Tips Menahan Amarah Sesuai Anjuran Nabi dan Para Ulama

menahan amarah

Pecihitam.org – Orang yang kuat, kata Rasulullah SAW, bukanlah yang dapat mengalahkan musuhnya, namun yang dapat mengendalikan emosinya saat marah. Perang melawan diri sendiri adalah perang melawan emosi di dalam dirinya. Emosi adalah energi yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang muncul dari dalam dirinya sendiri. Kutipan hadits di atas mengajarkan bahwa mengendalikan emosi atau menahan amarah sendiri lebih hebat daripada menundukkan orang lain.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Rasulullah mencontohkan bagaimana beliau dapat mengendalikan emosinya. Saat mengajak ke jalan kebenaran, beliau pernah dilempari batu. Wajahnya berlumuran darah dan mengalir sampai kakinya.

Rasulullah menahan marahnya. Beliau malah mendoakan kebaikan untuk mereka yang melempari dan melukainya dengan batu. “Ya Allah, berikan petunjuk pada kaumku, karena mereka belum mengetahui.” Betapa tulus dan agung doa Rasulullah. Sebuah doa yang lahir dari jiwa dan hati yang bersih.

Pakar Tafsir Al-Qur’an Prof. Quraish Shihab menyebut bahwa salah satu ciri orang-orang bertaqwa adalah salah satunya mampu menahan amarah.

“Menahannya bukan berarti tidak marah dan bukan juga berarti tidak memaafkan. Tapi menahannya untuk berpikir,” ujar Prof Quraish.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Bayt Al-Qur’an ini, jika manusia sedang menahan amarah, usahakan jangan sampai terlihat air muka.

“Kalaupun terpaksa terlihat, maka jangan lidah ikut berucap. Kalau itu pun terpaksa, maka ucapkanlah yang baik,” tutur penulis Kitab Tafsir Al-Misbah ini.

“Jika terpaksa berucap yang tak baik, maka jangan melampau batas apalagi menggunakan tangan,” sambungnya.

Salah satu cara untuk menahan amarah adalah diam, sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW berikut ini:

Baca Juga:  Hati-hati, Begini Bahayanya Meremehkan Dosa Kecil

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

Apabila seseorang di antara kalian marah makah hendaknya diam. [HR Ahmad]

Marah berpotensi menimbulkan kerugian, baik bagi diri sendiri maupun orang lain dan lingkungan sekitarnya. Dalam kondisi marah, seseorang kerap lebih banyak dikuasai emosi ketimbang akal sehat. Itulah mengapa Islam melarang seorang membuat keputusan dalam kondisi marah. Sebab, sikap yang adil membutuhkan ketenangan dan kejernihan hati dan pikiran.

Diam menjadi solusi tepat untuk menghindari dampak buruk dari kemarahan. Diam juga menjadi momen kontemplasi, menunduk beberapa saat untuk memikirkan kembali seberapa penting kemarahan itu berfaedah.

Selain itu Imam al-Ghazali sebagaimana dikutip Syekh Jamaluddin al-Qasimi memaparkan bahwa ketika amarah memuncak, ada dua cara luapan emosi itu bisa diredam. Pertama, dengan ilmu. Kedua, dengan amal.

