Surah Al-Anbiya Ayat 108-112; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Anbiya Ayat 108-112

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 108-112 ini, menegaskan bahwa Allah memerintahkan kepada Muhammad agar menyampaikan kepada orang kafir dan kepada orang yang telah sampai seruan kepadanya, bahwa pokok wahyu yang disampaikan kepadanya ialah tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kemudian Allah mengingatkan Muhammad, akan tugasnya sebagai seorang Rasul, yaitu hanya menyampaikan agama Allah kepada manusia. Karena itu juga mereka tidak mengindahkan seruanmu, tidak mengikuti wahyu yang disampaikan kepada mereka, maka janganlah kamu bersedih hati, dan katakanlah kepada mereka bahwa kamu telah menunjukkan kepada mereka jalan yang lurus, menuju kebahagiaan yang sempurna.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiya Ayat 108-112

Surah Al-Anbiya Ayat 108
قُلْ إِنَّمَا يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَهَلْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ

Terjemahan: Katakanlah: “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: “Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa. maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)”.

Tafsir Jalalain: قُلْ إِنَّمَا يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ (Katakanlah, “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah bahwasanya Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa) tiada diwahyukan kepadaku sehubungan dengan perkara Tuhan, melainkan keesaan-Nya,

فَهَلْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ (maka hendaklah kalian berserah diri) taat kepada apa yang diwahyukan kepadaku, yaitu mentauhidkan Tuhan. Istifham di sini mengandung makna perintah.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman memerintahkan Rasul-Nya untuk mengatakan kepada orang-orang musyrik: قُلْ إِنَّمَا يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَهَلْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ (“Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah, bahwasanya Ilahmu adalah Ilah Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri,”) yaitu hendaklah kalian mengikutinya dengan berserah diri dan tunduk kepadanya.

Tafsir Kemenag: Allah memerintahkan kepada Muhammad agar menyampaikan kepada orang kafir dan kepada orang yang telah sampai seruan kepadanya, bahwa pokok wahyu yang disampaikan kepadanya ialah tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Karena itu hendaklah manusia menyembah-Nya, jangan sekali-kali mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun seperti mengakui adanya tuhan-tuhan yang lain selain Dia, atau mempercayai bahwa selain Allah ada lagi sesuatu yang mempunyai kekuatan gaib seperti kekuatan Allah.

Dan serahkanlah dirimu kepada Allah dengan memurnikan ketaatan dan ketundukan hanya kepada-Nya saja, dan ikutilah segala wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.

Tafsir Quraish Shihab: Katakan kepada semua manusia, wahai Nabi, “Inti dari wahyu yang disampaikan Allah kepadaku adalah bahwa tidak ada Tuhan bagi kalian kecuali Dia. Adapun hal-hal lainnya hanyalah rincian dari pokok yang telah disebut tadi.
Jika demikian halnya, maka kalian harus tunduk dan berserah diri kepada Allah semata.”

Surah Al-Anbiya Ayat 109
فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ آذَنتُكُمْ عَلَى سَوَاءٍ وَإِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ أَم بَعِيدٌ مَّا تُوعَدُونَ

Terjemahan: Jika mereka berpaling, maka katakanlah: “Aku telah menyampaikan kepada kamu sekalian (ajaran) yang sama (antara kita) dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh?”.

Tafsir Jalalain: فَإِن تَوَلَّوْا (Jika mereka berpaling) dari hal tersebut فَقُلْ آذَنتُكُمْ (maka katakanlah, “Aku telah menyerukan kepada kalian) maksudnya telah memberitahukan kepada kalian untuk berperang عَلَى سَوَاءٍ (dalam keadaan sama) lafal ‘Alaa Sawaa-in ini menjadi Hal dari Fa’il dan Maf’ul. Maksudnya, antara kami dan kalian sama-sama mengetahui maklumat ini, aku tidak memaksakan kalian untuk berperang, tetapi kalian sendirilah yang mengajaknya, maka bersiap-siaplah kalian.

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 83-84; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

وَإِنْ (dan tidaklah) yakni tiadalah أَقَرِيبٌ أَم بَعِيدٌ مَّا تُوعَدُونَ (aku mengetahui, apakah yang diancamkan kepada kalian itu sudah dekat atau masih jauh”) maksudnya azab atau kiamat yang juga di dalamnya mengandung azab, akan tetapi sesungguhnya yang mengetahui hal itu hanyalah Allah semata.

Tafsir Ibnu Katsir: فَإِن تَوَلَّوْا (“Jika mereka berpaling”) ,yaitu meninggalkan apa yang aku serukan kepada mereka; faqul aadzantukum ‘alaa sawaa-i فَقُلْ آذَنتُكُمْ (“Maka katakanlah: ‘Aku telah menyampaikan kepadamu sekalian,’”) yaitu aku beritahukan kepada kalian bahwasanya aku memerangi kalian, sebagaimana kalian memerangiku. Aku membebaskan diri dari kalian, sebagaimana kalian membebaskan diri dariku.

