Surah Al-Qiyamah Ayat 26-40; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Qiyamah Ayat 26-40

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Qiyamah Ayat 26-40 ini, Allah menyerukan manusia supaya sekali-kali tidak melupakan akhirat. Apabila napas seseorang telah sampai ke kerongkongan maka pertobatan tidak ada lagi gunanya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kemudian dijelaskan bawah Allahmengingatkan manusia yang ingkar bagaimana air mani itu diciptakan Allah menjadi daging yang dengannya manusia diciptakan dengan sempurna melalui proses kehamilan. Adalah hal yang mudah juga bagi Allah menghidupkan manusia, kemudian mematikan dan menghidupkannya kembali.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qiyamah Ayat 26-40

Surah Al-Qiyamah Ayat 26
كَلَّآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلتَّرَاقِىَ

Terjemahan: “Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan,

Tafsir Jalalain: كَلَّآ إِذَا (Sekali-kali jangan) bermakna Alaa, yakni ingatlah. بَلَغَتِ (Apabila telah sampai) napas ٱلتَّرَاقِىَ (pada tenggorokan) atau kerongkongan.

Tafsir Ibnu Katsir:Allah menceritakan tentang keadaan sekarat dan berbagai hal mengerikan yang menyertainya. Mudah-mudahan saat ini Allah memberikan keteguhan kepada kita dengan ucapan yang teguh. Allah berfirman: كَلَّآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلتَّرَاقِىَ (“sekali-sekali jangan, apabila nafas telah mendesak sampai ke kerongkongan.”) jika kita menempatkan kata “kallaa” sebagai penolakan, maka hal itu berarti “di sana, wahai anak Adam, engkau tidak akan bisa mendustakan apa yang engkau tidak bisa mendustakan apa yang engkau beritahukan, bahkan semua itu akan tampak dengan jelas di depan matamu.” Dan jika kata itu kita artikan yang sebenarnya, maka maksudnya tampak jelas, yaitu sungguh jika nafas sudah sampai di tenggorokan.

Dengan kata lain, jika nyawamu telah terlepas dari ragamu dan sudah sampai di tenggorokanmu. Kata at-taraaqiy merupakan jamak dari kata tarquwwaH, yaitu tulang yang terdapat antara lubang urat-urat sembelihan dan pundak.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah menyerukan manusia supaya sekali-kali tidak melupakan akhirat. Apabila napas seseorang telah sampai ke kerongkongan maka pertobatan tidak ada lagi gunanya. Jangan sekali-kali terpengaruh dengan kehidupan duniawi dan ingatlah bahwa pada waktunya, jiwa manusia akan dicabut oleh malaikat maut.

Bila nyawa bercerai dengan tubuh, maka hubungan manusia dengan segala apa yang dimilikinya terputus dan ia akan menghadapi babak baru dari kehidupannya yang kekal dan abadi. Dalam ayat lain, Allah berfirman: Maka kalau begitu mengapa (tidak mencegah) ketika (nyawa) telah sampai di kerongkongan, dan kamu ketika itu melihat. (al-Waqi’ah/56: 83-84).

Tafsir Quraish Shihab: Terjegallah kalian dari cinta dunia yang akan kalian tinggalkan apabila ruh telah mencapai tulang kerongkongan. Mereka yang menyaksikan saling bertanya, “Adakah yang dapat menyembuhkan rasa sakit yang dideritanya?”

Orang yang tengah sekarat itu telah menduga bahwa apa yang dialaminya adalah perpisahan dengan dunia yang dicintainya. Rasa sakit pun semakin memuncak. Maka bertautlah betis dengan betis lainnya saat ruh dicabut. Hari itu, kepada Tuhanmulah para hamba akan digiring, baik ke surga maupun ke neraka.

Surah Al-Qiyamah Ayat 27
وَقِيلَ مَنۡ رَاقٍ

Terjemahan: “dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan?”,

Tafsir Jalalain: وَقِيلَ (Dan dikatakan) kepadanya oleh yang ada di sekitarnya: مَنۡ رَاقٍ (“Siapakah yang dapat mengobati?”) hingga sembuh.

