Surah Al-Anfal Ayat 74-75; Terjemahan dan Tafsir Al Qur’an

Surah Al-Anfal Ayat 74-75

Pecihitam.org – Setelah menyebutkan hukum orang-orang yang beriman di dunia, selanjutnya pada Surah Al-Anfal Ayat 74-75 ini Allah melanjutkan dengan menyebutkan apa yang akan mereka dapatkan di akhirat kelak.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfal Ayat 74-75

Surah Al-Anfal Ayat 74
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Terjemahan: Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.

Tafsir Jalalain: (Dan orang-orang yang beriman, berhijrah serta berjihad pada jalan Allah dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan kepada kaum Muhajirin, mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki/nikmat yang mulia) di surga nanti.

Tafsir Ibnu Katsir: Setelah menyebutkan hukum orang-orang yang beriman di dunia, Allah melanjutkan dengan menyebutkan apa yang akan mereka dapatkan akhirat kelak.

Allah memberitahukan perihal diri mereka melalui hakikat keimanan, sebagaimana yang telah diuraikan dalam pembahasan ayat di awal surah ini, bahwa Allah akan memberikan balasan kepada mereka berupa ampunan dan maaf atas berbagai macam dosa, jika ada.

Dan Allah memberi rizki yang mulia, yaitu berupa kebaikan yang banyak lagi baik, abadi untuk selama-lamanya, yang tiada pernah putus-putusnya dan tidak pula berakhir, tidak membosankan dan tidak menjenuhkan, karena kebaikan dan keanekaragaman rizki tersebut.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang beriman dan berhijrah di jalan Allah serta memberi tempat kepada mereka dan menolong kebenaran dan kalimat Allah, adalah orang-orang yang benar-benar beriman. Allah mengampuni mereka dan memberikan bagi mereka rezeki yang besar di dunia dan akhirat.

Baca Juga:  Surah Yusuf Ayat 78-79; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Surah Al-Anfal Ayat 75
وَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْ بَعْدُ وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا مَعَكُمْ فَأُولَٰئِكَ مِنْكُمْ ۚ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Terjemahan: Dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Tafsir Jalalain: وَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْ بَعْدُ (Dan orang-orang yang beriman sesudah itu) sesudah orang-orang yang lebih dahulu beriman dan berhijrah وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا مَعَكُمْ فَأُولَٰئِكَ مِنْكُمْ (kemudian berhijrah dan berjihad bersama kalian, maka orang-orang itu termasuk golongan kalian) hai orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar.

وَأُولُو الْأَرْحَامِ (Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu) yakni orang-orang yang mempunyai hubungan persaudaraan بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ (sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya) dalam hal waris-mewarisi daripada orang-orang yang mewarisi karena persaudaraan iman dan hijrah yang telah disebutkan pada ayat terdahulu tadi

فِي كِتَابِ اللَّهِ (di dalam Kitabullah) di Lauh Mahfuz. إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu) yang antara lain ialah hikmah yang terkandung di dalam hal-ihwal waris-mewarisi.

Tafsir Ibnu Katsir: Selanjutnya, Allah menyebutkan bahwa orang-orang yang mengikuti mereka di dunia disertai dengan keimanan dan amal shalih di akhirat kelak orang-orang tersebut akan berkumpul bersama mereka. Sebagaimana yang difirmankan-Nya yang artinya:

“Orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan Yang besar”. (QS. At-Taubah: 100)

Baca Juga:  Surah Al-Ahzab Ayat 51; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dan Allah juga berfirman: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar)”. (QS. Al-Hasyr: 10)

Dalam hadits yang berderajat muttafaq alaih, bahkan mutawatir, melalui berbagai jalan yang shahih, dari Rasulullah saw, beliau bersabda: “Seseorang itu selalu bersama orang yang dicintainya”. (Muttafaq Alaih)

Sedangkan firman Allah: وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ (Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terbadap sesamanya daripada yang bukan kerabatnya di dalam Kitab Allah) Yaitu, dalam hukum Allah Ta’ala.

Dan yang dimaksud dengan firman-Nya: وَأُولُو الْأَرْحَامِ (Dan orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat) Hal ini bersifat khusus seperti yang dikemukakan oleh para ulama ahli ilmu faraidh, yaitu kerabat yang tidak mempunyai hak waris dan juga ashabah, tetapi dekat dengan si pewaris, misalnya bibi dan paman dari pihak ibu, bibi dari pihak ayah, anak laki-laki dari anak perempuan (cucu), anak laki-laki dari saudara perempuan (keponakan) dan lain-lainnya semisal itu.

Sebagaimana Yang diakui oleh sebagian mereka dengan menggunakan dalil ayat al-Qur’an, bahkan mereka meyakini hal itu dengan jelas. Tetapi yang benar adalah bahwa ayat tersebut bersifat umum, yang mencakup seluruh kerabat seperti yang ditegaskan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, al-Hasan al-Bashri, Qatadah dan lama lainnya, bahwa ayat tersebut menasakh ayat waris melalui sumpah dan persaudaraan yang karena keduanya mereka saling mewarisi dahulunya.

Berdasarkan hal itu pula, maka ayat itu mencakup dzawil arham (hubungan rahim) secara khusus. Sedangkan orang yang berpendapat untuk tidak memberikan waris, berhujjah dengan dalil-dalil yang paling kuat, di antaranya adalah hadits Rasulullah berikut ini: “Sesungguhnya Allah telah memberikan hak kepada setiap yang berhak, hingga tidak ada wasiat bagi ahli waris”.

Baca Juga:  Surah Al-Anfal Ayat 73; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Mereka mengatakan: “Jika seseorang memiliki hak, berarti ia memiliki bagian tertentu yang disebutkan di dalam Kitab Allah. Selama bagian tersebut tidak disebutkan, berarti ia bukan ahli waris. Wallahu a’lam”.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang beriman belakangan, dan akhirnya berhijrah serta berjihad bersama dengan orang-orang yang sebelumnya, adalah golongan kalian, wahai orang-orang Muhajirin dan Anshar. Mereka memiliki kewenangan dan hak-hak yang sama dengan yang kalian miliki.

Dan kerabat karib dari golongan Mukmin, di samping memiliki hubungan seiman dan seagama, juga memiliki hubungan kerabat. Sebagian dari mereka lebih utama daripada sebagian yang lain dalam kasih sayang, harta, pertolongan dan dukungan. Allah telah menjelaskan itu semua dalam Kitab-Nya, dan Maha Mengetahui atas segala sesuatu.

Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Anfal Ayat 74-75 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Quraish Shihab dan Tafsir Ibnu Katsir, yang merupakan akhir dari penafsiran Surah Al-Anfal.

Semoga dengan memahami kandungannya, dapat semakin menambah kecintaan kita terhadap Al-Qur’an dan semakin meningkatkan keimanan kita terhadap Allah SWT, Amin.

M Resky S