bersumpah,

“Demi angin kencang yang menerbangkan debu dengan tiupannya yang sangat kuat dan dahsyat. Dan dengan awan yang gumpalannya mengandung banyak air hujan. Dan kapal-kapal yang berlayar hilir-mudik di lautan dengan mudah.

Dan dengan para malaikat yang membagi-bagi segala urusan yang dipikulkan kepada mereka seperti mengatur perjalanan planet dan bintang-bintang, soal menurunkan air hujan, membagi rezeki, dan sebagainya.”

Ayat di atas mengajak kita untuk berpikir tentang angin. Angin adalah massa udara yang bergerak dari tempat yang bertekanan tinggi ke arah yang bertekanan lebih rendah. Penyebab adanya perbedaan tekanan ini adalah perbedaan suhu.

Pada keadaan volume yang tetap, kenaikan suhu udara akan menaikkan tekanannya. Tetapi pada kenyataannya di alam kenaikan suhu udara pada suatu tempat akan menyebabkan pemuaian volume udara dan pengaliran udara ke atas, sehingga kerapatan udara di tempat itu akan berkurang dan akan diisi oleh massa udara dari tempat lain yang lebih dingin. Jadi pada dasarnya pergerakan udara ini dikendalikan oleh energi yang ditimbulkan oleh perbedaan suhu di tempat-tempat berlainan di permukaan bumi.

Dengan pergerakannya, angin juga berperan sebagai radiator penyeimbang suhu udara. Tanpa adanya angin suhu di daerah gurun akan jauh lebih panas daripada yang didapati sekarang, demikian pula di daerah dingin akan sangat membekukan.

Energi pergerakan angin yang memadai dapat memberikan banyak manfaat kepada manusia, seperti untuk pelayaran, memutar kincir untuk pembangkit energi. Di luar kendali manusia angin berperan penting dalam penyerbukan bunga-bunga menjadi buah dan menerbangkan biji-bijian serta spora untuk penyebaran tumbuhan.

Fenomena lain yang terjadi adalah terciptanya gelombang di lautan. Pergerakan udara dapat pula terjadi dengan energi yang demikian besar sehingga menimbulkan bencana dan kerugian misalnya dalam bentuk badai dan topan.

Dengan angin Allah bersumpah pada ayat berikutnya (adh-dzariyat/51 ayat 4): Dan yang membagi-bagi urusan. Dengan adanya angin, demikian banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi yang diakibatkan hembusannya.

Tafsir Quraish Shihab: Surah ini diawali dengan sumpah atas kebenaran peristiwa kebangkitan dan terjadinya pembalasan. Kemudian disusul dengan sumpah lain atas kerancuan apa yang dikatakan orang-orang kafir tentang Rasululah saw. dan al-Qur’ân.

Setelah itu pembicaraan beralih kepada peringatan terhadap orang-orang kafir akan akibat buruk yang akan mereka terima di akhirat, gambaran atas apa yang akan diterima orang-orang bertakwa di sana sebagai balasan atas amal saleh yang mereka lakukan di dunia.

Ayat-ayat Allah yang terdapat di alam raya dan diri manusia serta keunikan dan ketelitian yang terdapat pada keduanya juga disebutkan dalam Surah ini untuk dijadikan bahan renungan. Surah ini juga menceritakan kisah Nabi Ibrâhîm bersama beberapa malaikat yang datang bertamu kepadanya memaparkan ihwal beberapa kaum dan kehancuran yang mereka derita akibat mendustakan rasul-rasul mereka.

Di samping itu, disinggung secara singkat beberapa âyât kawniyyah (tanda kekuasaan Allah yang terdapat alam semesta), anjuran untuk bertobat kepada Allah dan peribadatan yang harus ditujukan kepada-Nya, sebab tujuan diciptakannya manusia dan jin adalah untuk berbadah.

Sebagai khatimah, Surah ini ditutup dengan peringatan terhadap orang-orang yang mendustakan Rasulullah saw. berupa azab seperti yang ditimpakan kepada orang-orang sebelum mereka.]] Aku bersumpah demi angin yang mendorong awan dengan sekuat-kuatnya, yang membawa gumpalan air yang berat, yang membawa air dengan mudah karena sudah ditundukkan oleh Allah dan dengan angin yang kemudian membagikan rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki oleh Allah.

Surah Adz-Dzariyat Ayat 4
يفَٱلۡمُقَسِّمَٰتِ أَمۡرًا

Terjemahan: “dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan,

Tafsir Jalalain: يفَٱلۡمُقَسِّمَٰتِ أَمۡرًا (Dan demi yang membagi-bagi urusan) demi malaikat-malaikat yang membagi-bagi rezeki, hujan dan lain-lainnya ke berbagai negeri dan kepada semua hamba-hamba Allah.

Tafsir Ibnu Katsir: “Lalu apa makna: يفَٱلۡمُقَسِّمَٰتِ أَمۡرًا (“Dan yang membagi-bagikan urusan”)?” tanya Ibnul Kuwa’ lebih lanjut. Dan ‘Ali menjawab: “Yaitu para malaikat.”

Demikian pula yang ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar, Mujahid, Sa’id bin Jubair, al-Hasan, Qatadah, as-Suddi, dan lain-lain. Sedangkan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim tidak menceritakan selain penafsiran tersebut.

Tafsir Kemenag: Surah adh-dzariyat ini dimulai dengan sumpah dari Allah swt bahwa semua yang diancamkan itu pasti akan berlaku dan bahwa balasan terhadap segala amal pasti akan terbukti. Dalam surah yang sebelumnya, dikisahkan kebinasaan beberapa umat yang terdahulu secara umum dan dalam Surah adh-dzariyat ini diberikan perinciannya.

Surah-surah yang pada permulaannya ada sumpah dengan hurufhuruf hijaiah (fawatihus-suwar) biasanya dimaksudkan untuk memperkuat salah satu dari tiga unsur yaitu ketauhidan, kerasulan dan kebangkitan.

Dalam surah-surah yang dimaksudkan untuk memperkuat ketauhidan, biasanya digunakan sumpah dengan benda-benda yang tidak bergerak, dan untuk memperkuat keimanan tentang hari kebangkitan digunakan sumpah dengan benda-benda yang bergerak karena kebangkitan itu mengandung pengumpulan dan pemisahan yang lebih pantas dikaitkan dengan benda-benda yang bergerak.

Orang Arab sangat takut akan sumpah palsu karena akibat yang sangat buruk dan terkutuk. Oleh karena itu, setiap sumpah yang serius oleh mereka sangat diperhatikan, terlebih jika yang bersumpah itu adalah Allah swt. Dalam ayat-ayat ini Allah bersumpah,

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 137; Seri Tadabbur Al Qur'an

“Demi angin kencang yang menerbangkan debu dengan tiupannya yang sangat kuat dan dahsyat. Dan dengan awan yang gumpalannya mengandung banyak air hujan. Dan kapal-kapal yang berlayar hilir-mudik di lautan dengan mudah.

Dan dengan para malaikat yang membagi-bagi segala urusan yang dipikulkan kepada mereka seperti mengatur perjalanan planet dan bintang-bintang, soal menurunkan air hujan, membagi rezeki, dan sebagainya.”

Ayat di atas mengajak kita untuk berpikir tentang angin. Angin adalah massa udara yang bergerak dari tempat yang bertekanan tinggi ke arah yang bertekanan lebih rendah. Penyebab adanya perbedaan tekanan ini adalah perbedaan suhu.

Pada keadaan volume yang tetap, kenaikan suhu udara akan menaikkan tekanannya. Tetapi pada kenyataannya di alam kenaikan suhu udara pada suatu tempat akan menyebabkan pemuaian volume udara dan pengaliran udara ke atas, sehingga kerapatan udara di tempat itu akan berkurang dan akan diisi oleh massa udara dari tempat lain yang lebih dingin. Jadi pada dasarnya pergerakan udara ini dikendalikan oleh energi yang ditimbulkan oleh perbedaan suhu di tempat-tempat berlainan di permukaan bumi.

Dengan pergerakannya, angin juga berperan sebagai radiator penyeimbang suhu udara. Tanpa adanya angin suhu di daerah gurun akan jauh lebih panas daripada yang didapati sekarang, demikian pula di daerah dingin akan sangat membekukan.