Dia berfirman: وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِن قَوْمٍ خِيَانَةً فَانبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ (“Dan Jika kamu khawatir akan pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur,”) yaitu hendaklah pengetahuanmu dan pengetahuan mereka tentang pelanggaran berbagai perjanjian itu adalah sama.

Demikian pula di sini: فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ آذَنتُكُمْ عَلَى سَوَاءٍ (“Jika mereka berpaling, maka katakanlah: ‘Aku telah menyampaikan kepadamu sekalian”) aku beritahukan kepada kalian tentang pembebasan diriku dari kalian dan pembebasan diri kalian dariku, karena pengetahuanku tentang hal itu.

Firman-Nya: وَإِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ أَم بَعِيدٌ مَّا تُوعَدُونَ (“Dan aku tidak mengetahui, apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh?”) Itu pasti terjadi, akan tetapi aku tidak tahu tentang dekat (cepat) dan jauhnya (lamanya).

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah mengingatkan Muhammad, akan tugasnya sebagai seorang Rasul, yaitu hanya menyampaikan agama Allah kepada manusia. Karena itu juga mereka tidak mengindahkan seruanmu, tidak mengikuti wahyu yang disampaikan kepada mereka,

maka janganlah kamu bersedih hati, dan katakanlah kepada mereka bahwa kamu telah menunjukkan kepada mereka jalan yang lurus, menuju kebahagiaan yang sempurna. Jika mereka tidak mau mengikuti dan menempuh jalan yang telah dibentangkan itu berati mereka ingin mendapat azab dari Allah.

Pada ayat lain Allah berfirman: Dan jika mereka (tetap) mendustakanmu (Muhammad), maka katakanlah, “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Yunus/10: 41)

Jika orang-orang kafir menanyakan kepada kamu Muhammad tentang kapan azab yang dijanjikan itu akan ditimpakan, maka katakanlah kepada mereka bahwa engkau tidak tahu menahu tentang waktunya, kapan azab itu akan ditimpakan, karena wewenang sepenuhnya berada di tangan Allah, dan tidak seorang pun yang mengetahuinya.

Tafsir Quraish Shihab: Jika mereka perpaling dari ajakanmu, katakanlah kepada mereka, “Aku telah memberitahu kalian semua hal yang telah diperintahkan Allah kepadaku. Dengan demikian, pengetahuan kita semua menjadi sama. Aku tidak tahu apakah janji tentang pembangkitan dan pembalasan itu telah dekat atau masih jauh.

Surah Al-Anbiya Ayat 110
إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ مِنَ الْقَوْلِ وَيَعْلَمُ مَا تَكْتُمُونَ

Terjemahan: Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan.

Tafsir Jalalain: إِنَّهُ (Sesungguhnya Dia) Allah swt. يَعْلَمُ الْجَهْرَ مِنَ الْقَوْلِ (mengetahui perkataan yang terang-terangan) dan juga perbuatan kalian dan orang-orang selain kalian وَيَعْلَمُ مَا تَكْتُمُونَ (dan Dia mengetahui apa yang kalian rahasiakan) yang dirahasiakan kalian dan selain kalian.

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 48-50; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ مِنَ الْقَوْلِ وَيَعْلَمُ مَا تَكْتُمُونَ (“Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan,”) yaitu sesungguhnya Allah Mahamengetahui seluruh yang ghaib serta mengetahui apa yang ditampakkan dan disembunyikan hamba-hamba-Nya.

Dia pun Mahamengetahui hal-hal yang dhahir dan tersembunyi, Mahamengetahui tentang rahasia dan apa yang disembunyikan, Mahamengetahui apa yang dikerjakan di saat terang-terangan atau sembunyi-sembunyi serta mereka akan dibalas, baik sedikit maupun banyak.

Tafsir Kemenag: Allah Maha Mengetahui segala yang dikatakan oleh orang-orang kafir tentang agama Islam, baik dikatakan secara terang-terangan atau pun dikatakan secara berbisik, dan Allah mengetahui tentang kebencian hati orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin. Karena itu Dia akan memberikan balasan yang setimpal kepada orang-orang yang demikian.

Tafsir Quraish Shihab: Allah benar-benar mengetahui semua hal yang terucap, baik secara terang-terangan maupun dalam hati.

Surah Al-Anbiya Ayat 111
وَإِنْ أَدْرِي لَعَلَّهُ فِتْنَةٌ لَّكُمْ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ

Terjemahan: Dan aku tiada mengetahui, boleh jadi hal itu cobaan bagi kamu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu.

Tafsir Jalalain: وَإِنْ (Dan tidaklah) أَدْرِي لَعَلَّهُ (aku mengetahui, barangkali hal itu) apa yang telah aku beritahukan kepada kalian dan belum diketahui saatnya فِتْنَةٌ (sebagai cobaan) ujian لَّكُمْ (bagi kalian) supaya dapat dilihat, apakah yang diperbuat oleh kalian dan kesenangan) yakni bersenang-senang,

وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ (sampai kepada suatu waktu) maksudnya sampai habisnya umur kalian. Pengertian ayat ini hanya bersifat kebalikan daripada hal yang diharapkan dengan memakai ungkapan La’alla, akan tetapi bukan subjek daripada harapan tersebut.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَإِنْ أَدْرِي لَعَلَّهُ فِتْنَةٌ لَّكُمْ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ (“Dan aku tidak mengetahui, boleh jadi hal itu cobaan bagimu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu,”) yaitu aku tidak tahu, boleh jadi ini fitnah bagi kalian dan kesenangan sampai batas waktu. Ibnu Jarir berkata: “Boleh jadi ditundanya hal itu menjadi fitnah bagi kalian dan kesenangan hingga batas waktu yang ditentukan. Demikian yang diceritakan oleh ‘Aun dari Ibnu Abbas. Wallahu a’lam.”

