Surah Fatir Ayat 42-43; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Fatir Ayat 42-43

Pecihitam.org – Kandungan Surah Fatir Ayat 42-43 ini, menjelaskan Orang-orang musyrik itu bersumpah dengan sepenuh hati, seandainya Allah mengirimkan seorang rasul yang memperingatkan kesesatan jalan pikiran dan kerusakan moral masyarakatnya, pasti merekalah yang paling mudah menerima petunjuk rasul itu, dibanding dengan umat mana pun yang pernah ada sebelum mereka.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

sikap orang musyrik Mekah terhadap dakwah Nabi saw. Dengan segala daya dan pikiran, dengan harta dan kekayaan yang dimiliki, mereka menentang dakwah Nabi Muhammad, bahkan beliau diboikot dan dihalangi.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Fatir Ayat 42-43

Surah Fatir Ayat 42
وَأَقۡسَمُواْ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ لَئِن جَآءَهُمۡ نَذِيرٌ لَّيَكُونُنَّ أَهۡدَىٰ مِنۡ إِحۡدَى ٱلۡأُمَمِ فَلَمَّا جَآءَهُمۡ نَذِيرٌ مَّا زَادَهُمۡ إِلَّا نُفُورًا

Terjemahan: Katakanlah: Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran),

Tafsir Jalalain: وَأَقۡسَمُواْ (Dan mereka bersumpah) yakni orang-orang kafir Mekah بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ (dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah) sumpah yang sungguh-sungguh لَئِن جَآءَهُمۡ نَذِيرٌ (sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan) yakni seorang rasul لَّيَكُونُنَّ أَهۡدَىٰ مِنۡ إِحۡدَى ٱلۡأُمَمِ (niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat yang lain) yaitu umat Yahudi, Nasrani dan umat-umat beragama lainnya.

Maksudnya mereka lebih mendapat petunjuk daripada umat mana pun, karena mereka melihat adanya perselisihan di antara mereka, yaitu sebagian dari mereka mendustakan sebagian yang lain. Karena orang-orang Yahudi mengatakan, “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan.” Demikian pula orang-orang Nasrani mengatakan, “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai suatu pegangan.”

فَلَمَّا جَآءَهُمۡ نَذِيرٌ (Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan) yaitu Nabi Muhammad saw. مَّا زَادَهُمۡ (maka tidaklah menambah kepada mereka) kedatangan pemberi peringatan itu إِلَّا نُفُورًا (melainkan jauhnya mereka dari petunjuk) mereka makin bertambah jauh dari petunjuk.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala mengabarkan tentang suku Quraisy dan bangsa Arab bahwa mereka bersumpah kepada Allah dengan sekuat-kuat sumpah sebelum diutusnya Rasul kepada mereka. Sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan menjadi lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat, yaitu dari seluruh umaat lain yang didatangi oleh para Rasul. Itulah yang dikatakan oleh adl-Dlahhak dan yang lainnya.

Allah berfirman: فَلَمَّا جَآءَهُمۡ نَذِيرٌ (“Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan”) yaitu Muhammad bersama dengan Kitab yang agung, yang diturunkan kepadanya, yaitu al-Qur’anul Mubiin. مَّا زَادَهُمۡ إِلَّا نُفُورًا (Maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari kebenaran.”) yaitu tidak menambah apa-apa bagi mereka kecuali bertambahnya kekufuran di atas kekufuran mereka.

