Syaikh Abu Yazid al-Busthami dan Ketidakberdayaan Manusia di Hadapan Tuhannya

Syaikh Abu Yazid al-Busthami dan Ketidakberdayaan Manusia di Hadapan Tuhannya

PeciHitam.org – Kisah seputar kaum sufi biasanya tentu selalu menginspirasi. Namun sebagian dari kita juga memang jarang mengetahui atau pun mendengar perihal kisah kehidupan kaum sufistik ini. Salah satu tokoh sufi yang masyhur ditelinga kita biasanya yaitu Syaikh  Abu Yazid al-Busthami.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Abu Yazid al-Busthami biasa disebut juga dengan nama Bayazid sebagai nama kunyahnya. Sedangkan beliau lahir dengan nama asli Thaifur bin ‘Isa bin Adam bin Sarwasyan.

Ada juga yang mengatakan bahwa beliau bernama lengkap Abu Yazid Thaifur ibn Isa ibn Surusyan al-Busthami. Kakeknya adalah seorang Yahudi yang kemudian masuk Islam.

Syaikh Abu Yazid Al-Busthami dilahirkan pada tahun 188 Hijriyah dan wafat pada tahun 261 Hijriyah. Beliau hidup selama 73 tahun, segenerasi dengan Syaikh Ahmad bin Khadhrawih. Al-Busthami ini juga tercatat pernah menyaksikan Syaikh Abu Hafsh al-Haddad, Syaikh Yahya bin Mu’adz, dan Syaikh Syaqiq al-Balkhi.

Ia pernah berguru kepada seorang sufi yang berasal dari Kurdi. Gurunya inilah yang dianggap paling berpengaruh dalam kehidupan al-Busthami. Bahkan saking mengidolakan gurunya tersbut, al-Busthami pernah berpesan kepada para kerabatnya bahwa nanti ketika ia wafat, ia ingin dikuburkan di bawah kaki gurunya itu sebagai wujud penghormatan yang paling mendalam.

Baca Juga:  Bunuh Diri dan Kisah Seorang Sahabat Nabi Sang Pembela Islam yang Masuk Neraka

Dikisahkan bahwa sesaat sebelum meninggalnya al-Busthami, beliau bermunajat kepada Allah Ta’ala, berikut redaksinya: “Ya Tuhanku, tidaklah aku berdzikir kepada Mu melainkan hanya karena kelalaian. Dan tidaklah aku mengabdi kepada Mu melainkan karena kesenggangan.” Di akhir kata dalam munajatnya tersebut, beliau kemudian wafat.

Kemudian setelah Syaikh al-Busthami tersebut meninggal, ada seorang syaikh yang bermimpi bertemu dengannya. Dalam mimpinya tersebut, ia melihat perlakuan Allah kepada al-Busthami.

Beliau ditanya tentang apa yang ia bawa. Kemudian ia menjawab, apabila orang yang miskin menghampiri pintu gerbang seorang raja, mengapa ia tidak ditanya, “Kau bawa apa?” Namun justru menanyakan kepadanya bahwa, “Apa yang engkau inginkan?”

Sudah tentu di hadapan Allah SWT seluruh amal shaleh seriap manusia sama sekali tidak bisa diandalkan, ataupun dibanggakan. Amal shaleh tersebut juga tidak dapat dijadikan sandaran.

Begitulah jawaban dari Syaikh Abu Yazid al-Busthami. Tidak terbesit dalam benaknya untuk menunjukkan besarnya amal shaleh yang telah dilakukannya semasa di dunia. Namun beliau justru mengutamakan harapannya kepada sifat Rahman Rahim-nya Allah Ta’ala.

Baca Juga:  Kisah Umar Bin Khattab Melawan Malaikat Mungkar Nakir

Ungkapan tersebut dinilai begitu bijaksana lagi tepat, sebab apa yang beliau katakan di atas merupakan hasil dari pengalaman spiritualnya yang begitu jernih dan bening.

Beliau meyakini sekaligus mengahayati bahwa segala amal kebaikan atas perbuatan manusia, sudah barang tentu pada hakikatnya berasal dari Allah SWT semata. Bukan milik seorang hamba pun selain kehadirat-Nya.

Oleh sebab itu, ketika ditanya oleh Allah Azza wajalla tentang bekal yang dibawanya ke depan pintu gerbang Sang Maharaja yaitu Allah SWT, beliau hanya memposisikan dirinya dengan menjawab sebagai seorang yang fakir. Sehingga apa yang ditanyakan kepadanya adalah pertanyaan ‘apa yang kau butuhkan?’

Al-Busthami menyadari bahwa ia memang tidak merasa bahwa dirinya memiliki amal baik apa pun. Namun juga sepenuhnya merasakan bahwa sesungguhnya dirinya tersebut secara hakiki murni tidak ada. Ia merasa dirinya tidak lebih dari sekadar bayang-bayang hadirat-Nya. Yang mutlak ada adalah Dia (Allah) semata. Bukan apa atau siapa pun yang lain.

Itulah sebabnya, ketika beliau ditanya oleh seseorang tentang jalan kepada Allah Ta’ala, dengan tegas beliau memberikan jawaban: “Ketika engkau sudah terbebaskan dari dirimu sendiri, di saat itulah engkau berarti sampai kepada hadiratNya.”

Baca Juga:  Kisah Nabi Membelah Bulan dalam Kitab Durrotun Nashihin

Hal itu mengindikasikan kepada kita atau setiap manusia bahwa hakikat kebaikan yang terdapat pada dirinya tidak lain hanyalah sebab kebaikan Allah.

Al-Busthami menyatakan bahwa cinta seorang hamba kepada Allah tidak lain karena Cinta-Nya kepada hamba tersebut. Hal ini menyiratkan bahwa sesungguhnya manusia tidak akan dapat mencintai Allah, karena cinta itu sendiri hadir dari Allah untuknya. Wallahu A’lam.

Mohammad Mufid Muwaffaq