Surah Al-Hasyr 18-20; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Hasyr Ayat 18-20

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Hasyr Ayat 18-20 ini, menjelaskan Kepada orang-orang yang beriman diperintahkan agar bertakwa kepada Allah, dengan melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Termasuk melaksanakan perintah Allah ialah memurnikan ketaatan dan menundukkan diri hanya kepada-Nya, tidak ada sedikit pun unsur syirik di dalamnya, melaksanakan ibadah-ibadah yang diwajibkan, dan mengadakan hubungan baik sesama manusia.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hasyr Ayat 18-20

Surah Al-Hasyr Ayat 18
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

Terjemahan: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Tafsir Jalalain: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ (Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok) yakni untuk menghadapi hari kiamat وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ (dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan).

Tafsir Ibnu Katsir: AImam Ahmad meriwAyatkan dari al-Mundzir bin Jarir, dari ayahnya, ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah saw. di permulaan siang. Lalu ada suatu kaum yang mendatangi beliau dalam keadaan tidak beralaskan kaki, tidak berpakaian, membungkus diri dengan kulit macan atau sejenis mantel dengan menyandang pedang.

Kebanyakan mereka berasal dari Mudharr, bahkan seluruhnya berasal dari suku Mudharr. Maka [raut] wajah Rasulullah saw. pun berubah ketika melihat keadaan mereka yang demikian miskin itu. Kemudian beliau masuk, lalu keluar lagi dan memerintahkan Bilal mengumandangkan adzan. Maka Bila mengumandangkan adzan kemudian iqamah.

Lalu beliau mengerjakan shalat, setelah itu beliau berkhutbah: “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu…’ sampai akhir Ayat.- lalu beliau membaca Ayat yang terdapat dalam surah al-Hasyr:

‘Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk esok hari.’ Seseorang menyedekahkan sebagian dari dinar, dirham, pakaian, satu sha’ gandum dan satu sha’ kurma..’ –hingga akhirnya beliau mengatakan-: “…meskipun hanya dengan satu belah kurma.”

Kemudian ada seorang dari kaum Anshar yang datang membawa satu kantong, hampir saja telapak tangannya tidak mampu mengangkatnya, bahkan memang tidak mampu. Lalu orang-orang mengikuti sehingga aku melihat dua tumpukan dari makanan dan pakaian, sehingga aku melihat wajah Rasulullah saw. berseri-seri bagaikan disepuh emas. Kemudian beliau bersabda:

“Barang siapa yang memulai suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka baginya pahala sunah yang baik itu dan pahala orang-orang yang melakukan sesudah dirinya tanpa mengurangi dari pahala baik itu sedikitpun.

Dan barangsiapa memulai suatu sunnah yang buruk dalam Islam, maka baginya dosa sunnah yang buruk itu dan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikitpun.”
Hadits tersebut diriwayatkan pula oleh Muslim saja [tanpa al-Bukhari] melalui penuturan Syu’bah dengan sanad seperti tersebut.

Dengan demikian firman Allah Ta’ala: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ (“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah.”) merupakan perintah untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya, dan itu mencakup pelaksanaan semua perintah-Nya, dan meninggalkan semua larangan-Nya.

Baca Juga:  Surah Al-Hasyr Ayat 11-17; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dan firman Allah: وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ (“dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok,”) maksudnya hisablah diri kalian sebelum dihisab oleh Allah. Dan lihatlah apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sendiri berupa amal shalih untuk hari kemudian dan pada saat bertemu dengan Rabb kalian.

وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ (“dan bertakwalah kepada Allah”) merupakan penegasan kedua. إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.”) maksudnya ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah mengetahui seluruh perbuatan kalian dan keadaan kalian. Tidak ada sedikitpun yang tersembunyi dari-Nya, baik perkara kecil maupun besar.

Tafsir Kemenag: Kepada orang-orang yang beriman diperintahkan agar bertakwa kepada Allah, dengan melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Termasuk melaksanakan perintah Allah ialah memurnikan ketaatan dan menundukkan diri hanya kepada-Nya, tidak ada sedikit pun unsur syirik di dalamnya, melaksanakan ibadah-ibadah yang diwajibkan, dan mengadakan hubungan baik sesama manusia.

Dalam Ayat yang lain diterangkan tanda-tanda orang bertakwa: Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (al-Baqarah/2: 177)

Dalam Al-Qur’an ungkapan kata takwa mempunyai beberapa arti, di antaranya: Pertama, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan diajarkan Rasulullah saw seperti contoh Ayat di atas. Kedua, takut melanggar perintah Allah dan memelihara diri dari perbuatan maksiat.

Orang yang bertakwa kepada Allah hendaklah selalu memperhatikan dan meneliti apa yang akan dikerjakan, apakah ada manfaat untuk dirinya di akhirat nanti atau tidak. Tentu yang akan dikerjakannya semua bermanfaat bagi dirinya di akhirat nanti.

Di samping itu, hendaklah seseorang selalu memperhitungkan perbuatannya sendiri, apakah sesuai dengan ajaran agama atau tidak. Jika lebih banyak dikerjakan yang dilarang Allah, hendaklah ia berusaha menutupnya dengan amal-amal saleh.

Dengan perkataan lain, Ayat ini memerintahkan manusia agar selalu mawas diri, memperhitungkan segala yang akan dan telah diperbuatnya sebelum Allah menghitungnya di akhirat nanti. Suatu peringatan pada akhir Ayat ini agar selalu bertakwa kepada Allah, karena Dia mengetahui semua yang dikerjakan hamba-hamba-Nya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, yang lahir maupun yang batin, tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Wahai orang-orang yang beriman, berlindunglah kalian dari azab Allah dengan selalu mematuhi-Nya. Hendaknya setiap orang memikirkan apa saja amalan yang dipersiapkan untuk hari esok. Selalu bertakwalah kepada Allah. Allah benar-benar mengetahui dan akan membalas segala sesuatu yang kalian kerjakan.

Baca Juga:  Surah Hud Ayat 121-123; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Surah Al-Hasyr Ayat 19
وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ نَسُواْ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمۡ أَنفُسَهُمۡ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ

Terjemahan: “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.

Tafsir Jalalain: وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ نَسُواْ ٱللَّهَ (Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah) maksudnya tidak mau taat kepada-Nya فَأَنسَىٰهُمۡ أَنفُسَهُمۡ (lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri) untuk melakukan perbuatan ketaatan dan perbuatan baik. ُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ (Mereka itulah orang-orang yang fasik).

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah Ta’ala: وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ نَسُواْ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمۡ أَنفُسَهُمۡ (“dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.”) yakni janganlah kalian lupa berdzikir kepada Allah sehingga Allah pun menjadikan kalian lupa berbuat untuk kepentingan kalian sendiri yang bermanfaat bagi kalian di akhirat kelak, karena sesungguhnya balasan itu sesuai dengan amal perbuatan.

Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:ُ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ (“Mereka itulah orang-orang yang fasik.”) yakni orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah, yang binasa pada hari kiamat, dan merugi pada hari pembalasan kelak. Sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalikanmu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (al-Munaafiquun: 9).

Tafsir Kemenag: Ayat ini dapat berarti khusus dan dapat pula berarti umum. Berarti khusus ialah Ayat ini berhubungan dengan orang munafik dan orang-orang Yahudi Bani Nadhir serta sikap dan tindakan mereka terhadap kaum Muslimin pada waktu turunnya Ayat ini.

Berarti umum ialah semua orang yang suka menyesatkan orang lain dari jalan yang benar dan orang-orang yang mau disesatkan karena teperdaya oleh rayuan dan janji-janji yang muluk-muluk dari orang yang menyesatkan. Maksudnya, janganlah sekali-kali orang yang beriman seperti orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah melupakannya.

Orang yang lupa kepada Allah, seperti orang munafik dan orang Yahudi Bani Nadhir di masa Rasulullah saw, tidak bertakwa kepada-Nya. Mereka hanya memikirkan kehidupan dunia saja, tidak memikirkan kehidupan di akhirat. Mereka disibukkan oleh harta dan anak cucu mereka serta segala yang berhubungan dengan kesenangan duniawi. Firman Allah:

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (al-Munafiqun/63: 9)

Kemudian diterangkan bahwa jika seseorang lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakannya. Maksud pernyataan Allah melupakan mereka ialah Allah tidak menyukai mereka, sehingga mereka bergelimang dalam kesesatan, makin lama mereka makin sesat, sehingga makin jauh dari jalan yang lurus, jalan yang diridai Allah.

Oleh karena itu, di akhirat mereka juga dilupakan Allah, dan Allah tidak menolong dan meringankan beban penderitaan mereka. Akhirnya mereka dimasukkan ke dalam neraka, sebagai balasan perbuatan dan tindakan mereka.

Ditegaskan bahwa orang-orang seperti kaum munafik dan Yahudi Bani Nadhir adalah orang-orang yang fasik. Mereka mengetahui mana yang baik (hak) dan mana yang batil, mana yang baik dan mana yang jahat. Namun demikian, mereka tidak melaksanakan yang benar dan baik itu, tetapi malah melaksanakan yang batil dan yang jahat.

Baca Juga:  Surah Al-Hasyr Ayat 1-5; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang melupakan hak-hak Allah, hingga dilupakan oleh diri mereka sendiri–disebabkan oleh bencana yang menimpa mereka–hingga tidak mengetahui mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan. Mereka itulah orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah.

Surah Al-Hasyr Ayat 20
لَا يَسۡتَوِىٓ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ وَأَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ

Terjemahan: “Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung.

Tafsir Jalalain: لَا يَسۡتَوِىٓ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ وَأَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ (Tidak sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya lebih lanjut: لَا يَسۡتَوِىٓ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ وَأَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ (“Tidak sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga.”) maksudnya para penghuni surga dan penghuni neraka itu tidak akan sama di hadapan hukum Allah pada hari kiamat kelak. Dan dalam Ayat-Ayat lain terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memuliakan orang-orang yang baik dan menghinakan orang-orang yang jahat. Oleh karena itu, di sini Allah Ta’ala berfirman:

أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ (“Para penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.”) yakni orang-orang yang selamat dan terbebas dari adzab Allah swt.

Tafsir Kemenag: Tidaklah sama penghuni neraka seperti orang-orang munafik dan Bani Nadhir, dengan penghuni surga, seperti kaum Muhajirin dan Ansar. Allah berfirman: Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mere-ka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu. (al-Jatsiyah/45: 21) Dan firman-Nya:

Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat? (sad/38: 28)

Allah menjelaskan bahwa mereka tidak sama, karena orang-orang yang dimasukkan ke dalam surga itu adalah mereka yang beruntung, mencapai apa yang diinginkannya. Amal saleh yang mereka kerjakan melebihi perbuatan buruk yang terlanjur mereka kerjakan, sehingga pahala yang mereka terima dapat menutupi dosa-dosa yang telah mereka lakukan.

Tafsir Quraish Shihab: Tidak sama antara penghuni neraka yang tersiksa dan penghuni surga yang bersenang-senang. Hanya penghuni surgalah yang berhasil mendapatkan semua yang disenangi.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Hasyr Ayat 18-20 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S