Surah Al-Qashash Ayat 10-13 ; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Qashash Ayat 10-13

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Qashash Ayat 10-13 ini, menerangkan bahwa janji Allah kepada ibu Musa telah terlaksana yaitu mengembalikan Musa kepadanya supaya hatinya menjadi tenteram dan tidak lagi merasa sedih. Demikian pula Allah telah menepati janji-Nya untuk mengangkat Musa menjadi rasul, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashash Ayat 10-13

Surah Al-Qashash Ayat 10
وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَى فَارِغًا إِن كَادَتْ لَتُبْدِي بِهِ لَوْلَا أَن رَّبَطْنَا عَلَى قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Terjemahan: Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).

Tafsir Jalalain: وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَى (Dan hati ibu Musa menjadi) setelah ia mengetahui bahwa bayinya telah diambil فَارِغًا (kosong) tidak memikirkan selain daripada bayinya. إِن (Sesungguhnya) lafal in di sini adalah bentuk Takhfif daripada Inna, sedangkan Isimnya dibuang, pada asalnya adalah Innaha, yakni sesungguhnya ibu Musa كَادَتْ لَتُبْدِي بِهِ (hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa) bahwa bayi itu adalah anaknya.

لَوْلَا أَن رَّبَطْنَا عَلَى قَلْبِهَا (seandainya tidak Kami teguhkan hatinya) dengan kesabaran, yakni Kami jadikan hatinya tenang لِتَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (supaya ia termasuk orang-orang yang percaya) kepada janji Allah. Jawab dari lafal Laula dapat disimpulkan dari pengertian kalimat sebelumnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman mengabarkan tentang perasaan ibu Musa ketika puteranya hilang bersama air laut, dimana ia merasa kosong dari selurh urusan dunia kecuali tentang Musa. Hal itu dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’ad bin Jubair, Abu ‘Ubaidah, adh-Dhahhak, al-Hasan al-Bashri, Qatadah dan selain mereka.

إِن كَادَتْ لَتُبْدِي بِهِ (“Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa”) yakni hal itu hampir saja terjadi karena begitu dahsyatnya perasaan dan kesedihannya, juga kekecewaannya, dimana ia memberitahukan tentang kehilangan anaknya, seandainya Allah tidak menetapkan dan memberinya kesabaran. Allah berfirman: لَوْلَا أَن رَّبَطْنَا عَلَى قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah menerangkan bagaimana keadaan ibu Musa setelah ia melemparkan anaknya ke sungai Nil untuk melaksanakan ilham yang diterimanya dari Allah. Walaupun tindakan yang dilakukannya berdasarkan ilham dari Allah dengan janji bahwa anaknya akan dikembalikan kepadanya, namun ia tetap gelisah dan tidak pernah merasa tenteram memikirkan nasib anaknya yang telah dihanyutkan ke sungai Nil.

Berbagai macam pertanyaan terlintas dalam pikiran ibu Musa. Kadang-kadang dia menyesali dirinya telah melakukan perbuatan itu. Bagaimanakah cara menemukan anaknya kembali? Apakah dia akan berteriak-teriak dan mengakui bahwa dia telah melemparkan anaknya ke sungai, kemudian minta tolong kepada khalayak ramai untuk mencarinya? Benar-benar hati dan pikirannya telah kosong.

Dia telah kehilangan akal dan kesadaran sehingga tak dapat berpikir lagi. Akan tetapi, Allah menguatkan hatinya dan menenteramkan pikirannya sehingga sadar dan percaya bahwa Allah telah menjanjikan akan mengembalikan anaknya ke pangkuannya dan kelak akan mengangkatnya menjadi rasul.

Tafsir Quraish Shihab: Hati ibunda Mûsâ menjadi gundah karena khawatir kalau-kalau putranya terjebak dalam genggaman Fir’aun. Ia hampir saja membuka rahasia bahwa bayi itu adalah anaknya. Kalau saja Allah tidak menguatkan hati wanita itu dengan kesabaran, tentu ia telah mengatakan bahwa bayi itu anaknya, karena sayangnya seorang ibu kepada sanaknya. Hal itu Kami lakukan agar ia termasuk golongan orang beriman yang diberi kedamaian.

Surah Al-Qashash Ayat Ayat 11
وَقَالَتْ لِأُخْتِهِ قُصِّيهِ فَبَصُرَتْ بِهِ عَن جُنُبٍ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Terjemahan: Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: “Ikutilah dia” Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya,

Tafsir Jalalain: وَقَالَتْ لِأُخْتِهِ (Dan ibu Musa berkata kepada saudara perempuan Musa) bernama Maryam, قُصِّيهِ (“Ikutilah dia”) maksudnya ikutilah jejaknya sehingga kamu mengetahui bagaimana kesudahan beritanya.

فَبَصُرَتْ بِهِ (Maka kelihatanlah olehnya Musa) dia mengawasinya عَن جُنُبٍ (dari jauh) dari tempat yang jauh seraya menguntitnya وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (sedangkan mereka tidak mengetahui) bahwa dia adalah saudara perempuan dari bayi tersebut, dan bahwasanya keberadaannya itu adalah untuk mengikuti jejaknya.

Tafsir Ibnu katsir: وَقَالَتْ لِأُخْتِهِ قُصِّيهِ (“Seandainya Kami tidak teguhkan hatinya, supaya dia termasuk orang-orang yang percaya [kepada janji Allah]. Dan berkatalah Ibu Musa kepada sudara perempuan Musa: ‘Ikutilah dia.’”) yakni ia memerintahkan puterinya yang telah dewasa yang telah mengerti apa yang diucapkannya dengan mengatakan: قُصِّيهِ yakni ikuti jejaknya, ambillah beritanya dan carilah kabarnya dari seluruh sudut negeri. Maka ia keluar untuk hal tersebut.

Baca Juga:  Surah Yusuf Ayat 73-76; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

فَبَصُرَتْ بِهِ عَن جُنُبٍ (“Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh.”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Dari satu arah.” Mujahid berkata: “Yaitu dari jauh.”

Qatadah berkata: “Ia mulai memperhatikannya dan seakan-akan ia tidak menghendakinya.” Hal itu dikarenakan, tatkala Musa as. sudah tinggal di istana Fir’aun dan sang permaisuri amat mencintainya dan memberikan kebebasan kepadanya, maka mereka mengajukan wanita-wanita penyusu di lingkungan istana, akan tetapi tidak satupun wanita yang berhasil membuatnya menyusu.

Lalu mereka keluar ke pasar-pasar untuk mencari seorang wanita yang layak menyusuinya. Ketika kakak perempuannya melihat bayi itu dalam gendongan mereka, ia mengenali adiknya, walaupun ia tidak menjelaskan dan mereka tidak mengetahuinya.

Tafsir Kemenag: Walaupun ibu Musa telah melaksanakan apa yang diilhamkan Allah kepadanya, namun hatinya belum tenteram. Oleh sebab itu, ia menyuruh anak perempuannya (kakak Musa) mencari-cari berita tentang Musa. Lalu kakak Musa pergi mengikuti peti yang berisi Musa. Akhirnya dia melihat dari kejauhan peti itu telah memasuki kawasan Fir’aun dan disela-matkan keluarganya. Meskipun peristiwa ini disaksikan orang banyak, tetapi mereka tidak menyadari kehadiran Musa di antara mereka.

Di istana orang-orang sibuk mencari siapa yang cocok menyusukan anak itu, karena ia menolak setiap wanita yang hendak menyusukannya. Setelah saudara Musa mengetahui hal ini, dia pun memberanikan diri tampil ke muka dan mengatakan bahwa ia mengetahui seorang wanita yang sehat dan banyak air susunya. Mungkin anak itu mau disusukan oleh wanita tersebut. Wanita itu dari keluarga baik-baik dan anak itu pasti akan dijaga dengan penuh perhatian dan penuh rasa kasih sayang.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa setelah saudara Musa mengucapkan kata-kata itu, lalu ibu Musa dibawa ke istana, mereka memandang kepadanya dengan rasa curiga dan mengemukakan pertanyaan, “Dari mana engkau tahu bahwa wanita itu akan menjaganya dengan baik dan akan menumpahkan kasih sayang terhadapnya?” Saudara Musa menjawab, “Tentu saja ia akan berbuat demikian karena mengharapkan kesenangan hati raja Fir’aun dan mengharapkan pemberian yang banyak darinya.” Dengan jawaban ini hilanglah kecurigaan mereka.

Musa kemudian dibawa kembali ke rumah ibunya. Sesampainya di rumah, ibunya meletakkan Musa di pangkuannya untuk disusukan. Dengan segera mulut Musa menangkap puting susu ibunya. Mereka yang hadir sangat gembira melihat hal itu dan dikirimlah utusan permaisuri raja untuk memberitakan hal itu.

Permaisuri memanggil ibu Musa dan memberinya hadiah dan pemberian yang banyak serta meminta kepadanya supaya ia bersedia tinggal di istana untuk merawat dan mengasuh Musa. Ibu Musa menolak tawaran itu dengan halus dan mengatakan kepada permaisuri bahwa dia mempunyai suami dan anak-anak dan tidak sampai hati meninggalkan mereka.

Dia memohon agar permaisuri mengizinkannya membawa Musa ke rumahnya. Permaisuri tidak merasa keberatan atas usul itu dan mengizinkan Musa dibawa ke rumah ibunya. Permaisuri memberinya perongkosan yang cukup. Di samping itu, permaisuri juga memberinya hadiah berupa uang, pakaian, dan lain sebagainya. Akhirnya kembalilah ibu Musa ke rumah membawa anak kandungnya dengan hati yang senang dan gembira.

Allah telah menghilangkan semua kegelisahan dan kekhawatiran ibu Musa dan menggantinya dengan ketenteraman, kemuliaan, dan rezeki yang melimpah dan mengembalikan Musa untuk tinggal bersama ibunya.

Tafsir Quraish Shihab: Kepada saudara perempuan Mûsâ, sang ibu berkata, “Ikutilah jejak Mûsâ, agar kamu mengetahui beritanya.” Ia kemudian melihat dari kejauhan, dengan penuh kehati-hatian agar tidak diketahui, sementara Fir’aun dan keluarganya tidak tahu bahwa ia adalah saudara perempuan Mûsâ.

Surah Al-Qashash Ayat Ayat 12
وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِن قَبْلُ فَقَالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَاصِحُونَ

Terjemahan: dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?”.

Tafsir Jalalain: وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِن قَبْلُ (Dan Kami cegah Musa menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukannya sebelum itu) maksudnya sebelum ia kembali berada di tangan ibunya. Yakni, Kami cegah dia untuk menerima air susu perempuan-perempuan yang mau menyusuinya selain dari air susu ibunya sendiri. Maka Nabi Musa menolak semua air susu perempuan-perempuan yang dihadirkan untuk menyusuinya,

فَقَالَتْ (maka berkatalah ia) yakni saudara perempuan Musa, هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ (“Maukah kalian aku tunjukkan kepada ahlul bait) ketika dia melihat mereka menaruh rasa belas kasihan kepada Musa يَكْفُلُونَهُ لَكُمْ (yang akan memeliharanya untuk kalian) yakni, yang akan menyusuinya dan mengurusnya وَهُمْ لَهُ نَاصِحُونَ (dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?”) menurut penafsiran lain Dhamir Lahu kembali kepada Raja Firaun, sebagai reaksi dari para pembantunya.

Baca Juga:  Surah Asy-Syu'ara Ayat 69-77; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Maksudnya setelah mereka mendengar usul saudara Musa, maka mereka menyetujui dan memperkuatnya dengan mengatakannya pula kepada Raja Firaun. Akhirnya permintaan Maryam dikabulkan, ia datang membawa ibu Musa, ternyata Musa mau menerima air susunya.

Kemudian Maryam. memberikan pendapat kepada mereka, bahwa ibu Musa adalah seorang wanita yang harum baunya dan baik air susunya. Maka ibu Musa diizinkan untuk menyusuinya di rumahnya sendiri, akhirnya ibu Musa kembali membawa bayinya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh firman-Nya,.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِن قَبْلُ (“Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang hendak menyusuinya sebelum itu.”) yaitu mencegah yang menjadi takdir.

Hal itu disebabkan karena kemuliaan dan terpeliharanya dia di sisi Allah dari penyusuan selain dari ibunya. Dan karena Allah swt. menjadikan hal itu sebagai sebab kembalinya dia kepada sang ibu untuk disusui. Itulah rasa aman yang ada setelah ia mengalami rasa takut. Ketika ia melihat mereka mulai kebingungan tentang siapa yang akan menyusuinya:

فَقَالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَاصِحُون َ(“Maka berkatalah saudara perempuan Musa: ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?”)

Tafsir Kemenag: Walaupun ibu Musa telah melaksanakan apa yang diilhamkan Allah kepadanya, namun hatinya belum tenteram. Oleh sebab itu, ia menyuruh anak perempuannya (kakak Musa) mencari-cari berita tentang Musa. Lalu kakak Musa pergi mengikuti peti yang berisi Musa. Akhirnya dia melihat dari kejauhan peti itu telah memasuki kawasan Fir’aun dan disela-matkan keluarganya. Meskipun peristiwa ini disaksikan orang banyak, tetapi mereka tidak menyadari kehadiran Musa di antara mereka.

Di istana orang-orang sibuk mencari siapa yang cocok menyusukan anak itu, karena ia menolak setiap wanita yang hendak menyusukannya. Setelah saudara Musa mengetahui hal ini, dia pun memberanikan diri tampil ke muka dan mengatakan bahwa ia mengetahui seorang wanita yang sehat dan banyak air susunya. Mungkin anak itu mau disusukan oleh wanita tersebut. Wanita itu dari keluarga baik-baik dan anak itu pasti akan dijaga dengan penuh perhatian dan penuh rasa kasih sayang.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa setelah saudara Musa mengucapkan kata-kata itu, lalu ibu Musa dibawa ke istana, mereka memandang kepadanya dengan rasa curiga dan mengemukakan pertanyaan, “Dari mana engkau tahu bahwa wanita itu akan menjaganya dengan baik dan akan menumpahkan kasih sayang terhadapnya?” Saudara Musa menjawab, “Tentu saja ia akan berbuat demikian karena mengharapkan kesenangan hati raja Fir’aun dan mengharapkan pemberian yang banyak darinya.” Dengan jawaban ini hilanglah kecurigaan mereka.

Musa kemudian dibawa kembali ke rumah ibunya. Sesampainya di rumah, ibunya meletakkan Musa di pangkuannya untuk disusukan. Dengan segera mulut Musa menangkap puting susu ibunya. Mereka yang hadir sangat gembira melihat hal itu dan dikirimlah utusan permaisuri raja untuk memberitakan hal itu.

Permaisuri memanggil ibu Musa dan memberinya hadiah dan pemberian yang banyak serta meminta kepadanya supaya ia bersedia tinggal di istana untuk merawat dan mengasuh Musa. Ibu Musa menolak tawaran itu dengan halus dan mengatakan kepada permaisuri bahwa dia mempunyai suami dan anak-anak dan tidak sampai hati meninggalkan mereka.

Dia memohon agar permaisuri mengizinkannya membawa Musa ke rumahnya. Permaisuri tidak merasa keberatan atas usul itu dan mengizinkan Musa dibawa ke rumah ibunya. Permaisuri memberinya perongkosan yang cukup. Di samping itu, permaisuri juga memberinya hadiah berupa uang, pakaian, dan lain sebagainya. Akhirnya kembalilah ibu Musa ke rumah membawa anak kandungnya dengan hati yang senang dan gembira.

Allah telah menghilangkan semua kegelisahan dan kekhawatiran ibu Musa dan menggantinya dengan ketenteraman, kemuliaan, dan rezeki yang melimpah dan mengembalikan Musa untuk tinggal bersama ibunya.

Tafsir Quraish Shihab: Allah tidak mengizinkan bayi itu untuk menyusu pada wanita lain, sebelum pada akhirnya mereka ditunjukkan kepada seorang ibundanya sendiri. Keluarga Fir’aun merasa cemas dengan hal itu. Saudara perempuan Mûsâ pun berkata kepada mereka, “Maukah kalian aku tunjukkan kepada sebuah keluarga yang akan memelihara, menyusui, mendidik dan menjaganya dengan baik?”

Surah Al-Qashash Ayat Ayat 13
فَرَدَدْنَاهُ إِلَى أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Baca Juga:  Surah Maryam Ayat 56-57; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Terjemahan: Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Tafsir Jalalain: فَرَدَدْنَاهُ إِلَى أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا (Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya supaya senang hatinya) karena bertemu kembali dengannya وَلَا تَحْزَنَ (dan tidak berduka cita) setelah itu وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ (dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu) yang akan mengembalikan Musa kepadanya حَقٌّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ (adalah benar, tetapi kebanyakan mereka) yakni manusia لَا يَعْلَمُونَ (tidak mengetahui) janji ini, dan mereka tidak pula mengetahui, bahwa Maryam adalah saudara Musa dan wanita yang dibawanya adalah ibunya sendiri.

Kemudian Musa tinggal bersama ibunya sampai masa penyapihan; setiap hari ibu Musa menerima upah pekerjaan menyusuinya sebanyak satu Dinar. Ibu Musa mau menerimanya karena menganggap bahwa uang itu adalah harta perang. Setelah itu ia membawanya kembali kepada Firaun, sejak itu Musa dibesarkan di lingkungan istana Firaun,

sebagaimana yang telah diungkapkan oleh firman-Nya sewaktu menceritakan tentang Musa dalam surah Asy Syu’ara, yaitu, “Bukankah kami telah mengasuhmu di dalam (keluarga) kami waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.” (Q.S. Asy Syu’ara, 18).

Tafsir Ibnu katsir: Mahasuci Allah yang di tangan-Nya segala urusan. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terwujud, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak terwujud, yang telah menjadikan bagi orang yang bertakwa sesudah kesedihannya ada kegembiraan dan sesudah kesempitannya ada kelapangan. Untuk itu Allah berfirman:

فَرَدَدْنَاهُ إِلَى أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا (“Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya hatinya tenang.”) karenanya: وَلَا تَحْزَنَ (“dan tidak berduka cita”) terhadapnya, وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ (“Dan agar ia mengetahui bahwa janji Allah itu benar”) yaitu janji-Nya untuk mengembalikan Musa kepada-Nya, serta menjadikannya salah seorang dari para Rasul. Maka di saat itu, terealisasi sudah dengan dikembalikannya Musa kepada dirinya dan diapun akan menjadi salah seorang Rasul, lalu ia berusaha membinanya dengan sesuatu yang layak menurut tabiat dan syar’i.

Firman Allah: وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (“Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”) yaitu tentang hukum Allah dalam perbuatan-perbuatan-Nya, serta akibat-akibat baiknya yang terpuji di dunia dan di akhirat. Terkadang, memang menjadi suatu perkara yang begitu dibenci oleh jiwa, padahal akibatnya secara hakiki amatlah terpuji,

sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi [pula] kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu.” (al-Baqarah: 216)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa janji Allah kepada ibu Musa telah terlaksana yaitu mengembalikan Musa kepadanya supaya hatinya menjadi tenteram dan tidak lagi merasa sedih. Demikian pula Allah telah menepati janji-Nya untuk mengangkat Musa menjadi rasul, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Siapa yang mengira bahwa seorang anak yang telah diincar maut karena dia anak dari Bani Israil kemudian disayangi dan diasuh dalam istana dengan penuh rasa cinta dan kasih dengan harapan dia akan berjasa bila dia dewasa. Akan tetapi, ternyata anak itu akan menjadi rasul dan menentang kekuasaan Fir’aun, bahkan meruntuhkan kerajaan itu sendiri.

Tafsir Quraish Shihab: Keluarga Fir’aun menerima usulan itu. Maka, dengan demikian, Allah benar-benar mengembalikan Mûsâ ke pangkuan ibunya, agar hatinya menjadi senang dan bersukacita atas kembalinya sang anak. Juga, agar sang ibu tidak lagi bersedih dengan berpisahnya sang anak, di samping agar ia semakin tahu bahwa janji Allah untuk mengembalikan Mûsâ ke pangkuannya benar-benar terjadi. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak tahu bahwa Mûsâ telah kembali kepada ibunya, karena hal itu merupakan suatu rahasia bagi mereka.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama
kandungan Surah Al-Qashash Ayat Ayat 10-13 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S