Tafsir Kemenag: Orang-orang musyrik itu bersumpah dengan sepenuh hati, seandainya Allah mengirimkan seorang rasul yang memperingatkan kesesatan jalan pikiran dan kerusakan moral masyarakatnya, pasti merekalah yang paling mudah menerima petunjuk rasul itu, dibanding dengan umat mana pun yang pernah ada sebelum mereka. Penjelasan ayat ini diperkuat pula oleh ayat lain yang berbunyi:

Sekiranya di sisi kami ada sebuah kitab dari (kitab-kitab yang diturunkan) kepada orang-orang dahulu, tentu kami akan menjadi hamba Allah yang disucikan (dari dosa). Tetapi ternyata mereka mengingkarinya (Al-Qur’an); maka kelak mereka akan mengetahui (akibat keingkarannya itu). (ash-shaffat/37: 168-170)

Dalam Tafsir al-Khazin diriwayatkan bahwa orang-orang kafir Mekah ketika mengetahui Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) mendustakan para rasul yang diutus kepada mereka, mereka pun bersumpah dengan nama Allah seandainya kepada mereka diutus pula rasul seperti yang pernah diutus kepada Bani Israil itu, tentulah mereka akan menjadi bangsa yang lebih banyak memperoleh petunjuk dibanding dengan kaum Yahudi dan Nasrani.

Sikap demikian itu mereka tunjukkan sebelum Muhammad saw diutus sebagai rasul. Tetapi, setelah beliau betul-betul diutus ke tengah mereka, mereka pun mendustakannya sebagaimana sikap Ahli Kitab terhadap rasul-Nya. Untuk memperingatkan kaum Muslimin akan sikap orang-orang kafir yang telah memperoleh kebenaran murni tentang Nabi Muhammad dan risalahnya itu, Allah menurunkan ayat-ayat di atas.

Baca Juga:  Surah Fatir Ayat 19-26; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Setelah impian mereka menjadi kenyataan, yakni dengan diutusnya Muhammad saw sebagai rasul di tengah masyarakat mereka untuk menyampaikan kebenaran dari Allah, yang tercantum dalam Al-Qur’an al-Karim, maka dengan serta merta mereka mendustakannya. Bahkan sikap keingkaran dan kesombongan mereka makin menjadi-jadi.

Mereka bukannya makin dekat kepada kebenaran, bahkan semakin jauh dengan alasan menjaga kehormatan dan martabat kaumnya. Tegasnya, para pemimpin musyrik Mekah itu enggan mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Keadaan mereka serupa dengan unta liar yang kabur, semakin dikejar oleh pemiliknya, semakin cepat larinya dan semakin tersesat jalannya, sehingga sukar ditangkap.

Tafsir Quraish Shihab: Untuk memperkuat janji mereka, orang-orang kafir itu bersumpah dengan nama Allah, bahwa jika mereka didatangkan seorang rasul pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapatkan petunjuk dibandingkan umat yang mendustakan rasul sebelumnya. Tetapi tatkala rasul pemberi peringatan itu datang, peringatan dan nasihat rasul tidak membawa perubahan kepada mereka kecuali semakin membuat mereka jauh dari kebenaran.

Surah Fatir Ayat 43
ٱسۡتِكۡبَارًا فِى ٱلۡأَرۡضِ وَمَكۡرَ ٱلسَّيِّئِ وَلَا يَحِيقُ ٱلۡمَكۡرُ ٱلسَّيِّئُ إِلَّا بِأَهۡلِهِۦ فَهَلۡ يَنظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ ٱلۡأَوَّلِينَ فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ ٱللَّهِ تَبۡدِيلًا وَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ ٱللَّهِ تَحۡوِيلًا

Terjemahan: karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.

Tafsir Jalalain: ٱسۡتِكۡبَارًا فِى ٱلۡأَرۡضِ (Karena kesombongan -mereka- di muka bumi) terhadap keimanan, mereka tidak mau beriman karena sombong. Lafal ayat ini menjadi Maf’ul Lah وَمَكۡرَ (dan karena rencana) pekerjaan mereka ٱلسَّيِّئِ (yang jahat) berupa kemusyrikan dan lain-lainnya.

وَلَا يَحِيقُ (Dan tidaklah menimpa) tidak menggilas ٱلۡمَكۡرُ ٱلسَّيِّئُ إِلَّا بِأَهۡلِهِۦ (rencana jahat itu selain orang yang merencanakannya sendiri) yaitu orang yang mengadakan makar itu sendiri. Lafal Al Makru diberi sifat As Sayyi-u adalah bentuk asal tetapi di-mudhaf-kan-nya lafal Al Makru kepada lafal As Sayyi-u, menurut suatu pendapat merupakan cara pemakaian yang lain tetapi dengan memperkirakan adanya Mudhaf yang lain supaya jangan langsung di-mudhaf-kan kepada sifat.

فَهَلۡ يَنظُرُونَ (Tiadalah yang mereka nanti-nantikan) إِلَّا سُنَّتَ ٱلۡأَوَّلِينَ (melainkan, berlakunya, sunah, Allah yang telah berlaku, kepada orang-orang yang dahulu) yaitu diturunkannya azab atas mereka sebab mereka mendustakan rasul-rasul-Nya.

فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ ٱللَّهِ تَبۡدِيلًا وَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ ٱللَّهِ تَحۡوِيلًا (Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui perubahan bagi sunah Allah dan sekali-kali tidak pula akan menemui penyimpangan bagi sunah Allah itu) azab itu tidak dapat diganti dengan yang lain dan tidak ditimpakan kepada orang-orang yang tidak berhak menerimanya.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian, Dia menjelaskan tentang hal itu dengan firman-Nya: ٱسۡتِكۡبَارًا فِى ٱلۡأَرۡضِ (“Karena kesombongan [mereka] di muka bumi.”) yaitu sombong untuk mengikuti ayat-ayat Allah. وَمَكۡرَ ٱلسَّيِّئِ (“Dan [karena] rencana mereka yang jahat.”) yaitu mereka tipu manusia dengan menghalangi mereka dari jalan Allah.

وَلَا يَحِيقُ ٱلۡمَكۡرُ ٱلسَّيِّئُ إِلَّا بِأَهۡلِهِۦ (“Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.”) yaitu bahayanya tidak akan kembali kecuali kepada diri mereka sendiri, tidak kepada orang lain. Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi berkata: “Tiga hal, yang barangsiapa melaksanakannya, dia tidak akan selamat, hingga turun kepadanya tipu daya, kedzaliman dan pelanggaran sumpah (janji).” Dan itu dibenarkan dalam kitab Allah Ta’ala,

وَلَا يَحِيقُ ٱلۡمَكۡرُ ٱلسَّيِّئُ إِلَّا بِأَهۡلِهِۦ (“Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.”) dan firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya [bencana] kedzalimanmu akan menimpa dirimu sendiri.” (Yunus: 23) dan juga firman-Nya yang artinya: “Maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri.” (al-Fath: 10)

Baca Juga:  Surah Al-Mulk Ayat 28-30; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Firman Allah: فَهَلۡ يَنظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ ٱلۡأَوَّلِينَ (“Tidaklah yang mereka nanti-nantikan melainkan [berlakunya] sunnah [Allah yang telah berlaku] kepada orang-orang yang terdahulu.”) yaitu hukuman Allah kepada mereka atas kedustaan mereka terhadap para Rasul dan menyelisihi perintah mereka.

فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ ٱللَّهِ تَبۡدِيلًا (“Maka sekali-sekali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah.”) yaitu tidak berubah dan tidak berganti, bahkan akan berlaku kepada setiap pendusta. وَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ ٱللَّهِ تَحۡوِيلًا (“Maka sekali-sekali kamu tidak akan mendapat penyimpangan bagi sunnah Allah itu.”) yaitu: wa idzaa araadallaaHu biqaumin suu-an falaa maraddalaHu (“Dan apabila Allah mengehendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya.”)(ar-Ra’du: 11) yaitu tidak akan terlepas dan luput dari mereka sedikitpun.

Tafsir Kemenag: Ayat ini masih menjelaskan sikap orang musyrik Mekah terhadap dakwah Nabi saw. Dengan segala daya dan pikiran, dengan harta dan kekayaan yang dimiliki, mereka menentang dakwah Nabi Muhammad, bahkan beliau diboikot dan dihalangi. Tetapi, segala rencana jahat guna mematahkan dakwah Islam itu pada akhirnya menjadi bumerang bagi mereka.