Dari sisi ilmu
  1. Pertama berpikir tentang ayat atau hadits Nabi tentang keutamaan menahan amarah, memaafkan, bersikap ramah dan menahan diri, sehingga dirinya terdorong untuk menggapai pahalanya, dan mencegah dirinya untuk membalas, serta dapat memadamkan amarahnya.
  2. Kedua, menakut-nakuti diri dengan siksa Allah bila ia tetap meluapkan amarahnya. Apakah ia aman dari murka Allah di hari kiamat? Padahal ia sangat membutuhkan pengampunan.
  3. Ketiga, menakut-nakuti dirinya tentang akibat dari permusuhan dan pembalasan, bagaimana sergapan musuh untuk membalasnya, menggagalkan rencana-rencananya serta bahagianya musuh saat ia tertimpa musibah, padahal seseorang tidak bisa lepas dari musibah-musibah. Takut-takutilah diri sendiri dengan dampak (buruk) amarah di dunia, bila ia belum bisa takut dari siksaan di akhirat kelak.
  4. Keempat, berpikir bagaimana buruknya muka ketika marah. Bayangkan bagaimana raut muka orang lain saat marah, berpikirlah tentang buruknya marah di dalam dirinya, berpikirlah bahwa saat marah ia seperti anjing yang membahayakan dan binatang buas yang mengancam, berpikirlah untuk menyerupai orang ramah yang dapat menahan amarah layaknya para nabi, wali, ulama dan para bijak bestari. Berilah pilihan untuk dirimu, apakah lebih memilih serupa dengan anjing, binatang buas dan manusia-manusia hina; ataukah memilih untuk menyerupai ulama dan para nabi di dalam kebiasaan mereka?
  5. Kelima, berpikir tentang sebab yang mendorongnya untuk membalas dan mencegahnya dari menahan amarah, semisal ketika dalam hati terdapat bujuk rayu setan; ‘Sesungguhnya orang ini membuatmu lemah dan rendah serta menjadikanmu hina di mata manusia’, maka jawablah dengan tegas di hatimu ‘Aku heran denganmu. Kamu sekarang mencemoohku karena menahan diri, sedangkan kamu tidak mencemooh dari kehinaan di hari kiamat. Kamu tidak khawatir dirimu akan hina di sisi Allah, para malaikat dan para Nabi’.
Baca Juga:  Cara Memakmurkan Masjid Dalam Pandangan Ulama dan Contoh Nabi Muhammad

فَمَهْمَا كَظَمَ الْغَيْظَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَكْظِمَهُ لِلَّهِ، وَذَلِكَ يُعَظِّمُهُ عِنْدَ الله

“Ketika ia menahan amarah, maka seyogiayanya menahan amarah karena Allah. Yang demikian itu bisa membuatnya agung di sisi Allah.” (Syekh Jamaluddin al-Qasimi, Mau’idhah al-Mu’mini Min Ihya’ Ulum al-Din, hal. 208)

Dengan Amal

Sedangkan dari sisi amal cara menahan amarah adalah dengan berdzikir membaca ta’awudz, kemudian berusaha menenangkan diri. Carilah posisi yang lebih rileks.

Bila dalam keadaan berdiri, maka bisa berganti posisi dengan duduk. Jika dalam keadaan duduk, bisa berganti posisi dengan tidur miring. Dianjurkan pula berwudhu dengan air dingin.

Imam al-Ghazali sebagaimana dikutip Syekh Jamaluddin al-Qasimi mengatakan:

وَأَمَّا الْعَمَلُ فَأَنْ تَقُولَ بِلِسَانِكَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، وَإِنْ كُنْتَ قَائِمًا فَاجْلِسْ، وَإِنْ كُنْتَ جَالِسًا فَاضْطَجِعْ، وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَتَوَضَّأَ بِالْمَاءِ الْبَارِدِ؛ فَإِنَّ الْغَضَبَ مِنَ النَّارِ، وَالنَّارُ لَا يُطْفِئُهَا إِلَّا الْمَاءُ.

Baca Juga:  Kisah Menarik Antara Habib Sholeh dengan Seorang Wahabi Congkak

“Adapun (mengatasi amarah dengan) amal, katakanlah dengan lisanmu, A’udzu billahi minasy syaithanir rajim (aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk). Bila engkau berdiri, duduklah. Bila engkau duduk, tidurlah miring. Disunahkan berwudhu dengan air yang dingin, sesungguhnya kemarahan adalah dari api, sedangkan api tidaklah bisa dipadamkan kecuali dengan air.” (Syekh Jamaluddin al-Qasimi, Mau’ihhah al-Mu’mini min Ihya’ Ulum al-Din, hal. 208).

Itulah beberapa tips untuk menahan amarah sebagaimana yang dianjurkan sunnah Nabi dan para ulama. Semoga bermanfaat. Wallahua’lam Bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.