Surah Maryam Ayat 59-60; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Maryam Ayat 59-60

Pecihitam.org – Kandungan Surah Maryam Ayat 59-60 ini, menerangkan bahwa banyak di antara orang-orang datang kemudian sesudah meninggalnya para nabi dan rasul yang disebutkan pada ayat-ayat yang lalu, menyimpang dari jalan yang lurus,

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

meninggalkan ajaran yang dibawa para rasul sebelumnya sehingga mereka tidak lagi mengerjakan salat dan selalu memperturutkan kehendak hawa nafsu dan dengan terang-terangan melanggar larangan Allah seperti meminum minuman keras, berjudi, berzina, dan mengadakan persaksian palsu.

Mereka ini diancam oleh Allah dengan ancaman yang keras, kepada mereka akan ditimpakan kecelakaan dan kerugian baik di dunia maupun di akhirat

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Maryam Ayat 59-60

Surah Maryam Ayat 59
فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Terjemahan: Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan,

Tafsir Jalalain: فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ (Maka datanglah sesudah mereka pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan salat) dengan cara meninggalkannya seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ (dan memperturutkan hawa nafsunya) gemar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat

فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا (maka mereka kelak akan menemui kesesatan) ghayya adalah nama sebuah lembah di neraka Jahanam, mereka akan dijerumuskan ke dalamnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Setelah Allah menceritakan tentang golongan orang-orang yang beruntung, yaitu para Nabi dan para pengikut mereka yang menegakkan hukum-hukum dan perintah-perintah Allah, serta menunaikan fardhu-fardhu ketentuan Allah, lagi meningalkan berbagai ancaman-Nya; Dia menyebutkan bahwa:

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ (“Akan datang sesudah mereka satu generasi,”) yaitu generasi (kurun) lain; adlaa’ush shalaata (“Yang menyia nyiakan shalat,”) dan jika mereka menyia-nyiakannya, maka kewajiban-kewajiban lain pasti lebih diremehkan. Karena shalat adalah tiang agama dan sebaik-baik amal seorang hamba.

Kemudian, mereka pasti akan menuruti kesenangan dan kelezatan dunia, serta senang dengan kehidupan dunia, mereka merasa tenteram di dalamnya. Mereka itu akan ditimpa “ghayya,” yaitu kerugian pada hari Kiamat.

Para ulama berbeda pendapat tentang yang dimaksud dengan menyia-nyiakan shalat dalam ayat ini. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan menyia-nyiakannya adalah meninggalkannya secara total, pendapat ini dikemukakan oleh Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi, Ibnu Zaid bin Aslam, as-Suddi dan dipilih oleh Ibnu Jarir.

Ini pula yang didukung oleh para ulama Salaf, Khalaf dan para Imam serta pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad dan salah satu pendapat dari Imam asy-Syafi’i, yaitu mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat berdasarkan hadits:

“Di antara hamba dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat.” Dan hadits lain: “Perjanjian yang ada di antara kita dan di antara mereka adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkannya, maka berarti ia kafir.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i. At-Tirmidzi berkata: “Hasan shahih.” Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan al-Hakim, is berkata: “Shahih.”)

Baca Juga:  Surah Al-Hajj Ayat 70; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Al-Auza’i berkata dari Musa bin Sulaiman, dari al-Qasim bin Mukhai marah, tentang firman Allah: فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ (“Akan datang sesudah mereka satu generasi yang menyia-nyiakan shalat,”) ia berkata: “Mereka menyia-nyiakan waktu shalat yang jika ia tinggalkan, niscaya ia kafir.”

Al-Auza’i berkata dari Ibrahim bin Yazid, bahwa Umar bin Abdul Aziz membaca: فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ (“Akan datang sesudah mereka satu generasi yang menyia-nyiakan shalat,”) kemudian dia berkata, menyia-nyiakannya itu bukan meninggalkan shalat, akan tetapi menyia-nyiakan waktu-waktunya.”

Ibnu Jarir berkata dari Mujahid, ia berkata: “Mereka adalah umat ini yang saling mengendarai kendaraan binatang dan himar di jalan-jalan, di mana mereka tidak merasa takut kepada Allah yang ada di langit dan tidak merasa malu kepada manusia yang ada di bumi.”

Ka’ab al-Ahbar berkata: “Demi Allah, sesungguhnya aku mendapatkan sifat orang-orang munafik di dalam Kitab Allah adalah mereka banyak minum kopi, meninggalkan shalat, banyak bermain, banyak tidur di waktu malam, lalai di waktu siang dan banyak meninggalkan jama’ah dalam shalat.

Kemudian dia membaca ayat ini: فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا ; Al-Hasan al-Bashri berkata: “Mereka meninggalkan masjid dan selalu mengunjungi tempat-tempat hiburan.”

Firman Allah: فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا (“Maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”) Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas, “Maka mereka kelak akan menemui ghayyan,” yaitu kerugian.

