Surah Al-Anbiya Ayat 104; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Anbiya Ayat 104

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 104 ini, menegaskan Orang-orang yang mendapat sambutan para malaikat itu tidak merasa gentar dan terkejut dengan datangnya hari Kiamat, di waktu langit dilipat dan diganti dengan langit yang lain, seakan-akan langit yang lama dilipat untuk disimpan dan langit yang baru dikembangkan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiya Ayat 104

Surah Al-Anbiya Ayat 104
يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

Terjemahan: (Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.

Tafsir Jalalain: يَوْمَ (Yaitu pada hari) ia dinashabkan oleh lafal Udzkur yang diperkirakan sebelumnya نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ (Kami gulung langit seperti menggulungnya malaikat Sijil) lafal As Sijilli ini adalah nama malaikat pencatat amal perbuatan لِلْكُتُبِ (terhadap kitab) catatan amal perbuatan anak Adam, sewaktu anak Adam yang bersangkutan mati. Huruf Lam pada lafal Lil Kutubi adalah Zaidah atau tambahan. Atau yang dimaksud dengan As Sijilli adalah lembaran-lembaran, sedangkan yang dimaksud Al Kitab adalah barang yang ditulis atau kertas dan huruf Lamnya bermakna ‘Ala. Artinya:

sebagaimana tergulungnya lembaran-lembaran kertas. Dan menurut qiraat yang lain lafal Lil Kitabi dibaca Lil Kutubi dalam bentuk jamak, yakni kitab-kitab atau kertas-kertas.

كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ (Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama) yakni mulai dari alam ketiadaan نُّعِيدُهُ (begitulah Kami akan mengulanginya) yakni sesudah penciptaan itu ditiadakan. Huruf Kaf di sini berta’alluq kepada lafal Nu’iiduhu dan Dhamir Hu lafal Nu’iiduhu kembali kepada lafal Awwal dan huruf Ma pada lafal Kama adalah Mashdariyah,

وَعْدًا عَلَيْنَا (Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati) Lafal Wa’dan dinashabkan oleh lafal Wa’dunaa yang keberadaannya diperkirakan pada sebelumnya, sedangkan lafal Wa’dan ini berfungsi mengukuhkan makna dari lafal yang diperkirakan sebelumnya إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ (sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya) yaitu melaksanakan janji yang telah Kami tetapkan.

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 38-40 ; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman, inilah kejadian hari Kiamat: يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ (“Yaitu pada hari Kami gulung langit seperti menggulung lembaran-lembaran kertas,”) al-Bukhari berkata dari Ibnu `Umar, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah menggenggam bumi pada hari Kiamat, sedangkan langit berada di tangan kanan-Nya.” Lafazh ini hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Ibnu Abi Hatim berkata bahwa Ibnu `Abbas berkata: “Allah menggulung tujuh lapis langit dengan makhluk yang ada di dalamnya serta tujuh lapis bumi dengan makhluk yang ada di dalamnya yang kesemuanya digulung dengan tangan kanan-Nya. Semua itu berada di tangan-Nya seperti sebuah biji kecil.

Firman-Nya: كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ (“Seperti menggulung lembaran-lembaran kertas,”) dikatakan, yang dimaksud as-Sijl adalah kitab. Wallahu a’lam.

Pendapat yang shahih dari Ibnu Abbas bahwa as-Sijl adalah lembaran-lembaran. Pendapat ini dikatakan oleh Ali bin Abi Thalhah dan al-‘Aufi dari Ibnu Abbas dan dinashkan oleh Mujahid, Qatadah dan selain mereka serta dipilih oleh Ibnu Jarir, karena kata itulah yang dikenal dalam bahasa.

Atas dasar ini, maka maknanya adalah, yaitu pada hari Kami gulung langit seperti gulungan lembaran-lembaran kertas, yaitu yang ada di atas kertas dengan makna sesuatu yang ditulis, seperti firman-Nya,

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya),” (QS. Ash-Shaaffaat: 103). Yaitu, di atas pelipis-nya. Kata itu memiliki banyak pengertian dalam bahasa.

