Sebelum Wafat, Inilah Wasiat Nabi Nuh Kepada Kita Semua

wasiat nabi nuh

Pecihitam.org – Nabi Nuh As merupakan urutan nabi yang ketiga dalam daftar 25 Nabi setelah Nabi Adam As dan Nabi Idris. Selain itu Nabi Nuh adalah rasul pertama yang di utus oleh Allah Swt ke dunia untuk memerangi kaum penyembah berhala dan setan yaitu Bani Rasib. Sehingga Nabi Nuh di tugaskan untuk menyebarkan ajaran tauhid dan kedamaian sekaligus mengeluarkan kaum Bani Rasib dari kesesatan, kekafiran dan kedzaliman.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Nabi Nuh di utus oleh Allah Swt menjadi rasul pada usianya 460 tahun dan berdakwah kurang lebih selama 950 tahun. Namun, masih saja terdapat dari kaumnya yang membangkang dan ingkar dari kebenaran. Bahkan anak dari Nabi Nuh As sendiri yang bernama Kan’an termasuk dalam golongan orang yang tidak mau beriman kepada Allah Swt.

Sehingga suatu ketika Nabi Nuh meminta kepada Allah Swt agar memberikan peringatan kepada kaumnya yang membangkang. Lalu Allah Swt mengabulkan permintaan Nabi Nuh, dengan adanya peristiwa banjir bandang diseluruh daratan bumi sehingga memusnahkan kaumnya yang ingkar dan sombong kecuali Nabi Nuh serta orang-orang yang beriman yang selamat dengan bahtera kapalnya.

Baca Juga:  Jodoh Menurut Islam Dalam Pandangan al-Quran dan Hadits

Hal ini sebagaimana telah di sebutkan oleh Allah Swt dalam firman-Nya pada Surat Nuh ayat 26-27 berikut:

وقال نوح رب لا تذرعلى الأرض من الكفرين ديارا * انك ان تذرهم يضلوا عبادك ولا يلا يلدوا الافا جرا كفارا

Artinya: “ Nuh berkata:” Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” (QS. Nuh: 26-27)

Di dalam kandungan Surah Nuh tersebut berisi tentang kisah perjuangan dakwah Nabi Nuh. Karena keteguhannya dalam berdakwah tersebut, beliau mendapat gelar Ulul ‘Azmi. Bahkan Allah Swt menyebut Nabi Nuh sebagai ‘Abdan Syakura (hamba yang banyak bersyukur), sebagaimana di sebutkan dalam Surah Al-Isra ayat 3 berikut :

ذرية من حملناه مع نوح انه كان عبدا شكورا

Artinya: “ (yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isra: 3)

Sebelum Nabi Nuh wafat, beliau pernah memberikan wasiat kepada anak-anaknya untuk melaksanakan dua perkara, yaitu :

  1. Selalu berpegang teguh pada kalimat tahlil ‘laa ilaha illallah’ (tiada tuhan selain Allah) dan selalu membacanya setiap waktu. Bahkan apabila langit tujuh lapis dan bumi tujuh lapis di satukan kemudian di timbang dengan laa ilaha illallah, maka akan lebih berat laa ilaha illallah. Selain itu seandainya langit tujuh lapis dan bumi tujuh lapis menyatu membentuk lingkaran yang kokoh, maka laa ilaha illallah dapat memutus dan menghancurkannya.”
  2. Selalu berpegang tegung pada kalimat tasbih ‘Subhanallah wa bi hamdih’ (Maha suci Allah dengan memuji-Nya). Karena kalimat Tasbih merupakan koneksi hubungan kita terhadap Allah Swt dan dengan kalimat tasbih, maka Allah swt akan senantiasa memberikan rezeki kepada Hamba-Nya.
Baca Juga:  Tahnik Bagi Bayi. Maksud, Cara Dan Keutamaannya

Selain itu Nabi Nuh juga berwasiat kepada anak-anaknya untuk meninggalkan 2 perkara yaitu:

  1. Syirik atau menyekutukan Allah Swt.
  2. Bersikap sombong dengan menjauh dari kebenaran dan merendahkan manusia.

Anak-anak Nabi Nuh disini maksudnya juga termasuk kita semua yang menjadi umat zaman akhir. Pada intinya, dari keempat wasiat dari Nabi Nuh tersebut mengajarkan kepada kita untuk menjaga hubungan terhadap Allah Swt dan hubungan terhadap sesama manusia.

Segala sesuatu yang ada di dunia ini ada di bawah kekuasaan Allah Swt, oleh karena itu sebagai seorang manusia hendaknya kita selalu merendah diri di hadapan Allah Swt dan meminta pertolongan dari-Nya.

Selain itu kita juga harus selalu bermuhasabah diri sendiri dan tidak merendahkan orang lain karena merasa bahwa diri kita lebih baik dari pada mereka. Sebagaimana Sayyidina Ali mengatakan bahwa “ Jadilah kamu orang yang paling baik di sisi Allah Swt dan jadilah kamu orang (yang merasa) paling buruk di sisi manusia.”

Baca Juga:  Niat I’tikaf dan Cara Melakukannya Sesuai Sunnah Nabi

Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik