Surah Al-An’am Ayat 125; Seri Tadabbur Al Qur’an

Surah Al-An'am Ayat 125

Pecihitam.org – Surah Al-An’am Ayat 125 menjelaskan bahwa jika Allah SWT memang berkehendak untuk memberikan hidayah kepada hamba-Nya, niscaya ia akan mudahkan hati hamba-Nya untuk menerimanya. Sebaliknya, jika Allah menghendaki kesesatan hamba-Nya maka Allah akan mempersempit hatinya menerima kebenaran.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah SWT berfirman di dalam Al Qur’an Surah Al-An’am Ayat 125;

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

Terjemahan: Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.

Tafsir Jalalain: فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ (Siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk niscaya Dia melapangkan dadanya untuk memeluk agama Islam) yaitu dengan cara menyinarkan nur hidayah ke dalam dadanya sehingga dengan sadar ia mau menerima Islam dan mau membuka dadanya lebar-lebar untuk menerimanya. Demikianlah sebagaimana yang telah disebutkan dalam suatu hadits.

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 152; Seri Tadabbur Al Qur'an

وَمَنْ يُرِدْ (Dan siapa yang dikehendaki) oleh Allah أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا (kesesatannya niscaya Allah menjadikan dadanya sesak) dengan dibaca takhfif dan tasydid yaitu merasa sempit untuk menerimanya حَرَجًا (lagi sempit) terasa amat sempit; dengan dibaca kasrah huruf ra-nya menjadi sifat dan dibaca fathah sebagai mashdar yang diberi sifat dengan makna mubalaghah

كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ (seolah-olah ia sedang mendaki) menurut sebuah qiraat dibaca يَصَّعَّدُ di dalam kedua bacaan tersebut berarti mengidgamkan ta asal ke dalam huruf shad. Menurut qiraat lainnya dengan dibaca sukun huruf shad-nya

فِي السَّمَاءِ (ke langit) jika iman dipaksakan kepadanya karena hal itu terasa berat sekali baginya. كَذَٰلِكَ (Begitulah) sebagaimana kejadian itu يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ (Allah menimpakan siksa) yaitu azab atau setan, dengan pengertian azab atau setan itu menguasainya عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ (kepada orang-orang yang tidak beriman).

Tafsir Ibnu Katsir: فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ Maksudnya adalah Allah SWT akan memudahkan, menguatkan, dan meringankan dirinya kepada hal tersebut. Inilah tanda-tanda menuju kepada kebaikan.

Terkait firman Allah فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ Ibnu Abbas mengatakan: “Allah melapangkan hatinya untuk bertauhid dan beriman kepada-Nya”. Demikian pula dikatakan oleh Abu Malik dan yang lainnya, dan pengertian inilah yang jelas.

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat Ayat 40-45; Seri Tadabbur Al Qur'an

وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا Kata “ضَيِّقًا” dibaca dengan fathah di atas huruf “ضَ” dan sukun di atas huruf “يَ“. Ini merupakan dua aksen seperti “Hainun” dan “Hayyinun”.

Sebagian lainnya membaca “harijan” dengan fathah di atas huruf “حَ” dan “رَ“, berarti sesuatu yang tidak dapat menerima petunjuk, serta tidak dapat menyerap sesuatu yang bermanfaat dari keimanan juga melaksanakannya.

Umar bin Khaththab pernah bertanya kepada seorang Badui dari Mudlij tentang “harajah”, orang tersebut menjawab: “Yakni sebatang pohon yang terletak di antara pepohonan yang tidak dapat dijangkau oleh binatang gembalaan, binatang liar ataupun yang lainnya”. Kemudian Umar pun mengatakan: “Demikian pula hati orang munafik, tidak dapat dijangkau sama sekali oleh suatu kebaikan”.

Terkait firman Allah SWT كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ As-Suddi mengatakan: “Karena kesempitan pada dadanya”. Imam Abu Ja’far ibnu Jarir mengataka: “Inilah perumpamaan yang diberikan Allah untuk hati orang kafir yang benar-benar amat sempit untuk sampainya keimanan kepadanya.

Perumpamaannya dalam menolak dan kesempitannya dari sampainya keimanan kepadanya, seperti penolakan dirinya dan ketidakmampuannya untuk menaiki langit, karena yang demikian itu di luar kemampuan dan kesanggupannya”.

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 22-26; Seri Tadabbur Al Qur'an

Adapun terkati firman-Nya كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan: “Sebagaimana Allah telah menjadikan hati orang-orang yang dikehendaki-Nya tersesat menjadi sesak lagi sempit, maka demikian juga Allah menjadikan setan berkuasa kepadanya dan kepada orang-orang serupa yang menolak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, hingga setan itu menyesatkan dan menghalanginya dari jalan Allah SWT”.

Menurut Ibnu Abi Thalhah ia mengatakan dari Ibnu Abbas: “الرِّجْسَ adalah setan”. Sedangkan Mujahid mengatakan: “الرِّجْسَ adalah, segala sesuatu yang tidak ada kebaikannya”.

Demikian uraian Surah Al-An’am Ayat 125 berdasarkan Tafsir Jalalain dan Tafsir Ibnu Katsir, yang merupakan bagian dari Seri lanjutan Tadabbur Al Qur’an kita. Semoga bermanfaat

M Resky S