Surah Al-Isra Ayat 101-104; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Isra Ayat 101-104

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Isra Ayat 101-104 ini, menjelaskan bahwa Allah swt telah memberikan sembilan macam mukjizat kepada Musa a.s. sebagai bukti kerasulannya, ketika diutus kepada Fir’aun dan kaumnya. Namun demikian, Fir’aun dan kaumnya tetap menolak seruan Nabi Musa untuk beriman pada Allah Sang Pencipta. Dalam ayat yang lain diterangkan bagaimana Fir’aun dan kaumnya mengingkari seruan Musa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Isra Ayat 101-104

Surah Al-Isra Ayat 101
وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ فَاسْأَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ إِذْ جَاءَهُمْ فَقَالَ لَهُ فِرْعَوْنُ إِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا مُوسَى مَسْحُورًا

Terjemahan: Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir’aun berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir”.

Tafsir Jalalain: وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ (Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata) yaitu tangan, tongkat, topan, belalang, kutu, kodok, darah atau kutukan paceklik dan kekurangan buah-buahan

فَاسْأَلْ (maka tanyakanlah) hai Muhammad بَنِي إِسْرَائِيلَ (kepada Bani Israel) perihalnya dengan pertanyaan yang menetapkan kebenaranmu terhadap kaum musyrikin; atau artinya Kami berfirman kepada Muhammad, “Tanyakanlah.”

Menurut qiraat yang lain diungkapkan dalam bentuk fi`il madhi إِذْ جَاءَهُمْ فَقَالَ لَهُ فِرْعَوْنُ إِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا مُوسَى مَسْحُورًا (tatkala Musa datang kepada mereka lalu Firaun berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku sangka kamu hai Musa seorang yang kena sihir.”) orang yang tidak sadar dan akal warasmu sudah hilang.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah memberitahukan bahwa Dia telah mengutus Musa as. dengan sembilan ayat yang menjelaskan tanda-tanda kekuasaan yang merupakan dalil-dalil pasti yang menunjukkan benarnya kenabian Musa dan kebenarannya pada apa yang ia sampaikan dari Yang mengutusnya kepada Fir’aun.

Kesembilan mukjizat Musa’ tersebut adalah tongkat, tangan, bukit Thur, laut, topan, belalang, kutu, katak dan darah. Semuanya itu merupakan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang sudah terrerinci. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu `Abbas: “Tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS. Al-A’raaf: 133)

Maksudnya, meskipun telah datang kepada mereka berbagai tanda-tanda kekuasaan tersebut dan bahkan secara langsung mereka melihatnya, namun mereka tetap kafir dan mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan mereka, padahal hati mereka meyakini kebenarannya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Allah swt telah memberikan sembilan macam mukjizat kepada Musa a.s. sebagai bukti kerasulannya, ketika diutus kepada Fir’aun dan kaumnya. Namun demikian, Fir’aun dan kaumnya tetap menolak seruan Nabi Musa untuk beriman pada Allah Sang Pencipta. Dalam ayat yang lain diterangkan bagaimana Fir’aun dan kaumnya mengingkari seruan Musa.

Baca Juga:  Surah Al-Isra' ayat 90-93; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Allah swt berfirman: Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. (an-Naml/27: 14)

Para mufasir berbeda pendapat tentang maksud dari sembilan ayat tersebut di atas. Menurut Ibnu Abbas, sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Abd Razzaq, Sa’id bin Manshur, Ibnu Jarir ath-thabari, dan Ibnu Mundzir, bahwa sembilan ayat tersebut adalah tongkat, tangan, topan, belalang, kutu, katak, darah, musim kemarau, dan kekurangan buah-buahan. Pendapat ini disetujui oleh jumhur ulama.