Tafsir Ibnu Katsir: وَقِيلَ مَنۡ رَاقٍ (“Dan dikatakan, ‘Siapakah yang dapat menyembuhkan ?”) Ikrimah menceritakan dari Ibnu ‘Abbas, yaitu siapakah yang meruqyah. Demikian pula yang disampaikan oleh Abu Qilabah, “Yakni [siapakah] dari kalangan dokter-dokter yang dapat menyembuhkan. Dan dari Ibnu Abbas: “Siapakah yang merukyah ruhnya, malaikat pemberi rahmat atau malaikat pemberi adzab?” berdasarkan hal tersebut, ini termasuk ungkapan malaikat.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menggambarkan suasana orang yang dalam sakratulmaut ketika keluarganya bertanya-tanya, “Siapakah yang dapat menyembuhkan?” Secara umum, pada saat seseorang sedang sakratulmaut, kaum famili dan sanak keluarganya ditimpa oleh kegelisahan, “Siapa dan dokter mana gerangan yang dapat menyembuhkan dia dari sakitnya?”

Artinya usaha-usaha pengobatan tetap dilakukan, namun orang harus yakin kalau memang sudah ajal, tidak seorang pun yang dapat menyelamatkannya dari ketentuan Allah itu. Semuanya tanpa pandang bulu, bahkan semua yang fana ini pasti akan hancur. Hanya Allah sendiri yang tidak hancur.

Menurut Ibnu ‘Abbas, ayat ini berarti “siapakah gerangan yang mencabut nyawanya, apakah malaikat azab atau malaikat rahmat”. Pokoknya terjadi saling bertanya, apakah si mayat berbahagia atau celaka dengan kematiannya. Manusia memang tidak mengetahui sebelum kedatangan malaikat maut apakah ia akan selamat atau celaka.

Tafsir Quraish Shihab: Terjegallah kalian dari cinta dunia yang akan kalian tinggalkan apabila ruh telah mencapai tulang kerongkongan. Mereka yang menyaksikan saling bertanya, “Adakah yang dapat menyembuhkan rasa sakit yang dideritanya?”

Orang yang tengah sekarat itu telah menduga bahwa apa yang dialaminya adalah perpisahan dengan dunia yang dicintainya. Rasa sakit pun semakin memuncak. Maka bertautlah betis dengan betis lainnya saat ruh dicabut. Hari itu, kepada Tuhanmulah para hamba akan digiring, baik ke surga maupun ke neraka.

Surah Al-Qiyamah Ayat 28
وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ

Terjemahan: “dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia),

Tafsir Jalalain: وَظَنَّ (Dan dia yakin) yakni orang yang napasnya telah sampai di tenggorokan itu merasa yakin akan hal tersebut أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ (bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan) yaitu meninggalkan dunia.

Tafsir Ibnu Katsir: وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ (dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia),

Tafsir Kemenag: Ayat-ayat ini menggambarkan bahwa orang yang sedang menghadapi sakratulmaut itu yakin bahwa itulah saat perpisahan dengan dunia. Dalam bahasa lain dapat dikatakan bahwa di saat kematian datang, seseorang baru merasa yakin bahwa telah tiba saatnya berpisah buat selama-lamanya dengan dunia, harta, keluarga, dan sanak famili.

Allah sengaja menyebutkan kata-kata dhanna (yang sebenarnya berarti menyangka) karena pada saat jiwa akan melayang itu pun, dia masih sangat ingin hidup lagi disebabkan kecintaannya yang berlebihan terhadap kehidupan yang fana ini. Manusia belum begitu yakin akan kematiannya sendiri.

Pernyataan ayat ini yang menyebutkan “betis kirinya telah bertaut dengan betis kanan” mengandung arti bahwa dia sudah tidak dapat menggerakkan kedua betisnya (kaki)nya. Bahkan ia juga tidak lagi dapat menggerakkan batang tubuhnya karena organ dan jaringan tubuh telah berhenti bekerja.

Kata-kata iltaffa (bertaut) diartikan Ibnu ‘Abbas dengan bertautnya di saat kematian itu antara beratnya meninggalkan dunia ini dengan ketakutan yang luar biasa menghadapi akhirat. Bertautlah bala dengan bala, dan disitulah letaknya siksaan sakratulmaut yang hanya dapat dirasakan oleh yang bersangkutan.

Tafsir Quraish Shihab: Terjegallah kalian dari cinta dunia yang akan kalian tinggalkan apabila ruh telah mencapai tulang kerongkongan. Mereka yang menyaksikan saling bertanya, “Adakah yang dapat menyembuhkan rasa sakit yang dideritanya?”

Orang yang tengah sekarat itu telah menduga bahwa apa yang dialaminya adalah perpisahan dengan dunia yang dicintainya. Rasa sakit pun semakin memuncak. Maka bertautlah betis dengan betis lainnya saat ruh dicabut. Hari itu, kepada Tuhanmulah para hamba akan digiring, baik ke surga maupun ke neraka.

Surah Al-Qiyamah Ayat 29
وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ

Terjemahan: “dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan),

Tafsir Jalalain: وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ (Dan bertaut betis dengan betis) betis kanan dan betis kirinya bertaut ketika ia mati. Atau makna yang dimaksud ialah saling bertaut antara sakit berpisah dengan dunia dan sakit menghadapi akhirat di dalam dirinya.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan juga dari ibnu ‘Abbas, mengenai firman-Nya: وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ (“dan bertaut betis dengan betis.”) yakni perkara besar dengan perkara bersar.

Baca Juga:  Surah Al-Hijr Ayat 26-27; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ (“dan bertaut betis dengan betis.”) al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Keduanya adalah kedua betismu saat bertautan.” Dan dalam sebuah riwayat darinya, kedua kaki itu mati sehingga tidak bisa membawa dirinya, dimana biasanya ia melakukan perjalanan dengan menggunakan keduanya. demikian pula yang dikatakan oleh oleh as-Suddi dari Abu Malik. Dan dalam sebuah riwayat dari al-Hasan, yaitu balutan keduanya di dalam kafan.

Tafsir Kemenag: Ayat-ayat ini menggambarkan bahwa orang yang sedang menghadapi sakratulmaut itu yakin bahwa itulah saat perpisahan dengan dunia. Dalam bahasa lain dapat dikatakan bahwa di saat kematian datang, seseorang baru merasa yakin bahwa telah tiba saatnya berpisah buat selama-lamanya dengan dunia, harta, keluarga, dan sanak famili.

Allah sengaja menyebutkan kata-kata dhanna (yang sebenarnya berarti menyangka) karena pada saat jiwa akan melayang itu pun, dia masih sangat ingin hidup lagi disebabkan kecintaannya yang berlebihan terhadap kehidupan yang fana ini. Manusia belum begitu yakin akan kematiannya sendiri.

Pernyataan ayat ini yang menyebutkan “betis kirinya telah bertaut dengan betis kanan” mengandung arti bahwa dia sudah tidak dapat menggerakkan kedua betisnya (kaki)nya. Bahkan ia juga tidak lagi dapat menggerakkan batang tubuhnya karena organ dan jaringan tubuh telah berhenti bekerja.

Kata-kata iltaffa (bertaut) diartikan Ibnu ‘Abbas dengan bertautnya di saat kematian itu antara beratnya meninggalkan dunia ini dengan ketakutan yang luar biasa menghadapi akhirat. Bertautlah bala dengan bala, dan disitulah letaknya siksaan sakratulmaut yang hanya dapat dirasakan oleh yang bersangkutan.

Tafsir Quraish Shihab: Terjegallah kalian dari cinta dunia yang akan kalian tinggalkan apabila ruh telah mencapai tulang kerongkongan. Mereka yang menyaksikan saling bertanya, “Adakah yang dapat menyembuhkan rasa sakit yang dideritanya?”

Orang yang tengah sekarat itu telah menduga bahwa apa yang dialaminya adalah perpisahan dengan dunia yang dicintainya. Rasa sakit pun semakin memuncak. Maka bertautlah betis dengan betis lainnya saat ruh dicabut. Hari itu, kepada Tuhanmulah para hamba akan digiring, baik ke surga maupun ke neraka.

Surah Al-Qiyamah Ayat 30
إِلَىٰ رَبِّكَ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡمَسَاقُ

Terjemahan: “kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.

Tafsir Jalalain: إِلَىٰ رَبِّكَ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡمَسَاق (Kepada Rabbmulah pada hari itu mereka dihalau) atau kepada-Nyalah mereka digiring; hal ini menunjukkan tentang adanya Amil dalam lafal Idzaa. Lengkapnya, apabila nyawa telah sampai di tenggorokan, maka ia akan dihalau menuju kepada keputusan Rabbnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: إِلَىٰ رَبِّكَ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡمَسَاق (“Kepada Rabb-mulah pada hari itu kamu dihalau.”) yakni tempat kembali. Allah berfirman: “Kemudian mereka [hamba Allah] dikembalikan kepada Allah, Pengunasa mereka sebenarnya. Ketahuilah bahwa segala hukum [pada hari itu] adalah kepunyaan-Nya. Dan Dia-lah Pembuat perhitungan yang paling cepat.” (al-An’am: 62)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menegaskan bahwa pada hari itu manusia dihalau kepada Tuhannya, yakni dikembalikan apakah dia akan ditempatkan di neraka atau di dalam surga. Menurut Ibnu ‘Abbas, ayat ini merupakan pemberitaan tentang orang kafir yang tidak diterima di sisi Allah, roh yang dahulu tidak pernah mau beriman dan hanya berbuat menurut apa yang disukainya.

Pengertian ayat ini dikaitkan dengan ayat lain: Dan Dialah Penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya.

Kemudian mereka (hamba-hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah bahwa segala hukum (pada hari itu) ada pada-Nya. Dan Dialah pembuat perhitungan yang paling cepat. (al-An’am/6: 61-62).

Tafsir Quraish Shihab: Terjegallah kalian dari cinta dunia yang akan kalian tinggalkan apabila ruh telah mencapai tulang kerongkongan. Mereka yang menyaksikan saling bertanya, “Adakah yang dapat menyembuhkan rasa sakit yang dideritanya?” Orang yang tengah sekarat itu telah menduga bahwa apa yang dialaminya adalah perpisahan dengan dunia yang dicintainya.

Rasa sakit pun semakin memuncak. Maka bertautlah betis dengan betis lainnya saat ruh dicabut. Hari itu, kepada Tuhanmulah para hamba akan digiring, baik ke surga maupun ke neraka.

Surah Al-Qiyamah Ayat 31
فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّىٰ

Terjemahan: “Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Quran) dan tidak mau mengerjakan shalat,

Tafsir Jalalain: فَلَا صَدَّقَ (Dan ia tidak mau membenarkan) yaitu manusia وَلَا صَلَّىٰ (dan tidak mau mengerjakan salat) ia tidak mau mempercayai rasul dan tidak pula mau mendirikan salat.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّىٰ (“dan ia tidak mau membenarkan [Rasul dan al-Qur’an] dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan [Rasul] dan berpaling.”)

Tafsir Kemenag: Ayat-ayat ini menerangkan bahwa orang kafir itu tidak mau membenarkan rasul, dan berpaling dari kebenaran serta tidak mau mengerjakan salat. Ia selalu mendustakan Rasulullah dan Al-Qur’an, dan tidak mau mengesakan Allah. Ia tetap menyekutukan-Nya dan meyakini bahwa Tuhan itu berbilang. Ia juga tidak mau mengerjakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya, dan selalu menentang dan berpaling dari perintah Tuhan, serta terpengaruh oleh kesenangan duniawi.

Tafsir Quraish Shihab: Manusia telah mengingkari hari kebangkitan. Dengan demikian ia berarti tidak mempercayai rasul dan al-Qur’ân. Ia pun tidak menunaikan kewajiban salat yang Allah tentukan. Tetapi dia telah mendustakan al-Qur’ân dan menolak untuk beriman. Kemudian ia menemui keluarganya dengan membentangkan punggung tanda kepongahan.

Surah Al-Qiyamah Ayat 32
وَلَٰكِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ

Terjemahan: “tetapi ia mendustakan (Rasul) dam berpaling (dari kebenaran),

Tafsir Jalalain: وَلَٰكِن كَذَّبَ (Tetapi ia mendustakan) Alquran وَتَوَلَّىٰ (dan berpaling) dari iman.

Tafsir Ibnu Katsir: وَلَٰكِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ (“dan ia tidak mau membenarkan [Rasul dan al-Qur’an] dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan [Rasul] dan berpaling.”) ini adalah pemberitahuan tentang orang kafir, dimana ketika di dunia dia mendustakan kebenaran dengan hatinya, dan enggan untuk beramal dengan anggota tubuhnya, sehingga tidak ada kebaikan di dalam hatinya, baik lahir maupun batin.

Tafsir Kemenag: Ayat-ayat ini menerangkan bahwa orang kafir itu tidak mau membenarkan rasul, dan berpaling dari kebenaran serta tidak mau mengerjakan salat. Ia selalu mendustakan Rasulullah dan Al-Qur’an, dan tidak mau mengesakan Allah. Ia tetap menyekutukan-Nya dan meyakini bahwa Tuhan itu berbilang. Ia juga tidak mau mengerjakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya, dan selalu menentang dan berpaling dari perintah Tuhan, serta terpengaruh oleh kesenangan duniawi.

Tafsir Quraish Shihab: Manusia telah mengingkari hari kebangkitan. Dengan demikian ia berarti tidak mempercayai rasul dan al-Qur’ân. Ia pun tidak menunaikan kewajiban salat yang Allah tentukan. Tetapi dia telah mendustakan al-Qur’ân dan menolak untuk beriman. Kemudian ia menemui keluarganya dengan membentangkan punggung tanda kepongahan.