Kegagalan kaum kafir Mekah mencegah tersiarnya dakwah Islam telah tertulis dengan tinta emas dalam sejarah Islam. Setiap usaha dan rencana jahat untuk memadamkan cahaya agama Allah di bumi ini, pasti akan gagal, sebab Allah selalu akan memelihara eksistensi agama-Nya di bumi ini, sampai akhir zaman, biarpun tidak disukai oleh orang-orang musyrik, sebagaimana disebutkan dalam ayat:

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya. (ash-shaff/61: 8)

Dalam Aisar at-Tafasir disebutkan satu riwayat bahwa Ka’ab berkata kepada Ibnu ‘Abbas, “Dalam Taurat diterangkan bahwa siapa yang menggali lubang untuk kawannya, dialah yang masuk ke dalamnya.”

Ibnu ‘Abbas menjawab, “Hal itu aku temukan dalam Al-Qur’an.” Ka’ab bertanya, “Di mana?” Ibnu ‘Abbas menjawab, “Bacalah wa la yahiqul makrus-sayyi’ illa bi ahlih (Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri.)”

Seperti diuraikan di atas, kadang-kadang Allah menunda kedatangan siksa sebagai bukti kasih sayang-Nya kepada orang-orang kafir. Tetapi, jangan dikira bahwa Allah tidak akan menyiksa mereka bila mereka tidak tobat, sebab bila mereka di dunia belum merasakan siksaan, di akhirat kelak pasti akan mereka alami juga. Di akhirat nanti baru mereka yakini ke mana orang yang zalim itu ditempatkan Allah sesuai dengan ancaman Allah ketika mereka masih di dunia.

Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali. (asy-Syu’ara’/26: 227)

Sekalipun azab itu sudah pasti datang, orang-orang yang tidak mengimaninya masih saja menentang kedatangannya dengan tidak menghentikan segala perbuatan jahatnya. Dalam ayat ini, Allah mengungkapkan nasib mereka kelak dengan mengatakan bahwa tidak ada yang mereka tunggu-tunggu itu melainkan siksaan seperti apa yang telah menimpa manusia dahulu kala disebabkan keingkaran mereka terhadap risalah para rasul. Tetapi, ujung ayat ini menegaskan bahwa sunah Allah menentukan bahwa setiap orang yang mendustakan ajaran-Nya pasti akan disiksa dengan azab yang tidak akan berubah dan tidak akan dipindahkan kepada orang lain.

Allah tidak akan melimpahkan rahmat-Nya pada seseorang yang sudah tercatat sebagai pembangkang dan pendosa, serta tidak akan memikulkan dosanya kepada diri orang lain. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. (al-An’am/6: 164)

(44) Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad supaya memperingatkan kaum pendusta (musyrik), apakah mereka tidak pernah melakukan perjalanan untuk menyaksikan betapa dahsyatnya azab yang diturunkan pada bangsa-bangsa dahulu akibat keingkaran mereka pada kebenaran ajaran Allah.

Semula ayat ini ditujukan kepada kaum musyrik Mekah, yang umumnya bermata pencaharian berdagang. Pada musim-musim tertentu, kafilah Quraisy berangkat menuju Syam (Syiria) dan Irak. Pada daerah-daerah gurun pasir yang mereka lewati, banyak terdapat bekas-bekas negeri yang pernah dihuni manusia di zaman kuno, akibat kedurhakaan penduduknya kepada rasul utusan Allah. Mereka disiksa, dan bumi tempat mereka berpijak dijungkirbalikkan sehingga hancur sama sekali.

Baca Juga:  Surah As-Saff Ayat 1-4; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Allah memperingatkan kaum pedagang Quraisy, andaikata mereka juga mengikuti jejak bangsa yang mendustakan-Nya, maka kepada mereka pasti akan berlaku sunatullah. Mereka akan merasakan siksaan dan azab yang tidak sanggup mereka tolak.