Energi pergerakan angin yang memadai dapat memberikan banyak manfaat kepada manusia, seperti untuk pelayaran, memutar kincir untuk pembangkit energi. Di luar kendali manusia angin berperan penting dalam penyerbukan bunga-bunga menjadi buah dan menerbangkan biji-bijian serta spora untuk penyebaran tumbuhan.

Fenomena lain yang terjadi adalah terciptanya gelombang di lautan. Pergerakan udara dapat pula terjadi dengan energi yang demikian besar sehingga menimbulkan bencana dan kerugian misalnya dalam bentuk badai dan topan.

Dengan angin Allah bersumpah pada ayat berikutnya (adh-dzariyat/51 ayat 4): Dan yang membagi-bagi urusan. Dengan adanya angin, demikian banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi yang diakibatkan hembusannya.

Tafsir Quraish Shihab: Surah ini diawali dengan sumpah atas kebenaran peristiwa kebangkitan dan terjadinya pembalasan. Kemudian disusul dengan sumpah lain atas kerancuan apa yang dikatakan orang-orang kafir tentang Rasululah saw. dan al-Qur’ân.

Setelah itu pembicaraan beralih kepada peringatan terhadap orang-orang kafir akan akibat buruk yang akan mereka terima di akhirat, gambaran atas apa yang akan diterima orang-orang bertakwa di sana sebagai balasan atas amal saleh yang mereka lakukan di dunia.

Ayat-ayat Allah yang terdapat di alam raya dan diri manusia serta keunikan dan ketelitian yang terdapat pada keduanya juga disebutkan dalam Surah ini untuk dijadikan bahan renungan. Surah ini juga menceritakan kisah Nabi Ibrâhîm bersama beberapa malaikat yang datang bertamu kepadanya memaparkan ihwal beberapa kaum dan kehancuran yang mereka derita akibat mendustakan rasul-rasul mereka.

Di samping itu, disinggung secara singkat beberapa âyât kawniyyah (tanda kekuasaan Allah yang terdapat alam semesta), anjuran untuk bertobat kepada Allah dan peribadatan yang harus ditujukan kepada-Nya, sebab tujuan diciptakannya manusia dan jin adalah untuk berbadah.

Sebagai khatimah, Surah ini ditutup dengan peringatan terhadap orang-orang yang mendustakan Rasulullah saw. berupa azab seperti yang ditimpakan kepada orang-orang sebelum mereka.]] Aku bersumpah demi angin yang mendorong awan dengan sekuat-kuatnya, yang membawa gumpalan air yang berat, yang membawa air dengan mudah karena sudah ditundukkan oleh Allah dan dengan angin yang kemudian membagikan rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki oleh Allah.

Surah Adz-Dzariyat Ayat 5
إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَصَادِقٌ

Terjemahan: “sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar.

Tafsir Jalalain: إِنَّمَا تُوعَدُونَ (Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepada kalian) huruf Maa pada lafal Innamaa adalah Mashdariyah; yakni janji Allah kepada mereka, yaitu tentang hari berbangkit dan lain-lainnya لَصَادِقٌ (pasti benar) artinya sungguh merupakan janji yang benar.

Tafsir Ibnu Katsir: Itu merupakan sumpah dari Allah swt. terhadap kepastian terjadinya hari pengembalian semua makhluk. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَصَادِقٌ (“Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar.”) maksudnya, berita yang benar.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menegaskan tentang isi sumpah tersebut: Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu seperti hari kebangkitan, pembalasan, hisab pada hari Kiamat semuanya itu pasti akan terjadi. Dan bahwa sesungguhnya hari pembalasan bagi setiap amal pasti terjadi.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya kebangkitan dan lainnya yang telah dijanjikan kepada kalian adalah benar-benar terjadi. Demikian pula balasan atas semua perbuatan kalian pasti akan terjadi.

Surah Adz-Dzariyat Ayat 6
وَإِنَّ ٱلدِّينَ لَوَٰقِعٌ

Terjemhan: “dan sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi.

Tafsir Jalalain: وَإِنَّ ٱلدِّينَ (Dan Sesungguhnya pembalasan itu) yakni pembalasan sesudah hisab لَوَٰقِعٌ (pasti terjadi) pasti akan terjadi.