Surah Al-Qiyamah Ayat 33
ثُمَّ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ

Terjemahan: “kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong).

Tafsir Jalalain: ثُمَّ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ (Kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak) dengan langkah-langkah yang sombong.

Tafsir Ibnu Katsir: ثُمَّ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ (“dan ia tidak mau membenarkan [Rasul dan al-Qur’an] dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan [Rasul] dan berpaling. Kemudian dia pergi kepada ahlinya dengan berlagak.”) yaitu gembira, angkuh, sombong dan malas, tidak mempunyai gairah dan tidak juga mau beramal,

Tafsir Kemenag: Ayat ini selanjutnya menjelaskan bahwa orang kafir itu tidak hanya menantang dan tidak mau patuh kepada Allah, bahkan dia mendatangi keluarga dan sanak familinya untuk menceritakan segala sikapnya itu dengan sombong dan angkuh.

Baca Juga:  Surah Al-Qashash Ayat 21-24; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Orang-orang yang mengingkari Allah selalu bersikap mendustakan kebenaran Ilahi dengan hatinya, serta berbuat dan bertindak sehari-hari dengan sikap itu. Lebih dari itu, dia merasa bangga dan sombong terhadap apa yang dikerjakannya. Tidak sedikit pun kebaikan menurut pandangan Allah yang melekat pada diri orang itu, lahiriah maupun batiniah.

Tafsir Quraish Shihab: Manusia telah mengingkari hari kebangkitan. Dengan demikian ia berarti tidak mempercayai rasul dan al-Qur’ân. Ia pun tidak menunaikan kewajiban salat yang Allah tentukan. Tetapi dia telah mendustakan al-Qur’ân dan menolak untuk beriman. Kemudian ia menemui keluarganya dengan membentangkan punggung tanda kepongahan.

Surah Al-Qiyamah Ayat 34
أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰ

Terjemahan: “Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu,

Tafsir Jalalain: أَوۡلَىٰ لَكَ (Kecelakaanlah bagimu) di dalam ungkapan kalimat ini terkandung Iltifat dari Ghaibah, kalimat ini adalah Isim Fi’il, sedangkan huruf Lamnya menunjukkan makna Tabyin, artinya: dia menyerahkan kepadamu apa-apa yang tidak kamu sukai فَأَوۡلَىٰ (maka kecelakaanlah bagimu) yakni dia lebih utama untuk diprioritaskan olehmu.

Tafsir Ibnu Katsir: Qatadah dan Zaid bin Aslam mengatakan, Allah berfirman: أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰ (“Kecelakaanlah bagimu [hai orang kafir] dan kecelakaanlah bagimu. Kemudian kecelakaanlah bagimu [hai orang kafir] dan kecelakaanlah bagimu.”) ini merupakan intimidasi sekaligus ancaman keras dari Allah kepada orang kafir yang sombong dalam langkahnya.

Dengan kata lain, silakan engkau berjalan seperti ini, karena engkau memang telah kafir kepada al-Khaliq, Rabb Penciptamu. Sebagaimana kondisi seperti ini juga bisa diucapkan dengan nada mengintimidasi, dan mengancam, seperti misalnya firman Allah: “Rasakanlah, sesungguhnya engkau orang yang perkasa lagi mulia.” (ad-Dukhaan: 49)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menegaskan bahwa dengan nada mengancam, Allah mengingatkan orang kafir akan kedatangan kecelakaan baginya. Ucapan ini berarti suatu ancaman dan peringatan keras. Merekalah yang paling patut dan pantas menerima siksaan. Orang Arab mengucapkan kalimat itu kepada seseorang yang mengerjakan perbuatan tercela.

Tafsir Quraish Shihab: Pada hari itu pula, wajah orang-orang kafir nampak kusam karena teramat muram. Mereka telah menduga bahwa mereka akan ditimpakan suatu petaka yang amat dahsyat hingga membuat hancur tulang punggung-tulang punggung mereka.

Surah Al-Qiyamah Ayat 35
ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ

Terjemahan: “kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu.

Tafsir Jalalain: ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ (Kemudian kecelakaanlah bagimu dan kecelakaanlah bagimu) mengukuhkan makna ayat di atas.

Tafsir Ibnu Katsir: ثُمَّ أَوۡلَىٰ لَكَ فَأَوۡلَىٰٓ (“kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu.

Tafsir Kemenag: Ancaman ini diulang sekali lagi untuk memperkuatnya, “Kecelakaanlah bagi orang kafir dan kecelakaan baginya.” Diriwayatkan oleh ahli-ahli tafsir dari Qatadah bahwa pada suatu hari Rasulullah saw memegang erat-erat lengan Abu Jahal sambil menghardik musuh Allah itu, “Celaka engkau hai Abu Jahal, celaka engkau!”

Abu Jahal menjawab dengan sombong, “Muhammad, engkau mengancamku? Demi Allah, tak sanggup engkau berbuat sesuatu terhadapku, bahkan Tuhan yang engkau sembah juga tidak! Demi Allah, saya ini lebih perkasa dari segala orang yang berjalan antara bukit ini, dari segala penduduk Mekah.” Tetapi di hari pertempuran Badar, Allah membinasakan Abu Jahal dengan kematian yang buruk sekali. Ketika berita tewasnya Abu Jahal disampaikan kepada Rasulullah, beliau bersabda,

“Sesungguhnya setiap umat itu ada Fir’aunnya (ada orang yang paling sombong), maka Fir’aun dari umat ini adalah Abu Jahal.” Sa’id bin Jubair bertanya kepada Ibnu ‘Abbas tentang perkataan “aula laka fa aula” ini, apakah sesuatu yang diucapkan Nabi ini berasal dari dirinya atau memang Allah yang menyuruhnya? Ibnu ‘Abbas menjawab,

“Benar beliau yang mengucapkannya, kemudian Allah menurunkan wahyu sama dengan ucapan beliau itu.” Kutukan Allah ini berlaku bagi orang yang berwatak seperti Abu Jahal yang akan muncul pada setiap masa.

Tafsir Quraish Shihab: Celaka, dan celakalah kamu, wahai pendusta! Lalu celaka, dan celakalah kamu selamanya!

Surah Al-Qiyamah Ayat 36
أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى

Terjemahan: “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?

Tafsir jalalalain: أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ (Apakah manusia mengira) menduga أَن يُتۡرَكَ سُدًى (bahwa ia akan dibiarkan begitu saja) tanpa dibebani dengan syariat-syariat; janganlah ia menduga seperti itu.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى (“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja?”) as-Suddi mengatakan: “Yakni tidak dibangkitkan.” Mujahid, asy-Syafi’i, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Yakni tidak diperintah dan tidak juga dilarang.”

Secara lahiriyah ayat tersebut mencakup kedua keadaan tersebut. Dan yang dimaksudkan disini adalah penetapan adanya kebangkitan dan penolakan terhadap orang-orang yang mengingkarinya dari kalangan orang-orang yang melakukan penyimpangan, orang-orang bodoh lagi membangkang.

Tafsir Kemenag: Ayat ini mengemukakan dalil tentang kebenaran hari kebangkitan dengan menggunakan kalimat pertanyaan, yaitu apakah manusia dijadikan percuma begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? Apakah manusia diciptakan kemudian dibiarkan hidup seenaknya, tanpa ada perintah dan larangan dari Allah yang harus ditaatinya? Apakah setelah ia mati, Allah tidak meminta pertanggungjawaban hidupnya, di alam kubur dan di Padang Mahsyar kelak? Allah berfirman:

Sungguh, hari Kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan. (thaha/20: 15) Firman Allah lainnya: Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (sad/38: 27)

Dalil yang terdapat di balik pengertian ayat ini adalah meyakinkan kepada manusia yang ragu tentang adanya hari kebangkitan, dan menolak atau membantah dengan keras orang yang mengingkarinya, baik karena kecerobohan, sikap keras kepala, atau hanya karena ingin mempermainkan ayat-ayat suci.

Tafsir Quraish Shihab: Apakah manusia yang mengingkari hari kebangkitan itu mengira akan dibiarkan begitu saja–hidup, mati dan selesai–tanpa mempertanggungjawabkan segala perbuatannya?

Surah Al-Qiyamah Ayat 37
أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةً مِّن مَّنِىٍّ يُمۡنَىٰ

Terjemahan: “Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim),

Tafsir Jalalalain: أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةً (Bukankah dia dahulu) sebelum itu ِّمِّن مَّنِىٍّ يُمۡنَىٰ (setetes mani yang ditumpahkan) ke dalam rahim; lafal Yumnaa dapat pula dibaca Tumnaa.

Tafsir Ibnu Katsir: Oleh karena itu, Allah berfirman seraya berdalil tentang pembangkitan makhluk dengan penciptaan pertama. dimana Dia berfirman: أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةً مِّن مَّنِىٍّ يُمۡنَىٰ (“Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan.”) maksudnya bukankah manusia itu hanya berasal dari air mani yang lemah dan hina yang dituang, dan ditumpahkan dari tulang rusuk ke dalam rahim.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat-ayat ini, Allah mengingatkan kembali tentang asal mula penciptaan manusia, yaitu ia diciptakan dari setetes air mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim) Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakan, dan menyempurnakannya. Allah juga menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan.

Ayat ini mengingatkan manusia yang ingkar bagaimana air mani itu diciptakan Allah menjadi daging yang dengannya manusia diciptakan dengan sempurna melalui proses kehamilan. Adalah hal yang mudah juga bagi Allah menghidupkan manusia, kemudian mematikan dan menghidupkannya kembali.

Baca Juga:  Surah An Nisa Ayat 37; Seri Tadabbur Al Qur'an

Sperma laki-laki dan sel telur perempuan bercampur menjadi satu sehingga tercipta manusia yang sempurna, lengkap dengan penglihatan dan pendengaran, baik dari jenis laki-laki maupun perempuan. Maka apakah manusia tidak pernah memikirkan bahwa sang Pencipta dari segala proses kejadian itu mampu pula menghancurkan dunia ini kemudian menciptakan hari Kiamat serta manusia yang telah mati dibangkitkan hidup kembali? Ini suatu penegasan bagi manusia yang mau berpikir andaikata masih ragu-ragu tentang kekuasaan Allah untuk menghidupkan kembali manusia yang telah mati.

Tafsir Quraish Shihab: Bukankah manusia berasal dari setetes air mani yang dikokohkan untuk dibentuk di dalam rahim, lalu menjadi ‘alaqah (segumpal darah kental) dan akhirnya diciptakan dan disempurnakan oleh Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya?

Surah Al-Qiyamah Ayat 38
ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ

Terjemahan: “kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya,

Tafsir Jalalalain: ثُمَّ كَانَ (Kemudian adalah) mani itu عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ (menjadi segumpal darah lalu Allah menciptakannya) dari air mani itu menjadi manusia (dan menyempurnakannya) melengkapinya dengan anggota-anggota tubuh yang diperlukannya.

Tafsir Ibnu Katsir: ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ (“Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya.”) yakni menjadi segumpal darah, kemudian segumpal daging, dan selanjutnya dibentuk dan ditiupkan ruh ke dalamnya sehingga akhirnya menjadi makhluk lain yang sempurna dengan anggota tubuh yang normal, laki-laki maupun perempuan, dengan izin Allah dan ketetapan-Nya.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat-ayat ini, Allah mengingatkan kembali tentang asal mula penciptaan manusia, yaitu ia diciptakan dari setetes air mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim) Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakan, dan menyempurnakannya. Allah juga menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan.

Ayat ini mengingatkan manusia yang ingkar bagaimana air mani itu diciptakan Allah menjadi daging yang dengannya manusia diciptakan dengan sempurna melalui proses kehamilan. Adalah hal yang mudah juga bagi Allah menghidupkan manusia, kemudian mematikan dan menghidupkannya kembali.

Sperma laki-laki dan sel telur perempuan bercampur menjadi satu sehingga tercipta manusia yang sempurna, lengkap dengan penglihatan dan pendengaran, baik dari jenis laki-laki maupun perempuan. Maka apakah manusia tidak pernah memikirkan bahwa sang Pencipta dari segala proses kejadian itu mampu pula menghancurkan dunia ini kemudian menciptakan hari Kiamat serta manusia yang telah mati dibangkitkan hidup kembali? Ini suatu penegasan bagi manusia yang mau berpikir andaikata masih ragu-ragu tentang kekuasaan Allah untuk menghidupkan kembali manusia yang telah mati.

Tafsir Quraish Shihab: Bukankah manusia berasal dari setetes air mani yang dikokohkan untuk dibentuk di dalam rahim, lalu menjadi ‘alaqah (segumpal darah kental) dan akhirnya diciptakan dan disempurnakan oleh Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya?

Surah Al-Qiyamah Ayat 39
فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ

Terjemahan: “lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan.

Tafsir Jalalalain: فَجَعَلَ مِنۡهُ (Lalu Allah menjadikan daripadanya) dari air mani yang telah menjadi segumpal darah, segumpal daging ٱلزَّوۡجَيۡنِ (sepasang) dua jenis ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ (laki-laki dan perempuan) terkadang menjadi satu dan terkadang tersendiri.

Tafsir Ibnu Katsir: Oleh karena itu Allah berfirman: فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ (“Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang laki-laki dan perempuan.”)

Tafsir Kemenag: Dalam ayat-ayat ini, Allah mengingatkan kembali tentang asal mula penciptaan manusia, yaitu ia diciptakan dari setetes air mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim) Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakan, dan menyempurnakannya. Allah juga menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan.

Ayat ini mengingatkan manusia yang ingkar bagaimana air mani itu diciptakan Allah menjadi daging yang dengannya manusia diciptakan dengan sempurna melalui proses kehamilan. Adalah hal yang mudah juga bagi Allah menghidupkan manusia, kemudian mematikan dan menghidupkannya kembali.

Sperma laki-laki dan sel telur perempuan bercampur menjadi satu sehingga tercipta manusia yang sempurna, lengkap dengan penglihatan dan pendengaran, baik dari jenis laki-laki maupun perempuan.

Maka apakah manusia tidak pernah memikirkan bahwa sang Pencipta dari segala proses kejadian itu mampu pula menghancurkan dunia ini kemudian menciptakan hari Kiamat serta manusia yang telah mati dibangkitkan hidup kembali? Ini suatu penegasan bagi manusia yang mau berpikir andaikata masih ragu-ragu tentang kekuasaan Allah untuk menghidupkan kembali manusia yang telah mati.

Tafsir Quraish Shihab: Lalu ia dijadikan berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan.

Surah Al-Qiyamah Ayat 40
أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡۦِىَ ٱلۡمَوۡتَىٰ

Terjemahan: “Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?

Tafsir Jalalalain: أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ (Bukankah yang berbuat demikian) yang mengerjakan kesemuanya itu بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡۦِىَ ٱلۡمَوۡتَىٰ (berkuasa pula menghidupkan orang mati?) Nabi saw. menjawab, tentu saja dapat.

Tafsir Ibnu Katsir: kemudian Allah berfirman: أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡۦِىَ ٱلۡمَوۡتَى (“Bukankah yang berbuat demikian berkuasa [pula] menghidupkan orang yang mati?”) maksudnya, bukankah Allah yang telah menciptakan makhluk yang sempurna dari air yang lemah ini mampu untuk mengembalikannya?”

Tafsir Kemenag: Ayat ini merupakan jawaban dari semua itu, bahwa bukankah Allah yang berbuat demikian, berkuasa pula menghidupkan orang yang telah mati? Maksud pernyataan ini adalah apakah Zat yang menciptakan makhluk yang sempurna dari setetes air mani itu tidak sanggup mengembalikan orang yang sudah meninggal? Justru yang demikian itu lebih mudah bagi-Nya.

Begitulah Allah menegaskan dalam firman-Nya: Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (ar-Rum/30: 27)

Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa bila selesai membaca surah ini, Rasulullah saw berdoa: Selepas membaca Surah al-Qiyamah, Rasulullah memanjatkan doa, “Subhanaka Allahumma wa bala (Maha Suci Engkau ya Allah dan Engkaulah yang Mahakuasa). (Riwayat Ibnu Mardawaih dari Abu Hurairah)

Demikian pula bila selesai membaca Surah at-Tin, beliau berdoa: Rasulullah bersabda: Siapa saja yang membaca Surah at-Tin sampai selesai, hendaklah ia berdoa, “Bala wa’ana dhalikum minasy-syahidin (Ya , saya bersaksi atas hal tersebut). Dan siapa yang membaca Surah al-Qiyamah sampai akhir, hendaklah ia berdoa, “Bala” (ya, Engkaulah yang Mahakuasa). Dan siapa yang membaca Surah al-Mursalat hingga akhir, hendaklah ia berdoa, “Amanna billahi (kami beriman kepada Allah). (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidhi, ibnu al-Mindhir, Ibnu Mardawaih, al-Baihaqi, dan disahihkan oleh al-hakim dari Abu Hurairah) Doa-doa di atas dibaca Rasulullah setelah membaca ayat-ayat seperti ini ketika di luar salat. Sedangkan ketika dalam salat, beliau tidak melakukannya dan tidak terdapat keterangan atau dalil tentang hal itu. .

Tafsir Quraish Shihab: Bukankah pencipta segala sesuatu dengan daya cipta yang mahahebat ini Mahakuasa untuk menghidupkan kembali semua yang telah mati setelah tulang belulang mereka dikumpulkan?

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Qiyamah Ayat 26-40 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S