Untuk meyakinkan mereka, ayat 44 ini lebih lanjut memberi penjelasan bahwa umat-umat yang telah merasakan balasan akibat sikap dan tindak-tanduk mereka yang menentang ajaran rasul itu adalah umat yang perkasa, berani, punya harta, dan anak keturunan yang banyak sekali. Namun demikian, keperkasaan, kekayaan, dan keturunan mereka yang besar itu ternyata tidak sanggup membela dan melindunginya dari azab Allah.

Maksud berjalan di muka bumi, menurut penafsiran Sayid Quthub dalam Tafsir fi ¨ilal al-Qur’an, adalah berjalan dengan mata hati terbuka dan pikiran yang segar sambil merenungkan peristiwa-peristiwa yang pernah menimpa umat dahulu, betapa dan bagaimana keadaan mereka sewaktu ditimpa azab Allah.

Perjalanan demikian, menurutnya, menambah perasaan takwa kepada Allah, membangunkan hati dari kelalaian dan kelengahan akan sunatullah yang pasti berlaku itu. Mereka diingatkan bahwa Allah Yang Mahakuasa itu tidak pernah kewalahan untuk melaksanakan keputusan-Nya, apabila Dia telah menginginkan. Sebab dengan tegas dikatakan tiada satu daya dan kekuatan yang sanggup melemahkan Allah, baik kekuatan itu terdapat di langit maupun di bumi.

Bagaimana Allah itu lemah? Bukankah ilmu dan kekuasaan-Nya meliputi kerajaan langit dan bumi? Bagaimana mungkin makhluk ciptaan-Nya, Sekalipun seluruh manusia bersatu menandingi kekuasaan Allah, tidak akan sanggup menjatuhkan atau menandingi kekuasaan-Nya, sedang semuanya dijadikan dengan fisik yang lemah? Allah berfirman:

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah. (an-Nisa’/4: 28)

Perhatikanlah akhir ayat ini dengan penegasan bahwa Allah Maha Mengetahui dan Mahakuasa terhadap segala makhluk ciptaan-Nya. Dalam Tafsir al-Maragi dijelaskan bahwa Allah Maha Mengetahui dan Mahakuasa terhadap orang-orang yang harus mendapatkan siksaan dengan segera. Sebaliknya, orang yang tobat, dan ingin kembali kepada Tuhan dari kesesatannya, Dia memberi petunjuk kepadanya sehingga beriman sepenuhnya.

Ketika orang-orang musyrik meminta kepada Nabi Muhammad agar azab yang dijanjikan itu segera diturunkan, maka diterangkan kepada mereka bahwa Allah menentukan peraturan-Nya bagi umat ini, yakni siksaan tidak segera diturunkan kepada mereka yang melakukan kedurhakaan atau keingkaran terhadap ajaran rasul. Sebab diharapkan sebagian di antara mereka mungkin masih ada yang insaf dan kembali kepada ajaran Tuhannya

Tafsir Quraish Shihab: Mereka menjauh dari kebenaran karena kepongahan di muka bumi dan ketidakpatuhan kepada rasul dan agama yang dibawa. Mereka malah merencanakan suatu makar yang jahat, hasil bisikan setan yang mengajak mereka untuk berpaling dari agama dan memerangi rasul.

Kemudaratan dan makar jahat itu tidak menimpa kepada siapa pun kecuali kepada mereka yang merencanakannya. Maka, adakah mereka masih tetap menunggu hukum Allah yang pernah diberlakukan kepada umat sebelum mereka? Kamu tidak akan pernah dapat merubah cara Allah memperlakukan umat-umat yang ada, sebagaimana para pembuat makar berharap agar mereka dapat merubah peristiwa yang dialami oleh umat-umat sebelumnya. Kamu pun tidak dapat mengalihkan hukum Allah dari arah yang semestinya.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Fatir Ayat 42-43 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S