Surah As-Saff Ayat 1-4; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah As-Saff Ayat 1-4

Pecihitam.org – Kandungan Surah As-Saff Ayat 1-4 ini, sebelum membahas kandungan ayat terlebih dahulu kita mengetahui isi kandungan surah. Surah ini dibuka dengan pemberitahuan bahwa semua makhluk yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada Allah, bahwa orang-orang Mukmin tidak pantas mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakan, dan bahwa Allah menyukai mereka yang bersatu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ayat-ayat selanjutnya dalam Surah ini, melalui dua orang nabi yang mulia, Mûsâ dan ‘Isâ, mencela sikap keras kepala dan sikap kafir Bânû Isrâ’îl. Banû Isrâ’îl itu ingin memadamkan cahaya ilahi, padahal Allah telah menyempurnakan cahaya itu sehingga tidak akan padam. Selain itu, disebutkan pula janji Allah yang pasti benar untuk membuat agama ini berjaya di atas lainnya, meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya.

Surah ini ditutup dengan anjuran untuk berjuang di jalan Allah dengan mengorbankan harta dan jiwa, janji kepada orang-orang Mukmin berupa ampunan dan surga serta satu lagi yang mereka sukai; pertolongan dari Allah dan kemenangan yang didapat dalam waktu dekat.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah As-Saff Ayat 1-4

Surah As-Saff Ayat 1
سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

Terjemahan: Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Tafsir Jalalain: سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ (Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi) yakni semuanya memahasucikan-Nya. Huruf lam yang terdapat pada lafal lillaah adalah huruf zaidah; dan di sini dipakai lafal maa, karena lebih memprioritaskan yang mayoritas وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ (dan Dialah Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya ٱلۡحَكِيمُ (lagi Maha Bijaksana) di dalam perbuatan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Salam, ia menuturkan: kami pernah bermusyawarah, siapakah di antara kalian yang bersedia datang kepada Rasulullah saw. untuk menanyakan kepada beliau tentang amal apakah yang paling disukai Allah. Namun tidak ada satu orang pun dari kami yang beranjak bangun.

Kemudian Rasulullah saw. mengutus seseorang kepada kami. Lalu utusan itu mengumpulkan kami dan membacakan surah ini kepada kami. Yakni surah ash-Shaff secara keseluruhan.” Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Tafsir Kemenag: Segala apa yang di langit dan bumi mengakui bahwa hanyalah Allah yang berhak disembah tidak ada yang lain, Dialah yang menciptakan, menguasai, menjaga kelangsungan hidup, serta menentukan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini.

Allah mempunyai sifat-sifat yang sempurna, dan semua makhluk tunduk di bawah kehendak-Nya. Dia menciptakan segala sesuatu sesuai dengan maksud dan tujuan yang Dia kehendaki, serta sesuai pula dengan kegunaannya.

Tafsir Quraish Shihab: Surah ini dibuka dengan pemberitahuan bahwa semua makhluk yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada Allah, bahwa orang-orang Mukmin tidak pantas mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakan, dan bahwa Allah menyukai mereka yang bersatu.

Ayat-ayat selanjutnya dalam Surah ini, melalui dua orang nabi yang mulia, Mûsâ dan ‘Isâ, mencela sikap keras kepala dan sikap kafir Bânû Isrâ’îl. Banû Isrâ’îl itu ingin memadamkan cahaya ilahi, padahal Allah telah menyempurnakan cahaya itu sehingga tidak akan padam.

Selain itu, disebutkan pula janji Allah–yang pasti benar–untuk membuat agama ini berjaya di atas lainnya, meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya. Surah ini ditutup dengan anjuran untuk berjuang di jalan Allah dengan mengorbankan harta dan jiwa, janji kepada orang-orang Mukmin berupa ampunan dan surga serta satu lagi yang mereka sukai; pertolongan dari Allah dan kemenangan yang didapat dalam waktu dekat.

Di bagian akhir terdapat anjuran agar orang-orang Mukmin hendaknya menjadi pembela Allah seperti Hawâriyyûn yang menjadi penolong ‘Isâ putra Maryam. Allah sungguh akan mendukung dan membela orang-orang Mukmin dengan pertolongan-Nya.

Baca Juga:  Surah As-Saff Ayat 10-13; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dia Maha Perkasa atas segala sesuatu lagi Mahabijaksana.]] Segala yang ada di langit dan bumi menyucikan Allah dari hal-hal yang tidak pantas bagi-Nya. Hanya Dia yang Mahaperkasa atas segala sesuatu lagi Mahabijaksana.

Surah As-Saff Ayat 2
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ

Terjemahan: Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?

Tafsir Jalalain: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ (Hai orang-orang yang beriman mengapa kalian mengatakan) sewaktu kalian meminta berjihad مَا لَا تَفۡعَلُونَ (apa yang tidak kalian perbuat) karena ternyata kalian mengalami kekalahan atau mundur dalam perang Uhud.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ (“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?”) ini merupakan pengingkaran Allah terhadap orang yang menetapkan suatu janji atau mengatakan suatu ucapan tetapi ia tidak memenuhinya.

Oleh karena itu ayat ini dijadikan sebagai landasan bagi ulama salaf yang berpendapat mengharuskan pemenuhan janji itu secara mutlak, baik janji itu adalah sesuatu yang harus dilaksanakan atau tidak. Dalam hal ini mereka berlandaskan pada sunnah juga, sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab ash-Shahihain, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: jika berjanji ia mengingkari, jika berbicara ia berdusta dan jika dipercaya ia berkhianat.”

Dan dalam hadits yang lainnya juga masih dalam kitab shahih disebutkan: “Ada empat perkara yang barangsiapa pada dirinya terdapat keempat perkara tersebut, maka ia termasuk munafik murni. Dan barangsiapa yang pada dirinya terdapat salah satu dari keempat itu, maka padanya telah terdapat salah satu ciri kemunafikan sampai ia meninggalkannya.” Kemudian beliau menyebutkan diantaranya, yaitu tidak menepati janji.

Tafsir Kemenag: Setelah Allah menerangkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, ia mengingatkan kaum Muslimin akan kekurangan-kekurangan yang ada pada mereka, yaitu mereka mengatakan suatu perkataan, tetapi mereka tidak merealisasikan atau mengerjakannya. Di antaranya, mereka berkata, “Kami ingin mengerjakan kebajikan-kebajikan yang diperintahkan Allah,” tetapi jika datang perintah itu, mereka tidak mengerjakannya.

Ada dua macam kelemahan manusia yang dikemukakan ayat ini, yaitu:

  1. Ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan mereka. Kelemahan ini kelihatannya mudah diperbaiki, tetapi sukar dilaksanakan. Sangat banyak manusia yang pandai berbicara, suka menganjurkan suatu perbuatan baik, dan mengingatkan agar orang lain menjauhi larangan-larangan Allah, tetapi ia sendiri tidak melaksanakannya. Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas bahwa ‘Abdullah bin Rawahah berkata, “Para mukmin pada masa Rasulullah sebelum jihad diwajibkan berkata, “Seandainya kami mengetahui perbuatan-perbuatan yang disukai Allah, tentu kami akan melaksanakannya.” Maka Rasulullah menyampaikan bahwa perbuatan yang paling disukai Allah ialah beriman kepada-Nya, berjihad menghapuskan kemaksiatan yang dapat merusak iman, dan mengakui kebenaran risalah yang disampaikan Nabi-Nya. Setelah datang perintah jihad, sebagian orang-orang yang beriman merasa berat melakukannya. Maka turunlah ayat ini sebagai celaan akan sikap mereka yang tidak baik itu.
  2. Tidak menepati janji yang telah mereka buat. Suka menepati janji yang telah ditetapkan merupakan salah satu ciri dari ciri-ciri orang-orang yang beriman. Jika ciri itu tidak dipunyai oleh orang yang mengaku beriman kepada Allah dan rasul-Nya, berarti ia telah menjadi orang munafik.

Rasulullah saw bersabda:Tanda orang munafik ada tiga macam: bila berjanji, ia menyalahi janjinya, bila berkata, ia berdusta dan bila dipercaya, ia berkhianat. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Namun tidak berarti bahwa orang-orang tidak boleh mengatakan kebenaran bila ia sendiri belum mampu melaksanakannya. Mengatakan kebenaran wajib, sedangkan melaksanakannya tergantung kemampuan. Allah berfirman:

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (at-Tagabun/64: 16)

Tafsir Quraish Shihab: Wahai orang-orang yang beriman, untuk apa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan?

Surah As-Saff Ayat 3
كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 131-132; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Terjemahan: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

Tafsir Jalalain: كَبُرَ (Amat besar) yakni besar sekali مَقۡتًا (kebencian) lafal maqtan berfungsi menjadi tamyiz عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ (di sisi Allah bahwa kalian mengatakan) lafal an taquuluu menjadi fa’il dari lafal kabura مَا لَا تَفۡعَلُونَ (apa-apa yang tiada kalian kerjakan).

Tafsir Ibnu Katsir: Oleh karena itu Allah menegaskan pengingkaran terhadap mereka melalui firman-Nya: كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ (“Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”)

Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah, ia menuturkan: Rasulullah saw. pernah mendatangi kami, ketika itu aku masih kecil. Kemudian aku pergi untuk bermain, maka ibuku berkata kepadaku:

“Wahai ‘Abdullah, kemarilah, aku akan memberimu sesuatu.” Maka Rasulullah saw. bersabda kepadanya [ibunya]: “Apa yang hendak engkau berikan kepadanya?” “Kurma.” Jawabnya. Lalu beliau bersabda: “Tahukah engkau, jika engkau tidak melakukannya, maka telah ditetapkan bagimu dusta.”

Imam Malik berpendapat bahwa jika suatu janji terkait dengan sesuatu yang harus dilaksanakan pada orang yang diberi janji, maka janji tersebut harus dipenuhi. Misalnya jika ada orang yang berkata kepada kawannya: “Jika engkau menikah, maka setiap hari engkau berhak mendapatkan ini.”

Kemudian orang itupun menikah, maka ia pun harus memenuhi janjinya terkait dengan hak manusia, berdasarkan adanya tekanan atau desakan. Namun menurut jumhur ulama, hal tersebut tidak wajib secara mutlak.

Dalam hal ini, mereka beralasan bahwa ayat tersebut turun ketika orang-orang mengharap diturunkannya kembali kewajiban jihad kepada mereka, tetapi setelah kewajiban jihad itu diberikan, sebagian mereka ingkar. Demikian pendapat yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Muqatil bin Hayyan mengemukakan, orang-orang mukmin berkata: “Seandainya kami menemukan amalan yang paling disukai oleh Allah, pasti kami akan mengamalkannya.” Kemudian Allah menunjukkan kepada mereka amalan yang paling dicintai-Nya, melalui firman-Nya:

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِۦ صَفًّا (“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur.”) Allah menjelaskan kepada mereka bahwa mereka diuji melalui peperangan Uhud, namun mereka berpaling dari Rasulullah saw. seraya meninggalkan beliau. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya yang berkenaan dengan hal tersebut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ (“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?”) padahal menurut firman-Nya: “Orang yang paling Aku cintai di antara kamu adalah siapa yang berperang di jalan-Ku.”

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan keadaan perang. Ada yang berkata: “Aku telah berperang.” Padahal ia sama sekali tidak berperang. “Aku telah menikam.” Padahal ia sama sekali tidak melakukannya dan lain-lain.

Mengenai firman Allah: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ (“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?”) imam Malik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam, ia mengatakan: “Yakni jihad.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, ia bercerita: Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga kelompok orang yang Allah akan tertawa kepada mereka, yaitu pada orang yang bangun tengah malam, kepada orang-orang jika berbaris untuk mengerjakan shalat, dan orang-orang jika berbaris untuk berperang.” (HR Ibnu Majah)

Tafsir Kemenag: Allah memperingatkan bahwa sangat besar dosanya orang mengatakan sesuatu, tetapi ia sendiri tidak melaksanakannya. Hal ini berlaku baik dalam pandangan Allah maupun dalam pandangan masyarakat.

Menepati janji merupakan perwujudan iman yang kuat. Budi pekerti yang agung, dan sikap yang berperikemanusiaan pada seseorang, menimbulkan kepercayaan dan penghormatan masyarakat. Sebaliknya, perbuatan menyalahi janji tanda iman yang lemah, serta tingkah laku yang jelek dan sikap yang tidak berperikemanusiaan, akan menimbulkan saling mencurigai dan dendam di dalam masyarakat. Oleh karena itulah, agama Islam sangat mencela orang yang suka berdusta dan menyalahi janjinya.

Baca Juga:  Surah At-Taubah Ayat 50-51; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Agar sifat tercela itu tidak dipunyai oleh orang-orang beriman, alangkah baiknya jika menepati janji dan berkata benar itu dijadikan tujuan pendidikan yang utama yang diajarkan kepada anak-anak di samping beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan melatih diri mengerjakan berbagai bentuk ibadah yang diwajibkan.

Tafsir Quraish Shihab: Allah sungguh sangat benci kalau kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan.

Surah As-Saff Ayat 4
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِۦ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنۡيَٰنٌ مَّرۡصُوصٌ

Terjemahan: Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

Tafsir Jalalain: إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ (Sesungguhnya Allah menyukai) artinya selalu menolong dan memuliakan ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِۦ صَفًّا (orang-orang yang berperang di jalannya dalam barisan yang teratur) lafal shaffan merupakan hal atau kata keterangan keadaan, yakni dalam keadaan berbaris rapi كَأَنَّهُم بُنۡيَٰنٌ مَّرۡصُوصٌ (seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh) yakni sebagian di antara mereka menempel rapat dengan sebagian yang lain lagi kokoh.

Tafsir Ibnu Katsir: Mengenai firman Allah: إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِۦ صَفًّا (“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni teguh, tidak akan tumbang, masing-masing bagian mereka erat dengan yang lain.”

Adapun Qatadah, masih mengenai firman-Nya ini: كَأَنَّهُم بُنۡيَٰنٌ مَّرۡصُوصٌ (“Seakan akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”) ia mengatakan: “Tidakkah engkau perhatikan pemilik bangunan, bagaimana ia tidak ingin bangunannya itu berantakan.”

Demikian pula Allah Yang Maha perkasa lagi Mahamulia tidak menyukai jika perintah-Nya tidak dipenuhi. Dia telah membariskan orang-orang mukmin dalam peperangan dan shalat. Maka kalian harus berpegang teguh pada perintah-Nya, karena ia merupakan pelindung bagi orang yang mau perpegang kepadanya. Semua tafsiran ini telah disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah memuji orang-orang yang berperang di jalan-Nya dengan barisan yang teratur dan persatuan yang kokoh. Allah menyukai kaum Muslimin yang demikian. Tidak ada celah-celah perpecahan, walau yang kecil sekali pun, seperti tembok yang kokoh yang tersusun rapat dari batu-batu beton.

Ayat ini mengisyaratkan kepada kaum Muslimin agar mereka menjaga persatuan yang kuat dan persatuan yang kokoh, mempunyai semangat yang tinggi, suka berjuang, dan berkorban.

Membentuk dan menjaga persatuan serta kesatuan di kalangan kaum Muslimin berarti menyingkirkan segala sesuatu yang mungkin menimbulkan perpecahan, seperti perbedaan pendapat tentang sesuatu yang sepele dan tidak penting, sifat mementingkan diri sendiri, membangga-banggakan suku dan keturunan, mementingkan golongan, tidak berperikemanusiaan, dan sebagainya.

Oleh karena itulah, dalam membina persatuan dan kesatuan, Allah memperingatkan dan memerintahkan kaum Muslimin menjaga dan mengatur saf (barisan) dalam salat dengan rapi, bahu-membahu, tidak ada satu pun tempat yang kosong.

Tempat yang kosong akan diisi oleh setan, sedangkan setan adalah musuh manusia. Tidak baik jika seseorang salat sendirian di belakang saf, kecuali dengan menarik ke belakang seorang yang berada dalam saf yang di depannya. Mengatur barisan dalam salat merupakan latihan mengatur barisan dalam berjihad di jalan Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang untuk menegakkan agama Allah dalam keadaan bersatu seperti bangunan yang kokoh.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah As-Saff Ayat 1-4 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S