Mufasir yang lain, seperti ar-Razi, berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sembilan ayat tersebut di atas adalah berbagai larangan. Ia mendasar-kan pendapatnya dengan hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, al-Baihaqi, Ath-thabrani, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari shafwan bin Asal al-Muradi, ketika beliau ditanya oleh orang Yahudi, bahwa yang dimaksud dengan sembilan ayat di sini ialah sembilan macam larangan, yaitu:

jangan mempersekutukan Allah, jangan membunuh jiwa kecuali dengan hak, jangan berzina, jangan mencuri, jangan menyihir, jangan makan riba, jangan memfitnah orang yang tidak bersalah kepada penguasa, jangan menuduh wanita yang baik berzina, dan melanggar aturan pada hari Sabat. Ibnu Syihab Al-Khafaji mengatakan, “Inilah tafsir yang diikuti dalam menafsirkan ayat ini.”

Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw agar menanyakan tentang kisah Musa kepada orang-orang Yahudi yang hidup di masanya, seperti Abdullah bin Salam dan lain-lain, niscaya mereka akan membenarkannya. Pengakuan mereka terhadap kebenaran risalah Nabi Musa akan menambah iman dan keyakinannya. Hal itu juga bertujuan agar Nabi saw yakin bahwa kisah itu juga terdapat dalam kitab mereka.

Tanyakanlah kepada orang-orang Yahudi, tentu mereka akan menerangkan bahwa Musa a.s. telah datang kepada Fir’aun membawa agama tauhid dan mengemukakan berbagai mukjizatnya. Akan tetapi, Fir’aun mengingkarinya, bahkan mengatakan bahwa Musa adalah orang yang rusak akalnya, sehingga mengaku-ngaku sebagai seorang rasul Allah.

Surah Al-Isra Ayat 102
أَقَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا

Terjemahan: Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa”.

Tafsir jalalain: أَقَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنزَلَ هَؤُلَاءِ (Musa menjawab, “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, tiada yang menurunkannya) mukjizat-mukjizat itu أَقَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ (melainkan Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata) pelajaran-pelajaran, tetapi ternyata kamu masih tetap ingkar. Menurut qiraat lain lafal alimta dibacaalimtu.

Baca Juga:  Surah Al-Jumuah Ayat 1-4; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا (dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Firaun, seorang yang binasa.”) hancur atau dipalingkan dari kebaikan.

Tafsir ibnu katsir: Musa pun berkata kepada Fir’aun: لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ (Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang rnenurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata) Maksudnya, sebagai,hujjah dan dalil atas kebenaran apa yang aku (Musa) bawa kepadamu.

وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا (“Dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa.”) Maksudnya, seorang yang hancur binasa. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah. Sedangkan menurut Ibnu `Abbas, hal itu berarti orang yang terlaknat.

Tafsir kemenag: Musa mengatakan kepada Fir’aun bahwa sesungguhnya Fir’aun telah mengetahui bahwa yang menurunkan ayat-ayat ini adalah Tuhan yang memiliki langit dan bumi. Hal itu dijelaskan Nabi Musa sebagai bukti dan keterangan bahwa yang diserukannya itu adalah suatu kebenaran. Hanya orang yang bersih hatinya yang dapat menerima seruan tersebut.

Lebih lanjut Nabi Musa mengatakan kepada Fir’aun bahwa hatinya yang kotor dan tidak mempunyai kesediaan untuk menerima seruan itu. Kebenaran apapun yang dikemukakan kepadanya tetap tidak akan membuatnya menerima seruan tersebut.

Surah Al-Isra Ayat 103
فَأَرَادَ أَن يَسْتَفِزَّهُم مِّنَ الْأَرْضِ فَأَغْرَقْنَاهُ وَمَن مَّعَهُ جَمِيعًا

Terjemahan: Kemudian (Fir’aun) hendak mengusir mereka (Musa dan pengikut-pengikutnya) dari bumi (Mesir) itu, maka Kami tenggelamkan dia (Fir’aun) serta orang-orang yang bersama-sama dia seluruhnya,

Tafsir jalalain: فَأَرَادَ (Maka terbetiklah maksud) dalam diri Firaun أَن يَسْتَفِزَّهُم (untuk mengusir mereka) maksudnya mengusir Nabi Musa dan kaumnya مِّنَ الْأَرْضِ (dari tanah itu) yaitu negeri Mesir فَأَغْرَقْنَاهُ وَمَن مَّعَهُ جَمِيعًا (maka Kami tenggelamkan dia serta orang-orang yang bersama dia seluruhnya.).