Tafsir Ibnu Katsir: وَإِنَّ ٱلدِّينَ (“Dan sesungguhnya [hari] pembalasan”) yaitu hari penghisaban, لَوَٰقِعٌ’ (“Pasti terjadi”) artinya, sudah pasti akan terjadi, tidak mungkin tidak.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menegaskan tentang isi sumpah tersebut: Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu seperti hari kebangkitan, pembalasan, hisab pada hari Kiamat semuanya itu pasti akan terjadi. Dan bahwa sesungguhnya hari pembalasan bagi setiap amal pasti terjadi.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya kebangkitan dan lainnya yang telah dijanjikan kepada kalian adalah benar-benar terjadi. Demikian pula balasan atas semua perbuatan kalian pasti akan terjadi.

Surah Adz-Dzariyat Ayat 7
وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡحُبُكِ

Terjemahan: “Demi langit yang mempunyai jalan-jalan,

Tafsir Jalalain: وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡحُبُكِ (Demi langit yang mempunyai jalan-jalan) lafal Al Hubuk adalah bentuk jamak dari Habiikah, sama halnya dengan lafal Thariiqah yang bentuk jamaknya Thuruq, yakni sejak ia diciptakan mempunyai jalan-jalan, sebagaimana jalan di padang pasir.

Tafsir Ibnu Katsir: Setelah itu Allah Ta’ala berfirman: وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡحُبُكِ (“Demi langit yang mempunyai jalan-jalan.”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Yakni [langit] yang mempunyai keelokan, kecantikan, keindahan dan keseimbangan.”

Demikian pula yang disampaikan oleh Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Abu Malik, Abu Shalih, as-Suddi, Qatadah, ‘Athiyyah al-‘Aufi, ar-Rabi’ bin Anas, dan lain-lain. Sedangkan adl-Dlahhak, al-Minhal bin ‘Amr, dan lain-lain mengatakan:

“Seperti gulungan air, kerikil, dan tanaman jika diterpa angin, sebagian saling bertalian dengan sebagian lainnya sehingga menjadi jalan. Dan itulah al-habk [jalan]. Wallahu a’lam.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah bersumpah: Demi langit yang mempunyai garis edar (orbit) tempat beredarnya bintang-bintang dan planetplanet. Menurut Quraish Shihab, kata al-hubuk dapat berarti yang indah dan baik atau yang teratur. Dapat pula dipahami sebagai bentuk jamak dari habikah atau hibak, yakni jalan, seperti jalan-jalan yang terlihat di atas air apabila ditimpa hembusan angin.

Dalam teori fisika relativitas umum, dikenal mengenai mekanisme pemendekan jarak yang sangat jauh menjadi hanya beberapa meter saja. Einstein menyebutnya sebagai jembatan (bridge) dan saat ini para ilmuwan menyebutnya sebagai wormhole (lubang cacing).

Wormhole ini merupakan jalan pintas yang menghubungkan dua tempat di jagad raya ini. Sebagai gambaran, kita ingin bepergian ke suatu galaksi yang letaknya 100 juta tahun cahaya dari bumi (jika 1 tahun cahaya = 9,46 x 1012 km, maka galaksi tersebut jaraknya dari bumi sekitar 9,46×1018 km, atau 9,46 juta-juta-juta km!).

Tidak terbayangkan kapan kita sampai ke galaksi tersebut. Andaikata ada pesawat ulang-alik yang memiliki kecepatan mendekati kecepatan cahaya saja kita memerlukan waktu 100 juta tahun! Namun apabila kita menggunakan jalan pintas ‘wormhole, kita akan sampai di galaksi hari ini. Perlu dicatat bahwa ini merupakan konsekuensi dari pemendekan jarak yang terjadi dalam wormhole.

Dengan demikian bisa jadi, al-hubuk berupa sebuah jalan seperti yang digambarkan oleh para ahli fisika, wormhole, sebuah jalan ‘khusus yang diberikan Allah kepada para Malaikat dan hambahambaNya yang terpilih.

Perjalanan Rasulullah dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, boleh jadi melewati mekanisme pemendekan jarak sehingga jarak yang demikian jauhnya ditempuh Rasulullah hanya dalam bilangan jam.

Tafsir Quraish Shihab: Aku bersumpah demi langit yang memiliki celah-celah yang teratur, bahwa apa yang kalian katakan itu rancu.

Surah Adz-Dzariyat Ayat 8
إِنَّكُمۡ لَفِى قَوۡلٍ مُّخۡتَلِفٍ

Terjemahan: “sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda pendapat,

Tafsir Jalalain: إِنَّكُمۡ (Sesungguhnya kalian) hai penduduk Mekah terhadap Nabi saw. dan Alquran َفِى قَوۡلٍ مُّخۡتَلِفٍ (benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat) terkadang mengatakannya sebagai penyair, dan terkadang penyihir, dan terkadang peramal, dan terhadap Alquran terkadang mereka mengatakannya sebagai syair; terkadang sebagai sihir dan terkadang dianggap sebagai ramalan.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: إِنَّكُمۡ لَفِى قَوۡلٍ مُّخۡتَلِفٍ (“Sesungguhnya kalian benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat.”) maksudnya, wahai sekalian orang-orang musyrik, sesungguhnya kalian –yang senantiasa mendustakan para Rasul- benar-benar berada dalam perbedaan pendapat, terguncang, dan tidak pernah bersatu. Qatadah mengemukakan: “Sesungguhnya kalian berada dalam perbedaan pendapat, antara yang membenarkan al-Qur’an dan yang mendustakannya.”

Baca Juga:  Surah Al Baqarah Ayat 256-257; Tafsir dan Terjemahannya

Tafsir Kemenag: Ayat ini menegaskan tentang isi sumpah tersebut, bahwa sesungguhnya orang-orang musyrik benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat tentang Muhammad saw dan Al-Qur’an. Di antara mereka ada yang menganggap Muhammad saw sebagai tukang syair, ada pula yang menuduhnya sebagai seorang tukang sihir atau gila, dan terhadap Al-Qur’an ada yang menuduh sebagai kitab dongengan purbakala, kitab sihir atau pantun. Perbedaan pendapat yang sangat mencolok itu menjadi bukti yang nyata tentang rusaknya alam pikiran mereka yang penuh dengan syirik.

Tafsir Quraish Shihab: Aku bersumpah demi langit yang memiliki celah-celah yang teratur, bahwa apa yang kalian katakan itu rancu.

Surah Adz-Dzariyat Ayat 9
يُؤۡفَكُ عَنۡهُ مَنۡ أُفِكَ

Terjemahan: “dipalingkan daripadanya (Rasul dan Al-Quran) orang yang dipalingkan.

Tafsir Jalalain: يُؤۡفَكُ (Dipalingkan) dijauhkan عَنۡهُ (daripadanya) dari Nabi saw. dan Alquran; maksudnya dipalingkan dari beriman kepadanya مَنۡ أُفِكَ (orang yang dipalingkan) dari jalan petunjuk, menurut ilmu Allah swt.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: يُؤۡفَكُ عَنۡهُ مَنۡ أُفِكَ (“Dipalingkan daripadanya [Rasul dan al-Qur’an] orang yang dipalingkan.”) maksudnya, pendapat yang berlainan itu ditujukan kepada orang yang memiliki kesesatan dalam dirinya. Karena, ia merupakan pendapat yang bathil, yang mengikuti dan berpaling padanya hanyalah orang-orang yang sesat dan bodoh yang tidak mempunyai pemahaman sama sekali.

Mengenai firman Allah ini: يُؤۡفَكُ عَنۡهُ مَنۡ أُفِكَ (“Dipalingkan daripadanya [Rasul dan al-Qur’an] orang yang dipalingkan.”) Ibnu ‘Abbas dan as-Suddi mengatakan: “Yang berpaling darinya adalah orang-orang yang sesat.” Al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Yakni, yang dipalingkan dari al-Qur’an ini adalah orang yang mendustakannya.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menegaskan bahwa dalam keadaan berbeda pendapat, orang musyrik tersebut semakin dijauhkan dan dipalingkan dari rasul dan Al-Qur’an sehingga mereka menjadi tambah sesat.

Tafsir Quraish Shihab: Orang yang dipalingkan dari keimanan terhadap janji yang benar dan pembalasan yang terjadi selalu berpaling darinya karena lebih mengedepankan hawa nafsu daripada akalnya.

Surah Adz-Dzariyat Ayat 10
قُتِلَ ٱلۡخَرَّٰصُونَ

Terjemahan: “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta,

Tafsir Jalalain: قُتِلَ ٱلۡخَرَّٰصُونَ (Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta) amat terkutuklah orang-orang yang berdusta, yaitu orang-orang yang mempunyai pendapat yang berbeda-beda.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah Ta’ala selanjutnya: قُتِلَ ٱلۡخَرَّٰصُونَ (“Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta”) Mujahid mengatakan: “Yaitu orang-orang yang terdapat dalam Surah ‘Abasa: (“Binasalah manusia, alangkah amat sangat kekafirannya.”) (‘Abasa: 17).

Yang dimaksud dengan kata “al-kharraashuun” adalah orang-orang yang mengatakan: “Kami tidak akan dibangkitkan,” dan mereka tidak meyakininya.

Mengenai firman Allah Ta’ala: قُتِلَ ٱلۡخَرَّٰصُونَ (“Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta”) ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Yakni terlaknatlah orang-orang yang ragu.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mu’adz dalam khutbahnya:

“Binasalah orang-orang yang ragu-ragu.” Sedangkan Qatadah berkata: “Al-kharraashuun berarti orang-orang yang suka berprasangka dan menduga-duga.”

Tafsir kemanag: Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang yang banyak berdusta dikutuk oleh Allah. Mereka termasuk golongan orang-orang yang sangat jahil, yang berkecimpung dalam kegelapan dan kesesatan, juga terbenam dalam kebodohan dan kelalaian yang sangat menyedihkan.

Tafsir Quraish Shihab: Binasalah para pendusta yang berbicara tentang keadaan hari kiamat dengan sangkaan dan khayalan yang tenggelam dalam kebodohan dan lalai terhadap bukti-bukti keimanan.

Surah Adz-Dzariyat Ayat 11
ٱلَّذِينَ هُمۡ فِى غَمۡرَةٍ سَاهُونَ

Terjemahan: “(yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai,

Tafsir Jalalain: ٱلَّذِينَ هُمۡ فِى غَمۡرَةٍ (Yaitu orang-orang yang terbenam di dalam kebodohannya) di dalam kebodohan yang menutupi akal mereka سَاهُونَ (lagi lalai) akan perkara akhirat.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah Tabaaraka wa Ta’ala: ٱلَّذِينَ هُمۡ فِى غَمۡرَةٍ سَاهُونَ (“Yaitu orang-orang yang terbenam dalam kebodohan lagi lalai.”) Ibnu ‘Abbas dan beberapa ulama lainnya berkata: “Yaitu yang tenggelam dalam kekufuran dan keraguan, mereka lengah dan lalai.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang yang banyak berdusta dikutuk oleh Allah. Mereka termasuk golongan orang-orang yang sangat jahil, yang berkecimpung dalam kegelapan dan kesesatan, juga terbenam dalam kebodohan dan kelalaian yang sangat menyedihkan.

Tafsir Quraish Shihab: Binasalah para pendusta yang berbicara tentang keadaan hari kiamat dengan sangkaan dan khayalan yang tenggelam dalam kebodohan dan lalai terhadap bukti-bukti keimanan.

Surah Adz-Dzariyat Ayat 12
يَسۡـَٔلُونَ أَيَّانَ يَوۡمُ ٱلدِّينِ

Terjemahan: “mereka bertanya: “Bilakah hari pembalasan itu?”

Tafsir Jalalain: يَسۡـَٔلُونَ (Mereka bertanya) kepada nabi dengan nada memperolok-olokkan, َيَّانَ يَوۡمُ ٱلدِّينِ (“Bilakah hari pembalasan?”) kapan datangnya hari pembalasan itu. Jawaban yang patut buat mereka ialah, “Memang Kiamat pasti datang,.

Tafsir Ibnu Katsir: ”َسۡـَٔلُونَ أَيَّانَ يَوۡمُ ٱلدِّينِ (“Mereka bertanya: ‘Bilakah hari pembalasan itu?’”) mereka mengucapkannya tidak lain hanya untuk mendustakan, mengingkari, meragukan, dan menganggap mustahil.

Tafsir Kemenag: Ayat ini mengungkapkan ketika orang musyrik itu mencemoohkan bertanya kepada Nabi saw, “Kapankah datangnya hari pembalasan itu?”.

