Surah Yunus Ayat 18-19; Terjemahan dan Tafsir Al Qur’an

Surah Yunus Ayat 18-19

Pecihitam.org – Kandungan Surah Yunus Ayat 18-19 ini menjelaskan bahwa Allah SWT mengingkari orang-orang musyrik yang beribadah (selain) kepada Allah. Oleh Karena itu Allah memberikan kesempatan bagi mereka yang menyimpang untuk berbuat sesuatu yang mereka kehendaki. Apabila hal ini bukan Sunnatullah, mereka akan langsung diberi balasan dan siksa di dunia ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al Qur’an Surah Yunus Ayat 18-19

Surah Yunus Ayat 18
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Terjemahan: Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).

Tafsir Jalalain: وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ (Dan mereka menyembah selain daripada Allah) مَا لَا يَضُرُّهُمْ (apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan) jika mereka tidak menyembahnya وَلَا يَنْفَعُهُمْ (dan tidak pula kemanfaatan) jika mereka menyembahnya, yang dimaksud adalah berhala-berhala yang mereka sembah itu

وَيَقُولُونَ (dan mereka berkata,) tentang berhala-berhala itu هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ (“Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.” Katakanlah) kepada mereka أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ (“Apakah kalian mengabarkan kepada Allah) menceritakan kepada-Nya

بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ (apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak pula di bumi?”) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna ingkar, karena seandainya Dia mempunyai sekutu niscaya Dia akan mengetahui sekutunya itu karena sesungguhnya tiada sesuatu pun yang samar bagi-Nya.

Baca Juga:  Surah An-Naml Ayat 61; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

سُبْحَانَهُ (Maha Suci Allah) dari hal-hal yang tidak layak bagi-Nya وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ (dan Maha Tinggi daripada apa yang mereka persekutukan itu) bersama Allah.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah mengingkari orang-orang musyrik yang (selain) beribadah kepada Allah, juga mereka beribadah kepada yang lain-Nya, mereka mengira bahwa ilah-ilah itu memberi syafa’at kepada mereka di sisi Allah, maka Allah Ta’ala mengabarkan, bahwa sesungguhnya ilah-ilah itu tidak memberi manfaat dan bahaya dan tidak pula memiliki sesuatu pun dan apa yang mereka sangka dari ilah-ilah itu, tidak akan terjadi sama sekali.

Maka dari itu Allah Ta’ala berfirman: قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ (Katakanlah: Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya, baik di langit dan tidak pula di bumi?)

Ibnu Jarir berkata: “Artinya, apakah kalian akan memberitahu Allah dengan sesuatu yang tidak ada di langit dan di bumi?”

Kemudian Allah menyucikan diri-Nya yang mulia dari kemusyrikan dan kekufuran mereka, maka Allah berfirman: سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ (Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu))

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang musyrik yang membuat-buat kebohongan tentang Allah dengan kesyirikan itu menyembah berhala-berhala yang batil, yang tidak memberikan mudarat atau manfaat kepada mereka. Mereka berkata, “Berhala-berhala itu akan memberi syafaat kepada kami di sisi Allah di akhirat nanti.”

Katakanlah kepada mereka, wahai Rasulullah, “Apakah kalian memberitahukan kepada Allah tentang adanya sekutu bagi-Nya, yang tidak Dia ketahui keberadaannya di langit dan bumi. Allah Mahasuci dari sekutu dan dari prasangka serta peribadatan kalian kepada sekutu-sekutu itu.”

Baca Juga:  Surah Yunus Ayat 48-52; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Surah Yunus Ayat 19
وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلَّا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

Terjemahan: Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.

Tafsir Jalalain: وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلَّا أُمَّةً وَاحِدَةً (Manusia dahulunya hanyalah satu umat) satu agama yaitu agama Islam, sejak dari zaman Nabi Adam sampai dengan zaman Nabi Nuh. Menurut pendapat yang lain dikatakan mulai dari zaman Nabi Ibrahim sampai dengan zamannya Amr bin Luhay

فَاخْتَلَفُوا (kemudian mereka berselisih) disebabkan sebagian daripada mereka tetap iman sedangkan sebagian yang lainnya kafir. وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ (Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Rabbmu dahulu) dengan menangguhkan pembalasan hingga hari kiamat

لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ (pastilah diberi keputusan di antara mereka) yaitu di antara manusia di dunia فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (tentang apa yang mereka perselisihkan itu) dalam masalah agama, yaitu dengan mengazab orang-orang kafir.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah mengabarkan, bahwa sesungguhnya kemusyrikan ini adalah hal yang baru pada manusia dan ada (terjadi) setelah sebelumnya tidak ada dan bahwa sesungguhnya manusia dulunya adalah berada pada satu agama, yaitu Islam.

Ibnu Abbas berkata: “Antara Adam dan Nuh berjarak sepuluh abad, semuanya berada pada agama Islam, kemudian terjadi perpecahan di antara manusia dan diibadahilah berhala-berhala, sekutu-sekutu dan patung-patung, maka Allah mengutus beberapa Rasul dengan ayat-ayat-Nya, keterangan-keterangan-Nya, bukti-bukti-Nya yang pasti dan dalil-dalil-Nya yang nyata.

“Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula).” (QS. Al-Anfal: 42)

Baca Juga:  Surah An Nisa Ayat 75-79; Seri Tadabbur Al Qur'an

Dan firman-Nya: وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ (Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Rabbmu dahulu) (dan ayat seterusnya). Maksudnya, seandainya tidak ada ketetapan dari Allah Ta’ala bahwa Allah tidak akan menyiksa seseorang kecuali setelah ditegakkannya dalil kepadanya dan bahwasanya Allah telah menentukan ajal makhluk hingga batas yang ditentukan, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka dalam apa yang mereka perselisihkan, maka Allah akan membahagiakan orang-orang mukmin dan menyengsarakan orang-orang kafir.

Tafsir Quraish Shihab: Pada awal penciptaannya, fitrah manusia itu satu. Kemudian Kami mengutus rasul-rasul kepada mereka untuk memberikan arahan dan petunjuk sesuai dengan wahyu Allah.

Tabiat manusia yang berpotensi untuk menerima kebaikan dan keburukan adalah penyebab berkuasanya keburukan, hawa nafsu dan godaan setan kepada sebagian mereka.

Oleh sebab itu, mereka berselisih satu sama lain. Kalau bukan karena ketetapan terdahulu dari Tuhanmu dengan menangguhkan perkara orang kafir itu denganmu, Muhammad, serta menangguhkan kebinasaan mereka sampai saat yang telah Dia tentukan, niscaya Dia akan mempercepat kebinasaan dan azab bagi mereka, oleh sebab perselisihan yang terjadi di antara mereka, sebagaimana yang terjadi pada umat-umat sebelum mereka.

Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Yunus Ayat 18-19 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Quraish Shihab dan Tafsir Ibnu Katsir. Semoga khazanah ilmu Al-Qur’an kita semakin bertambah.

M Resky S