Tafsir ibnu katsir: Firman-Nya: فَأَرَادَ أَن يَسْتَفِزَّهُم مِّنَ الْأَرْضِ (“Kemudian [Fir’aun] hendak mengusir mereka [Musa dan pengikut-pengikutnya] dari bumi [Mesir] itu,”) yakni, akan menyingkirkan dan melenyapkan mereka dari negeri tersebut.

Kemudian (Fir’aun) hendak mengusir mereka (Musa dan pengikut-pengikut-nya) dari bumi (Mesir) itu, maka Kami tenggelamkan dia (Fir’aun) serta orang-orang yang bersama-sama dia seluruhnya, dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil,

“Diamlah di negeri ini. Maka apabila datang masa berbangkit, niscaya Kami datangkan kalian dalam keadaan bercampur baur (dengan musuh kalian).” Allah Swt. menceritakan bahwa Dia telah mengutus Musa dengan membawa sembilan mukjizat yang jelas.

Mukjizat-mukjizat itu merupakan bukti yang akurat yang membenarkan kenabiannya dan membenarkan apa yang telah dia sampaikan kepada Fir’aun dari Tuhan yang telah mengutusnya. Mukjizat-mukjizat itu ialah tongkat, tangan, paceklik, terbelahnya laut, banjir, belalang, kutu, katak, dan darah; semuanya merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang membuktikan kebenaran Musa a.s.

Baca Juga:  Surah Al-Qashash Ayat 18-19; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir kemnag: Setelah Fir’aun melihat kegigihan Musa dalam menyampaikan risalahnya, dan hal itu akan membahayakan diri dan kekuasaannya, maka Fir’aun berencana untuk mengeluarkan Musa dan pengikut-pengikutnya dari bumi Mesir, baik dengan cara mengusir atau melenyapkan mereka. Akan tetapi, Allah swt lebih dahulu menenggelamkan Fir’aun beserta pengikut-pengikutnya ke dalam laut Qulzum.

Surah Al-Isra Ayat 104
وَقُلْنَا مِن بَعْدِهِ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ اسْكُنُوا الْأَرْضَ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ جِئْنَا بِكُمْ لَفِيفًا

Terjemahan: dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil: “Diamlah di negeri ini, maka apabila datang masa berbangkit, niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur (dengan musuhmu)”.

Tafsir jalalain: وَقُلْنَا مِن بَعْدِهِ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ اسْكُنُوا الْأَرْضَ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ (Dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israel, “Diamlah di negeri ini, maka apabila tiba masa berbangkit) hari kiamat جِئْنَا بِكُمْ لَفِيفًا (niscaya Kami datangkan kalian dalam keadaan bercampur-baur”) dengan semua manusia, yaitu kalian dan mereka.

Tafsir ibnu katsir: Allah berfirman: وَقُلْنَا مِن بَعْدِهِ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ اسْكُنُوا الْأَرْضَ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ جِئْنَا بِكُمْ لَفِيفًا (“Dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil: ‘Diamlah di negeri ini, maka apabila datang masa berbangkit, niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur [dengan musuhmu].’”) Yakni, kalian dan musuh-musuh kalian secara keseluruhan.

Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah dan adh-Dhahhak mengatakan: “Kata lafiifan berarti jamii’an (semuanya).”

Tafsir kemenag: Kemudian Allah swt menyelamatkan Musa dan Bani Israil serta memerintahkan mereka agar mendiami negeri yang telah dijanjikan kepada mereka sampai waktu yang ditentukan. Jika telah sampai waktunya, mereka akan diwafatkan kemudian dibangkitkan kembali pada hari kiamat, untuk menetapkan keputusan yang paling adil di antara mereka.

Ketika itu, mereka beserta musuh-musuhnya bercampur baur dan menyatu untuk menerima balasan dari Allah. Perbuatan baik akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda, sedangkan perbuatan mungkar akan dibalas dengan siksa neraka.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Isra ayat 101-104 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S