Syekh Junaid Al-Baghdadi, Kisah Waliyullah; Karomah dan Kalam Hikmahnya

Syekh Junaid Al-Baghdadi

Pecihitam.org – Syekh Junaid Al-Baghdadi rahimahullah, beliau bernama lengkap Abul Qasim Junaid bin Muhammad az-Zujjaj an-Nihawandi. Tidak ada keterangan yang pasti tentang kapan lahir beliau. Berasal dari  Nihawand, tumbuh besar dan hidup di Baghdad. Ayahnya adalah seorang penjual kaca didaerah Nihawand.

Syekh Junaid adalah seorang Ulama sufi terkenal, Alim dalam bidang fiqih dan berfatwa berlandaskan mazhab Abi Tsaur yang merupakan salah seorang sahabat Imam Syafi’i ra.

Sedangkan dalam ilmu kesufian, beliau berguru kepada Syekh Sari as-Saqathi Waliyullah terkenal yang juga merupakan pamannya sendiri. Beliau juga berguru kepada Syekh Harits al-Mahasibi dan Syekh Muhammad bin ‘Ali al-Qasshab. (Risalah al-Qusyairiyah, hal: 430)

Syekh Junaid al-Baghdadi merupakan guru besar dalam thariqat kesufian, tempat kembalinya para ahli suluk, baik pada zamannya maupun pada zaman setelahnya. (Kawakib as-Shufiyyah, hal: 376)

Syeikh Junaid rahimahullah Meninggal dunia di Baghdad pada tahun 297H/910M.

Beberapa Karomahnya

* Mimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW dan memerintahkan beliau untuk berkhutbah.

* Lidah yang fasih dan penyampaian khutbah yang merasuk kedalam jiwa para pendengar. Hingga dalam satu riwayat beliau pernah menyampaikan dakwah kepada 40 orang jama’ah, 18 orang jama’ah menemui ajal mereka sedangkan 22 lainnya pingsan setelah mendengar khutbahnya.

Baca Juga:  Biografi Imam Tirmidzi Pengarang Kitab Sunan at Tirmidzi

* Diuji dimasa uzlahnya dengan fitnah dari raja yang berkuasa pada waktu itu. sang raja mengutus seorang gadis yang cantik jelita untuk menggoda beliau ketika sedang beruzlah didalam kamarnya yang sudah beliau lakukan selama puluhan tahun. Ketika gadis tersebut masuk kedalam kamar Syekh Junaid, beliau melihat kearahnya dan menghembus nafasnya “fhuhh!”, saat itu juga sang gadis mati seketika.

* Kasyaf atau terbukanya nur bashirah/mata bathin. Pernah suatu hari dalam suatu majlis khutbahnya, terdapat seorang pemeluk nashrani yang secara diam-diam menyusup untuk mendengar ceramah Syekh Junaid al-Baghdadi.

Setelah beliau selesai berkhutbah, pemuda Kristen itu mendatangi beliau dan berkata : wahai syekh, apakah maksud dari perkataan Nabi “berhati-hatilah terhadap firasat seorang yang beriman, karena ia dapat melihat dengan nur Allah”?

Kemudian Syekh Junaid pun menjawab : “maksud dari hadits tersebut adalah yang bahwa kau harus segera melepaskan sabuk nashrani mu dan masuk kedalam agama Islam!, karena sekarang ini adalah zamannya Islam”. Pemuda nashrani itu terkejut bukan kepalang karena rahasianya diketahui oleh Syekh Junaid, dan akhirnya ia pun masuk Islam.

Baca Juga:  Biografi Imam Ibnu Hibban Pengarang Shahih Ibnu Hibban

Beberapa Kalam Hikmahnya

* Jalan kita ini (tasawwuf) diikat dengan al-Qur’an dan sunnah rasul, kerana sesungguhnya setiap jalan menuju Allah SWT itu tertutup kecuali kepada orang-orang yang menjejaki peninggalan Rasulullah SAW.

* Sebagian daripada bukti cinta seorang hamba kepada Tuhannya adalah dengan memperbanyak sujud dan sangat gemar berzikir kepada-Nya.

* Seorang hamba dapat diangkat kepada kedudukan yang tinggi disisi Allah walaupun amal dan ilmunya sedikit, dengan sebab 4 perkara. Pertama: kemurahan hati, kedua: kerendahan hati (zuhud), ketiga: kedermawaan (ahli sedekah) dan keempat: keluhuran budi pekerti (akhlak terpuji).

* Ada 3 hal bagi orang awam yang dapat menjadi hijab dari Allah SWT. Pertama: makhluk, kedua: dunia dan ketiga: nafsu diri. Sedangkan bagi Ahli khawwash (khusus) juga ada 3 hijab. pertama: mempertunjukkan amalan, kedua: mencari pahala dan ketiga: mempamerkan nikmat.

* Apabila engkau melihat seorang Sufi menaruh kepedulian terhadap penampilan lahiriahnya, maka ketahuilah wujud batinnya telah rusak

* Zikrullah merupakan rukun atau azas yang penting dalam ilmu ini (Kesufian/tashawwuf). Bahkan seseorang tidak akan pernah sampai kepada Allah kecuali dengan kekal berzikrullah (menyebut/mengingat Allah).

Baca Juga:  Biografi Singkat AGH Muhammad Rafi’i Yunus Maratan

* Ibadahnya orang-orang ‘Arifbillah adalah terlebih baik dibandingkan dengan mahkota di atas kepala setiap raja.

* Seseorang pernah melihat syeikh Junaid memegang menggunakan tasbih di tangannya, lalu orang itu menegur beliau dan berkata: “Tuan berada dalam kemuliaan tetapi masih sahaja menggunakan tasbih”, Syekh Junaid pun menjawab: “Tasbih inilah sebagai jalan untuk kami sampai kepada Allah Ta’ala dan kami tidak akan meninggalkannya selama-lamanya.

* Jika seorang murid itu dikehendaki oleh Allah s.w.t kebaikan, maka Allah menjadikannya orang yang suci lagi bersih lahir bathin dan ia dilarang berkawan dengan orang-orang yang ria.

Demikian sedikit kisah tentang Syekh Junaid al-Baghdadi, moga-moga bermanfaat. Wallahua’lambisshawab!

Muhammad Haekal

Author at Pecihitam.org
Alumni Ponpes Moderen Babun Najah Banda Aceh |
Santri di Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah, Banda Aceh
Muhammad Haekal
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG