Surah Al-Hasyr Ayat 11-17; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Hasyr Ayat 11-17Surah Al-Hasyr Ayat 11-17

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Hasyr Ayat 11-17 ini, Allah menegaskan kebenaran kembali pemberitaan akan terjadinya suatu peristiwa pada masa yang akan datang dengan menyatakan bahwa sebenarnya jika Bani Nadhir itu diusir dari kota Medinah, tidak ada orang munafik yang ikut bersama mereka.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Demikian pula jika Muhammad saw memerangi Bani Nadhir, mereka pun tidak akan memberikan pertolongan dan Bani Nadhir akan kalah, karena Allah tidak memberi pertolongan kepada mereka.

Mental orang Yahudi dan orang munafik itu telah jatuh sedemikian rupa. Seandainya orang-orang munafik menepati janji mereka dan berperang bersama orang Yahudi Bani Nadhir menghadapi kaum Muslimin, mereka pun tidak akan mampu menghadapinya, karena dalam hati mereka telah timbul rasa takut dan gentar terhadap kaum Muslimin.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hasyr Ayat 11-17

Surah Al-Hasyr Ayat 11
أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ نَافَقُواْ يَقُولُونَ لِإِخۡوَٰنِهِمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدًا وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ

Terjemahan: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu”. Dan Allah menyaksikan bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.

Tafsir Jalalain: أَلَمۡ تَرَ (Apakah kamu tiada memperhatikan) tiada melihat إِلَى ٱلَّذِينَ نَافَقُواْ يَقُولُونَ لِإِخۡوَٰنِهِمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ (orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab) yaitu kepada Bani Nadhir dan saudara-saudara mereka yang kafir: لَئِنۡ (“Sesungguhnya jika) huruf lam di sini menunjukkan makna qasam dan demikian pula pada tempat-tempat lainnya yang semuanya ada di empat tempat أُخۡرِجۡتُمۡ (kalian diusir) dari Madinah لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ (niscaya kami pun akan keluar bersama kalian, dan kami tidak akan patuh untuk menghinakan kalian) yakni untuk menjadikan kalian terhina أَحَدًا أَبَدًا وَإِن قُوتِلۡتُمۡ (kepada siapa pun selama-lamanya, dan jika kalian diperangi) dari lafal wa in terbuang huruf lam yang menunjukkan makna permulaan لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ (pasti kami akan membantu kalian.” Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah memberitakan tentang orang-orang munafik seperti ‘Abdullah bin Ubay dan lain-lain ketika mereka mengirim seorang utusan kepada Bani an-Nadhir untuk menjanjikan bantuan kepada mereka. Allah berfirman:

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ نَافَقُواْ يَقُولُونَ لِإِخۡوَٰنِهِمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدًا وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ (“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli Kitab: ‘Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kamipun akan keluar bersamamu, dan kami selama-lamanya tidak patuh kepada siapapun untuk [menyusahkan]mu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantumu.’”)

Allah berfiman: وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ (“Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.”) maksudnya mereka bohong dalam hal bantuan yang akan mereka berikan itu. Boleh jadi mereka telah mengatakan sesuatu, namun mereka tidak bermaksud melaksanakan ucapan itu. Atau karena tidak terjadi dari mereka apa yang telah mereka ucapkan itu.

Tafsir Kemenag: Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, Ibnu Mundhir, dan Abu Nu’aim dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini turun berhubungan dengan segolongan orang dari Bani Auf, di antaranya ialah ‘Abdullah bin Ubay bin Salul, Wadi’ah bin Malik, Suwaid, dan Da’is, diutus kepada Bani Nadhir sebagaimana diterangkan ayat ini.

Allah mengatakan kepada Rasulullah saw, “Apakah engkau tidak heran hai Muhammad melihat tindakan-tindakan orang-orang munafik itu? Mereka menjanjikan sesuatu kepada orang-orang Yahudi Bani Nadhir, yang berlawanan dengan keinginan mereka sendiri.

Orang-orang munafik yang dipimpin oleh ‘Abdullah bin Ubay mengatakan kepada orang Yahudi Bani Nadhir bahwa mereka adalah teman akrab, karena mereka menyimpan permusuhan dengan kaum Muslimin.”

Mereka mengatakan, “Hai Bani Nadhir, jika kamu sekalian diusir dari negerimu sebagaimana dikehendaki Muhammad saw dan kaum Muslimin, pastilah kami akan bersama-sama dengan kamu, dan tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi kami ikut serta dengan kamu sekalian.”

Selanjutnya orang-orang munafik itu mengatakan, “Hai Bani Nadhir, jika kamu sekalian diperangi Muhammad kami pasti menolongmu dan ikut menumpas musuh-musuh kamu”, kenyataannya semua yang dijanjikan orang-orang munafik itu bohong belaka. Mereka dengan mudah mengingkari janji yang telah mereka janjikan walaupun janji itu dikuatkan dengan sumpah. Allah mengetahui bahwa mereka berdusta.

Perkataan “Allah menyaksikan bahwa mereka benar-benar pendusta” merupakan suatu kabar gaib yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Sebagaimana disebutkan bahwa orang-orang munafik telah menjanjikan pertolongan kepada Bani Nadhir, tetapi Allah menyatakan bahwa orang-orang munafik itu tidak akan menepati janjinya. Hal itu benar-benar terbukti di kemudian hari. Pemberitaan suatu kejadian yang akan terjadi di kemudian hari ini termasuk bukti kemukjizatan Al-Qur’an.

‘Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya ketika melihat kaum Muslimin mengepung Bani Nadhir, mengirim dua orang utusan untuk menyampaikan pesan bahwa ia dan kawan-kawannya akan datang membantu dengan segala kekuatan yang ada pada mereka, untuk membebaskan mereka dari kepungan Muhammad.

Setelah Bani Nadhir dikepung rapat oleh kaum Muslimin selama berhari-hari, bantuan yang dijanjikan itu tidak kunjung datang. Akhirnya orang Yahudi Bani Nadhir yakin bahwa janji ‘Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya itu adalah janji bohong belaka. Maka timbullah rasa takut dan gentar dalam hati mereka.

Oleh karena itu, mereka menyatakan menyerah kepada Rasulullah saw tanpa syarat. Maka Rasulullah saw menetapkan bahwa mereka harus menerima hukuman yang ditetapkan bagi mereka, dan keluar dari kota Medinah dengan paksa.

Tafsir Quraish Shihab: Apakah kamu tidak melihat dengan heran kepada orang-orang munafik yang berkali-kali berkata kepada kaum Ahl al-Kitâb yang kafir (yaitu Banû Nadlîr), “Demi Allah, jika kalian dipaksa untuk meninggalkan Madinah kami pasti akan pergi bersama kalian, dan sampai kapan pun kami tidak akan tunduk kepada siapa saja dalam urusan kalian ini. Jika kalian diperangi oleh kaum Muslimin, kami pasti akan menolong kalian.” Allah benar-benar menyaksikan bahwa yang dijanjikan oleh orang-orang munafik itu adalah kebohongan belaka.

Surah Al-Hasyr Ayat 12
لَئِنۡ أُخۡرِجُواْ لَا يَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ

Terjemahan: Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tidak akan keluar bersama mereka, dan sesungguhnya jika mereka diperangi, niscaya mereka tidak akan menolongnya; sesungguhnya jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang; kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan.

Tafsir Jalalain: لَئِنۡ أُخۡرِجُواْ لَا يَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ (Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sesungguhnya jika mereka diperangi, niscaya mereka tidak akan menolongnya; sesungguhnya jika mereka menolongnya) artinya mereka datang untuk menolong dan membantunya لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ (niscaya mereka akan berpaling ke belakang) jawab qasam yang keberadaannya diperkirakan sudah memberikan pengertian yang cukup, tanpa harus menyebut jawab syarat pada kelima tempat tadi ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ (kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan) yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi.

Baca Juga:  Surah Yusuf Ayat 99-100; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Oleh karena itu, Allah berfirman: وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ (“Dan sesungguhnya jika mereka diperangi, niscaya mereka tidak akan menolongnya.”) yaitu tidak mau ikut berperang bersama mereka. وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ (“Sesungguhnya jika mereka menolongnya.”) yakni ikut berperang bersama mereka, لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ (“niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan.”) ini merupakan berita yang berdiri sendiri.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menegaskan kebenaran kembali pemberitaan akan terjadinya suatu peristiwa pada masa yang akan datang dengan menyatakan bahwa sebenarnya jika Bani Nadhir itu diusir dari kota Medinah, tidak ada orang munafik yang ikut bersama mereka. Demikian pula jika Muhammad saw memerangi Bani Nadhir, mereka pun tidak akan memberikan pertolongan dan Bani Nadhir akan kalah, karena Allah tidak memberi pertolongan kepada mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Jika orang-orang Yahudi diusir dari Madinah, orang-orang munafik itu tidak akan pergi bersama mereka. Dan jika diperangi, mereka juga tidak akan membela. Jika pun menolong, mereka pasti akan lari mundur dan tidak akan menang.

Surah Al-Hasyr Ayat 13
لَأَنتُمۡ أَشَدُّ رَهۡبَةً فِى صُدُورِهِم مِّنَ ٱللَّهِ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٌ لَّا يَفۡقَهُونَ

Terjemahan: Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti.

Tafsir Jalalain: لَأَنتُمۡ أَشَدُّ رَهۡبَةً (Sesungguhnya kalian lebih ditakuti) lebih disegani فِى صُدُورِهِم (dalam hati mereka) dalam hati orang-orang munafik itu مِّنَ ٱللَّهِ (daripada Allah) karena siksaan-Nya yang ditangguhkan. ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٌ لَّا يَفۡقَهُونَ (Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan setelah itu Allah berfirman: لَأَنتُمۡ أَشَدُّ رَهۡبَةً فِى صُدُورِهِم مِّنَ ٱللَّهِ (“Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah”) maksudnya mereka lebih takut kepada kalian daripada takut kepada Allah. Hal ini seperti firman-Nya yang artinya: “Tiba-tiba sebagian dari mereka [golongan munafik] takut kepada manusia seperti takutnya kepada Allah, bahkan takutnya lebih sangat dari itu.” (an-Nisaa’: 77).

Oleh karena itu Allah berfirman: ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٌ لَّا يَفۡقَهُونَ (“Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti.”)

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini diterangkan bahwa sebab-sebab orang munafik tidak menepati janjinya menolong Bani Nadhir, sebagaimana yang telah mereka sepakati, adalah karena mereka lebih takut kepada kaum Muslimin daripada kepada Allah. Oleh karena itu, mereka tidak berani melawan kaum Muslimin, meskipun mereka bersama Bani Nadhir.

Ayat ini menunjukkan apa yang terkandung dalam hati orang-orang munafik. Mereka tidak percaya kepada kekuasaan dan kebesaran Allah. Hal terpenting bagi mereka ialah keselamatan diri dan harta benda mereka masing-masing. Untuk keselamatan itu, mereka melakukan apa yang mungkin dilakukan, seperti perbuatan nifaq, kepada Rasulullah mereka menyatakan termasuk orang-orang yang beriman, sedang kepada Bani Nadhir mereka menyatakan senasib dan sepenanggungan dalam menghadapi kaum Muslimin.

Di samping itu, mereka tidak mau memahami ajaran yang disampaikan Rasulullah kepada mereka. Apakah ajaran itu benar atau tidak, bagi mereka, yang menentukan segala sesuatu hanyalah harta benda dan kekayaan. Oleh karena itu, tampak dalam sikap mereka ketika menghadapi kesulitan, mereka tidak mempunyai pegangan, dan terombang-ambing ke sana ke mari. Mereka lebih takut kepada manusia daripada Allah. Firman Allah:

Ketika mereka diwajibkan berperang, tiba-tiba sebagian mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih takut (dari itu). (an-Nisa’/4: 77).

Tafsir Quraish Shihab: Kalian, wahai kaum Muslimin, lebih menakutkan bagi kaum munafik dan Yahudi daripada Allah, karena mereka adalah kelompok bangsa yang tidak mengetahui hakikat keimanan.

Surah Al-Hasyr Ayat 14
لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ جَمِيعًا إِلَّا فِى قُرًى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرٍۢ بَأۡسُهُم بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٌ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٌ لَّا يَعۡقِلُونَ

Terjemahan: Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.

Tafsir Jalalain: لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ (Mereka tidak akan memerangi kalian) yakni orang-orang Yahudi itu جَمِيعًا (dalam keadaan bersatu padu) maksudnya, secara serentak إِلَّا فِى قُرًى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرٍۢ (kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok) yang tinggi. Menurut suatu qiraat lafal judurin dibaca jidaarin.

بَأۡسُهُم (Permusuhan) peperangan بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٌ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰ (di antara sesama mereka sangat hebat. Kalian kira mereka itu bersatu sedangkan hati mereka berpecah belah) berbeda-beda, bertentangan dengan apa yang diduga. ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٌ لَّا يَعۡقِلُونَ (Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti).

Tafsir Ibnu Katsir: firman Allah selanjutnya: لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ جَمِيعًا إِلَّا فِى قُرًى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرٍۢ (“Mereka tidak akan memerangimu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau dari balik tembok.”) yakni karena sifat pengecut dan kegundahan hati mereka, mereka tidak mampu menghadapi tentara Islam, baik dengan perang tanding atau berhadapan langsung, tetapi dengan berlindung di dalam benteng, atau dari balik tembok-tembok dalam keadaan terkepung; mereka tidak akan berperang karena terpaksa guna mempertahankan diri.

Dan setelah itu Allah berfirman: بَأۡسُهُم بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٌ (“Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat berat.”) maksudnya permusuhan di antara sesama mereka sungguh sangat dahsyat. Oleh karena itu Allah berfirman: تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰ (“Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah.”) maksudnya engkau lihat mereka berkumpul, sehingga engkau mengira mereka bersatu padu, padahal mereka itu berada dalam perpecahan yang amat sangat. Ibrahim an-Nakha’i mengemukakan: “Yakni Ahlul Kitab dan orang-orang munafik.”

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٌ لَّا يَعۡقِلُونَ (“Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.”)

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini diterangkan bahwa mental orang Yahudi dan orang munafik itu telah jatuh sedemikian rupa. Seandainya orang-orang munafik menepati janji mereka dan berperang bersama orang Yahudi Bani Nadhir menghadapi kaum Muslimin, mereka pun tidak akan mampu menghadapinya, karena dalam hati mereka telah timbul rasa takut dan gentar terhadap kaum Muslimin. Seandainya mereka berperang juga, mereka hanya berperang di balik benteng-benteng yang kokoh yang telah mereka buat, di balik tembok rumah-rumah mereka, tidak berani keluar berhadapan dengan kaum Muslimin.

Pada akhir ayat ini diterangkan sebab lain yang menyebabkan mereka takut berperang menghadapi kaum Muslimin, yaitu di antara mereka sendiri terjadi pertentangan dan permusuhan yang hebat, tak ada persatuan di antara mereka.

Ayat ini mengisyaratkan kepada kaum Muslimin bahwa persatuan dan kesatuan itu merupakan syarat untuk mencapai kemenangan. Betapa pun kuatnya persenjataan, perlengkapan, dan kesatuan tentara, tidak akan ada artinya apabila mereka tidak bersatu dan tidak yakin akan tercapainya cita-cita mereka. Karena bangsa atau umat yang bersatu meskipun dengan perlengkapan yang memadai akan dapat mencapai segala yang mereka cita-citakan. Ketentuan ini berlaku bagi seluruh umat manusia di mana pun mereka berada.

Baca Juga:  Surah Al-Hasyr Ayat 21-24; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Sehubungan dengan perlu adanya keyakinan yang kuat, persatuan, dan kesatuan dalam menghadapi apa pun, Allah berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah banyak-banyak (berzikir dan berdoa) agar kamu beruntung. Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar. (al-Anfal/8: 45-46)

Jika tertanam pada suatu bangsa iman yang kuat dan persatuan yang kokoh dan kesatuan tentara yang tak terpecahkan, niscaya mereka akan sanggup menghadapi segala macam kesukaran menghadapi musuh-musuh yang akan memerangi mereka. Allah berfirman:

Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (al-Baqarah/2: 249)

Sementara itu, Allah mengingatkan kaum Muslimin agar jangan sekali-kali terpengaruh oleh sesuatu yang kelihatannya baik seperti hubungan orang-orang munafik dengan Bani Nadhir , mereka seakan-akan bersatu-padu menghadapi kaum Muslimin, padahal di antara mereka terdapat pertentangan dan permusuhan.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang Yahudi tidak akan bersatu memerangi kalian kecuali apabila mereka berada di desa-desa yang berbenteng atau berada di balik dinding-dinding yang mereka gunakan sebagai tempat persembunyian.

Permusuhan antarsesama mereka sangat hebat. Kalian menduga bahwa mereka itu bersama-sama dan bersatu, padahal hati mereka berpecah-pecah. Mereka mempunyai sifat yang seperti itu karena mereka adalah suatu bangsa yang tidak mencermati akibat dari segala sesuatu.