Tafsir Quraish Shihab: Dengan maksud mengejek dan menafikan kemungkinan terjadinya, mereka bertanya, “Kapankah hari pembalasan itu terjadi?”

Surah Adz-Dzariyat Ayat 13
يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ

Terjemahan: “(Hari pembalasan itu) ialah pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka.

Tafsir Jalalain: يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ (Yaitu pada hari ketika mereka di azab di dalam neraka”) yakni sewaktu mereka diazab di dalamnya, lalu dikatakan kepada mereka ketika mereka sedang diazab,.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman: يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ (“[Hari pembalasan itu ialah] pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka.”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, al-Hasan, dan beberapa ulama lainnya mengatakan: “Kata ‘yuftanuun’ berarti mereka disiksa.” Mujahid berkata:

“Sebagaimana dibakarnya emas di atas api.” Sekelompok ulama lainnya; seperti Mujahid, ‘Ikrimah, Ibrahim an-Nakha-I, Zaid bin Aslam, dan Sufyan ats-Tsauri mengatakan: “Yuftanuun berarti dibakar.”

Tafsir kemenag: Ayat ini mengungkapkan bahwa hari pembalasan itu ialah hari ketika orang-orang kafir di azab dengan azab yang sangat pedih di atas api neraka. Sesungguhnya orang-orang musyrik itu jika mempunyai hamba sahaya yang bekerja sebagai buruh harian tentu akan memeriksa pekerjaan mereka sebelum mereka diberi upah. Mereka memeriksa, bertanya dan meneliti hasil pekerjaan buruhburuh mereka.

Apakah tidak dipikirkan oleh mereka tentang pengabdian sekalian manusia kepada Allah yang telah melimpahkan segala macam kenikmatan kepadanya, mulai dari penciptaan langit dan bumi dan segala isinya sampai kepada pemenuhan segala hajat kebutuhan manusia seperti sandang, pangan, perumahan, jaminan hari tua, dan sebagainya.

Apakah patut Allah membiarkan mereka hidup berfoya-foya saja, padahal Allah tidak menciptakan manusia secara sia-sia, bahkan pasti akan mengadakan hari kebangkitan dan hari pembalasan? Oleh karena mereka tenggelam dalam arus kebodohan dan kelalaian, maka hal-hal yang sangat masuk akal dan nyata itu dibiarkan lewat begitu saja tanpa kesungguhan dan perhatian, dan barulah mereka sadar ketika mereka diazab di dalam api neraka.

Tafsir Quraish Shihab: Pada saat mereka dihadapkan ke neraka, mereka disiksa dengan sengatan apinya.

Surah Adz-Dzariyat Ayat 14
ذُوقُواْ فِتۡنَتَكُمۡ هَٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تَسۡتَعۡجِلُونَ

Terjemahan: “(Dikatakan kepada mereka): “Rasakanlah azabmu itu. Inilah azab yang dulu kamu minta untuk disegerakan”.

Tafsir Jalalain: (“Rasakanlah azab kalian) siksaan kalian. هَٰذَا (Inilah) azab ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تَسۡتَعۡجِلُونَ (yang dahulu kalian minta supaya disegerakan”) di dunia dengan nada mengejek.

Tafsir Ibnu Katsir: ذُوقُواْ فِتۡنَتَكُمۡ (“Rasakanlah adzabmu itu.”) Muhahid berkata: “[Rasakanlah] pembakaran kalian.” Sedangkan ulama lainnya mengatakan: “Yakni, adzab kalian.” Hadzalladzii kuntum biHii tasta’jiluun. (“Inilah adzab yang dahulu kamu minta supaya disegerakan.”) maksdunya, ucapan ini ditujukan kepada mereka sebagai celaan, penghinaan, dan merendahkan mereka. Wallahu a’lam.

Tafsir Kemenag: Di samping azab yang amat pedih, mereka juga menderita azab rohani ketika para malaikat berkata, “Rasakanlah azabmu ini yang dahulu kamu waktu di dunia selalu kamu minta supaya disegerakan.”.

Tafsir Quraish Shihab: Ketika itu dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah siksaan kalian ini! Inilah yang dahulu, ketika di dunia, pernah kalian minta disegerakan.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Adz-Dzariyat Ayat 1-14 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S