Firman-Nya: كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ (“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya,”) yaitu ini pasti terjadi, yakni pada hari Allah meniupkan kembali para makhluk sebagai makhluk yang baru, sebagaimana Dia memulai penciptaan mereka pertama kali.

Dia Mahakuasa untuk mengulang penciptaan mereka. Hal itu pasti terjadi, karena merupakan bagian dari janji Allah yang tidak akan diingkari dan tidak akan berubah, Dia Mahakuasa atas semua itu. Untuk itu Dia berfirman: إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ (“Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.”)

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 92-94 ; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, ia berkata: Rasulullah berdiri memberikan nasehat kepada kami dan bersabda: “Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan kepada Allah dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan tidak dikhitan, sebagaimana Kami menciptakannya pertama kali, maka Kami megulanginya sebagai janji dari kami. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (Disebutkan hadits itu secara lengkap, ditakhrij dalam ash-Shahihain.)

Al-‘Aufi berkata dari Ibnu `Abbas tentang firman-Nya: كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ (“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitutah Kami akan mengulanginya,”) setiap sesuatu akan binasa sebagaimana keadaan pertama kali.

Tafsir Kemenag: Orang-orang yang mendapat sambutan para malaikat itu tidak merasa gentar dan terkejut dengan datangnya hari Kiamat, di waktu langit dilipat dan diganti dengan langit yang lain, seakan-akan langit yang lama dilipat untuk disimpan dan langit yang baru dikembangkan. Allah berfirman:

Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (az-Zumar/39: 67)

Demikianlah Allah membangkitkan manusia setelah mereka mati dan berada di dalam kubur, untuk dikumpulkan di padang mahsyar, agar dapat dihisab amal perbuatan mereka. Membangkitkan manusia setelah mati dan hancur menjadi tanah adalah mudah bagi Allah.

Jika Allah menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada, tentulah mengulangi kembali menciptakannya adalah lebih mudah dari menciptakan pertama kali. Membangkitkan manusia kembali untuk dihisab itu adalah suatu janji dari Allah yang pasti ditepati-Nya.

Secara saintis, sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat 30 dari surah ini, penciptaan alam semesta dimulai dari ketiadaan (keadaan singularitas: massa tak terhingga besarnya, volume tak terhingga kecilnya) yang kemudian meledak dahsyat dan kemudian membentuk alam semesta yang terus mengembang sampai dengan saat ini.

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 26-29; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Bukti tentang alam semesta yang mengembang ini dapat ditemukan pada hasil pengamatan dengan teleskop yang menunjukkan bahwa dengan berjalannya waktu, jarak antara benda-benda langit semakin menjauh. Para ilmuwan mengatakan bahwa alam semesta akan terus mengembang sampai dengan dicapainya massa kritis alam semesta. Apabila massa kritis ini telah tercapai, maka gaya tarik menarik (gravitasi) antara massa berbagai benda langit akan menahan proses pengembangan alam semesta.

Bahkan akan tercapai keadaan kontraksi alam semesta. Alam semesta yang semula mengembang akan mengkerut (berkontraksi) mengecil dan suatu saat akan hancur dan kembali pada keadaan awal (singularitas); keadaan seperti inilah yang disebut hari kiamat.

Hari kiamat dalam ayat ini digambarkan sebagai hari di mana Allah akan “menggulung langit”, bagaikan menggulung lembaran-lembaran kertas, sebagaimana halnya awal penciptaan yang pertama. Istilah “menggulung langit” adalah ungkapan yang tepat, karena sesungguhnya alam semesta tidak bundar melainkan datar terdiri dari trilyunan galaksi yang membentuk “gulungan”.

Tafsir Quraish Shihab: Hari ketika Kami melipat langit seperti melipat lembaran buku, dan mengembalikan semua makhluk untuk mendapatkan perhitungan dan pembalasan. Tak ada sesuatu pun yang membuat Kami tidak mampu untuk melakukan hal itu, karena Kamilah yang menciptakan mereka pada awal mulanya.

Maka sebagaimana Kami menciptakan mereka sejak awalnya, Kami pun akan mengembalikan mereka lagi. Aku benar-benar berjanji untuk itu, dan akan selalu menepati segala hal yang pernah Aku janjikan.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 104 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S