Surah Al-Kahfi Ayat 97-99; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Kahfi Ayat 97-99

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Kahfi Ayat 97-99 ini, Allah berfirman seraya menceritakan tentang Ya’juj dan Ma’juj, bahwa mereka tidak sanggup menaiki bagian atas dinding ini dan tidak pula mereka mampu melubanginya pada bagian bawahnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Yakni nikmat, karunia dan ihsan-Nya kepadaku, karena dinding tersebut dapat menghalangi Ya’juj dan Ma’juj keluar ke tengah-tengah manusia yang lain. Seperti inilah keadaan para pemimpin yang saleh. Ketika Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberikan nikmat yang banyak kepadanya, maka rasa syukur dan pengakuan mereka terhadap nikmat tersebut bertambah,

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi Ayat 97-99

Surah Al-Kahfi ayat 97
فَمَا اسْطَاعُوا أَن يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا

Terjemahan: Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.

Tafsir Jalalain: فَمَا اسْطَاعُوا (Maka mereka tidak dapat) yakni Yakjuj dan Makjuj itu يَظْهَرُوهُ (mendakinya) memanjat tembok itu karena terlalu tinggi dan terlalu licin وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا (dan mereka tidak dapat pula melubanginya) karena tembok itu terlalu kuat dan tebal sekali.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman seraya menceritakan tentang Ya’juj dan Ma’juj, bahwa mereka tidak sanggup menaiki bagian atas dinding ini dan tidak pula mereka mampu melubanginya pada bagian bawahnya. Ketika naik di atasnya lebih mudah daripada melubanginya, menyiapkan yang layak untuknya, maka Dia berfirman:

فَمَا اسْطَاعُوا أَن يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا (“Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa pula melubanginya.”)

Yang demikian itu merupakan dalil yang menunjukkan bahwa mereka tidak sanggup untuk melubanginya atau berbuat sesuatu terhadapnya. Imam Ahmad meriwayatkan, Sufyan memberitahu kami, dari az-Zuhri, dari Urwah, dari Zainab binti Abi Salamah, dari Habibah binti Ummu Habibah binti Abu Sufyan, dari ibunya, Ummu Habibah, dari Zainab binti Jahsy, isteri Nabi saw, Sufyan mengatakan, empat wanita- bercerita,

Nabi pernah bangun tidur dengan muka merah, sedang beliau berucap: “Tidak ada Ilah (yang haq) selain Allah. Celaka bagi bangsa Arab karena sungguh telah dekat suatu keburukan. Pada hari ini telah terbuka sedikit dinding penyumbat Ya’juj dan Ma’juj, seperti ini,” dan beliau membuat lingkaran. Kemudian kutanya:

“Ya Rasulullah, apakah kita akan dibinasakan sedang di tengah-tengah kami terdapat orang-orang shalih?” Beliau menjawab: “Ya, jika semakin banyak kejahatan dan keburukan.” Hadits di atas derajatnya shahih, yang disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim dalam meriwayatkannya dari az-Zuhri.

Dalam riwayat al-Bukhari, penyebutan Habibah digugurkan, tetapi ditetapkan oleh Imam Muslim. Di dalamnya terdapat sesuatu yang jarang terjadi dalam pembuatan sanad. Di antaranya riwayat az-Zuhri dari Urwah, yang keduanya dari kalangan tabi’in.

Yang lainnya adalah berkumpulnya empat wanita dalam sanadnya, yang sebagian mereka meriwayatkan dari sebagian lainnya. Kemudian masing-masing dari keempat wanita itu termasuk dari kalangan Sahabat. Lalu dua di antaranya adalah ibu mertua dan dua lainnya adalah isteri Rasulullah saw.

Baca Juga:  Surah Al-Mujadalah Ayat 1; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Dan tatkala Yakjuj dan Makjuj mengadakan penyerbuan ke tempat tersebut, mereka tidak bisa mendakinya karena tingginya yang luar biasa dan mereka tidak bisa pula melubanginya karena keras dan tebal sekali.

Surah Al-Kahfi Ayat 98
قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّي فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا

Terjemahan: Dzulkarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar”.

Tafsir Jalalain: قَالَ (Dia berkata) yakni Zulkarnain, هَذَا (“Ini) tembok ini atau bendungan ini, atau kemampuan di dalam membangun ini رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّ (adalah rahmat dari Rabbku) merupakan nikmat-Nya, sebab tembok ini dapat mencegah Yakjuj dan Makjuj untuk keluar

فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي (maka apabila sudah datang janji Rabbku) yakni saat mereka dapat keluar, bila hari kiamat telah dekat. جَعَلَهُ دَكَّاءَ (Dia akan menjadikannya hancur luluh) rata dengan tanah وَكَانَ وَعْدُ رَبِّ (dan janji Rabbku itu) tentang keluarnya mereka dan peristiwa-peristiwa lainnya حَقًّا (adalah benar)” pasti terjadi.

Tafsir Ibnu katsir: Firman-Nya: قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّي (“Dzulqarnain berkata, ‘Ini [dinding] adalah rabmat dari Rabbku.”) Yakni, apa yang telah dibangun oleh Dzulqarnain.

Dzulgarnain berkata, Ini (dinding) adalah rabmat dari Rabbku. Yakni, untuk umat manusia, di mana Dia telah menjadikan antara mereka dengan Ya’juj dan Ma’juj dinding pemisah yang menghalangi mereka berbuat kerusakan di muka bumi.

فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّ (“Maka apabila sudah datang janji Rabbku,”) yakni, apabila janji yang haq itu sudah dekat: جَعَلَهُ دَكَّاءَ (“Dia akan menjadikannya hancur luluh.”) Maksudnya, Allah akan menyamaratakan dinding itu dengan bumi. Dari kata itu, muncul ungkapan masyarakat Arab, “Naaqah dakka’, jika punggung unta itu rata tidak berpunuk.

Allah sendiri juga telah berfirman: “Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, ijadikannya gunung itu hancur luluh.” (QS. Al-A’raaf: 143). Yakni, hancur dan lama rata dengan bumi.

Tafsir Kemenag: Selanjutnya Zulkarnain berkata, “Benteng ini adalah merupakan rahmat karunia dari Tuhanku kepada hamba-Nya, karenanya ia menjadi benteng yang kokoh yang menjaga mereka dari serbuan Yakjuj dan Makjuj.

Tetapi apabila telah datang janji Tuhanku tentang keluarnya mereka dari belakang benteng, maka Dia akan menjadikannya hancur luluh lantak rata dengan tanah karena Allah memberi kuasa kepada suatu kaum untuk menghancurkannya, dan janji Tuhanku itu adalah benar tidak dapat diragukan.

Menurut ahli sejarah, ucapan Zulkarnain ini terbukti dengan kasus munculnya raja Jengis Khan yang telah membuat kerusakan di muka bumi dari Timur sampai ke Barat dan mengadakan penyerangan yang menghancurkan benteng besi dan kerajaan Islam di Baghdad.

Adapun sebabnya raja Jengis Khan ini mengadakan penyerbuan ke negeri Baghdad, oleh karena Sultan Khuwarazmi dari Bani Saljuk telah membunuh beberapa utusan dan pedagang-pedagang yang diutus dari negerinya.

Baca Juga:  Surat Al-Kautsar; Paling Sedikit Ayatnya, Namun Begitu dalam Maknanya

Harta benda mereka dirampas dan diadakan pula serbuan-serbuan ke tapal batas negerinya sehingga menimbulkan kemarahan raja Jengis Khan. Lalu ia menulis surat kepada Sultan Bagdad dengan kata-kata yang pedas sebagai berikut, “Mengapa kamu berani membunuh sahabat-sahabatku dan merampas harta benda perniagaanku. Apakah kamu membangunkan singa yang sedang tidur dan menimbulkan kejahatan-kejahatan yang tersembunyi.”

Tidakkah Nabimu memberikan wasiat kepadamu agar tidak berbuat aniaya. Oleh karena itu tinggalkanlah bangsa Turki selagi mereka tidak mengganggu kamu. Mengapa kamu sakiti tetanggamu padahal Nabimu sendiri telah berwasiat untuk menghormati tetangga.

Dan inilah wasiatku kepadamu, “Peliharalah baik-baik dan pertimbangkanlah kebijaksanaanmu sebelum timbulnya rasa dendam dan sebelum terbukanya benteng besi. Dan Allah pasti akan menolong setiap orang yang dianiaya, karena itu tunggulah kedatangan Yakjuj dan Makjuj yang akan turun dari tiap-tiap tempat yang tinggi.”

“Dari Umu Habibah ra dari Zainab binti Jahsyin ra, bahwa Rasulullah saw pada suatu hari masuk ke rumah istrinya, Siti Zaenab bint Jahsy dan dengan terkejut beliau mengatakan, “La ilaha illallah, celakalah bagi orang Arab dari suatu kejahatan yang telah mendekat, hari ini terbuka dari Benteng Yakjuj dan Makjuj lubang besar seperti ini.”

Dan beliau melingkarkan ibu jarinya dengan jari telunjuknya. Lalu Zaenab bertanya, “Ya Rasulullah apakah kami akan binasa padahal di kalangan kami terdapat banyak orang-orang yang saleh.” Beliau menjawab, “Ya, apabila kejahatan sudah banyak jumlahnya.” (Riwayat al-Bukhari)

Sejak hari itu lubang di dalam benteng semakin lama semakin besar. Pada abad ke-7 Hijri, datanglah tentara raja Jengis Khan menyerbu dan menimbulkan berbagai kerusakan di muka bumi terutama di negeri Baghdad.

Surah Al-Kahfi Ayat 99
وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا

Terjemahan: Mereka berkata: Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya,

Tafsir Jalalain: Selanjutnya Allah berfirman: وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ (Kami biarkan sebagian di antara mereka pada hari itu) pada hari mereka keluar dari tembok itu يَمُوجُ فِي بَعْضٍ (bercampur aduk dengan sebagian yang lain) mereka bercampur aduk karena saking banyaknya jumlah mereka

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ (kemudian ditiup lagi sangkakala) untuk membangkitkan mereka menjadi hidup kembali فَجَمَعْنَاهُمْ (lalu Kami kumpulkan mereka itu) yakni seluruh makhluk pada suatu tempat di hari kiamat جَمْعًا (semuanya).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ (“Kami biarkan mereka.”) Maksudnya, sebagian manusia pada hari itu, atau hari hancurnya dinding tersebut. Kemudian mereka itu keluar dan bergabung bersama umat manusia serta melakukan perusakan terhadap harta kekayaan manusia dan segala sesuatu yang mereka miliki. Demikian pula yang dikemukakan oleh as-Suddi mengenai firman-Nya:

Baca Juga:  Surah Al-Kahfi Ayat 9-12; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ (“Kami biarkan mereka pada hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain.”) As-Suddi mengatakan: “Yang demikian itu adalah pada saat mereka keluar ke tengah-tengah umat manusia. Semuanya itu terjadi sebelum hari Kiamat tiba dan sesudah munculnya Dajjal. Sebagaimana yang akan kami jelaskan lebih lanjut dalam pembahasan firman Allah:

“Hingga apabila dibukakan (tembokj Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (bari berbangkit).” Dan ayat seterusnya. (QS. Al-Anbiyaa’: 96).

Demikianlah Allah Ta’ala berfirman di sini: وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ (“Kami biarkan mereka pada hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain.”) As-Suddi mengemukakan: “Yang demikian itu adalah permulaan hari Kiamat. وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ( “Kemudian ditiup lagi sangkakala.”) Yakni, setelah itu. فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا (“Lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya.”)

Firman-Nya: فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا (“Lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya.”) Maksudnya, Kami hadirkan mereka semuanya untuk menjalani perhitungan (hisab). Dia berfirman: “Dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari
mereka.” (QS. Al-Kahfi: 47)

Tafsir Kemenag: Pada hari hancurnya benteng besi itu, maka keluarlah Yakjuj dan Makjuj muncul dari belakang benteng gelombang demi gelombang, merusak tanaman dan harta benda seperti yang tersebut dalam firman Allah:

“Hingga apabila (tembok) Yakjuj dan Makjuj dibukakan dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (al-Anbiya`/21: 96)

Pada hari terbukanya tembok itu Kami biarkan mereka bercampur aduk dalam keadaan kacau balau, kemudian situasi itu akan mengingatkan penghuni bumi ketika ditiup sangkakala oleh malaikat Israfil pada hari Kiamat, lalu dikumpulkan mereka di padang Mahsyar untuk diadili. Sesuai dengan firman Allah:

Katakanlah, “(Ya), sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan yang kemudian, pasti semua akan dikumpulkan pada waktu tertentu, pada hari yang sudah dimaklumi.” (al-Waqi’ah/56: 49-50)

Dan firman Allah: Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami perjalankan gunung-gunung dan engkau akan melihat bumi itu rata dan Kami kumpulkan mereka (seluruh manusia), dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka. (al-Kahf/18: 47).

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Kahfi Ayat 97-99 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S