Tafsir Kemenag: Allah memerintahkan pula agar Muhammad memberitahukan kepada orang kafir bahwa ia tidak mengetahui sedikit pun mengapa azab itu ditunda datangnya. Boleh jadi agar mereka menikmati segala kesenangan duniawi sampai kepada waktu yang ditentukan Allah, maka Allah akan menimpakan azab secara tiba-tiba tanpa diketahui darimana datangnya.

Tafsir Quraish Shihab: Aku juga tidak tahu, barangkali penundaan azab itu adalah ujian dari Allah. Dia sengaja membiarkan kalian menikmati kesenangan hidup sampai suatu waktu yang telah ditentukan Allah menurut kebijaksanaan-Nya.”

Surah Al-Anbiya Ayat 112
قَالَ رَبِّ احْكُم بِالْحَقِّ وَرَبُّنَا الرَّحْمَنُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ

Terjemahan: (Muhammad) berkata: “Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan adil. Dan Tuhan kami ialah Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohonkan pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu katakan”.

Tafsir Jalalain: قَالَ (Muhammad berkata) qaala menurut suatu qiraat dibaca Qul, yakni katakanlah hai Muhammad, رَبِّ احْكُم (“Ya Rabbku! Berilah keputusan) antara aku dan orang-orang yang mendustakan aku بِالْحَقِّ (dengan adil) yakni azab bagi mereka atau pertolongan-Mu di dalam menghadapi mereka. Maka akhirnya mereka diazab di dalam perang Badar, Uhud, Hunain, Ahzab dan Khandaq, Nabi saw. mendapat kemenangan atas mereka.

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 36-37 ; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

وَرَبُّنَا الرَّحْمَنُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ (Dan Rabb kami ialah Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohonkan pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian katakan itu”) kedustaan perkataan kalian kepada Allah: kalian telah mengatakan-Nya, bahwa Allah mempunyai anak. Perkataan kalian kepadaku, bahwa aku ini adalah seorang penyihir. Perkataan kalian terhadap Alquran, bahwa ia adalah syair semata.

Tafsir Ibnu Katsir: قَالَ رَبِّ احْكُم بِالْحَقِّ (“Dia berkata: ‘Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil,’”) yaitu, putuskanlah di antara kami dan di antara kaum kami yang mendustakan kebenaran.

Qatadah berkata: “Para Nabi berkata: رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ (“Ya Rabb kami berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan haq dan Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.’”) (QS. Al-A’raaf: 89). Dan Rasulullah saw. memerintahkan untuk mengucapkannya.”

Dari Malik, dari Zaid bin Aslam, Rasulullah saw. jika menyaksikan peperangan, “Dia berkata (berdo’a): قَالَ رَبِّ احْكُم بِالْحَقِّ (“Dia berkata: ‘Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil,’”)

Firman-Nya: وَرَبُّنَا الرَّحْمَنُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ (“Dan Rabb kami ialah Rabb Yang Mahapemurah lagi Yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu katakan.”) Yaitu, terhadap apa yang mereka katakan dan tuduhkan, dan mereka membuat berbagai kedustaan dan kebohongan. Allahlah tempat memohon pertolongan bagi kalian dalam masalah tersebut. Hanya milik Allah pujian dan nikmat.

Tafsir Kemenag: Karena orang musyrik Mekah semakin hari bertambah-tambah kezaliman mereka, maka Muhammad berdoa kepada Tuhan agar Dia segera menimpakan azab kepada mereka. Permohonan Muhammad ini dikabulkan Allah dengan kekalahan orang musyrik pada beberapa peperangan yang terjadi antara kaum Muslimin dengan kaum musyrik.

Qatadah berkata, “Para nabi dahulu berdoa”: Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil). Engkaulah pemberi keputusan terbaik.” (al-A’raf/7: 89). Maka Rasulullah saw diperintahkan Allah untuk mengucapkan doa yang demikian itu.

Tafsir Quraish Shihab: Katakanlah, wahai Nabi, “Tuhanku, hukumlah aku dan orang-orang yang telah aku sampaikan wahyu-Mu secara adil! Suatu pengadilan yang membuat tidak sama antara orang-orang Mukmin dengan orang-orang kafir.

Tuhan kami adalah Pemberi nikmat yang mulia, berhak dipuji dan disyukuri, serta tempat meminta pertolongan dalam menyangkal kebohongan-kebohongan yang kalian lakukan terhadap Allah, wahai orang-orang kafir.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 108-112 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S