Surah Fatir Ayat 40-41; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Fatir Ayat 40-41

Pecihitam.org – Kandungan Surah Fatir Ayat 40-41 ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar mengajak orang-orang musyrik itu untuk berdialog menjajaki jalan pikiran mereka yang salah. Allah melukiskan kebenaran dan keagungan kekuasaan-Nya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dengan kekuasaan-Nya, langit tercipta tanpa tiang, dan gunung-gunung berdiri dengan kokoh. Allah menyebarkan makhluk melata (dabbah), manusia, dan hewan di atas bumi.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Fatir Ayat 40-41

Surah Fatir Ayat 40
قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ شُرَكَآءَكُمُ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَرُونِى مَاذَا خَلَقُواْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ لَهُمۡ شِرۡكٌ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَمۡ ءَاتَيۡنَٰهُمۡ كِتَٰبًا فَهُمۡ عَلَىٰ بَيِّنَتٍ مِّنۡهُ بَلۡ إِن يَعِدُ ٱلظَّٰلِمُونَ بَعۡضُهُم بَعۡضًا إِلَّا غُرُورًا

Terjemahan: Katakanlah: “Terangkanlah kepada-Ku tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah. Perlihatkanlah kepada-Ku (bahagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah Kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas daripadanya? Sebenarnya orang-orang yang zalim itu sebahagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebahagian yang lain, melainkan tipuan belaka”.

Tafsir Jalalain: قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ شُرَكَآءَكُمُ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ (Katakanlah! “Terangkanlah kepadaku tentang sekutu-sekutu kalian yang kalian seru) yang kalian sembah مِن دُونِ ٱللَّهِ (selain Allah) mereka adalah berhala-berhala yang diduga oleh para pengabdinya, bahwa mereka adalah sekutu-sekutu Allah swt. أَرُونِى (Perlihatkanlah kepadaku) terangkanlah kepadaku مَاذَا خَلَقُواْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ لَهُمۡ شِرۡكٌ (bagian manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham) yakni andil bersama Allah فِى (di dalam) menciptakan ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَمۡ ءَاتَيۡنَٰهُمۡ كِتَٰبًا فَهُمۡ عَلَىٰ بَيِّنَتٍ (langit atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah kitab sehingga mereka mendapatkan keterangan-keterangan yang jelas) yakni hujah-hujah yang jelas مِّنۡهُ (daripadanya) seumpamanya disebutkan di dalamnya, bahwa mereka adalah sekutu-sekutu-Ku yang ikut andil bersama-Ku? Tentu saja tidak.

بَلۡ إِن (Sebenarnya tidaklah) يَعِدُ ٱلظَّٰلِمُونَ (orang-orang yang lalim itu menjanjikan) yakni orang-orang yang kafir بَعۡضُهُم بَعۡضًا إِلَّا غُرُورًا (sebagian dari mereka kepada sebagian yang lain, melainkan tipuan belaka.”) kebatilan belaka, melalui perkataan mereka, bahwa berhala-berhala itu dapat memberikan syafaat kepada mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman kepada Rasul-Nya untuk mengatakan kepada orang-orang musyrik: أَرَءَيۡتُمۡ شُرَكَآءَكُمُ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ (“Terangkanlah kepadaku tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah.”) yaitu berhala-berhala dan tandingan-tandingan.

أَرُونِى مَاذَا خَلَقُواْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ لَهُمۡ شِرۡكٌ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ (“Perlihatkanlah kepadaku [bagian] manakah dari bumi yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam [penciptaan] langit.”) Yaitu mereka tidak memiliki sesuatu sedikitpun dalam masalah tersebut serta tidak memiliki satu bagian kecilpun.

أَمۡ ءَاتَيۡنَٰهُمۡ كِتَٰبًا فَهُمۡ عَلَىٰ بَيِّنَتٍ مِّنۡهُ (“Atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah Kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas dari padanya.”) yaitu ataukah Kami memberi kepada mereka al-Kitab mengenai apa yang mereka katakan tentang kesyirikan dan kekufuran? Sebenarnya tidaklah demikian.

بَلۡ إِن يَعِدُ ٱلظَّٰلِمُونَ بَعۡضُهُم بَعۡضًا إِلَّا غُرُورًا (“Sebenarnya orang-orang yang dzalim itu sebagian dari mereka tidak menjanjikan kepada yang sebagian lainnya melainkan tipuan belaka.” Bahkan, mereka hanyalah mengikuti hawa nafsuk, logika dan angan-angan yang muncul dari mereka sendiri, itu semua merupakan tipu daya, kebathilan, dan kebohongan.

Baca Juga:  Surah Fatir Ayat 12; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar mengajak orang-orang musyrik itu untuk berdialog menjajaki jalan pikiran mereka yang salah. Apa sebab orang-orang musyrik itu meminta pertolongan kepada patung dan berhala yang mereka sekutukan kepada Allah. Adakah bukti yang menunjukkan bahwa berhala itu pantas disembah.