Qatadah berkata: “Yaitu keburukan.” Sufyan ats-Tsauri, Syu’bah, Muhammad bin Ishaq, dari Abu Ishaq as-Subai’i, dari Abu Ubaidah, bahwa Abdullah bin Mas’ud berkata, “Maka mereka kelak akan menemui ghayyan,” yaitu sebuah danau di neraka Jahannam yang sangat dalam dan sangat busuk baunya.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa banyak di antara orang-orang datang kemudian sesudah meninggalnya para nabi dan rasul yang disebutkan pada ayat-ayat yang lalu, menyimpang dari jalan yang lurus,

meninggalkan ajaran yang dibawa para rasul sebelumnya sehingga mereka tidak lagi mengerjakan salat dan selalu memperturutkan kehendak hawa nafsu dan dengan terang-terangan melanggar larangan Allah seperti meminum minuman keras, berjudi, berzina, dan mengadakan persaksian palsu.

Mereka ini diancam oleh Allah dengan ancaman yang keras, kepada mereka akan ditimpakan kecelakaan dan kerugian baik di dunia maupun di akhirat. Sehubungan dengan ayat ini Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

Baca Juga:  Surah Ibrahim Ayat 24-26; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

“Akan datang suatu generasi sesudah enam puluh tahun, mereka melalaikan salat dan memperturutkan hawa nafsu, maka orang-orang ini akan menemui kecelakaan dan kerugian. Kemudian datang lagi suatu generasi, mereka membaca Al-Qur’an tetapi hanya di kerongkongan (mulut) saja (tidak masuk ke hati) dan semua membaca Al-Qur’an, orang mukmin, orang munafik dan orang-orang jahat dan fasik (tidak dapat lagi dibedakan mana orang mukmin sejati dan mana orang yang berpura-pura beriman).” (Riwayat Ahmad, Ibnu hibban dan al-hakim)

Kemudian Rasulullah membaca ayat ini (sebagaimana tersebut di atas).’Uqbah bin Amir meriwayatkan pula bahwa aku mendengar Rasulullah bersabda:

“Akan rusak binasalah sebahagian dari umatku yaitu “Ahlul Kitab” dan “Ahlullaban”. Aku bertanya, “Siapakah “Ahlul Kitab” wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka ialah orang-orang yang mempelajari Al-Qur’an untuk berdebat dengan orang-orang mukmin.”

“Lalu siapa pula “Ahlullaban” itu?” Rasulullah menjawab, “Mereka ialah orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu dan meninggalkan salat.” (Riwayat Ahmad dan al-hakim dari ‘Uqbah bin ‘Amir al-Juhhani)

Demikian nasib orang-orang yang melalaikan salat dan memperturutkan hawa nafsu dan menyia-nyiakannya, mereka pasti merugi meskipun yang mereka derita tidak dapat dilihat dengan mata dan pasti akan menerima balasan yang setimpal di akhirat kelak.

Di sini tampak dengan jelas bahwa salat yang telah menjadi syariat semenjak Nabi Ibrahim adalah amat penting sekali dan tidak boleh disia-siakan apalagi ditinggalkan. Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda:

“Salat itu adalah tiang agama. Barangsiapa yang mendirikannya maka ia telah menegakkan agama, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka ia telah meruntuhkan agama.” (Riwayat al-Baihaqi dari Umar r.a.).

Surah Maryam Ayat 60
إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا

Terjemahan: kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun,

Tafsir Jalalain: إِلَّا (Kecuali) yakni berbeda halnya dengan مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ (orang yang bertobat, beriman dan beramal saleh, mereka itu akan masuk surga dan mereka tidak dianiaya) tidak dirugikan شَيْئًا (barang sedikit pun) dari pahala mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا (“Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih,”) yaitu, kecuali orang yang taubat dari meninggalkan shalat dan dari mengikuti syahwat. Karena Allah pasti menerima taubatnya, memperbaiki akibatnya dan menjadikannya sebagai pewaris Jannatun Na’iim.

Baca Juga:  Surah Asy-Syu'ara Ayat 105-110; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Untuk itu, Dia berfirman: فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا (“Maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya sedikit pun.”) Hal itu disebabkan karena taubat akan menghapuskan sesuatu sebelumnya. Di dalam hadits lain: “Orang yang bertaubat dari dosa adalah seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (Sunan Ibnu Majah di kitab az-Zuhud)

Untuk itu, orang-orang yang bertaubat dari pekerjaan yang diamalkannya tidak akan dikurangi sedikit pun dari amal mereka, tidak diterima apa yang mereka amalkan sebelum mereka bertaubat, atau dikurangi apa yang diamalkan sesudahnya. Karena, hal tersebut hilang binasa, lenyap terlupakan dan sia-sia dari kemuliaan Allah yang Mahamulia dan dari kelembutan Allah yang Mahalembut.

Pengecualian di sini, seperti firman Allah di dalam surat al-Furqaan: “Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),

(yakni) akan dilipatgandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. Al-Furqaan: 68-70)

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang tersebut pada ayat 59 bila mereka bertobat dan kembali mengerjakan amal yang saleh maka Allah akan mengampuni dosa mereka dan akan dimasukkan ke dalam surga dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Demikianlah ketetapan Allah Yang Mahaadil, Maha Pemurah dan Maha Penyayang.

Meskipun seseorang telah berlarut-larut terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan karena tertipu dan teperdaya dengan kelezatan duniawi yang fana, tetapi bila mereka insaf dan kembali ke jalan yang benar dan bertobat kepada Allah sebenar-benar tobat Allah akan menerima tobat mereka dengan ketentuan dan syarat-syarat yang diterangkan pada ayat-ayat lain.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Maryam Ayat 59-60 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S