Surah Thaha Ayat 109-112; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Thaha Ayat 109-112

Pecihitam.org – Kandungan Surah Thaha Ayat 109-112 ini; Pada ayat ini Allah mengingatkan kita akan hari dimana tidak bermanfaat syafaat atau penolong kecuali, bagi mereka yang diizinkan-Nya dan diridhai-Nya. Berikutnya Allah menjelaskan tentang keluasan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu serta balasan bagi mereka yang beramal shaleh.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Thaha Ayat 109-112

Surah Thaha Ayat 109
يَوْمَئِذٍ لَّا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا

Terjemahan: Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.

Tafsir Jalalain: يَوْمَئِذٍ لَّا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ (Pada hari itu tidak berguna syafaat) seseorang إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ (kecuali syafaat orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya) untuk memberi syafaat وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا (dan Dia telah meridai perkataannya) seumpamanya orang yang diberi izin itu mengatakan, “La Ilaaha Illallaah atau tidak ada Tuhan selain Allah.”

Tafsir Ibnu Katsir: Allah swt. berfirman: يَوْمَئِذٍ (“Pada hari itu,”) yakni hari Kiamat; تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ (“Tidak berguna syafa’at,”) yaitu di hadapan-Nya. إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا (“Kecuali [syafaat] orang yang Allah Mahapemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai Perkataannya.”)

Dalam ash-Shahihain disebutkan hadits dari Rasulullah saw, dan beliau adalah seorang pemuka anak cucu Adam dan makhluk yang paling mulia hadapan Allah swt, beliau bersabda: “Aku datang di bawah ‘Arsy dan tersungkur sujud kepada Allah.

Dia membuka untukku pujian yang sekarang aku tidak sanggup menyebutkannya. Kemudian la membiarkanku sesuai kehendak-Nya. Dan setelah itu Dia berfirman: ‘Hai Muhammad, angkat kepalamu, ucapkanlah, niscaya kamu akan didengar, dan memohonlah syafa’at niscaya akan diterima syafa’atmu.’ –Beliau berkata:- ‘Kemudian Dia memberikan kepadaku batasan. Maka aku pun memasukkan mereka ke surga, lalu aku kembali.”

Rasulullah menyebutkan bahwa beliau kembali ke bawah ‘Arsys empat kali. Di dalam hadits yang lain disebutkan, di mana Rasulullah bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: Keluarkanlah dari neraka orang-orang yang di hatinya terdapat iman sebesar biji.’ Maka banyak orang yang dikeluarkan darinya.

Kemudian Dia berfirman:Keluarkanlah dari neraka orang yang dalam hatinya terdapat iman setengah biji. Keluarkanlah dari neraka orang yang di dalam hatinya terdapat iman seberat dzarrah, dan orang yang di dalam hatinya terdapat iman yang besarnya sangat lebih kecil daripada dzarrah, seterusnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Tafsir Kemenag: Pada hari itu tak ada yang dapat menolong seseorang atau memberi syafa`at kepadanya baik dari malaikat maupun dari manusia kecuali orang yang telah diberi izin oleh Allah bahwa dia akan memberikan syafaat dapat diterima pula oleh Allah sesuai dengan bunyi ayat:

Baca Juga:  Surah Maryam Ayat 66-70; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dan betapa banyak malaikat di langit, syafaat (pertolongan) mereka sedikit pun tidak berguna kecuali apabila Allah telah mengizinkan (dan hanya) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridai. (an-Najm/53: 26)

Malaikat yang tidak berdosa saja tidak diterima syafa`atnya untuk menolong seseorang di waktu itu kalau tidak seizin Allah apalagi setan-setan, berhala-berhala atau pemimpin-pemimpin musyrik lainnya tentulah mereka tidak dapat sedikit pun menolong pengikut-pengikutnya. Sedangkan untuk menolong diri mereka sendiri mereka tidak berdaya, apalagi untuk menolong orang lain.

Tafsir Quraish Shihab: Pada hari itu syafaat dari seseorang menjadi tak berguna lagi, kecuali dari orang yang mendapat kemuliaan, izin dan perkenan dari Allah untuk mengucapkan kata syafaat. Hari itu syafaat juga menjadi tak berguna lagi, kecuali bagi orang yang mendapat izin dari Sang Maha Pengasih untuk memperolehnya. Yaitu orang yang dahulunya beriman yang perkataan tauhid dan imannya mendapat perkenan Allah.

Surah Thaha Ayat 110
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

Terjemahan: Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.

Tafsir Jalalain: يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ (Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka) yaitu perkara-perkara akhirat وَمَا خَلْفَهُمْ (dan apa yang ada di belakang mereka) perkara-perkara dunia وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا (sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya”) yakni mereka tidak mengetahui hal tersebut.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya lebih lanjut: يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ (“Dia mengetahuti apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka.”) Maksudnya, Dia mengetahui secara penuh semua makhluk-Nya.

وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا (“Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.”) Yang demikian itu adalah sama seperti firman Allah: “Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Baqarah: 255)

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan sebab-sebab mengapa syafaat tidak bermanfaat kalau tidak dengan izin-Nya. Sebab-sebab itu ialah karena Allah mengetahui semua perbuatan manusia, iman dan kufurnya, tak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.

Dialah sebenarnya yang dapat menentukan apakah seseorang berhak mendapat syafa’at, karena iman dan amalnya selama hidup di dunia dan Dia pulalah yang berhak dan dapat menetapkan bahwa seseorang tidak dapat diberi syafaat karena kufur dan dosa-dosanya yang tidak dapat diampuni. Sedangkan malaikat atau manusia yang walaupun telah diizinkan oleh-Nya untuk memberi syafaat tidak mengetahui hal itu secara terperinci.