Orang-orang musyrik Mekah itu tidak paham benar akan hakikat tuhan mereka, bagaimana keadaannya. Seandainya mereka menyadari bahwa tuhan-tuhan mereka itu tidak sanggup berbuat apa-apa, tentulah mereka tidak menyembahnya. Tetapi sebaliknya, kalau memang betul berhala-berhala itu mempunyai kekuatan (untuk mencipta), tentulah mereka mampu memperlihatkan hasilnya.

Demikian juga, apabila Allah mempunyai sekutu dalam menciptakan langit, tentu sekutu itu juga berhak disembah seperti yang mereka duga. Apakah ada kitab suci (yang benar isinya) yang dapat menguatkan dalil-dalil tentang adanya sekutu bagi Tuhan itu?

Nabi Muhammad memberi kesempatan kepada kaum musyrik agar mengemukakan alasan penyembahan mereka terhadap berhala, terutama kemampuan tuhan-tuhan itu untuk menciptakan makhluk, sehingga ia berhak disembah dan dipersekutukan dengan Allah dalam soal penciptaan. Karena kepercayaan demikian hanya semata-mata warisan dari nenek moyang mereka (lihat Surah al-Baqarah/2: 170), maka tiada satu alasan yang dapat mereka kemukakan, baik alasan yang diterima dari dalil naqli (nas) maupun alasan aqli (logika).

Di mana pun tidak pernah ada dijumpai suatu kitab suci yang menyerukan manusia menyembah berhala, sebab semuanya hanyalah imajinasi dan khayalan orang-orang dahulu saja. Setelah Al-Qur’an menyalahkan dan mematahkan jalan pikiran mereka, dan bahwa apa yang mereka turuti itu adalah jalan pikiran pemimpin-pemimpin mereka yang sesat, maka tentulah pendapat mereka batil dan membawa kepada kesengsaraan.

Tafsir Quraish Shihab: Wahai Nabi, katakanlah kepada orang musyrik, “Beritahu aku, adakah kalian telah berpikir secara mendalam perihal sekutu-sekutu selain Allah yang kalian sembah itu? Bagian mana di bumi ini yang merupakan hasil ciptaan mereka? Adakah mereka mempunyai andil dan keikutsertaan bersama Allah dalam penciptaan langit? Kami tidak memberikan mereka kitab yang membuktikan keikutsertaan sekutu-sekutu itu.

Lebih dari itu, janji sebagian mereka kepada yang lainnya bahwa sembahan selain Allah akan memberikan pertolongan hanyalah suatu kebatilan dan omong kosong yang hanya dapat menipu orang-orang yang lemah akalnya.”

Surah Fatir Ayat 41
إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَا وَلَئِن زَالَتَآ إِنۡ أَمۡسَكَهُمَا مِنۡ أَحَدٍ مِّنۢ بَعۡدِهِۦٓ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Terjemahan: Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Tafsir Jalalain: إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَا (Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap) mencegah keduanya agar tidak lenyap وَلَئِن (dan sungguh jika) huruf Lam di sini bermakna Qasam زَالَتَآ إِنۡ أَمۡسَكَهُمَا مِنۡ أَحَدٍ مِّنۢ بَعۡدِهِۦٓ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (keduanya akan lenyap tidak ada yang dapat menahan keduanya seorang pun selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun) oleh karenanya Dia menangguhkan azab-Nya atas orang-orang kafir.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah mengabarkan tentang kekuasaan-Nya yang besar, dimana dengan itu berdirilah langit dan bumi dengan perintah-Nya, dan pada apa yang Dia jadikan pada keduanya berupa kekuatan yang kokoh.

Baca Juga:  Surah Hud Ayat 106-107; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَا (“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap.”) yaitu Allah menahan keduanya dari kegoncangan (bergeser) dari tempatnya, sebagaimana firman Allah: wa yumsikus samaa-a an taqa’a ‘alal ardli illaa bi idzniH (“Dan Dia menahan [benda-benda] langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya.”) (al-Hajj: 65)

وَلَئِن زَالَتَآ إِنۡ أَمۡسَكَهُمَا مِنۡ أَحَدٍ مِّنۢ بَعۡدِهِۦٓ (“Dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah.”) yaitu tidak ada yang sanggup mempertahankan keadaan keduanya secara terus menerus kecuali Dia, dan disamping itu Dia Mahapenyantun lagi Mahapengampun. Yaitu jika Dia melihat hamba-hamba-Nya berbuat kufur dan maksiat, Dia amat pemurah, ditunda, ditunggu dan diakhirkan adzab-Nya, serta tidak disegerakan, juga menutupinya dari yang lain dan mengampuni-Nya. Untuk itu Allah berfirman: innaHuu kaana haliiman ghafuuran (“Sesungguhnya Dia adalah Mahapenyantun lagi Mahapengampun.”

Allah telah mengabarkan dalam Kitab-Nya bahwa Dia adalah: ٱلۡحَىُّ ٱلۡقَيُّومُ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوۡمٌ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ (“Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus [makhluk-Nya]; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi.” (al-Baqarah: 255).

