Surah Al-Kahfi Ayat 77-78; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Kahfi Ayat 77-78

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Kahfi Ayat 77-78 ini, menjelaskan jawaban Khidir kepada Musa, “Pertanyaanmu yang ketiga kalinya ini adalah penyebab perpisahan antara aku dan kamu.” Sebagian Ulama Tafsir mengatakan bahwa sebab perpisahan itu tidak terjadi pada pertanyaan yang pertama dan kedua,

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

oleh karena pertanyaan pertama dan kedua itu menyangkut perbuatan yang munkar yaitu membunuh anak yang tidak berdosa dan membuat lubang (merusak) pada dinding kapal, maka wajarlah bila dimaafkan.

Adapun pertanyaan yang ketiga adalah Khidir berbuat baik kepada orang yang kikir, yang tidak mau memberikan jamuan kepadanya, dan perbuatan itu adalah perbuatan yang baik yang tidak perlu disangkal dan dipertanyakan.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi Ayat 77-78

Surah Al-Kahfi Ayat 77
فَانطَلَقَا حَتَّى إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ فَأَقَامَهُ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا

Terjemahan: Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”.

Tafsir Jalalain: فَانطَلَقَا حَتَّى إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ (Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri) yaitu kota Inthakiyah اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا (mereka meminta dijamu kepada penduduk negeri itu) keduanya meminta kepada mereka supaya memberi makan kepadanya sebagaimana layaknya tamu َ

أَبَوْا أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا (tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah) yang tingginya mencapai seratus hasta يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ (yang hampir roboh) mengingat kemiringannya yang sangat

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 153; Seri Tadabbur Al Qur'an

فَأَقَامَهُ (maka Khidhir menegakkan dinding itu) dengan tangannya sendiri قَالَ (Musa berkata) kepadanya, لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ (“Jika kamu mau, niscaya kamu mengambil) menurut suatu qiraat dibaca Laittakhadzta عَلَيْهِ أَجْرًا (upah untuk itu)” yakni persenan karena mereka tidak mau menjamu kita, sedangkan kita sangat membutuhkan makanan.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman seraya menceritakan tentang keduanya, bahwa keduanya: فَانطَلَقَا (“Berjalan”) yakni, setelah dua kali perjalanan sebelumnya; حَتَّى إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ (“Hingga ketika mereka sampai kepada penduduk suatu negeri.”) Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Sirin bahwa negeri itu adalah al-Ablah.

فَأَبَوْا أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ (“Tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka. Kemudian keduanya mendapatkan di negeri itu dinding rumah yang hendak roboh.”) Penggunaan kata iradah (hendak) bagi dinding bukan menurut hakekatnya tetapi sebagai isti’arah (kiasan) saja, karena dalam berbagai perbincangan, kata al-iradah berarti kecenderungan. Sedangkan kata al-ingidladh berarti roboh.

Dan firman-Nya: فَأَقَامَهُ (“Maka Khidhir menegakkan dinding itu.”) Maksudnya, Khidhir kembali menegakkan dinding tersebut. Maka Musa berkata kepadanya:

لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا (“Jikalau engkau mau, niscaya engkau dapat mengambil upah untuk itu.”) Maksudnya, karena mereka tidak mau menjamu kita, maka layak kiranya jika engkau tidak bekerja secara cuma-cuma untuk mereka.

Tafsir Kemenag: Lalu Musa dan Khidir meneruskan perjalanan mereka berdua sampai ke suatu negeri. Mereka minta agar penduduk negeri itu menjamunya tetapi penduduk negeri itu sangat kikir tidak mau memberi jamuan kepada mereka.

Mereka sangat rendah akhlaknya, sebab menurut kebiasaan waktu itu, bilamana ada seorang hartawan tidak mau memberi derma kepada seorang peminta-minta, maka hal seperti itu sangat dicela dan jika ia menolak untuk memberi jamuan kepada tamunya maka hal itu menunjukkan kemerosotan akhlak yang rendah sekali.

Baca Juga:  Surah Al-Kahfi Ayat 25-26; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dalam hal ini orang-orang Arab menyatakan celaannya yang sangat keras dengan kata-kata. Si pulan menolak tamu (mengusir) dari rumahnya. Qatadah berkata, “Sejelek-jelek negeri ialah yang penduduknya tidak suka menerima tamu dan tidak mau mengakui hak Ibnu Sabil (orang yang dalam perjalanan kehabisan bekal).”

Di negeri itu Musa dan Khidir menemukan sebuah dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir memperbaikinya dengan tangannya, sehingga dinding itu tegak menjadi lurus kembali. Keanehan itu termasuk mukjizatnya.

Musa yang melihat dinding itu ditegakkan kembali oleh Khidir tanpa mengambil upah apa-apa, Musa ingin mengusulkan kepada Khidir supaya menerima bayaran atas jasanya menegakkan dinding itu, yang dengan bayaran itu ia dapat membeli makanan dan minuman yang sangat dibutuhkannya.

Surah Al-Kahfi Ayat 78
قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا

Terjemahan: Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.

Tafsir Jalalain:قَالَ (Khidhir berkata) kepada Nabi Musa, هَذَا فِرَاقُ (“Inilah perpisahan) waktu perpisahan بَيْنِي وَبَيْنِكَ (antara aku dengan kamu). Lafal َيْنِ dimudhafkan kepada hal yang tidak Muta’addi atau berbilang, pengulangan lafal Baina di sini diperbolehkan karena di antara keduanya terdapat huruf ‘Athaf Wawu.

سَأُنَبِّئُكَ (Aku akan memberitahukan kepadamu) sebelum perpisahanku denganmu بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا (tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak sabar terhadapnya).

Tafsir Ibnu Katsir: قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ (“Khidhir berkata, ‘Inilah perpisahan antara diriku dan dirimu.”) Maksudnya, karena kamu telah memberikan syarat pada waktu pembunuhan anak kecil bahwa jika kamu bertanya kepadaku tentang sesuatu hal setelah itu, maka aku tidak boleh memperkenankan dirimu bersamaku lagi, dan sekarang inilah perpisahan antara diriku dengan dirimu.

Baca Juga:  Surah Al-Kahfi Ayat 89-91; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ (“Aku akan memberitahukan kepadamu penakwilan,”) yakni penafsiian; مَا لَمْ تَسْتَطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا (“[Tujuan perbuatan-perbuatan] yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.”)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan jawaban Khidir kepada Musa, “Pertanyaanmu yang ketiga kalinya ini adalah penyebab perpisahan antara aku dan kamu.” Sebagian Ulama Tafsir mengatakan bahwa sebab perpisahan itu tidak terjadi pada pertanyaan yang pertama dan kedua,

oleh karena pertanyaan pertama dan kedua itu menyangkut perbuatan yang munkar yaitu membunuh anak yang tidak berdosa dan membuat lubang (merusak) pada dinding kapal, maka wajarlah bila dimaafkan.

Adapun pertanyaan yang ketiga adalah Khidir berbuat baik kepada orang yang kikir, yang tidak mau memberikan jamuan kepadanya, dan perbuatan itu adalah perbuatan yang baik yang tidak perlu disangkal dan dipertanyakan.

Khidir berkata, “Aku akan memberitahukan kepadamu berbagai hikmah perbuatanku, yang kamu tidak sabar terhadapnya, yaitu membunuh anak, melubangi kapal dan menegakkan dinding rumah.

Tujuannya ialah untuk menyelamatkan kapal dari penyitaan orang yang zalim, menyelamatkan ibu-bapak anak yang dibunuh itu dari kekafiran andaikata ia hidup dan menggantinya dengan adiknya yang saleh serta menyelamatkan harta pusaka kepunyaan dua anak yatim yang berada di bawah dinding yang akan roboh itu.”.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Kahfi Ayat 77-78 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S