Tafsir Quraish Shihab: Allah mengetahui ihwal mereka yang telah lalu di dunia dan apa yang akan mereka hadapi di akhirat. Dialah yang mengatur segala urusan mereka dengan ilmu-Nya. Mereka tidak akan pernah tahu pengaturan dan kebijaksanaan Allah.

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 133-135; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Thaha Ayat 111
وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا

Terjemahan: Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman.

Tafsir Jalalain: وَعَنَتِ الْوُجُوهُ (Dan tunduklah semua muka) tunduk merendahkan diri لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ (kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi Maha Memelihara) yakni Allah swt. وَقَدْ خَابَ (Dan sesungguhnya telah merugilah) مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا (orang yang melakukan kelaliman) yakni kemusyrikan.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ (“Dan tunduklah semua muka berendah diri kepada [Rabb] Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus [makhluk-Nya.”)

Ibnu Abbas dan beberapa ahli tafsir lainnya mengatakan: “Artinya, semua makhluk tunduk, tersungkur, seraya menyerahkan diri kepada Allah yang Mahaperkasa, yang Mahahidup yang tiada pernah mati, yang selalu mengurus dan tidak pernah tidur, mengatur segala sesuatu dan menjaganya. Dialah yang Mahasempurna, yang segala sesuatu selalu membutuhkan-Nya, yang semua itu tidak dapat berbuat kecuali karena-Nya.

Firman-Nya: وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا (“Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezhaliman.”) Yakni, pada hari Kiamat kelak. Karena Allah swt akan memberikan setiap hak kepada pemiliknya, di mana pada hari itu Allah akan memotong dari kebaikan seseorang yang berbuat dhalim lalu kebaikan itu diberikan kepada orang yang didhaliminya.

Dalam hadits shahih disebutkan: “Hendaklah kalian menjauhi kedhaliman, karena kedhaliman merupakan kegelapan pada hari Kiamat kelak. Sungguh benar-benar merugi orang yang menghadap Allah dalam keadaan musyrik, karena Allah Ta’ala telah berfirman: ‘Sesungguhnya kemusyrikan itu merupakan kedhaliman yang sangat besar.’”

Tafsir Kemenag: Di kala itu tunduklah semua muka merasa rendah diri di hadapan Allah Yang Mahakuasa dan Maha Perkasa Yang akan memberikan putusan terakhir mengenai nasib mereka masing-masing sesuai dengan iman dan amal mereka, putusan dari Yang Mahaadil yang tidak dapat dibantah dan disangkal dan harus dilaksanakan.

Di kala itu menyesallah orang-orang yang ingkar dan berdosa mengapa dia di dunia dahulu mengikuti kemauan setan dan hawa nafsu, mementingkan duniawi tanpa menghiraukan sedikit pun bahwa mereka akan menemui hari perhitungan, menghina serta memperolok-olokan seruan para nabi dan rasul untuk kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.

Tafsir Quraish Shihab: Pada hari itu, semua muka menjadi hina dan tertunduk kepada Sang Mahahidup, yang tidak pernah mati, yang mengatur semua urusan makhluk-Nya. Orang-orang yang menzalimi dirinya di dunia lalu menyekutukan-Nya tidak akan mendapatkan keselamatan dan pahala pada hari itu.

Baca Juga:  Surah An Nisa Ayat 49-52; Seri Tadabbur Al Qur'an

Surah Thaha Ayat 112
وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا

Terjemahan: Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.

Tafsir Jalalain: وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ (Dan barang siapa mengerjakan amal yang saleh) amal-amal ketaatan وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا (dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan diperlakukan tidak adil) dengan diberatkan dosanya وَلَا هَضْمًا (dan tidak pula akan pengurangan haknya) dikurangi pahala kebaikannya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah selanjutnya: وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا (“Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang shalih dan ia dalam keadaan beriman, maka tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil [terhadapanya] dan tidak akan pengurangan haknya.”)

Setelah Allah Ta’ala menyebutkan orang-orang dhalim dan ancaman bagi mereka, Dia memberikan pujian kepada orang-orang yang bertakwa dan penetapan bagi mereka, di mana mereka itu tidak dizhalimi dan tidak dikurangi haknya. Artinya, tidak diberikan tambahan atas keburukannya dan tidak pula dikurangi kebaikan mereka.

Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, adh-Dhahhak, al-Hasan al-Bashri, Qatadah, dan selain mereka. Dengan demikian, kedhaliman itu berarti penambahan, yaitu pembebanan dosa orang lain kepada seseorang dan kata al-hadham berarti pengurangan.

Tafsir Kemenag: Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh sebagai persiapan untuk menghadapi hari perhitungan ini, mereka merasa bahagia dan bersyukur serta terbayanglah dalam pikiran mereka ganjaran yang akan dianugerahkan Allah kepada mereka sesuai dengan janji-Nya, sesuai dengan keadilan dan rahmat-Nya.

Mereka yakin dengan sepenuhnya bahwa mereka tidak akan teraniaya, tidak akan dirugikan sedikit pun, mereka akan dimasukkan ke dalam surga Jannatun Na`im yang di dalamnya tersedia nikmat dan kesenangan yang tiada putus-putusnya.

Tafsir Quraish Shihab: Sedangkan orang yang melakukan amal saleh dan membenarkan apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., maka ia tidak usah khawatir akan ditambah keburukannya atau dikurangi kebaikannya.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Thaha Ayat 109-112 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag, dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S