Dan tercantum di dalam ash-Shahihain, bahwa Abu Musa al-Asy’ari berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak tidur dan tidak patut untuk tidur. Dia menurunkan dan menaikkan keadilan [timbangan]. Dinaikkan kepada-Nya amal di waktu malam sebelum siang dan [dinaikkah kepada-Nya] amal di waktu siang sebelum malam.

Hijab-Nya adalah cahaya atau api. Seandainya Dia membukanya, niscaya wajah-Nya akan membakar apa saja dari makhluk-Nya [maksudnya seluruh makhluknya] yang dijangkau oleh pandangan-Nya.”

Di dalama sebuah kitab karya al-Faqih Yahya bin Ibrahim bin Muzain ath-Thilathali yang diberi nama Siyarul Fuqaha, Zaunan yaitu Abdul Malik bin al-Husain menceritakan kepada kami dari Ibnu Wahab bahwa Malik berkata: “Langit itu tidak berputar.”

Dia berdalil dengan ayat ini: إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَا; dan sebuah hadits: “Sesungguhnya di barat terdapat sebuah pintu taubat yang senantiasa terbuka, hingga matahari terbit di sana.” Menurutku hadits ini shahih. wallaaHu a’lam.

Tafsir Kemenag: Allah melukiskan kebenaran dan keagungan kekuasaan-Nya. Dengan kekuasaan-Nya, langit tercipta tanpa tiang, dan gunung-gunung berdiri dengan kokoh. Allah menyebarkan makhluk melata (dabbah), manusia, dan hewan di atas bumi, seperti bunyi ayat:

Dia menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi agar ia (bumi) tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan segala macam jenis makhluk bergerak yang bernyawa di bumi. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. (Luqman/31: 10)

Semuanya membuktikan kebesaran dan kekuasaan Allah Yang Mahaagung. Pengertian Allah menahan langit dan bumi ialah menahan langit itu dengan hukum gravitasi agar tidak guncang dan roboh, atau bergeser dari tempatnya. Allah memelihara dan mengawasi keduanya dengan pengawasan yang Dia sendirilah yang mengetahuinya.

Semua benda-benda langit di jagat raya ini beredar menurut garis edarnya masing-masing. Para ahli ilmu astronomi dapat membuktikan bahwa tidak pernah terjadi benturan antara benda-benda angkasa itu satu dengan yang lain. Semuanya beredar menurut garis edarnya masing-masing. Keterangan lain yang menguatkan arti yang terkandung dalam ayat di atas yakni:

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 123-126; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan kehendak-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu kamu keluar (dari kubur). (ar-Rum/30: 25)

Kuatnya bangunan langit dan bumi itu sehingga tidak pernah mengalami kerusakan, keruntuhan, dan sebagainya adalah karena kekuasaan Allah juga. Jika Allah Yang Mahakuasa itu bermaksud menghancurkan bumi dan langit itu, tiada satu kekuatan pun dari makhluk yang sanggup mencegahnya. Demikianlah pula dijelaskan oleh ayat lain:

Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menundukkan bagimu (manusia) apa yang ada di bumi dan kapal yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit agar tidak jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia. (al-hajj/22: 65)

Di samping sifat-Nya Yang Maha Perkasa itu, Allah juga mempunyai sifat rasa kasih sayang kepada hamba-Nya. Biarpun manusia di bumi ini kebanyakan kafir dan tidak mau tunduk pada pengajaran dan pedoman hidup menuju kesejahteraan dunia dan akhirat yang telah ditetapkan-Nya, namun azab dan murka Allah tiada segera diturunkan untuk menghukum kaum kafir dan pendurhaka.

Kasih sayang Allah itu ialah selain menunda siksaan bagi orang kafir dan ingkar, juga sangat mudah memberi ampunan kepada siapa yang mau tobat dari segala kesalahannya, bagaimanapun besarnya perbuatan maksiat yang pernah dilakukannya. Allah Maha Perkasa, Maha Pengasih, dan Penyayang kepada seluruh hamba-Nya, baik terhadap orang mukmin maupun kafir.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya Allahlah yang memelihara sistem langit dan bumi dari kerusakan. Dengan kekuasaan- Nya, Dia memelihara keduanya dari kemusnahan. Jika Dia menetapkan untuk memusnahkan langit dan bumi, maka tidak ada yang dapat menjaganya selain Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah sehingga Dia tidak mempercepat siksa bagi mereka yang melampaui batas. Dia pun Maha Pengampun segala dosa mereka yang berserah diri kepada-Nya. (1).

(1) Ayat suci ini, di samping menyatakan bahwa Allahlah satu-satunya Pencipta langit dan bumi, juga menegaskan bahwa Dialah yang memelihara keduanya dari kehancuran. Dengan pemeliharaan-Nya, benda-benda langit berjalan dalam sebuah sistem yang sangat sempurna sebagai hasil ciptaan Allah.

Sistem itu sangat jelas terlihat dalam gaya gravitasi yang terus berlaku sepanjang zaman. Dengan demikian, benda-benda langit itu tidak mengalami kerusakan dalam sistem keseimbangannya. Hanya Allahlah yang dapat menciptakan sistem yang mahahebat itu.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Fatir Ayat 40-41 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S