Surah Al-Hasyr Ayat 15
كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبًا ذَاقُواْ وَبَالَ أَمۡرِهِمۡ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Terjemahan: (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.

Tafsir Jalalain: Perumpamaan mereka dalam hal tidak mau beriman كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبًا (seperti orang-orang yang belum lama sebelum mereka) yakni sebagaimana orang-orang musyrik yang terlibat dalam perang Badar ذَاقُواْ وَبَالَ أَمۡرِهِمۡ (yang telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka) sebagai hukuman-Nya di dunia, yaitu mereka mati terbunuh dan hukuman-hukuman yang lainnya yang mereka rasakan وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ (dan bagi mereka azab yang pedih) siksaan yang menyakitkan kelak di akhirat.

Tafsir Ibnu Katsir: Setelah itu Allah berfirman: كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبًا ذَاقُواْ وَبَالَ أَمۡرِهِمۡ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ (“[mereka] seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasa akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Mereka adalah orang-orang sebelum mereka, yaitu orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’.” Demikian pula menurut Qatadah dan Muhammad bin Ishaq.

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan bahwa keadaan orang-orang Yahudi Bani Nadhir itu sama halnya dengan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ yang juga berdomisili di sekitar kota Medinah. Karena tindakan Bani Qainuqa’ serupa dengan tindakan Bani Nadhir, maka mereka diperangi oleh Rasulullah saw pada hari Sabtu bulan Syawal, 20 bulan setelah Nabi hijrah.

Akhirnya mereka diusir dari Medinah ke suatu tempat bernama Adhri’at di negeri Syam. Bani Qainuqa’ telah merasakan akibat buruk dari perbuatan mereka. Jarak waktu antara kedua kejadian itu tidak lama, hanya dua tahun. Jadi peristiwa Bani Nadhir terjadi pada tahun keempat hijrah.

Semestinya peristiwa pengusiran Bani Qainuqa’ menjadi pelajaran bagi Bani Nadhir ketika mengadakan hubungan dengan kaum Muslimin di Medinah. Seandainya mereka melaksanakan ketentuan yang disepakati dalam perjanjian damai yang telah mereka tetapkan bersama Rasulullah saw, mereka akan hidup damai dan tenteram di bawah pemerintahan Rasulullah saw. Tetapi mereka melanggar perjanjian damai itu, sehingga mereka mengalami nasib yang sama dengan Bani Qainuqa’.

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa kaum Muslimin diperintahkan bersikap baik kepada orang-orang yang bukan Islam, selama orang-orang yang bukan Islam itu bersikap baik kepada mereka. Sikap baik itu adalah cermin dari keinginan hati, kemudian terwujud dalam perbuatan dan tindakan, baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi.

Keinginan hati itu terbaca pula pada air muka seseorang dalam pergaulannya. Seandainya orang-orang yang bukan Muslim tidak bersikap baik, seperti yang dilakukan Bani Qainuqa’ dan Bani Nadhir, adalah wajar apabila kaum Muslimin melakukan tindakan yang setimpal untuk mengimbangi tindakan-tindakan mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Perumpamaan Banû Nadlîr adalah seperti orang-orang kafir yang hidup tidak lama sebelum mereka. Di dunia, mereka telah merasakan akibat kekafiran dan pelanggaran janji, dan di akhirat kelak mereka akan mendapatkan siksa yang pedih.

Surah Al-Hasyr Ayat 16
كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّنكَ إِنِّىٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

Terjemahan: (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam”.

Tafsir Jalalain: Dan juga perumpamaan mereka dalam hal mendengar dari orang-orang munafik, tetapi orang-orang munafik itu tidak mau mengikuti jejak mereka sesudahnya كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّنكَ إِنِّىٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ (seperti halnya setan; ia berkata kepada manusia, “Kafirlah kamu,” maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.”) Padahal ia dusta dan hanya ria belaka.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah: كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّنكَ (“[Bujukan orang-orang munafik itu] seperti [bujukan] syaithan ketika ia berkata kepada manusia: ‘Kafirlah kamu.’ Maka tatkala manusia itu kafir, ia berkata: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri darimu.’”) yaitu perumpamaan orang-orang Yahudi ketika ditipu oleh orang-orang munafik yang telah menjanjikan akan memberikan bantuan kepada mereka, dan ucapa orang-orang munafik kepada mereka: “Jika kamu diperangi, maka kami akan membantumu.”

Namun tatkala benar terjadi dan mereka terkepung serta diperangi, orang-orang munafik itu berlepas diri dan membiarkan mereka hancur binasa, maka perumpamaan seperti ini seperti perumpamaan syaitan yang telah membujuk manusia untuk kafir –kita berlindung kepada Allah darinya-. Tetapi setelah masuk ke dalam bujukannya, syaitan itu berlepas diri seraya berkata: إِنِّىٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ (“Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.”)

Sebagian ahli tafsir menuturkan kisah tentang sebagian ahli ibadah dari kalangan bani Israil sebagai contoh saja dari perumpamaan di atas, bukan berarti inilah yang dimaksud dengan perumpamaan tersebut, tetapi kisah ini juga termasuk peristiwa-peristiwa serupa yang merupakan bagian darinya. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Ishaq, ia berkata: Aku pernah mendengar ‘Abdullah bin Nuhaik menuturkan bahwa ‘Ali ra. berkata:

Sesungguhnya ada seorang rahib telah beribadah selama 60 tahun dan syaitan pun hendak menggodanya namun tidak pernah berhasil dan membuatnya kelelahan. Maka syaitan itu menggunakan seorang wanita dan membuatnya gila. Wanita itu mempunyai beberapa orang saudara, lalu syaitan berkata kepada mereka:

Baca Juga:  Surah Yasin Ayat 51-54; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

“Pergilah kalian kepada pendeta ini, karena ia bisa mengobatinya.” Maka saudara-saudaranya itu mendatangi rahib itu. Kemudian si rahib pun mengobatinya, dan wanita itu tinggal bersamanya.

Pada suatu hari ketika si rahib berada di tempat wanita, hatinya pun tertarik oleh wanita itu, lalu menggaulinya hingga akhirnya wanita itupun hamil. Kemudian rahib itu mendatangi wanita itu dan membunuhnya. Ketika saudara-saudara wanita itu datang, syaitan pun berkata kepada si rahib:

“Aku adalah shahabatmu. Sesungguhnya engkau telah membuatku kelelahan. Aku yang telah membuatmu seperti ini. Karena itu taatilah aku, niscaya aku akan menyelamatkan dirimu dari apa yang kuperbuat terhadapmu. Bersujudlah kepadaku sekali saja.” maka rahib itupun sujud kepadanya. Setelah ia bersujud, syaitan itu berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri darimu, sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.” Dan itulah makna firman Allah:

كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّنكَ إِنِّىٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ (“[Bujukan orang-orang munafik itu] seperti [bujukan] syaithan ketika ia berkata kepada manusia: ‘Kafirlah kamu.’ Maka tatkala manusia itu kafir, ia berkata: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri darimu. Karena sesungguhnya aku takut kepada Rabb semesta alam.’”) Kemudian rahib itu pun ditangkap lalu dibunuh.’”

Hal senada juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Thawus dan Muqatil bin Hayyan. Terkenal di kalangan banyak orang bahwa rahib yang taat beribadah itu bernama Barshish. wallaaHu a’lam.

Kisah di atas bertolak belakang dengan kisah Juraij, seorang ahli ibadah. Juraij dituduh oleh seorang wanita pelacur bahwa ia telah berzina dengan dirinya, dan mengaku bahwa kehamilannya itu hasil hubungannya dengan Juraij. Kemudian ia melaporkan hal tersebut kepada pihak yang berwajib, lalu Juraij diperintahkan untuk keluar dari tempat ibadahnya, dan tempat ibadahnya itu dirusak. Juraij berkata:

“Mengapa kalian berbuat demikian?” maka mereka berkata: “Wahai musuh Allah, engkau telah melakukan ini dan itu terhadap wanita ini.” Maka Juraij berkata: “Sabarlah.” Kemudian ia mengambil anak wanita itu yang masih sangat kecil, lalu berkata: “Hai si kecil, siapakah ayahmu?” “Ayahku seorang penggembala,” jawab si anak tersebut.

Sebenarnya wanita itu berzina dengan seorang penggembala kambing hingga ia hamil. Dan setelah bani Israil mengetahui kebenaran tersebut, maka merekapun mengagungkan Juraij dan memberikan hormat kepadanya. Mereka berkata: “Kami akan membangun kembali tempat ibadahmu itu dari emas.” Tetapi Juraij berkata: “Tidak, tetapi bangun kembali bangunan itu dari tanah seperti semula.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa perbuatan khianat orang-orang munafik yang berjanji akan menolong Bani Nadhir bila diserang kaum Muslimin dan ikut mereka bila diusir dari Medinah, adalah seperti perbuatan setan.

Setan selalu merayu manusia agar mengingkari Allah dan tidak mengikuti agama yang telah disampaikan rasul-Nya. Akan tetapi, bila manusia itu memerlukan pertolongan dalam menghadapi kesengsaraan dan malapetaka yang datang kepada mereka, setan berlepas diri dan tidak menepati janjinya. Mereka bahkan berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam.”

Allah menyamakan orang-orang munafik dengan setan untuk menunjukkan bahwa sifat-sifat orang-orang munafik itu sama dengan sifat-sifat setan. Setan yang durhaka mematuhi hukum-hukum Allah, percaya bahwa Allah itu ada, Maha Esa, dan hanya Dia yang berhak disembah.

Setan juga percaya bahwa syarat-syarat memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat hanya dengan mengikuti agama Allah. Akan tetapi, mereka adalah kaum yang fasik. Mereka mengetahui kebenaran sesuatu tetapi tidak melaksanakannya.

Demikian pula halnya dengan orang-orang munafik, mereka tahu mana yang benar dan mana yang salah, tetapi mereka tidak melaksanakan kebenaran itu. Mereka bahkan melakukan perbuatan-perbuatan menghasut dan terlarang. Allah berfirman:

Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sungguh, orang yang zalim akan mendapat siksaan yang pedih. (Ibrahim/14: 22)

Jadi bentuk perumpamaan dalam ayat ini ialah orang-orang munafik diserupakan dengan setan. Orang-orang Yahudi Bani Nadhir disamakan dengan orang-orang yang teperdaya oleh bujukan setan. Ketakutan mereka kepada kaum Muslimin disamakan dengan ketakutan mereka kepada Allah, bahkan lebih dari itu.

Tafsir Quraish Shihab: Permisalan orang-orang munafik dalam merayu Banû Nadlîr untuk membangkang kepada Rasulullah adalah seperti setan yang merayu manusia untuk tidak beriman dengan mengatakan, “Kafirlah!” Tetapi, setelah manusia itu kafir, setan berkata lagi, “Aku tidak bertanggung jawab atas dirimu. Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”

Surah Al-Hasyr Ayat 17
فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ أَنَّهُمَا فِى ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَا وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ

Terjemahan: Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.

Tafsir Jalalain: فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ (Maka adalah sesudah keduanya) yakni orang yang sesat dan orang yang disesatkan. Menurut suatu qiraat lafal ‘aaqibatahumaa dibaca ‘aaqibatuhumaa dengan memakai harakat damah di atas huruf ta, hal ini berarti sebagai isim dari lafal kaana أَنَّهُمَا فِى ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَا وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ (bahwa sesungguhnya keduanya masuk ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang lalim) orang-orang yang kafir.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah: فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ أَنَّهُمَا فِى ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَا (“Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya [masuk] ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya.”) maksudnya [kesudahan] akhir bagi orang yang memerintahkan kepada kekufuran dan pelakunya itu sendiri adalah di dalam neraka jahanam, mereka kekal di dalamnya. وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ (“Demikianlah balasan orang-orang yang dhalim.”) yakni balasan bagi setiap orang yang berbuat kedhaliman.

Tafsir Kemenag: Kemudian Pada ayat ini diterangkan akibat yang akan dialami oleh orang-orang munafik dan orang-orang Yahudi Bani Nadhir yang telah diperdaya setan. Kedua golongan ini akan dimasukkan ke dalam neraka bersama setan yang menjadi teman mereka. Mereka kekal di dalam neraka. Itulah balasan yang setimpal dengan perbuatan-perbuatan mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Tempat kembali setan dan orang yang digoda adalah neraka. Mereka berdua akan kekal di dalamnya. Hidup kekal di dalam neraka itu adalah balasan orang-orang yang melanggar jalan kebenaran.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Hasyr Ayat 11-17 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S